<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386</id><updated>2012-02-16T01:52:55.701-08:00</updated><title type='text'>aimeyus blog</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-196835586056652337</id><published>2010-12-21T04:36:00.000-08:00</published><updated>2010-12-21T04:37:58.558-08:00</updated><title type='text'>askep hipertropi kelenjar tiroid</title><content type='html'>BAB 1&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Tujuan dalam pengembangan kesehatan yang tercantum dalam fungsi kesehatan nasional (SKN) adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan nasional (Sumarmo,1998).&lt;br /&gt;Struma koloid , difus, nontoksik dan nodular koloid merupakan gangguan yang sangat sering dijumpai dan menyerang 16 % perempuan dan 4 % laki-laki yang berusia antara 20 sampai 60 tahun seperti yang telah dibuktikan oleh suatu penyelidikan di Tecumseh, suatu komunitas di Michigan. Biasanya tidak ada gejala-gejala lain kecuali gangguan kosmetik, tetapi kadang-kadang timbul komplikasi-komplikasi. Struma mungkin membesar secara difus dan atau bernodula.&lt;br /&gt;Struma endemic merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia. Sebab utamanya adalah efisiensi yodium, disamping factor-faktor lain misalnya bertambahnya kebutuhan yodium pada masa pertumbuhan, kehamilan dan laktasi atau pengaruh-pengaruh zat-zat goitrogenik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB 2&lt;br /&gt;TINJAUAN TEORITIS&lt;br /&gt;A. KONSEP MEDIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struma adalah pembesaran kelenjar gondok yang disebabkan oleh penambahan jaringan kelenjar gondok yang menghasilkan hormon tiroid dalam jumlah banyak sehingga menimbulkan keluhan seperti berdebar - debar, keringat, gemetaran, bicara jadi gagap, mencret, berat badan menurun, mata membesar, penyakit ini dinamakan hipertiroid (graves’ disease).&lt;br /&gt;Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme.&lt;br /&gt;Struma Diffusa toxica adalah salah satu jenis struma yang disebabkan oleh sekresi hormon-hormon thyroid yang terlalu banyak. Histologik keadaan ini adalah sebagai suatu hipertrofi dan hyperplasi dari parenkhym kelenjar.&lt;br /&gt;Struma endemik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang disebabkan oleh asupan mineral yodium yang kurang dalam waktu yang lama.&lt;br /&gt;Struma nodosa non toksik merupakan pembesaran kelenjar tiroid yang teraba sebagai suatu nodul ,tanpa disertai tanda – tanda hipertiroidisme,berdasarkan jumlah nodul ,dibagi :&lt;br /&gt;• Struma mononodosa non toksik&lt;br /&gt;• Struma multinodosa nontoksik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kemampuan menangkap iodium radioaktif,nodul dibedakan menjadi : nodul dingin ,nodul hangat,nodul panas,&lt;br /&gt;Sedangkan berdasarkan konsistensinya ,nodul dibedakan menjadi,nodul lunak ,nodul kistik, nodul keras,nodul sangat keras.&lt;br /&gt;Pada penyakit struma nodosa nontoksik tyroid membesar dengan lambat. Awalnya kelenjar ini membesar secara difus dan permukaan licin. Jika struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Etiologi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain :&lt;br /&gt;1. Defisiensi iodium &lt;br /&gt;2. Pada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya daerah pegunungan.&lt;br /&gt;3. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tyroid.&lt;br /&gt;4. Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (seperti substansi dalam kol, lobak, kacang kedelai).&lt;br /&gt;5. Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan (misalnya : thiocarbamide, sulfonylurea dan litium).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Manifestasi Klinik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berat badan menurun &lt;br /&gt;2. Dispnea&lt;br /&gt;3. Berkeringat&lt;br /&gt;4.  Diare&lt;br /&gt;5. Kelelahan otot&lt;br /&gt;6. Tremor (jari tangan dan kaki) &lt;br /&gt;7.  Oligomenore/amenore&lt;br /&gt;8. Telapak tangan panas dan lembab&lt;br /&gt;9. Takikardia, denyut nadi kadang tidak teratur karena fibrilasi atrium, pulses seler&lt;br /&gt;10. Gugup, mudah terangsang, gelisah, emosi tidak stabil, insomnia.&lt;br /&gt;11. Gondok (mungkin disertai bunyi denyut dan getaran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Patofisiologi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hormon tyroid. Bahan yang mengandung iodium diserap usus, masuk ke dalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tyroid. Dalam kelenjar, iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang distimuler oleh Tiroid Stimulating Hormon kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul yoditironin (T3). Tiroksin (T4) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi Tiroid Stimulating Hormon dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis, sedang tyrodotironin (T3) merupakan hormon metabolik tidak aktif. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan dan metabolisme tyroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis. Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tyroid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pemeriksaan Diagnostik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosis dapat ditegakkan atas dasar adanya struma yang bernodul dan tidak toksik, melalui :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pada palpasi teraba batas yang jelas, bernodul satu atau lebih, konsistensinya kenyal.&lt;br /&gt;2. Pada pemeriksaan laboratorium, ditemukan serum T4 (troksin) dan T3 (triyodotironin) dalam batas normal.&lt;br /&gt;3. Pada pemeriksaan USG (ultrasonografi) dapat dibedakan padat atau tidaknya nodul.&lt;br /&gt;4. Kepastian histologi dapat ditegakkan melalui biopsi yang hanya dapat dilakukan oleh seorang tenaga ahli yang berpengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Penatalaksanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pemberian kapsul minyak beriodium terutama bagi penduduk di daerah endemik sedang dan berat antara lain yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Edukasi &lt;br /&gt;Program ini bertujuan merubah prilaku masyarakat, dalam hal pola makan dan memasyarakatkan pemakaian garam beriodium.&lt;br /&gt;2. Penyuntikan lipidol&lt;br /&gt;Sasaran penyuntikan lipidol adalah penduduk yang tinggal di daerah endemik diberi suntikan 40 % tiga tahun sekali dengan dosis untuk orang dewasa dan anak di atas enam tahun 1 cc, sedang kurang dari enam tahun diberi 0,2 cc – 0,8 cc.&lt;br /&gt;3. Tindakan operasi&lt;br /&gt;Pada struma nodosa non toksik yang besar dapat dilakukan tindakan operasi bila pengobatan tidak berhasil, terjadi gangguan misalnya : penekanan pada organ sekitarnya, indikasi, kosmetik, indikasi keganasan yang pasti akan dicurigai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. KONSEP KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan asuhan keperawatan, penulis menggunakan pedoman asuhan keperawatan sebagai dasar pemecahan masalah pasien secara ilmiah dan sistematis yang meliputi tahap pengkajian, perencanaan keperawatan, tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengkajian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkajian merupakan langkah awal dari dasar dalam proses keperawatan secara keseluruhan guna mendapat data atau informasi yang dibutuhkan untuk menentukan masalah kesehatan yang dihadapi pasien melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik meliputi :&lt;br /&gt;1. Aktivitas/istirahat ; insomnia, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat, atrofi otot.&lt;br /&gt;2. Eliminasi ; urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam faeces, diare.&lt;br /&gt;3. Integritas ego ; mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik, emosi labil, depresi.&lt;br /&gt;4. Makanan/cairan ; kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan banyak, makannya sering, kehausan, mual dan muntah, pembesaran tyroid, goiter.&lt;br /&gt;5. Rasa nyeri/kenyamanan ; nyeri orbital, fotofobia.&lt;br /&gt;6. Pernafasan ; frekuensi pernafasan meningkat, takipnea, dispnea, edema paru (pada krisis tirotoksikosis).&lt;br /&gt;7. Keamanan ; tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada pemeriksaan), suhu meningkat di atas 37,40C, diaforesis, kulit halus, hangat dan kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus, eksoptamus : retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.&lt;br /&gt;8. Seksualitas ; libido menurun, perdarahan sedikit atau tidak sama sekali, impotensi.&lt;br /&gt;2. DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah selanjutnya adalah penentuan diagnosa keperawatan yang merupakan suatu pernyataan dan masalah pasien secara nyata maupun potensial berdasarkan data yang terkumpul.&lt;br /&gt;  Diagnosa keperawatan pada pasien dengan struma nodosa nontoksis khususnya post operai dapat dirumuskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Resiko tinggi terjadi ketidakefektivan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi trakea, pembengkakan, perdarahan dan spasme laringeal.&lt;br /&gt;2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita suara/kerusakan laring, edema jaringan, nyeri, ketidaknyamanan.&lt;br /&gt;3. Resiko tinggi terhadap cedera/tetani berhubungan dengan proses pembedahan, rangsangan pada sistem saraf pusat.&lt;br /&gt;4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan dengan tindakan bedah terhadap jaringan/otot dan edema pasca operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. INTERVENSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah pasien sesuai diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan utama memenuhi kebutuhan pasien. Berdasarkan diagnosa keperawatan yang diuraikan di atas, maka disusunlah rencana keperawatan/intervensi sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Resiko tinggi terjadi ketidakefektivan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi trakea, pembengkakan, perdarahan dan spasme laryngeal.&lt;br /&gt;Tujuan yang ingin dicpai sesuai kriteria hasil :&lt;br /&gt;Mempertahankan jalan nafas paten dengan mencegah aspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana tindakan/intervensi:&lt;br /&gt;• Pantau frekuensi pernafasan, kedalaman dan kerja pernafasan.&lt;br /&gt;• Auskultasi suara nafas, catat adanya suara ronchi. &lt;br /&gt;• Kaji adanya dispnea, stridor, dan sianosis. Perhatikan kualitas suara.&lt;br /&gt;• Kaji adanya dispnea, stridor, dan sianosis. Perhatikan kualitas suara.&lt;br /&gt;• Bantu dalam perubahan posisi, latihan nafas dalam dan atau batuk efektif sesuai indikasi.&lt;br /&gt;Rasional :&lt;br /&gt;• Pernafasan secara normal kadang-kadang cepat, tetapi berkembangnya distres pada pernafasan merupakan indikasi kompresi trakea karena edema atau perdarahan. &lt;br /&gt;• Ronchi merupakan indikasi adanya obstruksi.spasme laringeal yang membutuhkan evaluasi dan intervensi yang cepat.&lt;br /&gt;• Indikator obstruksi trakea/spasme laring yang membutuhkan evaluasi dan intervensi segera.&lt;br /&gt;• Menurunkan kemungkinan tegangan pada daerah luka karena pembedahan.&lt;br /&gt;• Lakukan pengisapan lendir pada mulut dan trakea sesuai indikasi, catat warna dan karakteristik sputum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita suara/kerusakan saraf laring, edema jaringan, nyeri, ketidaknyamanan.&lt;br /&gt;Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :&lt;br /&gt;Mampu menciptakan metode komunikasi dimana kebutuhan dapat dipahami.&lt;br /&gt;Rencana tindakan/intervensi:&lt;br /&gt;• Kaji fungsi bicara secara periodik.&lt;br /&gt;• Pertahankan komunikasi yang sederhana, beri pertanyaan yang hanya memerlukan jawaban ya atau tidak. &lt;br /&gt;• Memberikan metode komunikasi alternatif yang sesuai, seperti papan tulis, kertas tulis/papan gambar. &lt;br /&gt;• Antisipasi kebutuhan sebaik mungkin. Kunjungan pasien secara teratur. &lt;br /&gt;• Beritahu pasien untuk terus menerus membatasi bicara dan jawablah bel panggilan dengan segera.&lt;br /&gt;Rasional :&lt;br /&gt;• Suara serak dan sakit tenggorok akibat edema jaringan atau kerusakan karena pembedahan pada saraf laringeal yang berakhir dalam beberapa hari kerusakan saraf menetap dapat terjadi kelumpuhan pita suara atau penekanan pada trakea.&lt;br /&gt;• Menurunkan kebutuhan berespon, mengurangi bicara.&lt;br /&gt;• Memfasilitasi eksprsi yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;• Menurunnya ansietas dan kebutuhan pasien untuk berkomunias.&lt;br /&gt;• Mencegah pasien bicara yang dipaksakan untuk menciptakan kebutuhan yang diketahui/memerlukan bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Resiko tinggi terhadap cedera/tetani berhubungan dengan proses pembedahan, rangsangan pada sistem saraf pusat.&lt;br /&gt;Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :&lt;br /&gt;Menunjukkan tidak ada cedera dengan komplikasi terpenuhi/terkontrol.&lt;br /&gt;Rencana tindakan/intervensi&lt;br /&gt;• Pantau tanda-tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu tubuh, takikardi (140 – 200/menit), disrtrimia, syanosis, sakit waktu bernafas (pembengkakan paru).&lt;br /&gt;• Evaluasi reflesi secara periodik. Observasi adanya peka rangsang, misalnya gerakan tersentak, adanya kejang, prestesia. &lt;br /&gt;• Pertahankan penghalang tempat tidur/diberi bantalan, tmpat tidur pada posisi yang rendah. &lt;br /&gt;• Memantau kadar kalsium dalam serum.&lt;br /&gt;• Kolaborasi berikan pengobatan sesuai indikasi (kalsium/glukonat, laktat).&lt;br /&gt;Rasional :&lt;br /&gt;• Manipulasi kelenjar selama pembedahan dapat mengakibatkan peningkatan pengeluaran hormon yang menyebabkan krisis tyroid.&lt;br /&gt;• Hypolkasemia dengan tetani (biasanya sementara) dapat terjadi 1 – 7 hari pasca operasi dan merupakan indikasi hypoparatiroid yang dapat terjadi sebagai akibat dari trauma yang tidak disengaja pada pengangkatan parsial atau total kelenjar paratiroid selama pembedahan.&lt;br /&gt;• Menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi kejang.&lt;br /&gt;• Kalsium kurang dari 7,5/100 ml secara umum membutuhkan terapi pengganti.&lt;br /&gt;• Memperbaiki kekurangan kalsium yang biasanya sementara tetapi mungkin juga menjadi permanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan tindakan bedah terhadap jaringan/otot dan paska operasi.&lt;br /&gt;Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :&lt;br /&gt;Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol. Menunjukkan kemampuan mengadakan relaksasi dan mengalihkan perhatian dengan aktif sesuai situasi.&lt;br /&gt;Rencana tindakan/intervensi :&lt;br /&gt;• Kaji tanda-tanda adanya nyeri baik verbal maupun non verbal, catat lokasi, intensitas (skala 0 – 10) dan lamanya. &lt;br /&gt;• Letakkan pasien dalam posisi semi fowler dan sokong kepala/leher dengan bantal pasir/bantal kecil. &lt;br /&gt;• Pertahankan leher/kepala dalam posisi netral dan sokong selama perubahan posisi. Instruksikan pasien menggunakan tangannya untuk menyokong leher selama pergerakan dan untuk menghindari hiperekstensi leher. &lt;br /&gt;• Letakkan bel dan barang yang sering digunakan dalam jangkauan yang mudah. &lt;br /&gt;• Berikan minuman yang sejuk/makanan yang lunak ditoleransi jika pasien mengalami kesulitan menelan.&lt;br /&gt;Rasional :&lt;br /&gt;• Bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri, menentukan pilihan intervensi, menentukan efektivitas terapi.&lt;br /&gt;• Mencegah hiperekstensi leher dan melindungi integritas gari jahitan.&lt;br /&gt;• Mencegah stress pada garis jahitan dan menurunkan tegangan otot.&lt;br /&gt;• Membatasi ketegangan, nyeri otot pada daerah operasi.&lt;br /&gt;• Menurunkan nyeri tenggorok tetapi makanan lunak ditoleransi jika pasien mengalami kesulitan menelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  IMPLEMENTASI&lt;br /&gt;Pelaksanaan keperawatan merupakan perwujudan dari rencana      keperawatan yang telah dirumuskan dalam rangka memenuhi kebutuhan pasien secara optimal dengan menggunakan keselamatan, keamanan dan kenyamanan pasien. Dalam melaksanakan keperawatan, haruslah dilibatkan tim kesehatan lain dalam tindakan kolaborasi yang berhubungan dengan pelayanan keperawatan serta berdasarkan atas ketentuan rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. EVALUASI&lt;br /&gt;Evaluasi merupakan tahapan terakhir dari proses keperawatan yang bertujuan untuk menilai tingkat keberhasilan dari asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan.&lt;br /&gt;Dari rumusan seluruh rencana keperawatan serta impelementasinya, maka pada tahap evaluasi ini akan difokuskan pada :&lt;br /&gt;1. Apakah jalan nafas pasien efektif?&lt;br /&gt;2. Apakah komunikasi verbal dari pasien lancar?&lt;br /&gt;3. Apakah tidak terjadi tanda-tanda infeksi?&lt;br /&gt;4. Apakah gangguan rasa nyaman dari pasien dapat terpenuhi?&lt;br /&gt;5. Apakah pasien telah mengerti tentang proses penyakitnya serta tindakan perawatan dan pengobatannya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-196835586056652337?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/196835586056652337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=196835586056652337&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/196835586056652337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/196835586056652337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/12/askep-hipertropi-kelenjar-tiroid.html' title='askep hipertropi kelenjar tiroid'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-3845515981256530985</id><published>2010-12-21T04:35:00.000-08:00</published><updated>2010-12-21T04:36:13.936-08:00</updated><title type='text'>askep gigantisme</title><content type='html'>ASUHAN KEPERAWATAN &lt;br /&gt;PASIEN GIGANTISME &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Pengertian &lt;br /&gt;Gegantisme adalah suatu keadaan yang abnormal pada anak yang disebabkan oleh produksi GH yang berlebihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Etiologi &lt;br /&gt;Tumor hipofise : adenoma eosinofilik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.Manifestasi klinik &lt;br /&gt;• Lingkar kepala bertambah&lt;br /&gt;• Hidung lebar&lt;br /&gt;• Lidah membesar&lt;br /&gt;• Wajah kasar&lt;br /&gt;• Mandibula tumbuh berlebihan&lt;br /&gt;• Gigi menjadi terpisah-pisah&lt;br /&gt;• Jari dan ibu jari tumbuh menebal&lt;br /&gt;• Kifosis &lt;br /&gt;• Kelelehan dan kelemahan gejala awal&lt;br /&gt;• Hipogonadisme&lt;br /&gt;• Keterlambatan maturasi seksual&lt;br /&gt;• Kehilangan penglihatan pada pemeriksaan lapang pandang secara seksama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.Pemeriksaan penunjang &lt;br /&gt;• Laboratorium&lt;br /&gt;• Kadar GH berlebihan mencapai 400 ng/ml&lt;br /&gt;• Tes toleransi glukosa : hiperglikemia&lt;br /&gt;• Kadar somatomidin meningkat 2,6-21,7 U/ml ( 0,31-1,4 U/ml)&lt;br /&gt;• CT. Scan&lt;br /&gt;• MRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.Penatalaksanaan &lt;br /&gt;• Intervensi bedah dilakukan apabila terjadi peningkatan tekanan intra kranial&lt;br /&gt;• Radiasi konvensional / sinar proton energi tinggi apabila papil edema dan penyempitan lapang pandang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Pengkajian &lt;br /&gt;1. Riwayat penyakit dahulu ?&lt;br /&gt;2. Riwayat penyakit sekarang ?&lt;br /&gt;3. Riwayat penyakit keluarga ?&lt;br /&gt;4. Riwayat tumbuh kembang ?&lt;br /&gt;5. Apakah klien mengalami penambahan pada lingkar kepala&lt;br /&gt;6. Apakah klien mengalami pembesaran hidung ?&lt;br /&gt;7. Apakah klien mengalami pembesaran hidung ? &lt;br /&gt;8. Apakah mandibula tumbuh berlebihan ?&lt;br /&gt;9. Apakah klien mengalami gigi yang terpisah-pisah&lt;br /&gt;10. Apakah jari dan ibu jari tumbuh menebal ?&lt;br /&gt;11. Apakah klien mengalami kifosis ?&lt;br /&gt;12. Apakah klien mengalami kelelahan dan kelemahan pada gejala awal ?&lt;br /&gt;13. Apakah klien mengalami hipogonadisme ?&lt;br /&gt;14. Apakah kien mengalami keterlambatan maturasi seksual ?&lt;br /&gt;15. Apakah terjadi tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial ?&lt;br /&gt;16. Apakah klien mengalami kehilangan penglihatan pada pemeriksaan lapang pandang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa keperawatan &lt;br /&gt;• Gangguan bodi image b.d perubahan struktur tubuh &lt;br /&gt;Tujuan : tidak terjadi penurunan bodi image pada klien &lt;br /&gt;Kriteria : &lt;br /&gt;Klien dapat menerima perubahan diri &lt;br /&gt;Klien mau bersosialisasi dengan lingkungan &lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;• Pertahankan lingkungan yang kondusif untuk membicarakan perubahan citra tubuh&lt;br /&gt;• Diskusikan perasaan yang berhubungan dengan perubahan yang dialami oleh klien&lt;br /&gt;• Kaji klien dengan mengidentifikasi dan mengembangkan mekanisme koping untuk mengatasi perubahan fisik&lt;br /&gt;• Berikan dorongan untuk mengungkapkan perasaan yang berhubungan dengan perubahan fisik&lt;br /&gt;• Bantu klien dalam mengembangkan mekanisme koping untuk mengatasi perubahan fisik&lt;br /&gt;• Bantu pasien dalam mengembangkan rencana untuk menyelaraskan semua perubahan ke dalam gaya hidup&lt;br /&gt;• Berikan penekanan perilaku yang memperlihatkan penerimam terhadap perubahan &lt;br /&gt;• Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d peningkatan metabolisme, lidah membesar, mandibula tumbuh berlebih, gigi menjadi terpisah-pisah.&lt;br /&gt;Tujuan : nutrisi klien adekuat &lt;br /&gt;Kriteria : &lt;br /&gt;Klien tidak mengalami penurunan berat badan yang berarti &lt;br /&gt;Nafsu makan klien meningkat &lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;• Beri makan sedikit tapi sering (termasuk cairan)&lt;br /&gt;• Masukkan makanan kesukaan dalam diet&lt;br /&gt;• Anjurkan untuk makan sendiri, bila mungkin (kelemahan otot dapat membuat keterbatasan)&lt;br /&gt;• Memilih makanan dari daftar menu&lt;br /&gt;• Atur makanan secara menarik diatas nampan&lt;br /&gt;• Atur jadwal pemberian makanan&lt;br /&gt;• Berikan makanan yang bergizi tinggi dan berkualitas&lt;br /&gt;• Perubahan proses keluarga b.d keluarga dengan gegantisme&lt;br /&gt;Tujuan : &lt;br /&gt;Mempersiapkan keluarga untuk dapat merawat anggota dengan gegantisme &lt;br /&gt;Keluarga dapat beradaptasi dengan penyakitnya &lt;br /&gt;Kriteria : Keluarga dapat mengatasi masalah yang timbul dari adanya tanda dan gejala yang muncul dan memberikan atau menyediakan lingkungan yang sesuai dengan kondisi klien &lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;• Berikan dukungan emosional pada keluarga dan klien&lt;br /&gt;• Anjurkan orang tua untuk mengekspresikan perasaannya&lt;br /&gt;• Anjurkan klien untuk berbagi rasa tidak berdaya, malu, ketakutan yang berkaitan dengan manifestasi penyakit.&lt;br /&gt;• Bertindak sebagai pembela dan penghubung klien dan keluarga dengan anggota tim perawatan kesehatan lainnya&lt;br /&gt;• Anjurkan klien untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar&lt;br /&gt;• Dorong keterlibatan klien dalam aktivitas rekreasi dan aktivitas pengalih yang sesuai dengan usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kelelahan b.d hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi&lt;br /&gt;Tujuan : menunjukkan perbaikan kemampuan berpartisipasi dalam melakukan aktifitas &lt;br /&gt;Kriteria : &lt;br /&gt;Tidak terjadi kelelahan yang berarti pada klien setelah melakukan aktivitas &lt;br /&gt;Klien tidak merasa malas saat akan melakukan aktivitas &lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;• Kaji tanda-tanda vital&lt;br /&gt;• Ciptakan lingkungan yang tenang : ruangan yang dingin, turunkan stimulasi sensori&lt;br /&gt;• Sarankan klien untuk mengurangi aktivitas dan meningkatkan istirahat di tempat tidur&lt;br /&gt;• Berikan tindakan yang membuat klien nyaman; sentuhan, masage.&lt;br /&gt;• Memberikan aktivitas pengganti yang menyenagkan dan tenang; membaca, mendengarkan radio dan menonton televisi&lt;br /&gt;• Berikan obat sesuai indikasi; sedatif (fenobarbital )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA &lt;br /&gt;1. Nettina, Sandra M. Pedoman Praktik Keperawatan. Alih bahasa Setiawan dkk. Ed. 1. Jakarta : EGC; 2001&lt;br /&gt;2. Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &amp; Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.&lt;br /&gt;3. Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998&lt;br /&gt;4. Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994&lt;br /&gt;5. Reeves, Charlene J et al. Medical-Surgical Nursing. Alih Bahasa Joko Setyono. Ed. I. Jakarta : Salemba Medika; 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-3845515981256530985?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/3845515981256530985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=3845515981256530985&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/3845515981256530985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/3845515981256530985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/12/askep-gigantisme.html' title='askep gigantisme'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-1315443603133427754</id><published>2010-12-21T04:34:00.000-08:00</published><updated>2010-12-21T04:35:18.482-08:00</updated><title type='text'>resep kue kering</title><content type='html'>Resep kue kering ini saya kumpulkan dari beberapa sumber. Saya berharap posting tentang resep kue kering ini dapat berguna untuk para pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resep kue kering Putri Salju&lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;175 gram margarin&lt;br /&gt;3 kuning telur&lt;br /&gt;100 gram keju edam parut&lt;br /&gt;1/4 sendok teh garam&lt;br /&gt;175 gram tepung terigu, ayak&lt;br /&gt;30 gram tepung maizena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk taburan&lt;br /&gt;350 gram gula bubuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuat Kue Putri Salju adalah sebagai berikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Siapkan loyang pipih, olesi dengan margarin, sisihkan&lt;br /&gt;2. Kocok margarin hingga mengembang, masukkan telur dan terus kocok hingga mengembang&lt;br /&gt;3. Masukkan tepung terigu, maizena, aduk rata, tambahkan keju edam dan garam, aduk rata hingga menjadi adonan yang dapat dibentuk&lt;br /&gt;4. Ambil satu sendok teh adonan. bentuk bola, taruh di atas loyang, beri jarak&lt;br /&gt;5. Panggang dalam oven dengan temperatur 160 derajat celcius selama 15 menit hingga matang&lt;br /&gt;6. Dinginkan, taburi dan lumuri dengan gula bubuk, hingga seluruh bagian kue tertutup gula, simpan dalam stoples kedap udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk 400 gram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resep kue kering Kering Nastar Selai Nanas - kue kering lebaran lengkap komplit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;tepung terigu 250 gram&lt;br /&gt;tepung maizena 25 gram&lt;br /&gt;susu bubuk 1 sendok makan&lt;br /&gt;mentega 175 gram&lt;br /&gt;gula halus 50 gram&lt;br /&gt;telur 4 butir, 3 untuk adonan, dan 1 untuk olesan&lt;br /&gt;cengkeh 50 gram, untuk hiasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan selai nanas:&lt;br /&gt;nanas 1/2 buah, parut&lt;br /&gt;gula pasir 100 gram&lt;br /&gt;garam 1/2 sendok teh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cara membuat kue kering nastar selai nanas adalah sebagai berikut&lt;br /&gt;1. Selai nanas = rebus nanas parut, gula pasir, kayu manis, dan garam hingga agak mengering, aduk hingga berbentuk selai.&lt;br /&gt;2. Nastar = campur tepung terigu, tepung maizena, dan susu bubuk lalu ayak. kocok mentega, gula halus, dan kuning telur hingga lembut&lt;br /&gt;3. Campurkan semua adonan, aduk rata menggunakan spatula hingga adonan bisa dibentuk.&lt;br /&gt;4. Ambil adonan, bentuk bulatan yang diisi selai nanas. hiasi atasnya dengan cengkeh lalu olesi dengan kuning telur&lt;br /&gt;5. Letakkan di atas loyang yang sudah diolesi margarin secukupnya, panggang selama 25 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;makanan ini cukup untuk 33 buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resep kue kering Kering Lidah Kucing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan Kue Kering Lidah Kucing:&lt;br /&gt;250 gram margarin&lt;br /&gt;150 gram gula halus&lt;br /&gt;1/2 sendok teh vanili bubuk&lt;br /&gt;250 gram tepung terigu&lt;br /&gt;5 putih telur kocok hingga kaku&lt;br /&gt;makanan ini cukup untuk 21 buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuatnya:&lt;br /&gt;1. Panaskah oven dengan temperatur 160 derajat celcius dan loyang pipih atau loyang khusus lidah kucing, olesi dengan margarin, sisihkan&lt;br /&gt;2. KOcok margarin bersama gula halus hingga lembut, masukkan vanili bubuk dan tepung terigu, aduk rata.&lt;br /&gt;3. Campur adonan dengan putih telur yang telah dikocok kaku, aduk rata.&lt;br /&gt;4. MAsukkan adonan ke dalam plastik segi tiga, potong ujungnya sedikit dan semprotkan kue ke loyang, panggang selama 15 menit hingga kecokelatan dan matang, angkat.&lt;br /&gt;5. Dinginkan dan simpan dalam stoples kedap udara.&lt;br /&gt;Bidaran Keju Telur Gabus Keju - resep kue lebaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resep yang satu ini selalu di jadikan sajian hari raya, maupun sebagai cemilan harian. Rasanya yang asin bikin kita tidak pernah merasa bosan untuk memakan nya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Doyan Masak [DM ]menyajikan aneka Resep bidaran keju, baik yang berbahan dasar tepung terigu maupun tepung ketan, dan rasanyapun nikmat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;-125 gr tepung tapioka&lt;br /&gt;-2 butir telur ayam&lt;br /&gt;-200 gram keju edam parut&lt;br /&gt;-garam secukupnya&lt;br /&gt;-minyak untuk menggoreng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;-kocok telur hinggb mengembang.&lt;br /&gt;-masukkan tepung tapioka, aduk rata.&lt;br /&gt;-tambahkan keju dan garam, aduk rata.&lt;br /&gt;-pilin adonan, masukkan dalam minyak goreng dingin.&lt;br /&gt;-panas kan minyak, goreng dg api sedang sambil sesekali di aduk hingga terapung dan kecoklatan.&lt;br /&gt;-angkat, tiriskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resep kue kering Bidaran karamel Kue Telur Gabus Karamel Kue Telur Belanak - Sajian kue lebaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;-4 butir telur&lt;br /&gt;-300 gr tepung tapioka&lt;br /&gt;-garam secukupnya&lt;br /&gt;-1 sdm gula halus&lt;br /&gt;-1/2 sdt air kapur sirih&lt;br /&gt;-minyak utk menggoreng&lt;br /&gt;-lapisan: 3 sdm gula pasir, 1 sdt gula merah sisir, 2 sdm air,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Membuat:&lt;br /&gt;-kocok telur hingga mengembang. Masukkan semua bahan, aduk rata.&lt;br /&gt;-pilin adonan, masukkan dalam minyak goreng dingin.&lt;br /&gt;-masak dg api sedang hingga adonan terapung. Angkat, tiriskan.&lt;br /&gt;-campur semua bahan lapisan, masak hingga menidih dan dan benar2 kental.&lt;br /&gt;-masukkan adonan telur gabus, aduk terus hingga adonan terlapisi seluruhnya. Angkat, sajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resep kue kering Bangkit Keju - Resep kue lebaran sederhana simple mudah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;-100 gr blue band&lt;br /&gt;-300 gr sagu tani&lt;br /&gt;-50 gr gula halus&lt;br /&gt;-1 butir kuning telur&lt;br /&gt;-2 1/2 gr susu encer&lt;br /&gt;-50 gr keju parut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;-kocok blue band dan gula halus.&lt;br /&gt;-tambahkan kuning telur, aduk.&lt;br /&gt;-tambahkan susu encer, aduk.&lt;br /&gt;-tambahkan keju parut, aduk.&lt;br /&gt;-tambahkan sagu tani, aduk.&lt;br /&gt;-cetak, panggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips: agar lebih menarik, boleh di taburi keju diatasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kue Bangkit Susu untuk Hari Raya Idul Fitri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;-4 gelas sagu&lt;br /&gt;-1 gelas tepung terigu&lt;br /&gt;-1 kaleng susu kental manis putih/coklat&lt;br /&gt;-2 butir kuning telur&lt;br /&gt;-3 sdm mentega&lt;br /&gt;-1/2 sdt soda kue&lt;br /&gt;-2 bungkus vanili&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cara membuat:&lt;br /&gt;-susu di kocok sampai cair.&lt;br /&gt;-masukkan telur, mentega, vanili dan soda kue. Aduk rata.&lt;br /&gt;-masukkan sagu dan tepung, aduk rata.&lt;br /&gt;-cetak sesuai selera.&lt;br /&gt;-panggang sampai matang dengan api sedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resep kue kering Bawang Renyah&lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;- 1000 gr tepung kanji/sagu&lt;br /&gt;- 250 gr tepung terigu&lt;br /&gt;- 6 batang seledri, iris halus&lt;br /&gt;- 50 gr bawang merah, giling halus&lt;br /&gt;- 100 gr bawang putih, giling halus&lt;br /&gt;- 2 bungkus masako ayam&lt;br /&gt;- 3 butir telur, kocok lepas&lt;br /&gt;- 1 sendok makan garam halus&lt;br /&gt;- 1 sendok teh penyedap rasa (ajinomoto)&lt;br /&gt;- 700 ml air&lt;br /&gt;- 3 sendok makan margarin/mentega&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Membuat:&lt;br /&gt;- larutkan terigu dengan air, tambahkan seledri, bawang putih, bawang merah, masako, telur kocok, garam, penyedap rasa, dan margarin, masak pada api sedang hingga adonan mengental.&lt;br /&gt;- pindahkan adonan terigu ke wajan, tambahkan sagu, adon hingga adonan kalis.&lt;br /&gt;- ambil sedikit adonan, bulatkan dengan diameter ± 7 cm.&lt;br /&gt;-giling adonan dengan menggunakan cetakan kue bawang (ampia)dengan ketebalan sesuai selera.&lt;br /&gt;- potong adonan dengan panjang 5 cm.&lt;br /&gt;- giling pada cetakan mie (kwetiau)&lt;br /&gt;- goreng pada minyak panas hingga warna kuning kecoklatan, tiriskan, angkat.&lt;br /&gt;- simpan pada wadah kering dan tertutup rapat (stoples)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tips: agar kue bawang bertambah lezatnya, pada adonan dapat ditambahkan 50 gram wijen yang telah disangrai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resep kue kering semporong&lt;br /&gt;Bahan A:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 btr telur&lt;br /&gt;150 gr gula pasir&lt;br /&gt;1 sdt cake emulsifier&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan B:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;150 gr tepung terigu&lt;br /&gt;2 sdm tepung sagu&lt;br /&gt;1 sdt baking powder&lt;br /&gt;1 sdm susu bubuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan C:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;100 gr margarine, leleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Membuat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kocok bahan A hingga mengembang dan kental, masukkan bahan B aduk rata, lalu tuangi bahan C, aduk balik hingga rata.&lt;br /&gt;2. Panaskan cetakan Egg Roll (lipat segita or gulung ), tuang 1 sdm adonan dibagian tengah, segera tutup cetakan dan biarkan lk. 5 menit hingga adonan matang.&lt;br /&gt;3. Buka cetakan, lalu gulung cake dengan bantuan sumpit. Angkat biarkan dingin, lepaskan dari sumpit. Lakukan hingga adonan habis.&lt;br /&gt;4. Kemas dalam toples rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resep kue kering Crispy Chocolate Cookies&lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;2 Putih Telur&lt;br /&gt;125 gr Gula Kaster&lt;br /&gt;35 gr Cornflakes, hancurkan&lt;br /&gt;125 gr Dark Coklat, serut&lt;br /&gt;2 sdm coklat bubuk untuk taburan&lt;br /&gt;Cara Membuat:&lt;br /&gt;1. Seperti Kaki Kambing Cuma dicetak pake sendok.&lt;br /&gt;2. Setelah matang taburkan coklat bubuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resep kue kering Chocolate Cornflakes Cookies &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;1 sdm kulit jeruk parut&lt;br /&gt;60 gr coco crunch&lt;br /&gt;60 gr sultana&lt;br /&gt;25 gr kacang almond, cincang kasar&lt;br /&gt;125 gr mentega, cairkan&lt;br /&gt;90 gr gula kaster&lt;br /&gt;1 telur&lt;br /&gt;125 gr terigu&lt;br /&gt;65 gr cornflakes, hancurkan kasar&lt;br /&gt;80 gr dark coklat, lelehkan&lt;br /&gt;Cara Membuat:&lt;br /&gt;1. Campurkan kulit jeruk parut, coco crunch, sultana dan kacang almond.&lt;br /&gt;2. Dengan menggunakan mixer, campur mentega dan gula sampai rata, tambahkan telur kocok sampai mengembang.&lt;br /&gt;3. Campurkan buah-buahan kedalam adonan kue, aduk rata.&lt;br /&gt;4. Bentuk sesuai kenginan, lalu balurkan kedalam cornflakes.&lt;br /&gt;5. Setelah matang, glasur dengan coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resep kue kering Cinnamon Cookies&lt;br /&gt;Ingredients :&lt;br /&gt;* 2 tablespoons sugar&lt;br /&gt;* 1/2 teaspoon ground cinnamon&lt;br /&gt;* 2/3 cup packed brown sugar&lt;br /&gt;* 1/2 cup butter, softened&lt;br /&gt;* 1 egg&lt;br /&gt;* 2 teaspoons ground cinnamon&lt;br /&gt;* 1 teaspoon vanilla&lt;br /&gt;* 2 1/2 cups Bisquick baking mix&lt;br /&gt;Directions :&lt;br /&gt;1. Heat oven to 375 degrees.&lt;br /&gt;2. Mix sugar and 1/2 tsp cinnamon; reserve.&lt;br /&gt;3. Mix brown sugar, butter, egg, 2 tsp cinnamon, and the vanilla.&lt;br /&gt;4. Stir in baking mix.&lt;br /&gt;5. Drop dough by rounded teaspoonfuls about 2″ apart onto ungreased&lt;br /&gt;cookie sheet.&lt;br /&gt;6. Flatten with glass dipped in reserved sugar-cinnamon mixture.&lt;br /&gt;7. Bake until edges are light brown, 8 to 10 minutes.&lt;br /&gt; Kue Cheese Stick&lt;br /&gt;Posted on Mei 17, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;175 gram mentega&lt;br /&gt;2 butir kuning telur&lt;br /&gt;1 sendok makan gula halus&lt;br /&gt;150 gram keju edam, parut&lt;br /&gt;300 gram terigu&lt;br /&gt;1 sendok makan susu bubuk&lt;br /&gt;Polesan:&lt;br /&gt;1 butir kuning telur + 1 sendok makan air&lt;br /&gt;50 gram keju parut untuk tabur&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Mentega, kuning telur, gula dikocok sampai lembut. Masukkan terigu, susu, keju, aduk rata. &lt;br /&gt;2. Cetak bentuk batang. Poles kuning telur. Tabur keju parut. &lt;br /&gt;3. Letakkan di loyang sudah dipoles mentega. &lt;br /&gt;4. Oven 170 derajat celsius 15 menit sampai matang. &lt;br /&gt; Kue Nastar Keju&lt;br /&gt;Posted on Mei 17, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;200 gram mentega&lt;br /&gt;2 butir kuning telur&lt;br /&gt;50 gram gula halus&lt;br /&gt;350 gram terigu&lt;br /&gt;1 sendok makan maizena&lt;br /&gt;1 sendok makan susu bubuk&lt;br /&gt;1/4 sendok teh vanili&lt;br /&gt;Selai nanas secukupnya&lt;br /&gt;Polesan:&lt;br /&gt;1 butir kuning telur + 1 sendok makan air&lt;br /&gt;50 gram keju parut untuk tabur&lt;br /&gt;Cara mebuat:&lt;br /&gt;1. Kocok mentega, telur, gula sampai lembut. &lt;br /&gt;2. Masukkan terigu, maizena, susu, vanili. Aduk rata. &lt;br /&gt;3. Ambil adonan sebesar kelereng. Isi dengan selai. Bulatkan. &lt;br /&gt;4. Poles dan tabur keju. Oven 170 derajat Celsius, 15 &lt;br /&gt;menit. &lt;br /&gt; Sweet Jam Cookies&lt;br /&gt;Posted on Mei 10, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;125 gram mentega&lt;br /&gt;75 gram gula&lt;br /&gt;1 butir kuning telur&lt;br /&gt;1/4 sendok teh vanili&lt;br /&gt;200 gram terigu&lt;br /&gt;1 sendok makan maizena&lt;br /&gt;1/4 sendok teh baking powder&lt;br /&gt;Selai stroberi&lt;br /&gt;1 butir kuning telur, kocok lepas untuk poles&lt;br /&gt;Cetakan plastik bentuk hati&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Campur mentega, gula, kuning telur, vanili. Kocok sampai lembut. &lt;br /&gt;2. Masukkan terigu, maizena. baking powder. Aduk rata dengan sendok kayu. &lt;br /&gt;3. Gilas tebal 2 mm. Cetak dengan cetakan bentuk hati. Poles kuning telur. Isi selai. Oven 170 derajat Celsius 15 menit sampai matang. &lt;br /&gt; Kue Bawang&lt;br /&gt;Posted on Mei 10, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;1 butir telur&lt;br /&gt;1 sendok teh garam&lt;br /&gt;1/2 sendok teh merica&lt;br /&gt;1 sendok teh bawang putih halus&lt;br /&gt;2 sendok makan seledri irisan&lt;br /&gt;250 gram tepung terigu&lt;br /&gt;150 gram tepung kanji&lt;br /&gt;100 ml santan&lt;br /&gt;Minyak goreng secukupnya&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Campur semua bahan. Uleni sampai bisa dibentuk. &lt;br /&gt;2. Gilas tipis 1 mm. Potong persegi panjang. Goreng dengan minyak panas sedang sampai kering kecokelatan. &lt;br /&gt; Rengginang&lt;br /&gt;Posted on Mei 10, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;250 gram beras ketan&lt;br /&gt;1 sendok teh bawang putih halus&lt;br /&gt;12 sendok teh terasi&lt;br /&gt;1/2 sendok teh garam&lt;br /&gt;125 ml air mendidih&lt;br /&gt;Minyak secukupnya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Kukus beras ketan 25 menit. &lt;br /&gt;2. Campur dengan bawang, terasi, garam. air mendidih. Aduk-aduk sampai keing. &lt;br /&gt;3. Kukus setengah jam sampai matang. &lt;br /&gt;4. Bentuk bulat gepeng. Cetak dengan cetakan ring. Keringkan dengan dijemur. &lt;br /&gt;5. Goreng dengan api besar. Balik sehingga beras ketannya mekar besar. &lt;br /&gt; Valentine Classic Cookies&lt;br /&gt;Posted on Mei 10, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;100 gram mentega kocok&lt;br /&gt;50 gram gula halus&lt;br /&gt;1 butir kuning telur&lt;br /&gt;50 gram almond cincang&lt;br /&gt;175 gram terigu&lt;br /&gt;100 gram cokelat balok putih, tim&lt;br /&gt;Candy color pink&lt;br /&gt;Cetakan ceplok hati&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Campur mentega, gula, telur. almond, terigu. Aduk rata. &lt;br /&gt;2. Gilas tebal 3 mm. Ceplok cetakan hati. &lt;br /&gt;3. Letakkan di loyang yang dipoles mentega. Oven 170 derajat Celsius 15 menit sampai matang. &lt;br /&gt;4. Biarkan dingin. Hias dengan cokelat cair yang diberi candt color pink. &lt;br /&gt; Valentine Peanut Cookies&lt;br /&gt;Posted on Mei 10, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;75 gram mentega&lt;br /&gt;75 gram peanut butter&lt;br /&gt;1/2 sendok teh garam&lt;br /&gt;75 gram gula palem&lt;br /&gt;1 butir kuning telur&lt;br /&gt;175 gram terigu&lt;br /&gt;1 sendok makan tepung arrowroot&lt;br /&gt;Cokelat balok pink&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Kocok mentega, peanut butter, garam, gula palem, kuning telur sampai lembut. &lt;br /&gt;2. Campur tepung terigu dan arrowoot. Aduk rata. &lt;br /&gt;3. Gilas adonan setebal 2 mm. Ceplok bulat. Oven 160 derajat Celsius sampai matang. &lt;br /&gt;4. Setelah dingin, hias dengan cokelat balok pink. &lt;br /&gt; Valentine Cheese Cookies&lt;br /&gt;Posted on Mei 10, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;110 gram mentega&lt;br /&gt;1 butir kuning telur&lt;br /&gt;75 gram keju apel, parut&lt;br /&gt;150 gram terigu&lt;br /&gt;1 sendok makan susu bubuk&lt;br /&gt;25 gram keju parut&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Kocok mentega, kuning telur sampai lembut. &lt;br /&gt;2. Campur dengan keju, terigu, susu. Aduk rata. &lt;br /&gt;3. Gilas tebal 2mm. Ceplok dengan cetakan bentuk hati. Poles kuning telur. Tabur keju parut. &lt;br /&gt;4. Oven 160 derajat Celsius, 15 menit sampai matang. &lt;br /&gt; Nastar Valentine&lt;br /&gt;Posted on Mei 10, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;150 gram mentega&lt;br /&gt;75 gram gula halus&lt;br /&gt;2 butir kuning telur&lt;br /&gt;1/4 sendok teh vanili&lt;br /&gt;250 gram terigu&lt;br /&gt;2 sendok makan maizena&lt;br /&gt;Selai nanas kental&lt;br /&gt;Cetakan bentuk hati&lt;br /&gt;1 butir kuning telur, kocok lepas untuk poles&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Kocok mentega, gula, kuning telur sampai lembut. &lt;br /&gt;2. Campur dengan terigu dan maizena. Aduk dengan sendok kayu. &lt;br /&gt;3. Ambil adonan sebesar kelereng. Isi dengan selai. Rapatkan. Bentuk dan cetak dengan cetakan hati. &lt;br /&gt;4. Poles kuning telur. Oven 160 derajat Celsius 20 menit sampai matang. &lt;br /&gt; Lidah Kucing Valentine&lt;br /&gt;Posted on Mei 10, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;3 butir putih telur&lt;br /&gt;250 gram gula halus&lt;br /&gt;1/4 sendok teh vanili&lt;br /&gt;250 gram mentega kocok&lt;br /&gt;225 gram terigu&lt;br /&gt;30 gram maizena&lt;br /&gt;Gula hias&lt;br /&gt;Kantong plastik segitiga&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Kocok putih telur sampai kental. Tambahkan gula berangsur-angsur. &lt;br /&gt;2. Masukkan vanili, mentega kocok. Aduk rata. &lt;br /&gt;3. Masukkan terigu dan maizena. Aduk rata. &lt;br /&gt;4. Isi kantong plastik segitiga. Gulung ujungnya 1/2 cm. &lt;br /&gt;5. Loyang lidah kucing bentuk hati dipoles mentega. Semprot adonan. Tabur gula hias. &lt;br /&gt;6. Oven 160 derajat Celsius 15 menit sampai kuning kecokelatan. &lt;br /&gt; Emping Melinjo Pedas&lt;br /&gt;Posted on Mei 10, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;250 gram emping melinjo, goreng&lt;br /&gt;2 sendok makan minyak&lt;br /&gt;1 sendok makan cabai merah halus&lt;br /&gt;1 sendok makan bawang putih halus&lt;br /&gt;100 gram gula pasir&lt;br /&gt;25 gram gula merah&lt;br /&gt;1/2 sendok teh garam&lt;br /&gt;1 sendok makan air asam&lt;br /&gt;50 ml air&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Panaskan minyak. Tumis cabai , bawang sampai harum. &lt;br /&gt;2. Masukkan gula, garam, air asam, air. Aduk-aduk sampai agak kental. &lt;br /&gt;3. Masukkan emping goreng. Aduk-aduk sampai rata. &lt;br /&gt; Keciput&lt;br /&gt;Posted on Mei 10, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;300 gram tepung ketan&lt;br /&gt;50 gram tepung beras&lt;br /&gt;1/2 sendok teh baking powder&lt;br /&gt;2 butir telur&lt;br /&gt;1/4 sendok teh garam&lt;br /&gt;100 gram gula pasir&lt;br /&gt;50 ml santan dari 1/4 butir kelapa&lt;br /&gt;100 gram wijen&lt;br /&gt;Minyak goreng secukupnya&lt;br /&gt;100 gram gula pasir&lt;br /&gt;2 sendok makan air&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Kocok telur, garam, gula, pasir sampai kental. &lt;br /&gt;2. Masukkan santan dan campuran tepung. Aduk, uleni sampai bisa dibentuk. Boleh ditambahkan santan lagi sedikit. &lt;br /&gt;3. Gulingkan di wijen sampai kue tertutup wijen. &lt;br /&gt;4. Goreng di minyak hangat. Perlahan dibesarkan apinya sambil diaduk-aduk sampai mekar dan kering. &lt;br /&gt;5. Masak gula dan air sampai berambut. Masukkan kue matang. &lt;br /&gt; Kue Kuping Gajah&lt;br /&gt;Posted on Mei 8, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;250 gram tepung terigu&lt;br /&gt;75 gram gula halus&lt;br /&gt;1/4 sendok teh garam&lt;br /&gt;1/4 sendok teh vanili&lt;br /&gt;1 butir telur&lt;br /&gt;50 ml air&lt;br /&gt;1 sendok teh minyak&lt;br /&gt;1 sendok teh cokelat bubuk + 1 sendok makan air&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Campur tepung terigu, gula, garam, vanili, air, telur, minyak. Uleni sampai bisa dibentuk. &lt;br /&gt;2. Adonan tebal 2 mm poles cokelat, gulung. Padatkan. Bentuk lonjong. Bungkus dengan selembar plastik. Dinginkan 10 menit. &lt;br /&gt;3. Iris tipis 1 mm dengan pisau tajam. &lt;br /&gt;4. Goreng dengan minyak panas sedang. &lt;br /&gt; Cokelat Cengkeh&lt;br /&gt;Posted on April 26, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;200 gram mentega&lt;br /&gt;2 butir kuning telur&lt;br /&gt;2 sendok makan cokelat bubuk&lt;br /&gt;1 sendok teh bumbu lapis legit&lt;br /&gt;1/2 sendok teh cengkeh halus&lt;br /&gt;200 gram gula halus&lt;br /&gt;300 gram tepung terigu&lt;br /&gt;2 sendok makan maizena&lt;br /&gt;1 sendok teh baking powder&lt;br /&gt;Cengkeh secukupnya untuk tangkai&lt;br /&gt;Gula tabur secukupnya&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Kocok mentega, kuning telur, cokelat bubuk, bumbu lapis legit, cengkeh dan gula halus sampai lembut. &lt;br /&gt;2. Masukkan ayakan tepung terigu, maizena, baking powder. Aduk rata. &lt;br /&gt;3. Ambil adonan 1 sendok teh. Bentuk bulat lonjong. Beri cengkeh. &lt;br /&gt;4. Oven 170 derajat Celsius sampai kering. &lt;br /&gt;5. Tabur gula halus. &lt;br /&gt; Coconut Crunch&lt;br /&gt;Posted on April 26, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;150 gram mentega&lt;br /&gt;100 gram gula halus&lt;br /&gt;1/2 sendok teh garam&lt;br /&gt;1 butir telur&lt;br /&gt;75 gram kelapa parut kering&lt;br /&gt;75 gram cornflake&lt;br /&gt;150 gram terigu&lt;br /&gt;Kelapa parut kering secukupnya&lt;br /&gt;Cornflake untuk tabur&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Campur mentega, gula halus, garam, telur. Kocok sampai lembut. &lt;br /&gt;2. Campur dengan kelapa parut, cornflake, terigu. Aduk rata. &lt;br /&gt;3. Ambil 1 sendok teh adonan. Gulingkan di kelapa parut. Tabur cornflake. &lt;br /&gt;4. Oven 170 derajat Celsius sampai kering. &lt;br /&gt; Segitiga Putih Coklat&lt;br /&gt;Posted on April 26, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;150 gram mentega&lt;br /&gt;150 gram gula halus&lt;br /&gt;2 butir telur&lt;br /&gt;1/4 sendok teh vanili&lt;br /&gt;250 gram terigu&lt;br /&gt;1/2 sendok teh baking powder&lt;br /&gt;1 sendok makan cokelat bubuk&lt;br /&gt; Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Kocok mentega, gula, kuning telur sampai lembut. &lt;br /&gt;2. Masukkan terigu, baking powder. Aduk rata. &lt;br /&gt;3. Adonan dibagi 2. Sebagian biarkan putih. &lt;br /&gt;4. Sebagian diberi cokelat bubuk. &lt;br /&gt;5. Masing-masing adonan digilas, tumpuk berlapis. Potong segitiga. &lt;br /&gt;6. Oven 170 derajat Celsius sampai kering. &lt;br /&gt; Marmer Renyah&lt;br /&gt;Posted on April 25, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;100 gram mentega&lt;br /&gt;125 gram gula halus&lt;br /&gt;1 butir telur&lt;br /&gt;200 gram terigu&lt;br /&gt;1/2 sendok teh baking powder&lt;br /&gt;1 sendok makan cokelat bubuk&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Kocok mentega, gula, kuning telur sampai lembut. &lt;br /&gt;2. Masukkan terigu, baking powder. Aduk rata. &lt;br /&gt;3. Adonan dibagi 2. Sebagian biarkan putih. &lt;br /&gt;4. Sebagian diberi cokelat bubuk. &lt;br /&gt;5. Campur kedua macam adonan. Bungkus dengan plastik. Bentuk lonjong. &lt;br /&gt;6. Potong tebal 3mm. &lt;br /&gt;7. Oven 170 derajat Celsius sampai kering. &lt;br /&gt; Chocolate Button Cookies&lt;br /&gt;Posted on April 25, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;125 gram mentega&lt;br /&gt;150 gram gula halus&lt;br /&gt;1 butir kuning telur&lt;br /&gt;100 gram kenari cincang&lt;br /&gt;200 gram tepung terigu&lt;br /&gt;1 sendok makan cokelat bubuk&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Kocok mentega, gula, kuning telur sampai lembut. &lt;br /&gt;2. Masukkan kenari dan terigu. Aduk rata. &lt;br /&gt;3. Ambil 1/4 bagian adonan dan biarkan putih. Bentuk kelereng kecil. &lt;br /&gt;4. Sisa adonan diberi coklat bubuk. Aduk rata. Gilas tebal 2mm. Cetak bulat. &lt;br /&gt;5. Tumpuk adonan putih dengan yang coklat. &lt;br /&gt;6. Oven 170 derajat Celsius sampai kering. &lt;br /&gt; Choco Corn Crunch&lt;br /&gt;Posted on April 25, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;125 gram mentega&lt;br /&gt;100 gram gula halus&lt;br /&gt;30 gram cokelat bubuk&lt;br /&gt;1 butir telur&lt;br /&gt;1 sendok makan tepung maizena&lt;br /&gt;1 sendok makan susu bubuk&lt;br /&gt;200 gram tepung terigu&lt;br /&gt;1/2 sendok teh baking powder&lt;br /&gt;Cornflake cokelat siap beli&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Campur mentega, gula, cokelat bubuk, telur. Kocok lembut. &lt;br /&gt;2. Campur dengan ayakan maizena, susu, terigu, baking powder. Aduk rata. &lt;br /&gt;3. Ambil adonan 1 sendok teh. Bulatkan. Letakkan di loyang. Hias dengan cornflake. &lt;br /&gt;4. Oven 170 derajat Celsius sampai matang. &lt;br /&gt; Putri Salju&lt;br /&gt;Posted on April 24, 2008 by dewipadi &lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;150 gram mentega&lt;br /&gt;75 gram gula halus&lt;br /&gt;1 butir telur&lt;br /&gt;1/4 sendok teh garam&lt;br /&gt;150 gram kacang cincang, sangrai&lt;br /&gt;300 gram tepung sagu&lt;br /&gt;Gula tabur secukupnya&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;1. Kocok mentega, gula, telur, garam sampai lembut. &lt;br /&gt;2. Campur dengan kacang dan tepung sagu. Aduk rata. &lt;br /&gt;3. Gilas tebal 3 mm. Cetak. &lt;br /&gt;4. Letakkan di loyang yang dipoles mentega. &lt;br /&gt;5. Oven 170 derajat Celsius 15 menit. &lt;br /&gt;6. Setelah matang, panas-panas ditaburi gula.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-1315443603133427754?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/1315443603133427754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=1315443603133427754&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/1315443603133427754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/1315443603133427754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/12/resep-kue-kering.html' title='resep kue kering'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-7485714663041519551</id><published>2010-12-21T04:31:00.001-08:00</published><updated>2010-12-21T04:34:40.796-08:00</updated><title type='text'>resep makanan</title><content type='html'>1.Resep Nasi Goreng &lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 2 buah tahu takwa, potong-potong, goreng&lt;br /&gt;• 2 sdm minyak goreng&lt;br /&gt;• 3 butir telur, kocok lepas&lt;br /&gt;• 3 siung bawang putih, cincang&lt;br /&gt;• 2 piring nasi putih&lt;br /&gt;• garam dan merica bubuk secukupnya&lt;br /&gt;• 1 sdm kecap asin&lt;br /&gt;• 1 sdm kecap manis&lt;br /&gt;• 2 batang daun bawang&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Panaskan minyak goreng, tuang telur, buat orak-arik hingga matang, angkat, sisihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Panaskan 2 sdm minyak goreng, tumis bawang putih hingga layu. Masukkan nasi putih, aduk rata, beri garam, merica, kecap asin, dan kecap manis, aduk. Tambahkan irisan tahu, orak-arik telur, dan irisan daun bawang, aduk rata, masak sebentar, angkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sajikan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Resep Cookie Cookie Mania&lt;br /&gt;Bahan: &lt;br /&gt;• 2 1/2 cup tepung terigu, di ayak &lt;br /&gt;• 1 sdt baking soda &lt;br /&gt;• 1/2 sdt garam &lt;br /&gt;• 1 cup mentega unsalted (merk anchor), dilunakkan &lt;br /&gt;• 1 cup brown sugar &lt;br /&gt;• 1/2 cup gula pasir &lt;br /&gt;• 2 butir telur &lt;br /&gt;• 1 sdm vanilla &lt;br /&gt;• 6 ons chocolate chips &lt;br /&gt;• 1 cup kacang walnut, dicacah kasar. &lt;br /&gt;Cara membuat : &lt;br /&gt;1. Panaskan oven (170 derajat). Campur tepung, baking soda dan garam. Aduk dengan menggunakan sendok kue. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Campur mentega, brown sugar, dan gula pasir di wadah lain dengan mixer berkecepatan sedang sampai adonan ringan dan halus. Masukkan juga telur dan vanilla. Setelah itu masukkan campuran tepung ke dalam campuran mentega. Mixer sampai tercampur merata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Masukkan choco-chips &amp; walnut. Aduk dengan sendok sampai rata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bentuk bulatan-bulatan pipih berdiameter 5cm dari adonan keatas kertas roti, lalu letakkan beberapa choco-chips diatasnya. Tips : beri jarak 3cm diantara bulatan, supaya tidak saling menempel saat adonan mengembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Panggang selama 12-14 menit atau sampai pinggiran cookies coklat keemasan. Angkat, dan diamkan 5 menit sampai cookies nya renyah merata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Angkat dan sajikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Resep Tahu Berontak&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 10 buah tahu yang sedang besarnya&lt;br /&gt;• Minyak goreng secukupnya  &lt;br /&gt;Untuk isi : &lt;br /&gt;• 150 gr udang kupas, cincant, tumis sebentar. &lt;br /&gt;• 3 sdm rebung cincang &lt;br /&gt;• 2 btg seledri, iris halus &lt;br /&gt;• 2 btg daun bawang, iris halus &lt;br /&gt;• 2 siung bawang putih, iris halus, goreng &lt;br /&gt;• 5 bh bawang merah, iris halus, goreng &lt;br /&gt;• 1/2 sdt merica bubuk &lt;br /&gt;• 1 sdt garam &lt;br /&gt;• 1 sdt gula pasir &lt;br /&gt;Untuk adonan kulit, campur jadi satu :&lt;br /&gt;• 125 gr tepung beras &lt;br /&gt;• 2 sdm tepung sagu &lt;br /&gt;• 1 sdt ketumbar, sangrai &lt;br /&gt;• 3 siung bawang putih &lt;br /&gt;• 5 btr kemiri &lt;br /&gt;• 1/2 sdt garam &lt;br /&gt;• 250 cc santan &lt;br /&gt;Cara Membuat : &lt;br /&gt;1. Goreng tahu agak kering, buat guratan di salah satu sisinya, keluarkan isinya menggunakan sendok kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Campur isi tahu yang di keluarkan tadi dengan udang, seledri, rebung, daun bawang, bawang putih, bawang merah, dan semua bumbu. Remas-remas hingga rata. Isikan ke dalam tahu yang sudah dilubangi tadi. Celupkan ke adonan kulit, lalu goreng hingga matang dan kulitnya kering. &lt;br /&gt;Resep ini dibuat untuk 10 buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Resep Puding Durian Saus Karamel&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 800 ml susu cair &lt;br /&gt;• 200 gr durian tanpa bijinya &lt;br /&gt;• 115 gr gula pasir &lt;br /&gt;• 1/4 sdt garam &lt;br /&gt;• 1 1/2 bungkus agar-agar bubuk &lt;br /&gt;• 1 kuning telur &lt;br /&gt;• 4 tetes pewarna kuning &lt;br /&gt; Bahan Saus :&lt;br /&gt;• 200 gr gula pasir &lt;br /&gt;• 400 ml air panas &lt;br /&gt;• 30 gr gula pasir &lt;br /&gt;• 1 sdm tepung maizena, larutkan dgn&lt;br /&gt;• 1 sdm air &lt;br /&gt;Cara membuat : &lt;br /&gt;1. Blender durian dengan sebagian susu sampai lembut. Rebus blenderan durian, sisa susu, gula pasir, garam, agar2 dan pewarna kuning. Aduk2 hingga meletup-letup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ambil sedikit adonan, tuang kedalam kuning telur, aduk rata. Masukan lagi ke dalam rebusan puding. Rebus sambil diaduk sampai mendidih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Masukkan pewarna kuning, aduk rata. Tuang ke loyang, bekukan. &lt;br /&gt;Cara membuat saus: &lt;br /&gt;1. Gosongkan sebagian gula pasir, tuang air lalu aduk sampai gula larut. Tambahkan sisa gula pasir, didihkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. kentalkan dengan larutan maizena. Rebus lagi sambil diaduk sampai meletup2. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. sajikan Puding dengan saus karamel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 .Resep Roti (tak) sobek-sobek&lt;br /&gt;Ingredients : &lt;br /&gt;• 600 gr tepung terigu protein tinggi &lt;br /&gt;• 400 gr tepung terigu serbaguna &lt;br /&gt;• 250 gr gula pasir &lt;br /&gt;• 40 gr susu bubuk &lt;br /&gt;• 35 gr ragi instan &lt;br /&gt;• 15 gr garam &lt;br /&gt;• 150 gr telur &lt;br /&gt;• 370 ml air &lt;br /&gt;• 140 gr margarin/butter &lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Campur semua bahan kering, aduk rata. Tambahkan telur, air dan margarin, aduk sampai adonan kalis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Biarkan adonan selama 30 menit sampai mengembang, kempiskan adonan, bentuk memankang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Potong-potong adonan, timbang masing2 40gr. Bulatkan dan diamkan selama 10 menit. Buang gas dengan mengempiskan adonan (digilas) lalu isi sesuai selera, buat dalam berbagai bentuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Letakan adinan dalam loyang bundar atau loyang persegi panjang yang sudah dioles margarin. Biarkan samapi mengembang 60-90 menit. Olesi permukaan denga kuning telur &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Masukkan ke dalam oven yang sudah panaskan, pada suhu 180 derajat selama 20 menit hingga matang, keluarkan dari oven&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Resep Hunkwe Kelapa&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 1 bungkus tepung hunkwe (-/+ 120 gr) &lt;br /&gt;• 220 gr gula pasir &lt;br /&gt;• 1/2 sdt garam &lt;br /&gt;• 960 ml santan dari 1 butir kelapa &lt;br /&gt;• 1 sdt moka pasta &lt;br /&gt;• daun pandan, potong serong &lt;br /&gt;• 100 gr kelapa muda, keruk lebar &lt;br /&gt;• daun pisang tua, untuk membungkus&lt;br /&gt;Cara membuat : &lt;br /&gt;1. Campur tepung hunkwe, gula, garam dan santan. Masak sambil diaduk sampai meletup. Tambahkan moka pasta, aduk rata &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ambil sehelai daun pisang. Beri daun pandan dan kelapa muda. Tuang adonan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bungkus dengan daun pisang agar gembung dan berpinggang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Resep Gogos&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 500 gr beras ketan &lt;br /&gt;• 750 cc santan &lt;br /&gt;Untuk adonan ikan : &lt;br /&gt;• 200 gr daging ikan kakap, kukus, suwir-suwir&lt;br /&gt;• 250 cc santan&lt;br /&gt;• 3 bh cabai rawit&lt;br /&gt;• 3 butir bawang merah&lt;br /&gt;• 3 siung bawang putih&lt;br /&gt;• 2 btr kemiri&lt;br /&gt;• 1 sdt ketumbar&lt;br /&gt;• garam dan gula pasir secukupnya&lt;br /&gt;• 1 bh tomat yang masih hijau, iris halus&lt;br /&gt;• 1 sdm minyak goreng, untuk menumis&lt;br /&gt;Cara membuat : &lt;br /&gt;1. Cuci bersih beras ketan, rendam beberapa jam, tiriskan. Kukus hingga setengah matang. Tuang 375 cc santan yang sudah di beri garam, aduk hingga rata. Jika santannya sudah terisap, kukus hingga matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tempatkan di loyang yang telah dialasi daun pisang atau plastik, lalu potong-potong. Beri tumisan ikan diatasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Buat tumisan ikan: haluskan bumbu kecuali tomat, lalu tumis dengan sedikit minyak bersama-sama dengan tomat yang telah diiris halus. Tuangi santan, masukkan daging ikan. Masak terus sambil kadang-kadang diaduk hingga kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Resep Buras Sambal&lt;br /&gt;Bahan: &lt;br /&gt;• 500 gr beras putih &lt;br /&gt;• 250 gr beras ketan putih &lt;br /&gt;• 750 cc santan dari 1/2 butir kelapa &lt;br /&gt;garam secukupnya &lt;br /&gt;• daun pisang (untuk membungkus) &lt;br /&gt;tali rafia &lt;br /&gt;Bahan sambal buras : &lt;br /&gt;• Kelapa parut dari 1/2 butir kelapa&lt;br /&gt;• 100 gr ebi (udang kering), tumbuk halus &lt;br /&gt;• 2 bh cabai merah &lt;br /&gt;• 2 butir bw. merah &lt;br /&gt;• 1 siung bw. putih &lt;br /&gt;• garam secukupnya &lt;br /&gt;• gula pasir secukupnya.&lt;br /&gt;Cara membuat: &lt;br /&gt;1. Campur beras dengan beras ketan, cuci bersih, lalu tiriskan. Tempatkan ke dalam panci, tuang santan yang telah dibubuhi garam. Masak hingga setengah matang dan santan meresap, aduk2, angkat. Diamkan selama setengah jam, lalu aduk2. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ambil selembar daun pisang, isi dengan 2 sdm nasi matang, gulung kedua ujungnya seperti bungkusan kue pisang. Jika semua nasi sudah terbungkus, tangkupkan setiap 2 bungkus, ikat dengan tali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Rebus buras hingga matang kira2 3 jam, lalu angkat. Santap dengan sambal buras &lt;br /&gt;Cara membuat sambal buras : &lt;br /&gt;Tumbuk halus semua bumbu, campurkan dengan kelapa parut, lalu sangrai hingga kuning. masukkan bumbu udang kering, aduk2 terus di atas api kecil hingga kering, angkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Resep Bitterballen&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 275 gr daging sapi cincang &lt;br /&gt;• 2 siung bawang putih, rajang halus &lt;br /&gt;• 1 buah bawang bombay, rajang halus &lt;br /&gt;• 4 sdm mentega &lt;br /&gt;• 120 gr tepung terigu, ayak &lt;br /&gt;• 375 ml susu cair &lt;br /&gt;• 1/2 sdt pala bubuk &lt;br /&gt;• 2 sdt garam &lt;br /&gt;• 2 sdt gula pasir &lt;br /&gt;• 1/2 sdt merica bubuk &lt;br /&gt;• 50 gr keju cheddar parut &lt;br /&gt;• 2 butir telur ayam, kocok &lt;br /&gt;• Tepung roti &lt;br /&gt;• Kaldu sapi bubuk &lt;br /&gt;Cara Membuat : &lt;br /&gt;1. Sangrai daging cincang sampai air habis, sisihkan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tumis bw.putih dan bw. bombay hingga halus &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Masukkan tepung terigu sedikit demi sedikit lalu aduk rata &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tambahkan susu sedikit demi sedikit lalu aduk sampai tepung tercampur rata dengan susu dan adonan kental &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tambahkan pala bubuk, garam, gula, merica dan kaldu sapi bubuk &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Masukkan daging cincang. Masak sampai semua tercampur rata, matikan api&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;7. Tambahkan keju cheddar, aduk sampai keju meleleh, angkat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. bentuk adonan daging bulat2 (gunakan plastik ya, karena adonannya lumayan lengket) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Gulingkan ke telur kocok, setelah itu balurkan tepung roti &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Goreng hingga kecoklatan, angkat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Bitterbalen siap dihidangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Resep Sandwich Goreng&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 20 ptg roti tanpa kulit&lt;br /&gt;• 1 kaleng kecil corned beef (kurang lebih 175 gr)&lt;br /&gt;• 2 kuning telur&lt;br /&gt;• 75 gr bawang bombai, cincang&lt;br /&gt;• 1/2 sdt merica halus&lt;br /&gt;• 1/2 sdt garam&lt;br /&gt;Untuk Menggoreng : &lt;br /&gt;• 2 putih telur&lt;br /&gt;• 4 sdm air&lt;br /&gt;• 3-4 sdm tepung maizena/sagu&lt;br /&gt;• putih telur, air, tepung maizena, sagu di aduk&lt;br /&gt;• 75 gr wijen, cuci, jemur kering untuk pembalut&lt;br /&gt;• minyak goreng secukupnya&lt;br /&gt;Cara Membuat : &lt;br /&gt;1. Tumis bawang bombai dengan 2 sdm margarin sampai bening, masukkan semua bahan lain, aduk rata; angkat, dinginkan. Olesi tiap permukaan roti dengan adonan corned tebal kira-kira 1cm, tutup dengan sepotong roti, tekan supaya melekat. Potong 4 membentuk segitiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Celupkan tiap roti lapis pada kocokan telur, gulingkan pada wijen, goreng dengan minyak panas sampai kecokelatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Resep Meat Loaf Saus Jamur&lt;br /&gt;Bahan Meat Loaf : &lt;br /&gt;• 350 gr daging cincang &lt;br /&gt;• 5 lbr roti tawar tanpa kulit, tebal kira-kira 1 1/2 cm &lt;br /&gt;• 150 cc susu &lt;br /&gt;• 50 gr bawang bombai, parut &lt;br /&gt;• 1 sdt garam &lt;br /&gt;• 1/2 sdt merica halus &lt;br /&gt;• 1/2 sdt pala halus &lt;br /&gt;• 1/2 btr telur, kocok lepas &lt;br /&gt;Saus Jamur :&lt;br /&gt;• 1 sdm mentega/margarin &lt;br /&gt;• 125 cc susu &lt;br /&gt;• 100 gr jamur kalengan, iris tipis &lt;br /&gt;• 1/4 sdt garam &lt;br /&gt;• 1/4 sdt merica halus &lt;br /&gt;• 1 sdm tepung terigu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Membuat : &lt;br /&gt;1. Rebus bawang bombai dengan susu sampai matang, angkat dari api, aduk terus hingga roti hancur, dinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Campurkan sisa bahan lainnya, tuang dalam loyang yang diolesi margarin, tutup dengan kertas roti/alumunium foil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kukus sampai matang, dinginkan. Goreng dengan margarin sampai kecokelatan, potong-potong.&lt;br /&gt;Saus Jamur :&lt;br /&gt;1. Lelehkan margarin, masukkan tepung, aduk, tuangi susu sambil diaduk sampai licin. Masukkan garam, merica dan jamur. Hidangkan meat loaf dengan sayuran rebus dan saus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Resep ini dibuat untuk 8-10 potong roti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Resep Pizza Roti&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 10 lembar roti tawar tanpa kulit, olesi salah satu permukaannya dengan mentega, panggang 5 menit dengan panas sedang. &lt;br /&gt;• 5 sdm saus tomat dari botol &lt;br /&gt;• 150 gr keju parut mozarella/gruyere atau lainnya &lt;br /&gt;Bahan Taburan : &lt;br /&gt;• 1 sdm minyak untuk menumis &lt;br /&gt;• 100 gr jamur, iris tipis &lt;br /&gt;• 2 bh cabai hijau, buang bijinya, iris tipis &lt;br /&gt;• 2 bh cabai merah, buang bijinya, iris tipis &lt;br /&gt;• 100 gr daging asap, potong persegi 1 cm/sosis potong tipis &lt;br /&gt;• 100 gr bawang bombai, cincang kasar&lt;br /&gt;• oregano, kalau ada &lt;br /&gt;Cara Membuat : &lt;br /&gt;1. Tumis bawang bombai, cabai merah-hijau dan jamur sampai layu, masukkan daging asap/sosis dan oregano, masak sampai matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Olesi permukaan roti dengan saus tomat, taburkan bahan yang ditumis, taburi keju. Panggang sampai keju meleleh dan sayuran matang. Hidangkan panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Resep Roti Selai Stroberi&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 12 ptg roti dengan kulit &lt;br /&gt;• 5 sdm selai stroberi 3 sdm mentega/margarine&lt;br /&gt;• 3 btr telur 100 gr gula pasir &lt;br /&gt;• 500 cc susu &lt;br /&gt;Cara Membuat : &lt;br /&gt;1. Olesi roti dengan mentega dan selai, tumpuk saling berhadapan. Potong menurut selera. Letakkan dalam pinggan tahan panas yang sudah di olesi mentega. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kocok telur dengan gula, tuangi susu, aduk sampai larut. Siram ke atas roti. Panggang atau kukus sampai matang. Hidangkan panas atau dingin.&lt;br /&gt;14.Resep Tiger Smoothie&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 1 buah pepapaya ukuran sedang&lt;br /&gt;• 1 buah markisa&lt;br /&gt;• 1/2 jeruk limau&lt;br /&gt;• 2-3 kubus es batu&lt;br /&gt;Cara membuat : &lt;br /&gt;1. Potong pepaya menjadi dua bagian, buang biji dan kulitnya. Ambil daging buahnya, lalu masukkan ke dalam blender.&lt;br /&gt;2. Potong buah markisa menjadi dua bagian, lalu masukkan cairan serta bijinya ke dalam blender.&lt;br /&gt;3.  Peras jeruk limau dan masukkan juga ke dalam blender bersama es batu, proses hingga lembut, lalu tuang ke dalam gelas.&lt;br /&gt;15. Resep Double Chocolate and Chip Ice Cream&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 130 gram gula palem&lt;br /&gt;• 4 butir kuning telur&lt;br /&gt;• 300 gram susu segar&lt;br /&gt;• 200 gram krim segar&lt;br /&gt;• 20 gram cokelat bubuk&lt;br /&gt;• 75 gram cokelat blok, iris kasar&lt;br /&gt;• 10 gram pasta es krim cokelat (esen cokelat)&lt;br /&gt;• 100 gram cokelat chip&lt;br /&gt;Cara membuat : &lt;br /&gt;1. Kocok gula palem dan kuning telur dengan balloon wisk hinga mengental, lalu sisihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Panaskan susu bersama krim segar di atas api sedang. Sementara itu larutkan cokelat bubuk dengan susu, lalu masukkan ke dalam susu yang sedang dimasak. Masukkan juga potongan cokelat blok, aduk hingga larut. Masak terus hingga hampir mendidih (kurang lebih 80 derajat Celcius). Angkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tuangkan susu cokelat yang sudah dimasak ke dalam adonan telur sambil terus diaduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Masak kembali adonan dengan cara ditim sambil terus diaduk dengan spatula kayu hingga adonan mengental (menempel tipis di spatula kayu). Namum jangan dimasak terlalu lama agar telur tidak menggumpal. Angkat dan biarkan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Setelah dingin, masukkan pasta es krim cokelat dan aduk hingga rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Masukkan ke dalam kulkas selama minimum 4 jam atau sampai adonan cukup dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Keluarkan adonan dari kulkas, tuangkan ke dalam mesin es krim. Proses hingga mengental dan putaran terlihat berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Tuangkan ke dalam wadah bersih, taburi dengan cokelat chip. Masukkan ke dalam freezer hingga mengeras dan siap dihidangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Resep Wedang Jahe&lt;br /&gt;Bahan: &lt;br /&gt;• 1 liter air &lt;br /&gt;• 100 gr gula pasir&lt;br /&gt;•  2 buah jahe, dimemarkan &lt;br /&gt;•  1 lembar daun pandan wangi, dipotong-potong &lt;br /&gt;Bahan pelengkap: &lt;br /&gt;• 200 gram gula jawa, rebus dengan 125 cc air sampai larut dan kental(sirup gula merah)&lt;br /&gt;• 500 cc santan dari&lt;br /&gt;Cara Membuat: &lt;br /&gt;1. Semua bahan dicampur menjadi satu, kecuali air direbus sampai mendidih, masukkan bahan tersebut aduk sampai gulanya larut, dan pandannya menjadi layu, cicipi bila kurang manis tambahkan gula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dihidangkan dalam keadaan hangat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Sirop Susu&lt;br /&gt;Bahan:&lt;br /&gt;• 2 cangkir gula putih&lt;br /&gt;• 1 cangkir air&lt;br /&gt;• 1 (0,13 ons) paket tanpa pemanis, campuran minuman rasa buah lembut&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Dalam panci dengan api besar sedang, campur gula dan air. Cook, stirring, sampai campuran datang ke mendidih. Didihkan selama 30 detik untuk 1 menit. Hapus dari panas dan biarkan dingin. Aduk campuran bubuk minuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk melayani: Aduk 1 sendok makan sirup ke dalam 8 ons susu, atau sesuai selera.&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Anda juga dapat mencampur ini sirup dengan air berkarbonasi untuk buah rasa soda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.Resep Es Buah&lt;br /&gt;Bahan-bahan : &lt;br /&gt;• 15 buah strawberry dibelah 4 bagian&lt;br /&gt;•  1/2 buah melon dikerok dengan cetakan bulat &lt;br /&gt;•  1/4 buah semangka dikerok dengan cetakan bulat &lt;br /&gt;• 1/2 buah nenas dipotong serasi &lt;br /&gt;• 1 kaleng jeruk mandarin &lt;br /&gt;• 100 ml sirup jeruk orange &lt;br /&gt;•  250 gr air soda beraroma &lt;br /&gt;• 1 buah jeruk nipis &lt;br /&gt;• 4 sdm gula pasir &lt;br /&gt;• Es batu secukupnya &lt;br /&gt;Cara Membuat: &lt;br /&gt;1.  Campur semua bahan kecuali air soda, diamkan dalam lemari es selama 30 menit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sebelum dihidangkan tambahkan air soda dan es batu, hidangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Resep Ayam Lemon&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 200 gr dada ayam fillet. potong kotak besar &lt;br /&gt;• 1/2 sdt air jeruk lemon &lt;br /&gt;• 1/2 sdt garam &lt;br /&gt;• 1 sdt minyak wijen &lt;br /&gt;• 1 butir telur, kocok lepas &lt;br /&gt;• 50 gr tepung maizena &lt;br /&gt;garam secukupnya &lt;br /&gt;Bahan saus: &lt;br /&gt;• 1 sdm minyak wijen &lt;br /&gt;• 1 sdt garam &lt;br /&gt;• 2 1/2sdt gula pasir &lt;br /&gt;• 1 sdm air jeruk lemon &lt;br /&gt;• 1 sdm kulit jeruk lemon, iris panjang&lt;br /&gt;• 200 gr air &lt;br /&gt;• 1 1/2 sdt tepung maizena, campurkan dgn sedikit air untuk mengentalkan&lt;br /&gt;Cara Membuat : &lt;br /&gt;1. Lumuri ayam dengan air jeruk lemon, garam, minyak wijen &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Celup ke telur, gulingkan di campuran tepung maizena dan garam. Goreng sampai matang. Sisihkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Panaskan minyak wijen, garam, gula dan air jeruk lemon. Tuang air. Rebus sambil diaduk sampai mendidih. Masukkan kulit jeruk lemon, aduk rata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kentalkan dengan larutan maizena. masak sambil di aduk sampai meletup2. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Siram saus ke atas ayam. Hidangkan.&lt;br /&gt;20.Resep Sukiyaki&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 150 g daging sapi &lt;br /&gt;• 50 g bayam&lt;br /&gt;•  50 g soun &lt;br /&gt;•  50 g daun bawang &lt;br /&gt;•  100g tahu putih &lt;br /&gt;• 50 g jamur kuping &lt;br /&gt;• 50 g rebung &lt;br /&gt;•  saus sukiyaki &lt;br /&gt;Cara Membuat : &lt;br /&gt;1. Daging sapi dipotong tipis. Bayam dibersihkan, soun disiram air panas. Daun bawang dipotong miring, rebung dipotong tipis. Jamur kuping direndam air hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2. Tahu putih digongso dengan minyak sedikit (agar tidak hancur). &lt;br /&gt;Saus Sukiyaki: &lt;br /&gt;• 1/5 liter kikkoman shoyu &lt;br /&gt;• 1/2 liter mirin &lt;br /&gt;• 1 sm gula pasir &lt;br /&gt;• 5 g penyedap &lt;br /&gt;• 1 sloki sake &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Semua dicampur dan didihkan, tapi jangan terlalu lama. agar tidak gosong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Panaskan pan dengan sedikit mentega (lemak sapi lebih baik). Masukkan sedikit demi sedikit sayuran diatasnya (bergantian dengan daging sapi) lalu siram dengan sausnya (sedikit demi sedikit). Jika telah masak dapat langsung dinikmati.&lt;br /&gt;21.Resep Mi Yamin&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 400 gr mi ayam&lt;br /&gt;• 100 gr jamur merang, iris&lt;br /&gt;• 100 gr caisim, seduh&lt;br /&gt;• 1 btg daun bawang, iris untuk pelengkap&lt;br /&gt;• 200 gr ayam paha fillet&lt;br /&gt;• 5 siung bawang putih, memarkan&lt;br /&gt;• 2 sdt kecap asin&lt;br /&gt;• 1/4 sdt garam&lt;br /&gt;• 1/2 sdt merica bubuk&lt;br /&gt;• 1/4 sdt gula pasir&lt;br /&gt;• 200 ml air&lt;br /&gt;• 1 sdm minyak untuk menumis&lt;br /&gt;Bahan Kuah : &lt;br /&gt;• 1.500 ml air&lt;br /&gt;• 150 gr tulang ayam&lt;br /&gt;• 2 sdt garam&lt;br /&gt;• 1/4 sdt merica bubuk&lt;br /&gt;• 1/2 sdt gula pasir&lt;br /&gt;Bumbu per porsi : &lt;br /&gt;• 1 sdt minyak sayur&lt;br /&gt;• 1 sdm kecap manis&lt;br /&gt;• 1 1/2 sdt kecap asin&lt;br /&gt;• 1/4 sdt merica bubuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuat : &lt;br /&gt;1. Kuah, rebus tulang, garam, merica dan gula dengan api kecil. Saring dan ukur kaldunya 1000 ml.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tumis bawang putih sampai harum. Masukkan ayam. Aduk sampai berubah warna. Tambahkan jamur. Aduk sampai layu. Masukkan kecap asin, garam, merica, dan gula. Aduk rata. Tuang air. Masak sampai meresap. Sisihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Cara penyajian, seduh mi dengan 1.000 ml air mendidih. Di mangkuk, campur bumbu. Aduk-aduk. Masukkan mi. Aduk-aduk dengan sumpit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tambahkan caisim, tumisan ayam, dan daun bawang. Sajikan dengan bahan kuah dengan mangkuk terpisah.&lt;br /&gt;22.Resep Ayam Kuluyuk&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 250 gr paha ayam fillet, potong kotak&lt;br /&gt;• 1 sdt garam&lt;br /&gt;• 1/2 sdt merica bubuk&lt;br /&gt;• 75 gr tepung terigu protein sedang&lt;br /&gt;• 25 gr sagu tani &lt;br /&gt;Bahan saus : &lt;br /&gt;• 3 siung bawang putih, memarkan &lt;br /&gt;• 1/2 buah bw.bombay, iris panjang &lt;br /&gt;• 2 bh cabai merah, buang bijinya, iris miring &lt;br /&gt;• 100 gr nanas, potong kotak &lt;br /&gt;• 50 gr timun, belah dua, buang biji, potong miring &lt;br /&gt;• 6 sdm saus tomat &lt;br /&gt;• 1/2 sdt garam &lt;br /&gt;• 2 1/2 sdt gula pasir &lt;br /&gt;• 400 ml air &lt;br /&gt;• 1 sdt cuka &lt;br /&gt;• 1 btg daun bawang, potong miring &lt;br /&gt;• 1 sdt tepung maizena, campur dgn 1 sdt air untuk mengentalkan &lt;br /&gt;• 1 sdm minyak untuk menumis &lt;br /&gt;Cara membuat: &lt;br /&gt;1. Lumuri ayam dengan garam dan merica. Balut dengan campuran tepung terigu dan sagu tani. celup ke air es. Gulingkan lagi di tepung. Goreng sampai kering dan matang. Sisihkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tumis bw.putih dan bw.bombay sampai harum. Tambahkan cabai. Aduk sampai layu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Masukkan nanas dan timun. Tumis sampai layu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tambahkan saus tomat, garam dan gula. Aduk rata. Tuang air. Didihkan. Masukkan cuka dan daun bawang. Aduk rata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kentalkan dengan larutan maizena. masak lagi sampai mengental. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sajikan ayam dengan disiram saus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Resep Cah Ayam Jamur&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 300 gr filet ayam, potong kotak 2x2 cm&lt;br /&gt;• 2 siung bawang putih, memarkan&lt;br /&gt;• 1/2 buah bawang bombay, potong kotak 1.5x1.5 cm&lt;br /&gt;• 2 cm jahe, cincang&lt;br /&gt;• 100 gr jamur merang, potong-potong&lt;br /&gt;• 1/2 buah paprika merah, potong panjang agak lebar&lt;br /&gt;• 1/2 buah paprika hijau potong agak lebar&lt;br /&gt;• 100 gr brokoli yang sudah dipotong-potong&lt;br /&gt;• 1 sdm saus tiram&lt;br /&gt;• 1/2 sdt merica bubuk&lt;br /&gt;• 1/2 sdt garam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• 1/2 sdt gula pasir&lt;br /&gt;• 1 sdm minyak wijen&lt;br /&gt;• 1 sdm angciu&lt;br /&gt;• 300 ml air&lt;br /&gt;• 2 sdt maizena + 2 sdt air untuk mengentalkan&lt;br /&gt;• 2 sdm margarin untuk menumis&lt;br /&gt;Cara Membuat : &lt;br /&gt;1. Tumis bawang putih, bawang bombay, dan jahe sampai harum. Masukkan ayam. Aduk sampai berubah warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tambahkan jamur merang dan paprika. Aduk sampai layu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Masukkan brokoli. aduk sampai berubah warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bubuhi saus tiram, merica bubuk, garam dan gula pasir, aduk rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tuangkan air. Masak sampai matang. Masukkan minyak wijen dan angciu. Aduk rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kentalkan dengan larutan maizena. Masak sampai meletup-letup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.Resep Ayam Sechuan&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 250 gr fillet ayam, potong dadu&lt;br /&gt;• 2 siung bw.putih, parut &lt;br /&gt;• 2 cm jahe, parut &lt;br /&gt;• 1/2 sdt garam &lt;br /&gt;• 1/2 sdt merica bubuk &lt;br /&gt;• 3 siung bw.putih, cincang kasar &lt;br /&gt;• 1 bh pekak &lt;br /&gt;• 1/2 bh paprika merah, potong kotak &lt;br /&gt;• 5 bh cabai merah kering, potong 2 cm &lt;br /&gt;• 2 sdm saus tiram &lt;br /&gt;• 4 sdt kecap manis &lt;br /&gt;• 1/2 sdt kecap asin &lt;br /&gt;• 1/4 sdt lada hitam &lt;br /&gt;• 1/4 sdt gula pasir &lt;br /&gt;• 250 ml air &lt;br /&gt;• 50 gr kacang mede goreng &lt;br /&gt;• 1 sdm minyak, untuk menumis &lt;br /&gt;Cara membuat : &lt;br /&gt;1. Lumuri ayam dengan bw.putih, jahe, garam dan merica. Diamkan 30 menit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tumis bw.putih dan pekak sampai harum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tambahkan paprika merah dan cabai kering. Tumis hingga layu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Masukkan ayam, aduk sampai berubah warna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tambahkan saus tiram, kecap manis, kecap asin, lada hitam, dan gula pasir. Aduk rata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tuang air, masak hingga meresap. Masukan kacang mede. Aduk rata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Masakan siap disajikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.Resep Omelet Keju&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 2 sdm minyak goreng&lt;br /&gt;• 3 butir telur&lt;br /&gt;• 1/4 sdt garam&lt;br /&gt;• 1/4 sdt merica bubuk&lt;br /&gt;• 3 sdm susu cair&lt;br /&gt;• 4 buah jamur kancing, iris&lt;br /&gt;• 20 gram keju cheddar, parut&lt;br /&gt;• 50 gram keju mozzarella&lt;br /&gt;Pelengkap :&lt;br /&gt;• Kentang goreng&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Panaskan minyak goreng dalam wajan anti lengket.&lt;br /&gt;2. Kocok lepas telur, masukkan garam, merica, dan susu cair, aduk rata. Masukkan keju parut dan jamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tuangkan adonan ke dalam wajan panas, tata irisan keju mozzarella diatasnya dan buat dadar hingga matang, angkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sajikan hangat dengan kentang goreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.Resep Kentang&lt;br /&gt;Goreng ala Jerman&lt;br /&gt;Bahan/ bumbu: &lt;br /&gt;• 200 gram kentang, kupas, cuci, potong dadu &lt;br /&gt;• 1 siung bawang putih, keprek, iris halus &lt;br /&gt;• 1/2 bawang bombay, iris kotak &lt;br /&gt;• 1 butir telur ayam &lt;br /&gt;•  1 sdm minyak goreng &lt;br /&gt;• garam secukupnya-&lt;br /&gt;• merica/lada bubuk secukupnya &lt;br /&gt;Cara memasak: &lt;br /&gt;1. panaskan wajan, masukkan minyak goreng &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. goreng kentang sedikit demi sedikit sampai matang dan warna kecoklatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. bikin ruang kosong di tengah wajan, tumis bawang putih dan bawang bombay sampai harum &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. aduk-aduk supaya tercampur dengan kentang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  tambahkan garam dan merica bubuk, aduk2 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.  pecahkan telur ayam diatas kentang, aduk2 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.  masak sampai matang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. angkat, sajikan bersama ayam goreng dan lalapan&lt;br /&gt;27.Resep Spaghetti Carbonara Italia &lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 1 pancetta C., potong korek api &lt;br /&gt;• 4 kuning telur &lt;br /&gt;• 1 / 2 C. heavy cream &lt;br /&gt;• Lada hitam segar &lt;br /&gt;• 8 oz. pasta spaghetti &lt;br /&gt;• 1 C. parmesan keju, parut &lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Dalam tumis panci besar, masak pancetta di atas api sedang untuk menjadikan pancetta lemak dan renyah tersebut. Sisihkan panci dengan pancetta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kocok kuning telur dengan krim dan lada hitam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dalam satu panci besar air asin mendidih, masak pasta dan tiriskan di saringan sebuah. Jangan bilas pasta, yang akan menyebabkan ia kehilangan rasa dan pati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Segera tambahkan pasta ke pancetta di tumis dalam panci dan tuangkan dalam campuran krim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Aduk di atas api sedang selama satu menit. Tambahkan parmesan parut dan melemparkan untuk melapisi pasta. Periksa bumbu. Atas dengan parmesan lebih jika Anda inginkan. Untuk 4 orang&lt;br /&gt;28.Resep Pizza Ayam Cina &lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 2 dada ayam tanpa tulang memperdua &lt;br /&gt;• 2 sendok makan minyak zaitun, dibagi &lt;br /&gt;• 1 / 4 cangkir tepung jagung atau tepung &lt;br /&gt;• 4-inci bola dari adonan pizza, suhu kamar &lt;br /&gt;• 1 / 4 cup saus hoisin (dalam bagian Asia grocery's) &lt;br /&gt;• 4 hijau bawang, iris &lt;br /&gt;Sampai dengan 2 / 3 cup daun ketumbar (bukan batang) &lt;br /&gt;• 1 cangkir tauge hijau segar &lt;br /&gt;• 1 / 2 cup paprika merah, iris tipis kertas &lt;br /&gt;• 1 cangkir keju mozzarella parut &lt;br /&gt;Giling merica&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Sikat tanpa kulit ayam dengan minyak zaitun dan musim dengan garam, merica. Panggang 10-15 menit, panas langsung, berpaling sekali. Dinginkan dan potong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Taburi permukaan dengan tepung jagung bekerja atau tepung. Roll adonan dari pusat ke lingkaran 12-inch atau persegi panjang, tebal 1/4-inch. Sikat kedua sisinya dengan minyak zaitun dan tempat di tengah grid memasak grill's dipanaskan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Panggang di atas api sedang langsung 2-4 menit, sampai dasar kerak baik ditandai dan kecokelatan. Hapus dari grill dan saus hoisin tersebar merata di sisi dimasak kerak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Taburi dengan ayam, bawang hijau, ketumbar, kubis dan cabe merah. Atas dengan keju. Jika menggunakan gas grill, beralih ke panas langsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kembali pizza ke pusat memasak ngilu dan grill dengan tutupnya ditutup sampai bawah adalah cokelat, 5 sampai 10 menit. Hapus dari grill, mandi dengan lada dan iris untuk melayani panas. Membuat pizza satu 12-inci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29.Resep Huzarensla&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 1/2 buah (90 gram) timun jepang, buang biji, potong kubus &lt;br /&gt;• 1 sendok teh cuka &lt;br /&gt;• 1 sendok makan gula pasir &lt;br /&gt;• 1 buah (150 gram) kentang, rebus, potong kubus, goreng &lt;br /&gt;• 1 buah (100 gram) apel malang, kupas, rendam air garam &lt;br /&gt;• 1/2 buah nanas, potong kubus &lt;br /&gt;• 1 buah (90 gram) wortel, potong kubus, rebus &lt;br /&gt;• 8 buah buncis, potong 1 cm, rebus &lt;br /&gt;• 2 lembar daging burger, potong-potong &lt;br /&gt;• 6 lembar daun selada, potong-potong&lt;br /&gt;Bahan Dressing : &lt;br /&gt;• 100 gram mayones &lt;br /&gt;• 1 sendok teh air jeruk &lt;br /&gt;• 1/4 sendok teh garam &lt;br /&gt;• 1/4 sendok teh gula pasir &lt;br /&gt;• 1/4 sendok teh merica bubuk &lt;br /&gt;Cara Membuat : &lt;br /&gt;1. Aduk timun jepang dengan cuka dan gula. Diamkan di dalam lemari es sampai layu. Sisihkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Aduk rata bahan dressing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tata kentang, apel, nanas, acar timun, wortel, buncis, daging burger, dan daun selada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tambahkan dressing. Aduk rata. Sajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30.Resep Lasagna &lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;Untuk daging :&lt;br /&gt;• 1 1 / 2 bawang merah, cincang &lt;br /&gt;• 1 siung bawang putih segar, cincang &lt;br /&gt;• 1 sendok makan kemangi, kering &lt;br /&gt;• 1 sendok makan oregano, kering &lt;br /&gt;• 2 1 / 2 pounds ground beef &lt;br /&gt;• 6 ons tomat pasta &lt;br /&gt;Untuk saus merah :&lt;br /&gt;• 3 / 4 bawang merah, cincang &lt;br /&gt;• 1 siung bawang putih segar, cincang &lt;br /&gt;• 3 / 4 sendok makan biji adas manis &lt;br /&gt;• 1 / 2 sendok makan cabai merah &lt;br /&gt;• 1 / 2 cangkir anggur merah &lt;br /&gt;• 4 ons jus V-8 &lt;br /&gt;• 2 / 3 cup kemangi segar, cincang &lt;br /&gt;• 3 / 8 cup oregano segar, cincang &lt;br /&gt;• 1 / 4 cangkir cuka anggur merah &lt;br /&gt;• 8 ons tomat kalengan hancur &lt;br /&gt;• 2 sdm gula &lt;br /&gt;Untuk mengisi keju :&lt;br /&gt;• 16 ons keju ricotta &lt;br /&gt;• 4 ons keju parut Parmesan &lt;br /&gt;• 1 / 2 siung bawang putih segar, cincang &lt;br /&gt;• 1 / 4 sendok makan lada hitam &lt;br /&gt;Garam, secukupnya &lt;br /&gt;• 2 kuning telur &lt;br /&gt;• 2 sendok makan kemangi segar, cincang &lt;br /&gt;• 1 cangkir bayam, cincang &lt;br /&gt;Untuk mie :&lt;br /&gt;• 1 sendok makan garam &lt;br /&gt;• 1 sdm minyak zaitun &lt;br /&gt;• lasagna mie 1 pon &lt;br /&gt;Untuk lasagna :&lt;br /&gt;• 16 ons keju Mozzarella, iris &lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Panaskan oven sampai 375 derajat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk daging: Tumis bawang merah, bawang putih, kemangi dan oregano sampai bawang tembus. Tambahkan daging sapi, masak sampai matang. Tambahkan pasta tomat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk saus: Tumis bawang merah, bawang putih, adas dan cabe merah. Tambahkan anggur, V-8, basil, oregano, cuka anggur merah, tomat dan gula hancur. Didihkan 30 menit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Untuk mengisi: Dalam mangkuk besar, campurkan keju ricotta dan parmesan, bawang putih, merica, garam, kuning telur, kemangi dan bayam. Aduk rata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Untuk mie: Tambahkan garam dan minyak zaitun untuk satu panci besar air. Bawa air mendidih, tambahkan mie lasagna. Masak sampai empuk, tapi masih al dente, atau sedikit perusahaan menggigit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Untuk merakit lasagna: Tempat lapisan tipis saus di bagian bawah 13 - oleh pan 9-inch. Tambahkan lapisan mie, sedikit tumpang tindih mereka. Dengan spatula, tambahkan lapisan campuran keju, kemudian lapisan campuran daging, diikuti dengan lapisan saus. Tempatkan lapisan iris keju Mozzarella di atas saus merah. Ulangi proses layering hingga panci penuh, finishing dengan lapisan saus merah atasnya dengan keju mozzarella. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Tutup dan panggang selama 45 menit. Hapus tutup dan panggang 10 menit lagi, atau sampai keju berwarna cokelat keemasan. Membuat 8-10 porsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31. Resep Pizza Roasted Sayuran&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 1 T. daun thyme segar atau 1 t. kering&lt;br /&gt;• Balsamic vinegar 2 T.&lt;br /&gt;• 1 t. minyak zaitun&lt;br /&gt;• 1 / 4 t. garam&lt;br /&gt;• 4 kentang merah kecil, masing-masing dipotong menjadi 8 potong (jika kentang yang besar, membuat potongan lebih kecil)&lt;br /&gt;• 4 siung bawang putih, iris tipis&lt;br /&gt;• 1 labu kuning kecil, potong-potong 2 inci&lt;br /&gt;• 1 kecil zucchini, potong potong 2 inci&lt;br /&gt;• 1 paprika merah kecil, potong-potong 2 inci&lt;br /&gt;• kayu Manis 1 batang kecil, potong menjadi 12 potong&lt;br /&gt;• 1 1 / 4 C. provolone diparut&lt;br /&gt;• 1 resep adonan pizza&lt;br /&gt;• Panaskan oven ke 425&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32.Resep Spaghetti dengan Bakso&lt;br /&gt;bahan Bakso:&lt;br /&gt;• 1 kecil bawang&lt;br /&gt;• 2 siung bawang putih&lt;br /&gt;• 1 daging sapi tanpa lemak (atau daging sapi muda)&lt;br /&gt;• 1 butir telur 1 /&lt;br /&gt;• 3 cup breadcrumbs&lt;br /&gt;• 1 sdm. peterseli segar&lt;br /&gt;• 1 sdt. oregano kering&lt;br /&gt;• 1 sdt. garam (atau sesuai selera)&lt;br /&gt;• 1 / 2 sdt. lada hitam segar&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Panaskan oven ke 400F. Cincang halus bawang merah dan bawang putih dan tempat dalam mangkuk. Tambahkan semua bahan lainnya dan aduk dengan tangan sampai tercampur rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Gulung ke bola 1-inci (atau lebih besar, jika Anda mau). Tempat bakso ke nampan dan panggang dalam oven selama 10 menit, atau sampai bakso yang kecoklatan. Membuat sekitar 20 bakso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saus tomat:&lt;br /&gt;• 2 sdm. minyak zaitun&lt;br /&gt;• 2 kecil bawang, cincang halus&lt;br /&gt;• 4 siung bawang putih, cincang halus&lt;br /&gt;• 428 oz. kaleng tomat prem&lt;br /&gt;• 2 sdt. Garam&lt;br /&gt;• 1 sdt. lada hitam segar&lt;br /&gt;• Bunch kemangi segar, cincang&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Panaskan minyak zaitun dalam panci berat-rangkap besar di atas api sedang. Tambahkan bawang bombay dan bawang putih dan tumis sampai kecoklatan ringan. Tambahkan tomat plum hancur, melanggar tomat dengan belakang sendok kayu. Tambahkan bumbu dan didihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Turunkan panas dan saus didihkan selama 20 menit, menyesuaikan garam dan merica, jika diperlukan. Tambahkan bakso kecoklatan untuk saus dan didihkan tambahan 15 menit. Sajikan dengan spaghetti atau linguini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33.Resep Baso Tahu&lt;br /&gt;Bahan Kuah : &lt;br /&gt;• 2 liter air &lt;br /&gt;• 250 gr daging sapi tetelan, pilih yang mutunya baik &lt;br /&gt;minyak, untuk menggoreng dan menumis &lt;br /&gt;• 1 potong tahu putih, bentuk segitiga kecil, goreng 1/2 matang &lt;br /&gt;• 2 lembar sawi hijau, potong-potong &lt;br /&gt;• 1 batang daun bawang, iris halus &lt;br /&gt;• 2 batang seledri, iris halus &lt;br /&gt;• 2 sdm bawang goreng &lt;br /&gt;• 2 sdm tongcay siap beli&lt;br /&gt;Bahan Baso : &lt;br /&gt;• 400 gr daging sapi giling &lt;br /&gt;• 1/3 sdt merica bubuk &lt;br /&gt;• 50 gr tepung terigu &lt;br /&gt;• 50 gr tepung kanji &lt;br /&gt;• 10 butir telur puyuh, rebus matang &lt;br /&gt;• 1 sdt garam halus &lt;br /&gt;Haluskan, tumis hingga layu : &lt;br /&gt;• 4 siung bawang putih &lt;br /&gt;• 4 butir bawang merah &lt;br /&gt;• 10 butir merica bulat &lt;br /&gt;Cara Membuat : &lt;br /&gt;1. Didihkan air, rebus daging hingga matang. Sementara itu, panaskan 2 sdm minyak, tumis bumbu halus hingga harum dan matang. Angkat, masukkan bumbu ke dalam kuah daging. Kecilkan api, teruskan memasak hingga bumbu meresap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bakso : campur daging sapi giling, garam, merica bubuk, dan kedua macam tepung. Aduk dan uleni adonan daging ini hingga tercampur rata. Bagi adonan daging menjadi 2 bagian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Satu bagian buat bakso isi telur puyuh: bentuk adonan daging bulat-bulat sebesar baso, masing-masing pipihkan dan isi dengan telur puyuh, kemudian rapatkan dan bentuk bulat lagi. Pastikan telur puyuh tidak "mengintip" keluar daging. Sisa adonan, bentuk bulat tanpa isi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Masukkan kedua macam baso dalam air yang sedang mendidih. Biarkan hingga mengambang di permukaan tanda sudah matang. Angkat, tiriskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Masukkan baso, sawi hijau, dan tahu ke dalam kuah baso. Hidangkan panas dengan taburan daun bawang, seledri iris, bawang goreng, dan tongcay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34.Resep Meatball &lt;br /&gt;Bahan Meatballs :&lt;br /&gt;• 400 gr daging sapi giling tanpa lemak&lt;br /&gt;• 1 sdm tepung roti&lt;br /&gt;• 1/2 sdt garam&lt;br /&gt;• 1/3 sdt merica bubuk&lt;br /&gt;• 1 butir telur&lt;br /&gt;Tumis sebentar, haluskan : &lt;br /&gt;• 3 siung bawang putih&lt;br /&gt;• 3 butir bawang merah&lt;br /&gt;Saus Tomat : &lt;br /&gt;• 1 sdm minyak goreng + 1 sdm&lt;br /&gt;mentega, untuk menumis&lt;br /&gt;• 75 gr bawang bombai, cincang halus&lt;br /&gt;• 200 gr saus tomat&lt;br /&gt;• 200 cc kaldu&lt;br /&gt;• 1/3 sdt garam&lt;br /&gt;• 1 sdt gula pasir&lt;br /&gt;Cara Membuat : &lt;br /&gt;1. Tempatkan daging giling dalam wadah, tambahkan bawang merah dan bawang putih yangs udah di haluskan, tepung maizena, tepung roti, garam dan merica bubuk secukupnya. Aduk sambil di remas-remas hingga tercampur rata. Tambahkan telur, aduk rata lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Buat bulatan-bulatan sebesar telur ayam kampung sambil di kepal-kepal agar bulantan kencang. Kerjakan hingga adonan daging habis, sisihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Panaskan minyak serta mentega, tumis bawang bombai hingga layu, masukkan saus tomat, tuang kaldu(panas), tambahkan garam dan gula pasir secukupnya, aduk, biarkan mendidih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Masukkan bola-bola daging, atur jangan ada yang bertindih. Kemudian tutup wajan/panci. Masak dengan api sedang saja, sambil sesekali bola-bola daging dibalik hingga matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Angkat, hidangkan selagi panas atau hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35.Resep Sayap Ayam Isi&lt;br /&gt;Bahan: &lt;br /&gt;• Sayap ayam (pilih ukuran besar) 10 potong, potong bagian dekat dada, pisahkan&lt;br /&gt;• Tepung roti 150 gr, untuk melumuri&lt;br /&gt;• Tepung terigu 50 gr&lt;br /&gt;• Telur 2 butir, kocok sebentar dengan menambahkan sedikit garam, untuk melumuri&lt;br /&gt;• Minyak 750 ml, untuk menggoreng&lt;br /&gt;Isi : &lt;br /&gt;• Daging ayam giling 100 gr&lt;br /&gt;• Udang kupas 100 gr, cincang halus&lt;br /&gt;• 3 siung bawang putih, haluskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• 1/3 sdt garam halus&lt;br /&gt;• 1/3 sdt merica bubuk&lt;br /&gt;• 1/2 sdt gula pasir&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Campur bahan untuk isi, aduk atau giling lagi hingga tercampur rata. Sisihkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Gunakan ujung pisau yang runcing dan tajam untuk melepaskan daging ayam dari satu ujung sendi atas, dorong ke arah sendi bawah, kemudian putus tulang pada sendi bawah, keluarkan tulang tersebut. Jaga kulit ayam jangan sampai rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ambil 2 sdt (kurang lebih) bahan isi, masukkan ke dalam kulit sayam ayam, kemudian tutup dan lumuri tepung terigu tipis-tipis sambil di kepal-kepal agar bahan isi tidak keluar. Celupkan ke dalam telur kocok, kemudian lumuri dengan tepung roti sambil dikepal lagi dan dikembalikan lagi bentuknya seperti sayam ayam utuh. Letakkan di atas wadah/loyang, tutup selembar plastik dan simpan dalam lemari es selama kurang lebih 30 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Panaskan minyak cukup banyak di atas api sdang saja. Goreng sayam ayam isi hingga permukaannya berwarna kecokelatan dan matang. Cukup 2-3 sayap saja sekali menggoreng supaya bentuknya tetap bagus dan matang merata. Angkat dan tiriskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Hidangkan panas dengan saus tomat atau saus mayones sesuai selera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36.Resep Perkedel Ikan &amp; Sayuran&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 300 gr daging ikan (fillet, tanpa tulang dan duri), kukus matang, haluskan&lt;br /&gt;• 500 gr kentang, rebus matang, haluskan&lt;br /&gt;• 2 sdm tepung terigu&lt;br /&gt;• 1 butir telur&lt;br /&gt;• 50 gr wortel, parut&lt;br /&gt;• 50 gr jagung manis kalengan, tiriskan&lt;br /&gt;• 50 gr kacang polong&lt;br /&gt;• 2 batang daun seledri, iris halus&lt;br /&gt;• 2 butir telur, kocok sebentar untuk melumuri perkedel&lt;br /&gt;• minyak, untuk menggoreng&lt;br /&gt;Bumbu : (dihaluskan) &lt;br /&gt;• 1 sdm ketumbar sangrai&lt;br /&gt;• 1/3 sdt merica bulat&lt;br /&gt;• 1/2 ruas jari kunyit bakar&lt;br /&gt;• 1/2 sdt garam halus&lt;br /&gt;Tumis hingga layu : &lt;br /&gt;• 4 siung bawang putih&lt;br /&gt;• 4 butir bawang merah&lt;br /&gt;Cara membuat : &lt;br /&gt;1. Campur daging ikan halus, kentang halus, tepung terigu, telur, dan bumbu halus, aduk hingga tercampur rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tambahkan wortel, jagung manis, dan kacang polong, aduk rata lagi. Bagi adonan perkedel menjadi beberapa bagian, kepal-kepal membentuk bulat pipih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Celupkan perkedel dalam telur kocok, kemudian goreng di atas api sedang saja, hingga kedua permukaannya berwarna kuning kecokelatan. Angkat, tiriskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37.Resep Cumi Goreng Tepung&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 500 gr cumi, pilih ukuran besar&lt;br /&gt;• 1 sdm tepung terigu (kurang lebih), untuk melumuri&lt;br /&gt;• 1/2 sdt garam halus&lt;br /&gt;• 500 ml minyak, untuk menggoreng&lt;br /&gt;Bahan pencelup : &lt;br /&gt;• 1 butir telur, kocok sebentar&lt;br /&gt;• 50 gr tepung terigu + 50 gr tepung maizena (kurang lebih)&lt;br /&gt;• 1/3 sdt merica bubuk&lt;br /&gt;• 1/3 sdt garam halus&lt;br /&gt;• 50 ml air dingin&lt;br /&gt;Cara membuat : &lt;br /&gt;1. Pisahkan kepala cumi dari badannya dan cuci bersih hingga putih. Iris bulat tipis dan rendam dalam air es selama kurang lebih 2 jam (simpan dalam lemari es).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Adonan celupan : kocok telur sebentar, kemudian campurkan dengan bahan lainnya, aduk rata. Tuangkan air sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga adonan kental. Sisihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Iris cumi bentuk bulat setebal kurang lebih 1/2 cm. Lumuri tepung terigu yang di beri sedikit garam, tipis-tipis saja, ratakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Panaskan minyak cukup banyak diatas api sedang. Celupkan cumi iris bertepung ke dalam adonan celupan, goreng satu per satu hingga berwarna kuning kecokelatan dan matang. Angkat, tiriskan, hidangkan panas dengan saus mustard dan saus sambal, sesuai selera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38.Resep Fillet Kakap Asam Manis&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 500 gr daging ikan kakap tanpa tulang dan kulit (fillet), iris tipis melebar, potong-potong&lt;br /&gt;• 2 sdm air jeruk nipis + 1/3 sdt garam halus, untuk merendam ikan&lt;br /&gt;• 50 gr tepung maizena&lt;br /&gt;• 1/4 merica bubuk&lt;br /&gt;• 1 butir telur, kocok&lt;br /&gt;• minyak, untuk menggoreng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saus Asam Manis : &lt;br /&gt;• 1 sdm mentega&lt;br /&gt;• 3 siung bawang putih, memarkan, cincang halus&lt;br /&gt;• 1 iris jahe, cincang halus&lt;br /&gt;• 1 sdm kecap ikan&lt;br /&gt;• 300 cc kaldu&lt;br /&gt;• 200 gr saus tomat&lt;br /&gt;• 1 sdm gula pasir halus&lt;br /&gt;• 1/2 sdt garam halus&lt;br /&gt;• 1 sdt maizena, larutkan dengan sedikit air&lt;br /&gt;• 75 gr bawang bombai, belah dua, iris tipis&lt;br /&gt;• 1 sdt cuka&lt;br /&gt;Cara Membuat : &lt;br /&gt;1. Lumuri daging kakap dengan campuran air jeruk nipis dan garam, ratakan, dan rendam selama kurang lebih 15 menit (simpan dalam lemari es).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Campur tepung maizena, merica bubuk, dan garam, aduk. Tambahkan telur kocok, aduk sambil tuangkan air matang secukupnya, hingga menjadi adonan &lt;br /&gt;lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Panaskan minyak goreng cukup banyak di atas api sedang. Celupkan daging ikan ke dalam adonan celupan satu persatu, goreng hingga matang dan berwarna &lt;br /&gt;kecokelatan. Angkat, tiriskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Saus : panaskan mentega, tumis bawang putih dan jahe hingga harum. Tuang kaldu (panas), tambahkan kecap ikan, saus tomat, gula pasir dan garam halus &lt;br /&gt;secukupnya, aduk hingga mendidih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kentalkan dengan larutan maizena, aduk. Terakhir masukkan bawang bombai, aduk hingga layu, matikan apinya. Beri cuka, aduk rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sajikan ikan goreng bersama saus asam manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39.Resep Tumisan Ayam&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• 400 gr daging ayam (fillet), iris kecil-kecil&lt;br /&gt;• 2 sdm saus tomat&lt;br /&gt;• 2 sdm saus teriyaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• 2 sdm kecap manis&lt;br /&gt;• 1/3 sdt garam&lt;br /&gt;• 1/2 sdt gula pasir&lt;br /&gt;• 1 sdm merica bubuk&lt;br /&gt;• 1 sdm air jeruk nipis&lt;br /&gt;• 4 siung bawang putih, memarkan, cincang halus&lt;br /&gt;• 50 gr bawang bombai, belah dua, iris tipis&lt;br /&gt;• 100 gr wortel, iris seperti batang korek api&lt;br /&gt;• 2 batang daun bawang, iris tipis serong&lt;br /&gt;• 75 gr taoge, buang akarnya&lt;br /&gt;• 3 sdm minyak sayur&lt;br /&gt;• 1 sdm mentega&lt;br /&gt;Cara Membuat : &lt;br /&gt;1. Campur daging ayam dengan saus tomat, saus teriyaki, kecap manis, garam, merica, gula pasir, dan air jeruk nipis. Aduk hingga tercampur rata. Simpan dalam lemari es selama kurang lebih 30 menit agar bumbu meresap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Panaskan minyak dan mentega, tumis bawang putih dan bawang bombai, aduk hingga harum aromanya. Masukkan daging ayam berbumbu, aduk, dan masak hingga daging ayam matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Masukkan berturut-turut wortel, daun bawang dan taoge, aduk hingga sayuran layu. Angkat, hidangkan selagi panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40.Resep Mie tek-tek seafood&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 200 gr mi basah&lt;br /&gt;• 150 gr udang (pilih ukuran sedang), kupas, buang ekornya, cuci bersih&lt;br /&gt;• 150 gr daging ikan kakap, iris tipis persegi kecil&lt;br /&gt;• 200 gr cumi, cuci bersih sampai putih, iris bulat tipis&lt;br /&gt;• 2 sdm air jeruk nipis&lt;br /&gt;• 1 sdt garam halus&lt;br /&gt;• minyak goreng, untuk menumis&lt;br /&gt;• 1 sdm mentega&lt;br /&gt;• 2 sdm saus tiram&lt;br /&gt;• 1 sdm kecap asin&lt;br /&gt;• 50 gr paprika merah, buang bijinya, iris tipis panjang&lt;br /&gt;• 2 batang daun bawang, iris serong 1 cm&lt;br /&gt;• 50 gr taoge, buang akarnya (pilih taoge besar)&lt;br /&gt;• 50 gr kapri, buang ujung-ujungnya&lt;br /&gt;Bumbu (dihaluskan) : &lt;br /&gt;• 10 butir merica bulat&lt;br /&gt;• 4 siung bawang putih&lt;br /&gt;• 4 butir bawang merah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• 2 butir kemiri, sangrai&lt;br /&gt;• 1/2 sdt garam&lt;br /&gt;Cara membuat : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Seduh mi basah, tiriskan. Lumuri udang, ikan, dan cumi dengan 1 sdm air jeruk nipis dan sedikit garam, ratakan. Diamkan (dalam lemari es) selama kurang lebih 15 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Panaskan 2 sdm minyak, 1 sdm mentega, tumis bumbu halus hingga harum. Masukkan udang, cumi, dan daging ikan, aduk hingga seafood berubah warna. Tambahkan saus tiram dan kecap asin, aduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Masukkan mi basah, aduk hingga tercampur rata. Masukkan juga paprika merah, daun bawang, taoge, dan kapri. Aduk hingga tercampur rata, dan bumbu meresap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Angkat, hidangkan panas dengan pelengkap acar segar dan kerupuk kanji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41.Resep Nasi Goreng Keju&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 100 gr keju, potong dadu &lt;br /&gt;• 100gr daging sapi asap, potong dadu &lt;br /&gt;• 50 gr margarin &lt;br /&gt;• 5 siung bw.putih, cincang halus &lt;br /&gt;• 300 gr nasi putih &lt;br /&gt;• 1 sdm kecap asin &lt;br /&gt;• 1 sdt lada halus &lt;br /&gt;• kaldu sapi bubuk secukupnya &lt;br /&gt;Cara membuat ; &lt;br /&gt;1. Panaskan margarin, tumis daging asap sebentar. sisihkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tumis bw. putih sampai harum. Masukkan nasi, tambahkan kecap asin, lada halus dan kaldu sapi, aduk rata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. tambahkan potongan daging sapi asap dan keju, aduk sampai tercampur rata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. sajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;42.Resep Hati Ayam Masak Kecap&lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• 10 buah hati ayam, bersihkan, masing-masing potong 2-3 bagian&lt;br /&gt;• 2 sdm minyak goreng + 1 sdm mentega untuk menumis&lt;br /&gt;• 3 siung bawang putih, iris tipis&lt;br /&gt;• 5 butir bawang merah, iris tipis&lt;br /&gt;• 3 sdm kecap manis&lt;br /&gt;• 1 sdm saus tomat&lt;br /&gt;• 1/3 sdt merica&lt;br /&gt;• 1/2 sdt garam&lt;br /&gt;• 1/2 sdt gula pasir&lt;br /&gt;• 200 cc kaldu (panas)&lt;br /&gt;• 2 buah cabai merah gemuk, buang bijinya, iris tipis serong&lt;br /&gt;• 1 batang daun bawang, potong 2 cm&lt;br /&gt;• 1 batang seledri, iris&lt;br /&gt;• 1 buah tomat (kurang lebih 50 gr), belah 4-6 bagian&lt;br /&gt;• 50 gr kapri, buang ujung-ujungnya&lt;br /&gt;Cara membuat : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Didihkan air secukupnya, seduh hati ayam hingga berubah warna. Angkat, tiriskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Panaskan minyak dan mentega, tumis bawang merah dan bawang putih hingga harum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Masukkan hati ayam, kecap manis, saus tomat, merica bubuk, garam dan gula pasir, aduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tuangkan kaldu panas, aduk, biarkan mendidih. Masukkan cabai merah dan sayurannya, masak sambil diaduk perlahan hingga bumbu kental dan bahan matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;43. Sukini Rasa Ayam &lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 200 gram ayam cincang&lt;br /&gt;• 2 buah Wortel potong sesuai selera&lt;br /&gt;• 2 buah paprika potong dadu&lt;br /&gt;• 1 butir telur&lt;br /&gt;• 100 gr sagu/tepung tapioka&lt;br /&gt;• Irisan daun bawang secukupnya&lt;br /&gt;• Timun 1 buah atau sukini&lt;br /&gt;• Garam,lada dan perasa atau gula pasir secukupnya&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Campurkan daging ayam cincang kedalam wortel,paprika,telur,tepung tapioka,daun&lt;br /&gt;Bawang,garam,lada dan penyedap rasa atau gula pasir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Timun di belah dua lalu isinya dikeluarkan,lalu masukkan campuran tadi kedalam timun yang telah dibelah dua,setelah itu tambahkan parutan wortel diatasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kukus selama 20 menit,angkat dan potong sesuai selera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kalau suka tambahkan sambal sebagai pelengkap&lt;br /&gt;44. Kue Cincin &lt;br /&gt;Bahan : &lt;br /&gt;• 100 gr gula pasir&lt;br /&gt;• Air secukupnya&lt;br /&gt;• 100 gr gula merah&lt;br /&gt;• Santal kental 2 sdm&lt;br /&gt;• 250 gr tepung beras&lt;br /&gt;• ¼  sdt garam&lt;br /&gt;• Coklat batang warna putih&lt;br /&gt;• Minyak goreng&lt;br /&gt;• Pewarna makanan (2 warna)&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;Sirup gula dan coklat leleh :&lt;br /&gt;1. Lelehkan gula pasir dengan ditambahkan sedikit air,bagi dua lelehan gula lalu tambahkan pewarna makanan yang berbeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lelehkan juga coklat batang yang berwarna putih tadi&lt;br /&gt;Adonan :&lt;br /&gt;1. Lelehkan gula merah dan tambahkan santan kental&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Campurkan adonan tepung beras yang telah ditambahkn garam kedalam gula merah yang telah dilelehkan sampai tercampur rata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bentuk adonan menjadi seperti cincin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Lalu goreng adonan sampai agak kecoklatan&lt;br /&gt;Hidangan :&lt;br /&gt;1. Kue yang telah digoreng dicelupkan kedalam coklat putih lalu di taburi secara menyilang keatas kue dengan menggunkan sirup gula tadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kue siap untuk disajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45. Kue Bolu Bunga&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 300 gr mentega&lt;br /&gt;• 300 gr gula halus&lt;br /&gt;• 4 butir telur&lt;br /&gt;• Vanila esense secukupnya&lt;br /&gt;• 300 gr susu bbuk&lt;br /&gt;• Backing powder&lt;br /&gt;• 300 gr tepung terigu&lt;br /&gt;• Butter cream&lt;br /&gt;• Pewarna makanan&lt;br /&gt;• Selai coklat&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Adonan pertama campurkan mentega,gula pasir,telur dan vanilla esense dengan mixer tanpa mengembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Adonan kedua campurkan susu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. bubuk,backing powder dan terigu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Campur adonan pertama dan kedua lalu mixer tanpa mengembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Lalu adonan dituang kedalam loyang yang telah diolesi mentega setelah itu panggang sampai matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sambil menunggu adonan matang,buat butter cream menjadi masing-masing warna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Adonan yang telah matangdiangkat dan dipotong menjadi 3 lapis,setiap lapisan diolesi dengan selai coklat lalu balur kue tadi dengan butter cream warna putih,setelah itu gambar bunga dengan berbagai warna diatas kue tadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kue siap disajikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;46. Ifumi Kuah Kari&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 2 buah wortel dipotong memanjang&lt;br /&gt;• 5 siung bawang merah dipotong-potong&lt;br /&gt;• 1 siung bawang putih dipotong&lt;br /&gt;• 1 jempol jahe&lt;br /&gt;• Bumbu kari&lt;br /&gt;• Kayu manis,cengkeh dan pekak&lt;br /&gt;• 500 gr daging sapi yang telah dipotong&lt;br /&gt;• Santan 500cc(tidak kental,tidak encer)&lt;br /&gt;• Lada putih&lt;br /&gt;• Garam,dan perasa&lt;br /&gt;• Mie &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Tumis bawang merah,bawang putih,jahe,kayu manis,daging sapi,kayu manis,cengkeh,dan bumbu kari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Masukkan santan,lada putih,dan perasa makanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk sayurannya didihkan air,tambahkan garam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Untuk mienya,mie digoreng sampai matang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Hidangannya masukkan mie kedalam mangkuk lalu masukkan tumisan kari dan sayuran beserta kuah secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;47. Brokoli Lapis Panggang&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• Duah buah brokoli dipotong kecil&lt;br /&gt;• Garam&lt;br /&gt;• Bawang bombay satu siung dicincang&lt;br /&gt;• Daging cincang&lt;br /&gt;• Origano&lt;br /&gt;• Saos tomat&lt;br /&gt;• Tomat dipotong&lt;br /&gt;• Lasagna&lt;br /&gt;• 2 sdm mentega&lt;br /&gt;• 1 sdm tepung terigu&lt;br /&gt;• 350 cc Susu cair&lt;br /&gt;• Lada putih&lt;br /&gt;• Keju&lt;br /&gt;• Minyak kelapa&lt;br /&gt;• Perasa makanan&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Tumis bawang bombay dan daging cincang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Masak brokoli ditambahkan sedikit garam&lt;br /&gt;3. Masukkan tumisan,origano,tomat,saos tomat,garam dan perasa makanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Untuk membuat saosnya masukkan mentega,tepung terigu,susu cair,garam dan lada putih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Penyajian&lt;br /&gt;Masukkan lasagna didalam mangkokyang diolesi dangan minyak kelapa lalu masukkan brokoli,keju yang telah diparut diatas brokoli,saos lalu brokoli dan keju parut diatas brokoli lagi setelah itu panggang dan hidangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;49. Strawberi Cake&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 300 gr mentega&lt;br /&gt;• 135g gula halus&lt;br /&gt;• 6 butir telur&lt;br /&gt;• 2 sdt backing powder&lt;br /&gt;• selei strawberi&lt;br /&gt;• Garam&lt;br /&gt;• Perasa strawberi&lt;br /&gt;• 300 gr tepung terigu&lt;br /&gt;• 25 gr kismis&lt;br /&gt;• Wep toping/pasta&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1.  Campurkan mentega,gula halus,dan telur lalu kocok sampai merata setelah itu tambahkan backing powder,2 sdm selei strawberi,garam,perisai strawberi,tepung terigu dan kismis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Lelehkan mentega kewajan lalu tuang adonan dan tunggu sampai matang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Lakukan tiga kali sampai adonan menjadi tiga lapis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Untuk wep topingnya,tambahkan air es kedalam wep toping lalu mixer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Setelah itu oles masing-masing lapisan dengan wep toping dan bagian atas lapisan olesi dengan selai strawberi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.  Sajikan &lt;br /&gt;50. Kerupuk Udang Tumis Cabe Hijau&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• Ubi jalar diiris tipis (keripik) secukupnya,lalu digoreng&lt;br /&gt;• 8 siung bawang merah&lt;br /&gt;• 3 siung bawang putih&lt;br /&gt;• 6 buah cabe hijau&lt;br /&gt;• Paprika setengah buah,dipotong-potong&lt;br /&gt;• 3 buah Wortel dipotong panjang-panjang&lt;br /&gt;• 1 buah Bunga kol&lt;br /&gt;• 1 buah Brokoli &lt;br /&gt;• 1 buah Bawang bombay&lt;br /&gt;• Air&lt;br /&gt;• Lada putih&lt;br /&gt;• Garam&lt;br /&gt;• Penyedap rasa&lt;br /&gt;• 1 sdm Minyak wijen&lt;br /&gt;• Kerupuk udang&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Potong-potong kasar bawang merah dan bawang putih lalu tumis an tambahkan dengan bawang bombay yang juga telah dipotong-potong tipis,wortel,paprika,brokoli,bunga kol,air,lada putih,garam,penyedap rasa,minyak wijen sampai air mengering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sajikan dan taburi dengan keripik ubi jalar dan kerupuk udang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;51. Sup Kakap Merah&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 4 siung bawang merah&lt;br /&gt;• 3 siung bawang putih&lt;br /&gt;• Wortel secukupnya&lt;br /&gt;• Ikan kakap dipotong-potong&lt;br /&gt;• Cabe merah dipotong-potong secukupnya&lt;br /&gt;• Daun jeruk,daun salam,serei dan bubuk kunyit&lt;br /&gt;• Lada&lt;br /&gt;• Garam&lt;br /&gt;• Lemon (jeruk)&lt;br /&gt;• Air kaldu&lt;br /&gt;• Tauge secukupnya&lt;br /&gt;• Kacang kapri&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Bawang merah dan bawang putih diiris-iris lalu ditumis dan tambahkan cabe,daun jeruk,daun salam,serei,kunyit dan wortel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk supnya,panaskan kaldu dan campurkan dengan ikan kakap,lada,garam,perasan lemon(jeruk),kacang kapri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Campurkan tumisan dengan sup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hidangkan dengan tauge&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;52. Bola-bola merah&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• gula pasir secukupnya&lt;br /&gt;• Perasan air jeruk&lt;br /&gt;• Air putih&lt;br /&gt;• 1 bungkus agar-agar bubuk&lt;br /&gt;• 500 cc susu cair&lt;br /&gt;• Kiwi&lt;br /&gt;• Blueberi&lt;br /&gt;• Strawberi &lt;br /&gt;• Leci &lt;br /&gt;• Melon&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1.  Buat karamel dengan mencampurkan gula pasir secukupnya dengan airputih dan perasan jeruk lalu dimasak&lt;br /&gt;2.  Buat agar-agar dengan mencampurkan agar-agar bubuk dengan gula pasir secukupnya, dan susu cair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Untuk wadah, bagi dua melon lalu pisahkan isinya dari melon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Isi melon dengan agar-agar dan tunggu sampe beku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Potong-potong kiwi,blueberry,strawberi,leci dan lemon dan tambahkan deengan sirup karamel &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Agar-agar yang beku tadi ditambahkan dengan buah-buah tadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.  Sajikan &lt;br /&gt;53. Pisang Balado&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• Pisang mentah secukupnya&lt;br /&gt;• Garam&lt;br /&gt;• Minyak goreng&lt;br /&gt;• Cabe merah haluskan secukupnya&lt;br /&gt;• Bawang merah haluskan 10 siung&lt;br /&gt;• Serai dimemarkan&lt;br /&gt;• Daun jeruk&lt;br /&gt;• Daun bawang&lt;br /&gt;• Tomat yang dipotong-potong&lt;br /&gt;• Kacang polong&lt;br /&gt;• Ikan teri goreng&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Potong pisang dan taburi dengan garam lalu goreng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk sambalnya,cabe merah dan bawang merah yang dihaluskan ditumis dan dicampurkan dengan serai,daun jeruk,daun bawang,garam dan t&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Campurkan tumisan tadi dengan kacang polong dan pisang yang telah digoreng&lt;br /&gt;4. Sajikan dengan taburan ikan teri&lt;br /&gt;54. Ikan Mila Kukus Saos Kecap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• Wortel secukupnya yang telah dipotong-potong panjang&lt;br /&gt;• Buncis yang telah dipotong-potong&lt;br /&gt;• Cabe merah secukupnya&lt;br /&gt;• Bawang merah secukupnya&lt;br /&gt;• Ikan mila&lt;br /&gt;• Lada&lt;br /&gt;• Perasan lemon&lt;br /&gt;• Garam&lt;br /&gt;• Kaldu&lt;br /&gt;• Kecap&lt;br /&gt;• Bawang putih&lt;br /&gt;• Cuka&lt;br /&gt;• Cabe halus&lt;br /&gt;• Minyak kelapa&lt;br /&gt;• Saos sambal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Campurkan wortel,buncis,cabe merah,bawang putih lalu dimasukkan kedalam ikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Campurkan lada,lemon diatas ikan lalu baluri dengan garam,kaldu,kecap lalu kukus hingga matang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk saos,tumis bawang putih,saos sambal,kecap manis,cuka,dan cabe halus kering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sajikan dengan saos&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;54. Bolu Markisa merah&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 500 gr Tepung terigu &lt;br /&gt;• 500 gr Mentega&lt;br /&gt;• 3 butir telur&lt;br /&gt;• Sirup markisa&lt;br /&gt;• ¼ sdt&lt;br /&gt;• Markisa &lt;br /&gt;• Pewarna makanan warna merah&lt;br /&gt;• Air&lt;br /&gt;• 500 gr gula halus&lt;br /&gt;• Meses secukupnya&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Campurkan tepung terigu,mentega,telur,sirup markisa,tepung terigu,garam,gula danmarkisa lalu mixer setelah itu masukkan dalam loyang yang diolesi mentega sebelumnya dan dibakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Campurkan pasta dengan warna merah lalu baluri diatas kue bolu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sajikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;55. Sup Jantung pisang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• Jantung pisang secukupnya,pilih bagian yang akan menjadi pisang&lt;br /&gt;• Garam&lt;br /&gt;• Air&lt;br /&gt;• Bawang putih&lt;br /&gt;• Daun bawang&lt;br /&gt;• Wortel dipotong panjang-panjang&lt;br /&gt;• Mentega&lt;br /&gt;• Cabe hijau&lt;br /&gt;• Cabe merah&lt;br /&gt;• Saos tiram&lt;br /&gt;• Air kaldu&lt;br /&gt;• Telur 1 butir&lt;br /&gt;• Lada putih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Rebus jantung pisang dengan garam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tumis bawang putih,cabe hijau,cabe merah,saos tiram,garam,wortel,jantung pisang,lada dan telur mentah(dicaplok),campurkan air kaldu dan daun bawang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sajikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;56. Salad Pepaya Kacang&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 100 gr buncis,rebus&lt;br /&gt;• 1 pohon daun selada&lt;br /&gt;• 250 gr pepaya muda,parut kasar&lt;br /&gt;• 1 buah wortel rebus,potong panjang&lt;br /&gt;• 2 pohon ketumbar,iris halus&lt;br /&gt;Saos :&lt;br /&gt;• 25gr ebi,rendam,haluskan&lt;br /&gt;• 3 sdm air jeruk nipis&lt;br /&gt;• 2 sdm kecap ikan &lt;br /&gt;• 2 sdm gula merah&lt;br /&gt;• 2 sdm cabe merah halus&lt;br /&gt;• 100 gr kacang tanah,sangrai,cincang&lt;br /&gt;• 1 buah cabe merah,iris panjang&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Selada,pepaya,buncis,wortel,tata dipiring&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Campur semua bahan saos. Siram diatas   sayuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Hiasi dengan daun ketumbar,kacang,cabai&lt;br /&gt;57. Manisan Pepaya&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 1 buah pepaya mengkal,kupas dan tambahkan garam&lt;br /&gt;• 750 gr gula pasir&lt;br /&gt;• 250 gr air&lt;br /&gt;• Air kapur sirih : larutkan dan endapkan 2 ltr air dan 1 sdm kapur sirih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuat : &lt;br /&gt;1. Potong melintas pepaya,kupas dan bersihkan isinya.iris sesuai selera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Masukkan garam dan remas-remas lembut pepaya hingga layu,cuci,tiriskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Siapkan larutan air kapur sirih,buang endapannya gunakan untuk merendam pepaya 2-3 jam,cuci dan tiriskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Taburkan 250 gr gula pasir ke pepaya,aduk rata hingga keluar airnya.biarkan 1 jam agar gula meresap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Rebus sisa gula dengan 250 gr air mendidih. Matikan api. Masukkan pepaya. Rendam semalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tiriskan pepaya,rebus air gulanya hingga agak kental. Matikan api. Rendam kembali pepaya semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Tiriskan,lakukan proses sekali lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Siapkan tampah atau loyang datar yang bersih,jemur manisan pepaya di panas matahari sekitar dua hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;58. Punch&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 250 gr pepaya,potong kecil&lt;br /&gt;• 250 ml jus nanas&lt;br /&gt;• 250 ml jus jeruk nipis&lt;br /&gt;• 2 sdm air jeruk lemon&lt;br /&gt;• 250 ml air soda tawar dingin&lt;br /&gt;• Es batu&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Masukkan pepaya dalam mangkuk blender&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tuangi jus nanas dan jeruk,proses hingga halus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tambahkan air jeruk lemon,aduk rata&lt;br /&gt;4. Tuangkan dalam mangkok,beri es batu dan air soda&lt;br /&gt;5. Sajikan segera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;59. Es Kuah Santan&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• Buah pepaya &lt;br /&gt;• 2 sdm air jeruk nipis&lt;br /&gt;• 500 ml santan&lt;br /&gt;• 150 gr gula pasir&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Buah pepaya disiapkan dengan menggunakan melon scope ataupun dipotong dadu-dadu,sisihkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Didihkan air santan tambahkan gula pasirdan air jeruk nipis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Setelah mendidih masukkan pepaya tadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jangan terlalu lama,angkat,hidangkan dengan tambahan es batu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;60. Punch Leci Jeruk&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 500 ml jus jeruk(siap pakai)&lt;br /&gt;• 250 ml jus leci(siap pakai)&lt;br /&gt;• 1 buah jeruk sunkis&lt;br /&gt;• 10 buah leci&lt;br /&gt;• 500 ml soft drink rasa jeruk&lt;br /&gt;• Es batu untuk menyajikan&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Iris ripis jeruk sunkist&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kupas leci,ambil dagingya lalu,dipotong-potong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Aduk semua bahan lalu sajikan dengan es batu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;61. Punch Jeruk Markisa&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 200 ml sari jeruk siap pakai,pilih yang tanpa gula&lt;br /&gt;• 75 ml sirup markisa&lt;br /&gt;• 200 ml soda tawar,dinginkan&lt;br /&gt;• 2 buah(100 gram) markisa segar&lt;br /&gt;Cara mmbuat :&lt;br /&gt;1. Aduk rata sari jeruk,sirupp markisa dan markisa.dinginkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjelang disajikan tuangkan dengan soda tawar. Boleh disajikan dengan es batu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;62. Minuman Madu&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 2 cangkir jus jeruk segar (sekitar 6 buah jeruk)&lt;br /&gt;• ¼ cangkir ditambah 1 senndok makan madu mentah&lt;br /&gt;• 1 sdm jus lemon segar&lt;br /&gt;• 2 sdt jahe segar,diparut halus&lt;br /&gt;• 2 buah pisang&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Siapkan blender&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Masukkan semua bahan diatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Blender sampai halus,sajikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;63. Sky Blue Punch&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 100 ml jus jeruk&lt;br /&gt;• 400 ml air soda warna bir/pepsi blue&lt;br /&gt;• 60 gr manisan rumput laut,potong-potong&lt;br /&gt;• 60 gr nata de coco&lt;br /&gt;• 60 ml sirup leci&lt;br /&gt;• 1 sdt biji selasih,rendam air dingin,tiriskan&lt;br /&gt;• Es batu secukupnya&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Campur jus jeruk,manisan rumput laut,nata de coco dan biji selasih. Aduk rata dan dinginkan dalam kulkas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sesaat sebelum disajikan,tuang pepsi blue dan potongan es batu,aduk rata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Siapkan gelas saji,masukkan punch beserta isinya. Hidangkan segera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;64. Kurma Shake&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 2 buah pisang&lt;br /&gt;• ½ cangkir beras,almond,susu kedelai,atau susu sapi&lt;br /&gt;• 4 buah kurma,cincang halus&lt;br /&gt;• ½ cangkir jus jeruk&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Masukkan semua bahan dalam blender&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Blender dengan kecepatan tinggi sampai halus dan lembut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;65. Puch Sirsak Jambu Biji&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 300 gr buah sirsak matang,kupas,buang bijinya&lt;br /&gt;• 500 gr jambu biji merah,buang bijinya,potong-potong&lt;br /&gt;• 250 ml jus mangga&lt;br /&gt;• 100 ml yogurt tawar&lt;br /&gt;• 100 ml sirup grenadin&lt;br /&gt;• 100 gr es batu&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Blender buah sirsak,saring,sisihkan,blender jambu biji hingga halus,saring,sisihkan&lt;br /&gt;2. Masukkan dalam blender,jus sirsak,jus magga,yogurt,sirup grenadin,dan es batu haluskan lagi hingga tercampur rata. Angkat,tuang dalam gelas-gelas saji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sajikan dingin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;66. Sunset Losari&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 3 buah jeruk segar,peras ambil airnya&lt;br /&gt;• 1 buah jeruk nipis, peras ambil airnya&lt;br /&gt;• 1 butir kuning telur&lt;br /&gt;• 1 sdm sirup DHT&lt;br /&gt;• Es batu&lt;br /&gt;Cara membuat : &lt;br /&gt;1. Masukkan perasan air jeruk,dan jeruk nipis,kuning telur,dan tiga cube es kedalam gelas shake&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Shake,kemudian tuangkan kedalam gelas saji&lt;br /&gt;67. Santika Fried Steak&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 1 butir telur ayam&lt;br /&gt;• ¼  cup susu&lt;br /&gt;• 1 cup tepung&lt;br /&gt;• 1 sdm oregano&lt;br /&gt;• 1sdt black paper coarse&lt;br /&gt;• 1 sdt garam dan 1 sdt merica bubuk&lt;br /&gt;• 175 gr sirloin atau tenderloin steak(dimemarkan/dipipihkan)&lt;br /&gt;• 4 sdm minyak&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Campurkan telur dan susu kedalam mangkok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Campur tepung terigu,oregano,black paper coarse,garam dan merica putih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Masukkan steak kedalam adonan nomor 1 lalu pindah ke campuran flour berulang sampai 2x&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Panaskan pan/teflon masukkan minyak lalu goreng dengan api kecil sampai steakberwarna kecoklatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Steak bisa dihidangkan dengan kentang goreng,sayuran dan saos grafik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;68. Sus Kentang Keju&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 150 gr tepung terigu&lt;br /&gt;• 100 gr kentang,rebus dan hancurkan&lt;br /&gt;• 50 gr mentega&lt;br /&gt;• 2 butir telur&lt;br /&gt;• Keju parut&lt;br /&gt;• Backing powder&lt;br /&gt;• Bubuk jagung(tepung maizena)&lt;br /&gt;• 150 ml air&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Masak air dan mentega sampai mendidih dan tercampur,angkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tambahkan tepung terigu,kentang,keju,telur, dan campur rata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Lalu masukkan 1 sdt backing powder, 1 sdt bubuk jagung(tepung maizena) dan campur rata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bentuk sesuai selera,kemudian goreng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;69. Ayam Bakar Bromo dan Jagung Bakar&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 3 sdm saos tomat &lt;br /&gt;• 2 sdm saos sambal&lt;br /&gt;• 3 sdm kecap manis&lt;br /&gt;• 2 sdm wastocaouse saos&lt;br /&gt;• 2 sdm madu&lt;br /&gt;• 2 sdm cuka&lt;br /&gt;• 1 sdm minyak&lt;br /&gt;• Lada hitam&lt;br /&gt;• Ayam potong&lt;br /&gt;• ½ bawang putih&lt;br /&gt;• Kulit lemon&lt;br /&gt;• ½ sdm jahe halus&lt;br /&gt;• 3 buah jagung&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Untuk bbQ ayam : campurkan saos tomat,saos sambal,kecap manis, wastocaouse &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. saos,madu,cuka,minyak,lada hitam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Campurkan ayam ke saos tadi,lalu tambahkan ½ bawang putih,kulit &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. lemon,1/2 sdm jahe halus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Lalu bakar sambil di olesi kembali dengan sisa saos tadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Untuk jagung : bakar jagung sambil olesi mentega diatasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;70. Stik Coklat Bintik-Bintik&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 200 gr mentega&lt;br /&gt;• 100 gr gula pasir&lt;br /&gt;• 350 gr tepung terigu&lt;br /&gt;• 100 gr gula&lt;br /&gt;• 50 gr coklat bubuk&lt;br /&gt;• 25 gr pasta&lt;br /&gt;• 25 gr susu bubuk&lt;br /&gt;• Garam&lt;br /&gt;• 2 butir telur&lt;br /&gt;• 2 sdm kopi instant&lt;br /&gt;• Coklat putih batang&lt;br /&gt;• Meises secukupnya&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Adonan pertama : campurkan mentega,gula pasir,pasta,kopi,garam,telur lalu aduk hingga merata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Adonan kedua : campurkan tepung terigu,gula,coklat bubuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Lelehkan coklat batang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Campur adonan pertama dan setengah dari adonan kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Masukkan adonan ke paping bag&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Buat seperti astor atu stick&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Panggang ± 25 menit,angkatdiamkan sampai dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Celup ujung stick kecoklat putih kemudian celup kemeises&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;71. Sayur Sembunyi Di Nugget&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 300 gr daging ayam cincang&lt;br /&gt;• 1 ikat bayam segar&lt;br /&gt;• 25 gr wotel parut&lt;br /&gt;• 2 siung bawang putih&lt;br /&gt;• garam&lt;br /&gt;• lada putih&lt;br /&gt;• 2 sdm susu bubuk&lt;br /&gt;• 1 butir telur&lt;br /&gt;• 1 siung Bawang bombay&lt;br /&gt;• 2 sdm tepung roti&lt;br /&gt;• Keju parut&lt;br /&gt;• Saos tomat dan saos cabe&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Campurkan daging ayam,bayam,wortel,bawang putih,susu bubuk,garam,lada putih,telur,bawang bombay,tepung roti,aduk hingga rata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Letakkan diloyang lalu kukus ±10 menit angkat dan dinginkan lalu potong- potong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk persiapannya : siapkan telur lalu kocok dan siapkan pula tepung roti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Celup potongan nugget ke telur lalu ketepung roti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Goreng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Taburi keju parut diatasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Untuk penyajian saos tomat dan saos cabe sebagai pelengkap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;72. Tomat Panggang Isi Daging&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 1 buah paprika hijau dan kuning lalu potong panjang&lt;br /&gt;• 1 siung bawang merah atau awang bombay dan bawang putih&lt;br /&gt;• 300 gr daging cincang&lt;br /&gt;• Garam&lt;br /&gt;• Merica&lt;br /&gt;• Oregano&lt;br /&gt;• Saos tomat&lt;br /&gt;• Pasta tomat&lt;br /&gt;• Tomat beberapa buah&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Tumis bawang merah,bawang putih,paprika,daging cincang,garam,merica,oregano,saos tomat dan pasta tomat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk penyajian :&lt;br /&gt;Siapkan tomat beberapa buah lalu keluarkan isinya setelah itu isi dengan daging tumis dan tambahkan keju parut diatasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Olesi wadah dengan minyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Letakkan tomat tadi lalu panggang ± 15 menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;73. Kue Dadar Pandan&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 250 gr tepung terigu&lt;br /&gt;50 gr susu cair&lt;br /&gt;• Pasta pandan&lt;br /&gt;• 2 sdm tepung roti&lt;br /&gt;• 2 sdm Minyak sayur&lt;br /&gt;• Air&lt;br /&gt;• 50 gr Gula halus&lt;br /&gt;• 200 gr gula merah&lt;br /&gt;• Kelapa parut&lt;br /&gt;• Nangka,potong-potong&lt;br /&gt;• Daun pandan &lt;br /&gt;• Garam&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Campurkan tepung terigu,susu,pasta pandan,tepung roti,minyak sayur,air,gula halus,lalu bentuk menjadi adonan dan diamkan sebentar&lt;br /&gt;2. Bulat-bulatkan adonan dan gilas&lt;br /&gt;3. Dadar tanpa minyak&lt;br /&gt;4.  Untuk saos gula merahnya : Potong kasar gula merah lalu masak dengan air,tambahkan garam dan daun pandan,tunggu sampai gula meleleh&lt;br /&gt;5. Penyajiannya :&lt;br /&gt;    Potong dadar tadi lalu tambahkan nangka,dan taburi kelapa serta lumurui dengan gula merah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;74. Tape Selei Coklat dan Strawberi&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• tape singkong&lt;br /&gt;• mentega&lt;br /&gt;• selai coklat dan selei strawberi&lt;br /&gt;• saos coklat&lt;br /&gt;• saos strawberi&lt;br /&gt;• keju parut&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. panggang tape sambil olesi mentega diatasnya,angkat dan diamkan sebentar&lt;br /&gt;2. masukkan selei coklat atu strawberi ke tengah-tengah ubi yang telah diambil serabut tengahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. potong-potong tape&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. hidangkan dengan lumuran saos coklat pada tape isi coklat dan strawberi dengan tape isi strawberi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. parut keju diatasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;75. Ayam Potong Goreng Panggang&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• ayam potong&lt;br /&gt;• 3 siung bawang putih&lt;br /&gt;• 1 siung bawang bombay&lt;br /&gt;• 3 sdm saos omat&lt;br /&gt;• 250 cc kaldu ayam&lt;br /&gt;• Gula pasir&lt;br /&gt;• Garam&lt;br /&gt;• Lada putih&lt;br /&gt;• ¼ sdt Oregano&lt;br /&gt;• ¼ sdt basil&lt;br /&gt;• Daging tomat secukupnya&lt;br /&gt;• ½ sdt cabe bubuk&lt;br /&gt;• Jeruk lemon&lt;br /&gt;• Kacang polong&lt;br /&gt;• Keju parut&lt;br /&gt;Cara mmbuat :&lt;br /&gt;1.  Goreng ayam potong sampai setengah matang,angkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Tumis bawang putih,bawang bombay,saos tomat,kaldu ayam,gula pasir,garam,lada putih,oregano,basil,daging tomat,cabe bubuk,jeruk lemon,dan kacang polong angkat dan letakkan dalam wadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Taburi keju lalu panggang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;76. Puding Serikaya Dan Melon&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 1 buah serikaya,keluarkan bijinya&lt;br /&gt;• 750 cc air&lt;br /&gt;• Agar-agar setengah bungkus&lt;br /&gt;• Gula&lt;br /&gt;• Pewarna hijau&lt;br /&gt;• 1 buah melon&lt;br /&gt;• Jus jambu&lt;br /&gt;• Es batu&lt;br /&gt;• Wip cream yang sudah jadi&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. Buat jus serikaya,caranya Blender serikaya dengan sedikit air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Buat puding dengan serikaya tadi,caranya masak agar-agar,gula,jus serikaya 500 cc,air 250 cc,dan pewarna hijau,campur aduk rata,angkat dan tunggu sampai menjadi puding lalu potong-potong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk melonnya,buat dadu-dadu atau bola-bola melon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Persiapan :&lt;br /&gt;Letakkan puding serikaya dibagian terbawah,lalu masukkan melon,jus jambu,es batu,tambahkan wip cream&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;77. Cake Cengkeh Keju&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• 6 butir telur ayam&lt;br /&gt;• 200 gr gula pasir&lt;br /&gt;• cengkeh halus&lt;br /&gt;• garam&lt;br /&gt;•  backing powder&lt;br /&gt;• 100 gr keju parut&lt;br /&gt;• 400 gr tepung terigu&lt;br /&gt;• 50 gr mentega cair&lt;br /&gt;• Wep toping&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1.  Campurkan 6 butir telur dengan 200 gr gula pasir lalu blender hingga mengembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Tambahkan 1/2 sdt cengkeh halus,1/4 sdt garam,1/2 sdt backing powder,keju parut,tepung terigu setengah,mentega cair,tepung terigu sisa lalu aduk rata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bagi 2 adonan,lalu bakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Buat wep toping,caranya campurkan air es dengan wep toping dan cengkeh bubuk 1/4 sdt lalu blender&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Untuk bolu pertama, olesi wep toping diatasnya dan tambahkan keju parut,tutupu dengan adonan kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Olesi wep toping sisa disamping dan diatas bolu yang telah menyatu lalu taburi disamping dan ats dengan keju parut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Hiasi atas kue denga wep toping cream&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;78. Es Melon&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;• Melon potong dadu&lt;br /&gt;• Kelapa muda&lt;br /&gt;• Selasih&lt;br /&gt;• Sirup melon&lt;br /&gt;• Pisang susu iris tipis&lt;br /&gt;• Air&lt;br /&gt;• Es batu&lt;br /&gt;• santan&lt;br /&gt;Cara membuat : &lt;br /&gt;Susun bahan yang diawali dengan memasukkan 1 sdm sirup melon lalu 1 sdm santan,melon,pisang,kelapa muda parut,air dan selasih dan terakhir es batu,lalu tambahkan diatasnya dengan sirup secukupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;79. Bola-bola ubi jelly&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-7485714663041519551?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/7485714663041519551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=7485714663041519551&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/7485714663041519551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/7485714663041519551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/12/resep-makanan.html' title='resep makanan'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-4086915876143213562</id><published>2010-12-21T04:29:00.001-08:00</published><updated>2010-12-21T04:29:49.244-08:00</updated><title type='text'>PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA</title><content type='html'>1. Perubahan Fisik&lt;br /&gt;Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh, diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen.&lt;br /&gt;a. Sistem pernafasan pada lansia.&lt;br /&gt;1) Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.&lt;br /&gt;2) Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret.&lt;br /&gt;3) Penurunan aktivitas paru ( mengembang &amp; mengempisnya ) sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml.&lt;br /&gt;4) Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m²), Ù menyebabkan terganggunya prose difusi.&lt;br /&gt;5) Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan.&lt;br /&gt;6) CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri.&lt;br /&gt;7) kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret &amp; corpus alium dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi.&lt;br /&gt;Sistem persyarafan.&lt;br /&gt;1) Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan.&lt;br /&gt;2) Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir.&lt;br /&gt;3) Mengecilnya syaraf panca indera.&lt;br /&gt;4) Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf pencium &amp; perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.&lt;br /&gt;Perubahan panca indera yang terjadi pada lansia.&lt;br /&gt;1) Penglihatan&lt;br /&gt;a) Kornea lebih berbentuk skeris.&lt;br /&gt;b) Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon&lt;br /&gt;terhadap sinar.&lt;br /&gt;c) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa).&lt;br /&gt;d) Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, susah melihat dalam cahaya gelap.&lt;br /&gt;e) Hilangnya daya akomodasi.&lt;br /&gt;f) Menurunnya lapang pandang &amp; berkurangnya luas pandang.&lt;br /&gt;g) Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala.&lt;br /&gt;2) Pendengaran.&lt;br /&gt;a) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran) :&lt;br /&gt;Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara, antara lain nada nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata kata, 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.&lt;br /&gt;b) Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis.&lt;br /&gt;c) Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya kreatin.&lt;br /&gt;3) Pengecap dan penghidu.&lt;br /&gt;a) Menurunnya kemampuan pengecap.&lt;br /&gt;b) Menurunnya kemampuan penghidu sehingga mengakibatkan selera makan berkurang.&lt;br /&gt;4) Peraba.&lt;br /&gt;a) Kemunduran dalam merasakan sakit.&lt;br /&gt;b) Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin.&lt;br /&gt;b. Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut.&lt;br /&gt;1) Katub jantung menebal dan menjadi kaku.&lt;br /&gt;2) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.&lt;br /&gt;3) Kehilangan elastisitas pembuluh darah.&lt;br /&gt;Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari tidur keduduk ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak ).&lt;br /&gt;4) Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer (normal ± 170/95 mmHg ).&lt;br /&gt;c. Sistem genito urinaria.&lt;br /&gt;1) Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %, penyaringan diglomerulo menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun proteinuria ( biasanya + 1 ) ; BUN meningkat sampai 21 mg % ; nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat.&lt;br /&gt;2) Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin.&lt;br /&gt;3) Pembesaran prostat ± 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun.&lt;br /&gt;4) Atropi vulva.&lt;br /&gt;5) Vagina, Selaput menjadi kering, elastisotas jaringan menurun juga permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap perubahan warna.&lt;br /&gt;6) Daya sexual, Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut.&lt;br /&gt;1) Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.&lt;br /&gt;2) Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi indera pengecap (± 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah terutama rasa manis, asin, asam &amp; pahit.&lt;br /&gt;3) Esofagus melebar.&lt;br /&gt;4) Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam lambung menurun, waktu mengosongkan menurun.&lt;br /&gt;5) Peristaltik lemah &amp; biasanya timbul konstipasi.&lt;br /&gt;6) Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ).&lt;br /&gt;7) Liver ( hati ), Makin mengecil &amp; menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah.&lt;br /&gt;f. Sistem muskuloskeletal.&lt;br /&gt;1) Tulang kehilangan densikusnya Ù rapuh.&lt;br /&gt;2) resiko terjadi fraktur.&lt;br /&gt;3) kyphosis.&lt;br /&gt;4) persendian besar &amp; menjadi kaku.&lt;br /&gt;5) pada wanita lansia &gt; resiko fraktur.&lt;br /&gt;6) Pinggang, lutut &amp; jari pergelangan tangan terbatas.&lt;br /&gt;7) Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek ( tinggi badan berkurang ).&lt;br /&gt;a. Gerakan volunter Ù gerakan berlawanan.&lt;br /&gt;b. Gerakan reflektonik Ù Gerakan diluar kemauan sebagai reaksi terhadap rangsangan pada lobus.&lt;br /&gt;c. Gerakan involunter Ù Gerakan diluar kemauan, tidak sebagai reaksi terhadap suatu perangsangan terhadap lobus&lt;br /&gt;d. Gerakan sekutu Ù Gerakan otot lurik yang ikut bangkit untuk menjamin efektifitas dan ketangkasan otot volunter.&lt;br /&gt;g. Perubahan sistem kulit &amp; karingan ikat.&lt;br /&gt;1). Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak.&lt;br /&gt;2). Kulit kering &amp; kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adiposa&lt;br /&gt;3). Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak begitu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi.&lt;br /&gt;4). Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya sel sel yang meproduksi pigmen.&lt;br /&gt;5). Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka luka kurang baik.&lt;br /&gt;6). Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh.&lt;br /&gt;7). Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta warna rambut kelabu.&lt;br /&gt;8). Pada wanita &gt; 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang menurun.&lt;br /&gt;9). Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun.10). Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak rendahnya akitfitas otot.&lt;br /&gt;11). Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan sexual.&lt;br /&gt;1) Perubahan sistem reprduksi.&lt;br /&gt;a) selaput lendir vagina menurun/kering.&lt;br /&gt;b) menciutnya ovarium dan uterus.&lt;br /&gt;c) atropi payudara.&lt;br /&gt;d) testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur berangsur.&lt;br /&gt;e) dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik.&lt;br /&gt;2) Kegiatan sexual.&lt;br /&gt;Sexualitas adalah kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan yang berhubungan dengan alat reproduksi. Setiap orang mempunyai kebutuhan sexual, disini kita bisa membedakan dalam tiga sisi : 1) fisik, Secara jasmani sikap sexual akan berfungsi secara biologis melalui organ kelamin yang berhubungan dengan proses reproduksi, 2) rohani, Secara rohani Ù tertuju pada orang lain sebagai manusia, dengan tujuan utama bukan untuk kebutuhan kepuasan sexualitas melalui pola pola yang baku seperti binatang dan 3) sosial, Secara sosial Ù kedekatan dengan suatu keadaan intim dengan orang lain yang merupakan suatu alat yang apling diharapkan dalammenjalani sexualitas.&lt;br /&gt;Sexualitas pada lansia sebenarnya tergantung dari caranya, yaitu dengan cara yang lain dari sebelumnya, membuat pihak lain mengetahui bahwa ia sangat berarti untuk anda. Juga sebagai pihak yang lebih tua tampa harus berhubungan badan, msih banyak cara lain unutk dapat bermesraan dengan pasangan anda. Pernyataan pernyataan lain yang menyatakan rasa tertarik dan cinta lebih banyak mengambil alih fungsi hubungan sexualitas dalam pengalaman sex.&lt;br /&gt;2. Perubahan-perubahan mental/ psikologis&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah :&lt;br /&gt;a. Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa.&lt;br /&gt;b. kesehatan umum&lt;br /&gt;c. Ttingkat pendidikan&lt;br /&gt;d. Keturunan (herediter)&lt;br /&gt;e. Lingkungan &lt;br /&gt;f. Gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan ketulian&lt;br /&gt;g. Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan&lt;br /&gt;h. Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan famili&lt;br /&gt;i. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri dan perubahan konsep diri&lt;br /&gt;Perubahan kepribadian yang drastis keadaan ini jarang terjadi lebih sering berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang, kekakuan mungkin oleh karena faktor lain seperti penyakit-penyakit.&lt;br /&gt;Kenangan (memory) ada dua; 1) kenangan jangka panjang, berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu, mencakup beberapa perubahan, 2) Kenangan jangka pendek atau seketika (0-10 menit), kenangan buruk.&lt;br /&gt;Intelegentia Quation; 1) tidakberubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal, 2) berkurangnya penampilan,persepsi dan keterampilan psikomotorterjadi perubahan pada daya membayangkan, karena tekanan-tekanan dari faktro waktu.&lt;br /&gt;Pengaruh proses penuaan pada fungsi psikososial.&lt;br /&gt;1. perubahan fisik, sosial mengakibatkan timbulnya penurunan fungsi, kemunduran orientasi, penglihatan, pendengaran mengakibatkan kurangnya percaya diri pada fungsi mereka.&lt;br /&gt;2. Mundurnya daya ingat, penurunan degenerasi sel sel otak.&lt;br /&gt;3. Gangguan halusinasi.&lt;br /&gt;4. Lebih mengambil jarak dalam berinteraksi.&lt;br /&gt;5. Fungsi psikososial, seperti kemampuan berfikir dan gambaran diri.&lt;br /&gt;3. Perubahan Spiritual &lt;br /&gt;Agama atau kepercayaan makin terintegarsi dalam kehidupannya (Maslow,1970). Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam berpikir dan bertindak dalam sehari-hari. (Murray dan Zentner,1970)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-4086915876143213562?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/4086915876143213562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=4086915876143213562&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/4086915876143213562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/4086915876143213562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/12/perubahan-perubahan-yang-terjadi-pada.html' title='PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-2747887539885617949</id><published>2010-12-21T04:27:00.000-08:00</published><updated>2010-12-21T04:29:00.245-08:00</updated><title type='text'>penggunaan antibiotik yang bijak</title><content type='html'>Obat antibiotik adalah bahan yang berfungsi untuk menghambat pertumbuhan atau menhancurkan kehidupan mikroorganisme, dalam hal ini adalah bakteri. Dalam dunia kesehatan, obat antibiotik digunakan untuk menghentikan infeksi bakteri di dalam tubuh manusia. Obat antibiotik terdiri dari banyak golongan yang dibagi lagi menjadi banyak jenis dengan cara kerja berbagai macam.&lt;br /&gt;Di seluruh dunia, obat antibiotik tergolong sebagai obat keras yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter, sehingga pembelian &amp; penggunaan obat antibiotik tanpa resep dokter adalah suatu langkah yang salah, karena penggunaan obat antibiotik yang tidak tepat/rasional dapat menimbulkan berbagai bahaya bagi penggunanya.&lt;br /&gt;Penggunaan obat antibiotik yang tidak rasional/tepat adalah:&lt;br /&gt;- Dosis atau lama pemakaian yang tidak sesuai standar pengobatan&lt;br /&gt;- Indikasi pengobatan yang salah&lt;br /&gt;- Tidak diresepkan oleh dokter&lt;br /&gt;- Penggunaan yang terlalu sering.&lt;br /&gt;Hal ini, selain berbahaya bagi penggunanya, juga dapat menimbulkan kekebalan (resistensi) bakteri terhadap obat antibiotik tersebut, sehingga obat antibiotik tersebut tidak bisa digunakan kembali (tidak mempan) untuk infeksi bakteri yang sama.Untuk tuntas dalam mengatasi infeksi yang diakibatkan oleh bakteri &amp; mencegah bakteri kebal terhadap antibiotik yang digunakan, maka dokter meresepkan obat antibiotik sesuai dengan standar pengobatan yang ada.&lt;br /&gt;Dampak negative dari pengunaan anti biotik terlalu banyak:                                   gangguan fungsi detoksifikasi pada hati, gangguan pembuangan sisa obat lewat ginjal,gangguan fungsi ginjal dan pendengaran.&lt;br /&gt;Amoxan adalah merek antibiotik dari jenis amoksisilin, tepatnya amoxicillin atau amoxycillin. Antibiotik adalah jenis obat yang fungsinya membunuh bakteri atau memperlambat pertumbuhan bakteri. Antibiotik merupakan salah satu kelas dari jenis obat dari grup yang lebih besar yang disebut antimikroba, jenis obat lain yang termasuk grup ini adalah seperti anti-viral, anti-fungal, dan anti-parasitic.&lt;br /&gt;Antibiotik pertama kali yang ditemukan adalah penisilin oleh Ernest Duchesne, namun beberapa tahun kemudian Duchesne meninggal dunia dan penemuannya hampir dilupakan orang dan kemudian Alexander Flemming menemukan obat yang sama melalui metoda percobaan yang berbeda. Nama penisilin diambil dari nama genus jamur yang membunuh bakteri tersebut.&lt;br /&gt;Hak paten amoksilin sudah habis dan kini banyak merek dagang amoksilin seperti Actimoxi®, Amoxibiotic®, Amoxicilina®, Pamoxicillin®, Lamoxy®, Polymox®, Trimox® dan Zimox®. Entah merek Amoxan yang saya beli mengambil merek dagang yang mana, atau mungkin sudah termasuk merek dagang selain yang saya temukan di atas.&lt;br /&gt;Kini saya harus bersiap-siap dengan efek samping yang mungkin timbul dan tanpa perlu atensi medis yang berlebihan karena antibiotik seperti diare (yaiks!), sakit kepala, hilang selera makan, mules-mules nausea dan kentut-kentut. Semoga tidak mendapat efek samping yang harus mendapatkan atensi medis seperti:&lt;br /&gt;* sulit bernapas&lt;br /&gt;* sakit ketika menelan&lt;br /&gt;* sulit kencing&lt;br /&gt;* kejang-kejang&lt;br /&gt;* pusing-pusing (dizziness)&lt;br /&gt;* merasa kedinginan&lt;br /&gt;* rasa haus bertambah besar&lt;br /&gt;* mata atau kulit menjadi kuning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan antibiotik berlebihan hanya akan memberi dampak negatif kepada pasien karena kuman yang menyerang akan resisten terhadap antibiotik tersebut. Dengan kata lain, tubuh tidak lagi punya kekebalan sendiri, melainkan harus dibantu oleh antibiotik. Kadar antibiotik juga harus selalu dinaikkan untuk bisa melewati level resistansi kuman tersebut. Walaupun penelitian tentang antibiotik sudah sedemikian berkembang, kekhawatiran terhadap resistensi tersebut belum sepenuhnya lenyap. Pun, penggunaan antibiotik secara sembarangan akan membunuh bakteri-bakteri baik yang berfungsi mempertahankan keseimbangan sekaligus melawan bakteri-bakteri jahat. &lt;br /&gt;Berikut hal-hal yang mesti Anda perhatikan ketika Anda harus mengonsumsi antibiotik.&lt;br /&gt;• Obat antibiotik hanya dikonsumsi bila ada indikasi sehingga Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Bisa saja, indikasi yang Anda alami bukan disebabkan oleh infeksi bakteri.&lt;br /&gt;• Bila mengonsumsi antibiotik, minumlah obat tersebut sesuai dengan resep dokter sampai Anda sembuh. Berhenti mengonsumsinya di saat Anda belum sembuh hanya akan membuat bakteri-bakteri yang masih hidup menjadi resisten.&lt;br /&gt;• Karena sifat antibakteri antara satu jenis antibiotik berbeda dengan antibiotik lainnya, maka obat antibiotik yang diresepkan sebaiknya digunakan sesuai keperluan saja. Bila ternyata mengalami suatu indikasi, jangan konsumsi obat antibiotik sisa penyakit sebelumnya. Penyakit Anda sekarang belum tentu sama dengan penyakit Anda sebelumnya.&lt;br /&gt;Karakteristik obat antibiotik adalah diresepkan pada saat tubuh sudah terinfeksi oleh bakteri. Apakah itu berarti tidak ada antibiotik yang dapat dikonsumsi sebelum terkena infeksi? Dengan kata lain, sebagai pencegahan terhadap serangan bakteri-bakteri jahat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda dapat menemukan sifat antibiotik itu pada produk HD Bee Propolis. HD Bee Propolis adalah suplemen kesehatan yang meningkatkan sistem pertahanan tubuh secara alami, tidak melemahkannya seperti yang dilakukan oleh obat antibiotik. &lt;br /&gt;Kualitas produk tersebut dimungkinkan oleh kandungan bee propolis alami yang telah terbukti ilmiah mampu bekerja sebagai antibiotik alami, anti-oksidan kuat, dan antimikroba ampuh. Bee propolis adalah pelindung sarang lebah sehingga sarang, koloni telur, dan larvanya tetap steril dan terhindar dari penyakit.&lt;br /&gt;Selain untuk pencegahan, konsumsi HD Bee Propolis bersamaan dengan resep dokter akan mempercepat proses penyembuhan Anda.&lt;br /&gt;Prinsip Antibiotik &lt;br /&gt;Seorang daokter tidak boleh sembarangan merekomendasikan antibiotik, tapi harus melihat benar infeksi pada tubuh pasien. Prinsip pengobatan antibiotik memiliki dua pertimbangan utama, yaitu penyebab infeksi dan faktor pasien. Pertimbangan penyebab infeksi, dilihat pada pemberian antibiotik yang paling ideal adalah melakukan pemeriksaan mikrobiologis dan uji kepekaan kuman. Jadi dokter harus memilih antibiotik berdasar jenis dan kepekaan kuman.&lt;br /&gt;Namun dalam prakteknya, dokter tidak mungkin melakukan pemeriksaan mikrobiologis pada setiap pasien. Berbeda halnya untuk pasien yang sakit berat dan membutuhkan penanganan segera, pemberian antibiotik perlu dilakukan dengan sebelumnya memeriksa kepekaan kuman.&lt;br /&gt;Pertimbangan kedua, dilihat faktor pasiendengan memperhatikan fungsi ginjal, hati, riwayat alergi pasien, daya tahan terhadap infeksi, daya tahan obat, beratnya infeksi, usia, serta memperhatikan kondisi wanita yang sedang hamil atau menyusui. Mengetahui kondisi pasien dengan benar dapat mempermudah pemberian antibiotik sehingga penyakit cepat sembuh. Selain itu, pasien juga harus memberi informasi yang benar pada dokter tentang kepekaan tubuhnya terhadap antibiotik.&lt;br /&gt;Sesuai dengan kondisi pasien, antibiotik yang diberikan bedasarkan klasifikasi antibiotik yang lazim digunakan adalah penisilin, sefaloszporin dan antibiotik betalaktamlain, tetrasiklin, aminoglikosida, makrolid, kuinolon, sulfonamid dan trimetoprim. Masing-masing antibiotik ini melawan infeksi sesuai dengan kuman penyebabnya.&lt;br /&gt;Untuk mengetahui cara kerja antibiotik, terlebih dulu perlu mengetahui bahwa ada dua jenis kuman yang menyebabkan penyakit, yaitu bakteri dan virus. Bakteri menyebabkan penyakit dengan menyerang manusia sehat berkembang biak dalam proses perkembangan tubuh. Antibiotik efektif melawan bakteri karena dia bekerja untuk menghentikan perkembangbiakannya. Berbeda dengan virus yang tidak hidup dan tidak mampu berkembang biak, tidak bisa diatasi dengan antibiotik.&lt;br /&gt;Menurut badan POM, mekanisme kerja antibiotik tergantung jenis antibiotiknya. Contohnya, penisilin dan sefalosporin menghambat pembentukan dinding sel bakteri. Polimiksin bekerja secara langsung pada membran mikroorganisme sehingga mempengaruhi dan menyebabkan kebocoran isi sel mikroorganisme. Selain itu mampu menghambat protein sel, yang dapat dilakukan kloramfenikol dan tetrasiklin. Sedangkan golongan aminoglikosida mempengaruhi protein sel sehingga meyebabkan matinya sel. Golongan kuinolon mempengaruhi metabolisme asam nukleat.&lt;br /&gt;Resistensi Kuman&lt;br /&gt;Agar pengunaan antibiotik memberikan hasil yang maksimal dan tidak terjadi resistensi kuman, antibiotik yang digunakan harus sesuai dengan anjuran WHO. Yaitu antibiotik harus diberikan berdasarkan diagnosis dan dosis yang tepat. Selain itu, interval pemberian antibiotik harus optimum, artinya antibiotik diberikan dalam jangka waktu yang tepat. Ditambah lagi dengan cara pemberian antibiotik harus yang terbaik.&lt;br /&gt;Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi kuman sehingga infeksi yang terjadi pada penderita tidak dapat diatasi oleh antibiotik. Pemakaian yang tidak tepat biasanya disebabkan karena antibiotik bisa dibeli bebas, ketidaktahuan pemakai, dan antibiotik tidak dipakai sampai tuntas. Resistensi karena penngunaan antibiotik yang tidak memadai, tidak rasional atau berlebihan terjadi akibat mutasi kuman sehingga terjadi kekebalan kuman terhadap antibiotik. Akibatnya, obat tidak banyak manfaatnya lagi untuk membasmi kuman.&lt;br /&gt;Kuman-kuman yang resisten sulit diobati dengan antibiotik biasa. Malah bisa mengakibatkan infeksi perut, infeksi saluran kemih, juga infeksi luka operasi. Untuk menghindari resistensi kuman, pengunaan antibiotik perlu mendapat perhatian serius. Saat mengkonsumsi antibiotik, ada hal yang harus diperhatikan selama minum obat tergantung pada jenis antibiotiknya. Contohnya, pada penggunaan bersamaan dengan makanan, ampisilin harus diminum 30 menit sebelum makan, karena penggunaan obat bersamaan dengan makanan akan berpengaruh pada penyerapan obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contih lain, untuk antibiotik golongan kuinolon secara umum tidak boleh diberikan pada anak di bawah usia 18 tahun karena hasil penelitian menggunakan hewan percobaan terlihat adanya gangguan pada sendi penunjang berat badan. Selain itu, golongan kuinolon tidak boleh digunakan wanita hamil karena hasil penelitian menggunakan hewan percobaan juga terlihat adanya ganguan pada sendi penunjang berat badan. Golongan aminoglikosida juga tidak boleh dikonsumsi wanita hamil karena dapat menyebabkan kerusakan saraf tertentu.&lt;br /&gt;Efek samping&lt;br /&gt;Antibiotik tidak boleh terlalu sering digunakan. Karena dapat mengganggu keseimbangan bakteri di dalam tubuh. Bakteri ada yang baik sifatnya, yang ada di dalam usus untuk membantu proses pencernaan. Jika kuman baik ini juga dibasmi, maka tubuh justru mudah terserang penyakit lain seperti penyakit jamur. Apalagi jika terjadi resistensi kuman, yang membuat kuman jahat bisa beradaptasi dengan antibiotik, sehingga tidak ada yang bisa melawan kuman ini.&lt;br /&gt;Antibiotik dapat menyebabkan reaksi alergi atau hipersensitif. Syok setelah penyuntikan antibiotik juga mungkin terjadi, karena tidak tahan terhadap antibiotik. Reaksi ini bisa menyebabkan timbulnya gatal-gatal, mual, bahkan pingsan.&lt;br /&gt;Adanya istilah antibiotik keras di masyarakat sebenarnya merupakan antibiotik cadangan jika antibiotik lain sudah tidak memberi respon yang memadai. Biasanya, semakin ampuh antibiotik, semakin keras pula efek sampingnya. Kebiasaan selalu bergantung pada antibiotik baik ringan maupun keras ini yang harus diperhatikan, karena resistensi kuman harus dijaga serendah mungkin.&lt;br /&gt;Jadi, sebaiknya jangan terlalu mudah menggunakan antibiotik jika penyakit yang diderita ringan-ringan saja. Gunakanlah pada saat yang tepat, yaitu ketika infeksi terjadi dan tubuh sedang lemah. Peran antibiotik bermanfaat karena mengirim zat anti dari luar. Antibiotik harus digunakan berdasar pola kuman dan pola resistensi.&lt;br /&gt;Kini pemerintah terus meningkatkan akses obat generik termasuk antibiotik. Untuk menjamin khasiat, keamanan, dan mutu obat, Badan POM selalu melakukan kegiatan penilaian obat sebelum beredar di masyarakat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-2747887539885617949?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/2747887539885617949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=2747887539885617949&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/2747887539885617949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/2747887539885617949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/12/penggunaan-antibiotik-yang-bijak.html' title='penggunaan antibiotik yang bijak'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-5577460296664235816</id><published>2010-12-21T04:20:00.000-08:00</published><updated>2010-12-21T04:22:04.941-08:00</updated><title type='text'>kelainan pada kulit</title><content type='html'>LESI UMUM PADA KULIT  BERUPA LESI PRIMER DAN SEKUNDER&lt;br /&gt;LESI PRIMER  :&lt;br /&gt;• MACULA&lt;br /&gt;Makula adalah kelainan kulit yang mengalami  perubahan warna yang tidak diserta penojolan kulit dan tidak ada lekukan pada kulit .makula biasanya bergaris tengah kurang dari 1 cm,contoh :freckle&lt;br /&gt;• BERCAK/PATCH&lt;br /&gt;Bercak/patch suatu makula yang menunjukkan beberapa sisik atau kerutan halus atau suatu lesi datar,rata kulit dengan warna yang berbeda disekitarnya. Contoh : noda pada wajah (treckles, mola yang datar, petekie, rubella, vitiligo, port wino stains, ekimosis.&lt;br /&gt;• VESIKULA&lt;br /&gt;Vesikula adalah benjolan/penonjolan kulit yang berupa lepuhan dimana lepuhan tersebut berdiameter 0,5 cm dan berisi cairan bening.contoh : lepuh pada cacar air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• BULLA&lt;br /&gt;Bulla adalah penonjolan kulit berisi cairan yang terbendung oleh lapisan epidermis dengan diameter lebih dari 0,5 cm,dan berbentuk gelembung,contoh :pada lika bakar&lt;br /&gt;• PAPULA&lt;br /&gt;Papula adalah massa padat yang menonjol diatas kulit berukuran sampai 0,5 cm dan berwarna merah dan tidak berisi sama sekali,contoh : tahi lalat atau tanda lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• PLAK&lt;br /&gt;          Lesi  dengan  diameter  lebih  dari  0,5  cm tetapi dengan kedalaman yang marjinal,contoh psoriasis, keratosis aktinat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• URTIKA(BENTOL)&lt;br /&gt;Massa yang menonjol dengan kriteria,sering tidak teratur,ukuran dan warna bervariasi disebabkan oleh gerakan cairan serosa kedalam dermis  tidak mengandung cairan bebas dalam rongga seperti misalnya pada vesike.Contoh :Urtikaria (biduran), gigitan serangga.&lt;br /&gt;• PUSTULA&lt;br /&gt;Pustula adalah penonjolan kulit/vesikel yang berisi pus karena mikroorganisme, contoh :Agne , impetigo, furunkel dan karbunkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• KISTA&lt;br /&gt;Nodul yang mengandung cairan atau semisolid yang dapat diekspresikan berupa massa semi padat atau berisi cairan yang berkapsul serta berada dalam jaringan subkutan atau dermis,contoh : Kista sebasea, kista epidermoid.&lt;br /&gt;• NODUL&lt;br /&gt;Lesi  lebih  besar  dari  0,5  cm  baik  lebar  dan kedalamannya,seringkali dalam dan keras daripada papula,contoh : lipoma, karsinoma sel skuamosa, suntikan yang tidak terserap dengan baik, dermatofibroma&lt;br /&gt;• TUMOR&lt;br /&gt;Massa yang menonjol , teraba  dan padat. Meluas lebih dalam kedalam epidermis dibandingkan papula.  Nodul yang memiliki tepi yang sirkumskripta. Tumor tidak selalu memiliki tepi yang tajam,contoh : lipoma yang lebih besar, karsinoma.&lt;br /&gt;LESI PRIMER  :&lt;br /&gt;• EROSI&lt;br /&gt;Lesi yang berbevntuk retakan dan berukuran lebih  lebar  dari  retakan  tetapi  terbatas  pada &lt;br /&gt;epidermis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• ULKUS&lt;br /&gt;Kehilangan epidermis,yang meluaskedalam dermis atau lebih dalam lagi atau destruksi epidermis (dengan atau tanpa cedera dermal) yang menampakkan dermis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• FISSURE&lt;br /&gt;Fissure adalah letak linier pada kulit epidermis yang meluas kedermis,contoh kutu air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• SKUAMA(FLASH)&lt;br /&gt;Skuama adalah sisisk epidermis,misalnya pada ketombe atau kulit yang mengering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• KRUSTA(KERAK)&lt;br /&gt;Krusta adalah adanya cairan eksudat pada suatu luka yang tertutup oleh suatu kerak dimana eksudat  dari  lesi  yang  telah  mengering  pada kulit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• PARUT(SIKATRIKS)&lt;br /&gt;Jaringan parut adalah daerah pada tubuh dimana kulit telah tergantikan oleh jaringan fibrosa,misalnya jaringan parut bekas luka bakar&lt;br /&gt;• KELOID&lt;br /&gt;Pertumbuhan jaringan parut yang berlebihan sehingga dapat menimbulkan deformitas kontraktur atau parut bulbous yang luas.pembentukan parut keloid terjadi pada sebagian kulit berpigmen dan cenderung secara progresif menjadi semakin buruk.&lt;br /&gt;• ATROFI&lt;br /&gt;Atrofi adalah pelisutan,pengecilan,emasiasi,berkurangnya ukuran dan fungsi suatu jaringan pada kulit&lt;br /&gt;• LIKENIFIKASI&lt;br /&gt;Penebalan kulit yang dapat dilihat sebagaimana juga  dapat  diraba  dan  yang  memiliki  tanda‐tanda kulit yang mengerut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-5577460296664235816?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/5577460296664235816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=5577460296664235816&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/5577460296664235816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/5577460296664235816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/12/kelainan-pada-kulit.html' title='kelainan pada kulit'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-559229071650631300</id><published>2010-12-21T04:17:00.000-08:00</published><updated>2010-12-21T04:20:17.299-08:00</updated><title type='text'>BENTUK POSISI KLIEN</title><content type='html'>1. Posisi Lithotomi&lt;br /&gt;Posisi berbaring terlentang dengan mengangkat kedua kaki dan menariknya ke atas bagian perut. Dilakukan untuk memeriksa genetalia pada proses persalinan, dan memasang alat kontrasepsi.&lt;br /&gt;Gambar  : &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Posisi Fowler dan Semi Fowler&lt;br /&gt;Posisi setengah duduk atau duduk, bagian kepala tempat tidur lebih tinggi atau dinaikkan. Untuk fowler (45°-90°) dan semifowler(15°-45°). Dilakukan untuk mempertahankan kenyamanan, memfasilitasi fungsi pernapasan, dan untuk pasien pasca bedah.&lt;br /&gt;Gambar :&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;Fowler        semi fowler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Posisi Sim kiri dan kanan(posisi miring)&lt;br /&gt;Posisi miring ke kanan atau ke kiri. Dilakukan untuk memberi kenyamanan dan untuk mempermudah tindakan pemeriksaan rectum atau pemberian huknah atau obat-obatan lain melalui anus. Gambar : &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;4. Posisi  Genu Pectoral &lt;br /&gt;Posisi menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel pada bagian atas tempat tidur. Dilakukan untuk memeriksa daerah rectum dan sigmoid dan untuk membantu merubah letak kepala janin pada bayi yang sungsang.&lt;br /&gt;Gambar :  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Posisi Dorsal Rekumben&lt;br /&gt;Posisi berbaring terlentang dengan kedua lutut fleksi (ditarik atau direnggangkan) diatas tempat tidur. Dilakukan untuk merawat dan memeriksa genetalia serta proses persalinan.&lt;br /&gt;Gambar : &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Posisi Trendelenburg&lt;br /&gt;Posisi pasien berbaring di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah daripada bagian kaki. Dilakukan untuk melancarkan peredaran darah ke otak, dan pada pasien shock dan pada pasien yang dipasang skintraksi pada kakinya.&lt;br /&gt;Gambar :&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-559229071650631300?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/559229071650631300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=559229071650631300&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/559229071650631300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/559229071650631300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/12/bentuk-posisi-klien.html' title='BENTUK POSISI KLIEN'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-7457652571045351980</id><published>2010-06-10T05:04:00.001-07:00</published><updated>2010-06-10T05:04:57.283-07:00</updated><title type='text'>VEKTOR PENYAKIT</title><content type='html'>A. Penyakit yang Berhubungan dengan Air&lt;br /&gt;Penyakit yang berhubungan dengan air dikelompokkan menjadi 4 antara lain&lt;br /&gt;1. Wate-Borne Disease (infeksi yang menyebar melalui air yang tercemar&lt;br /&gt;mikoorganisme pathogen, sebagai contoh : Diare, Demam typoid pada&lt;br /&gt;terutama Balita)&lt;br /&gt;2. Water-Washed Disease (Penyakit karena minimnya Hygiene dan Sanitasi,&lt;br /&gt;sebagai contoh : Ascariasis, Ankylostomiasis)&lt;br /&gt;3. Water-Based Disease (Penyakit yang ditularkan melalui invertebrata air,&lt;br /&gt;sebagai contoh : Schistosomiasis)&lt;br /&gt;4. Water Related Vector-Borne Disease ( Penyakit yang ditularkan oleh insekta&lt;br /&gt;yang perkembangbiakannya tergantung air, sebagai contoh : Malaria,&lt;br /&gt;Onchocercariasis, demam Dengue).&lt;br /&gt;Beberapa Alasan Masih tingginya prevalensi Water Related Disease :&lt;br /&gt;1. Tidak cukupnya sanitasi (pembuangan sampah) dan penyediaan air bersih.&lt;br /&gt;Jumlah air bersih tidak memadai maka personal hygiene juga kurang. Instalasi&lt;br /&gt;sanitasi dan pembuangan sampah akan membaik jika tingkat perekonomian&lt;br /&gt;meningkat termasuk system irigasi yang baik.&lt;br /&gt;2. Rumah yang masih belum memenuhi syarat perumahan sehat dan minimnya&lt;br /&gt;hygiene.&lt;br /&gt;Perbaikan rumah dan kondisi hygiene dapat ditingkatkan melalui pendidikan dan&lt;br /&gt;pelatihan serta perubahan tingkat ekonomi. Misalnya pembangunan jamban,&lt;br /&gt;termasuk penggunaan dan pemeliharaan.. Untuk menurunkan kontak agenmanusia&lt;br /&gt;(misalnya Schistosomiasis), maka perlu perbaikan saluran air dan&lt;br /&gt;tandon.. Pembangunan perumahan yang jauh dari tempat perindukan vector,&lt;br /&gt;termasuk pemasangan kasa pada ventilasi.&lt;br /&gt;3. Minimnya perawatan Kesehatan&lt;br /&gt;Hal ini berkaitan dengan masalah ekonomi, manajemen dan teknik.&lt;br /&gt;4. Manajemen Sumber Daya Air&lt;br /&gt;Water based dan Water related disease penularannya dapat dicegah atau&lt;br /&gt;diturunkan melalui teknik kesehatan lingkungan, modifikasi dan manipulasi&lt;br /&gt;lingkungan. Teknik pengelolaan air (manajemen lingkungan penting), misalnya&lt;br /&gt;system drainase, saluran air, pengerasan tepi saluran air, peninggian tanah dan&lt;br /&gt;penimbunan, pengendalian kebocoran, perpipaan, disiplin dalam penggunaan air.&lt;br /&gt;Promosi dan peningkatan ekonomi, karena tidak ada cara tunggal dalam&lt;br /&gt;mengendalikan vector maka perlu pengendalian terintegrasi sehingga hsilnya dapat&lt;br /&gt;permanen.&lt;br /&gt;Sutopo Patria Jati 2&lt;br /&gt;B. Pengendalain Terintegrasi&lt;br /&gt;Merupakan perencanaan manajemen lingkungan, ditambah pengendalian&lt;br /&gt;secara kimia maupun biologis. Tujuan Manajemen Lingkungan dalam pengendalain&lt;br /&gt;vector adalah menurunkan kepadatan populasi sampai spesies target di bawah tingkat&lt;br /&gt;penyebaran. Vektor akan menyebar dan jumlahnya meningkat jika tempat perindukan&lt;br /&gt;mempunyai kondisi fisik, kimia, biologi yang sesuai. Dalam manajemen lingkungan&lt;br /&gt;harus mengetahu ekologi vector, perkembangan populasi atau epidemiologi vector.&lt;br /&gt;C. Air yang berhubungan Dengan Penyakit Karena Vektor&lt;br /&gt;1. Water Based Disease&lt;br /&gt;Infeksi oleh parasit oleh air atau tempat yang agak basah sebagai media hidup&lt;br /&gt;host intermediate misalnya keong. Sebagai contoh Schistosomiasis, ada dua jenis&lt;br /&gt;penyakit yang pertama menyeranga saluran usus dan yang kedua menyerang system&lt;br /&gt;saluran kencing.&lt;br /&gt;Agen adalah trematoda yang dewasa hidup di vena pada host, sebagain siklus&lt;br /&gt;hidup adalah keong. Ynag menyerang usus adalah S mansoni, S japonicum, S&lt;br /&gt;intercalatum. Penyebaran Afrika, Karibia, Amerika Selatan bagian barat dan timur.&lt;br /&gt;Keong yang bertindak sebagai host intermediet adalah dari genus Biomphalaria untuk&lt;br /&gt;S. mansoni dan genus Aoncomelania untuk S japonicum. S haemotobium terdapat&lt;br /&gt;pada vena sekitar saluran kencing yang banyak terdapat di Afrika dan Timur Tengah&lt;br /&gt;dengan host intermediet keong Bulinus. Semua genus keong tersebut berada di air&lt;br /&gt;bersih, Onchomelania (sumpil) berada di air maupun agak basah.&lt;br /&gt;Siklus Hidup&lt;br /&gt;Manusia yang terinfeksi, telur yang mengandung larva keluar bersama tinja&lt;br /&gt;maupun urin ke air, karena tekanan ostmotik air maka telur pecah dan larva&lt;br /&gt;miracidium keluar dari telur. Kemudian larva miracidium masuk ke dalam keong (6-&lt;br /&gt;24 jam). Dalam keoang membentuk sporocyt dalam waktu 4-8 minggu menjadi&lt;br /&gt;cercaria dalam sporocyt keluar dari keoang dan berenang bebas dalam air selanjutnya&lt;br /&gt;mencari host vertebrata (dalam waktu 24-48 jam) atau jika tidak akan mati.&lt;br /&gt;S haemotobium dan S mansoni terdapat hanya pada manusia tetapi S&lt;br /&gt;japonicum juga hidup dalam hewan domestik (kerbau, anjing, kucing, babi dan tikus)&lt;br /&gt;kemudian masuk vena peripherial menjadi cercaria dan dewasa, setelah kawin antara&lt;br /&gt;jantan dan betina hidup bersama (betina masuk ke dalam tubuh jantan).&lt;br /&gt;Untuk memutus siklus hidupnya, kontak manusia dengan air dikurangi, tidak&lt;br /&gt;ada feces atau urin penderita yang masuk ke dalam air, jumlah keong dikurangi,&lt;br /&gt;pengobatan pada penderita.&lt;br /&gt;Bionomik Keong Sebagai Host Intermediet&lt;br /&gt;1. Faktor Fisik&lt;br /&gt;Suhu 18-32 o C, yang dapat hidup baik pada suhu 26 o C. Tidak menyukai hidup di&lt;br /&gt;air dengan kecepatan arus 0,7 meter/detik maupun aliran turbulen/bergelombang,&lt;br /&gt;jarang ditemukan pada kedalaman lebih dari 1,5 meter. Sebagian spesies tahan&lt;br /&gt;terhadap badan air yang dikeringkan, keong lain dapat bertahan dimana air hanya&lt;br /&gt;ada selama 3 bulan per tahun. Onchomelania dapat hidup semi basah, keong ini&lt;br /&gt;mudah beradaptasi pada system irigasi, sawah, khususnya saluran air dan kolam.&lt;br /&gt;Sutopo Patria Jati 3&lt;br /&gt;2. Faktor Biologis&lt;br /&gt;Musuh alami sangat jarang, biasanya menempel pada tanaman yang rapat,&lt;br /&gt;tanaman melindungi dari sinar matahari langsung dan arus air. Termasuk&lt;br /&gt;Omnivora, suka makan material yang berada di akar tanaman. Rumput&lt;br /&gt;memainkan peranan penting dalam proses penempelan telur keong ini.&lt;br /&gt;3. Faktor Kimia&lt;br /&gt;Keong tahan terhadap klorida, mineral dan garam, hidup pada pH 5-10. Air yang&lt;br /&gt;mengandung barium, Nikel dan Zink dapat membunuhnya.&lt;br /&gt;4. Faktor Air Terpolusi&lt;br /&gt;Air dengan tercemar oleh feces atau material organic sangat disukai untuk&lt;br /&gt;perkembangbiakan keong.&lt;br /&gt;2. Water-Related Vector Borne Disease&lt;br /&gt;Penularan oleh insekta pada tahap imatur dalam air&lt;br /&gt;a. Mosquito-Borne Disease&lt;br /&gt;Nyamuk merupakan binatang kosmopolitan, spesies lebih dari 300. Terdapat tiga&lt;br /&gt;subfamily : Anopheline, Culicine dan Toxorhynchitinae (tidak masuk vector).&lt;br /&gt;Nyamuk betina yang menghisap darah untuk perkembangan telurnya. Hanya&lt;br /&gt;Vektor untuk penyakit malaria, Vektor Filariasis Brugia malayi dan vector&lt;br /&gt;penyakit Japanesse echepalitis yang hidup pada saluran irigasi. Vector untuk&lt;br /&gt;demam kuning dan DBD menyukai air yang berada ditempat lingkungan buatan&lt;br /&gt;manusia di sekitar rumah, secara tidak langsung berkaitang dengan irigasi.&lt;br /&gt;a.1. Malaria&lt;br /&gt;Tingkat morbiditas dan mortalitas masih tinggi di daerah tropis dan&lt;br /&gt;subtropics menyerang golongan umur muda, Biasanya infeksi berulang,&lt;br /&gt;sosek rendah.&lt;br /&gt;a.2. Filariasis&lt;br /&gt;Disebabkan oleh cacing parasit yaitu filarial (nematoda). Cacing filarial&lt;br /&gt;antara lain : W bancrofti, B malayi, B timori. W bancrofti distribusinya&lt;br /&gt;luas terutama di negara-negara trropik. Vektornya adalah Culex&lt;br /&gt;quinquefasciatus terdapat di kota dan pinggiran. Vektor lain adalah&lt;br /&gt;Anopheles, mansonia, Aedes.&lt;br /&gt;a.3. Japanesse Enchepalitis&lt;br /&gt;Merupakan pneyakit akut dan fatal, termasuk dalam arbovirus. Vektor&lt;br /&gt;sebagian besar Culex tritaenorhichus, C pseudofishmi, C gelides.&lt;br /&gt;Penyebaran di Asia Selatan, Asia tenggara, China, Korea. Penyebaran baik&lt;br /&gt;pada air sawah yang menggenang, dimana nyamuk tumbuh subur.&lt;br /&gt;a.4. Yellow Fever&lt;br /&gt;Akut dan fatal termasuk arbovirus, ditularkan A aegypti. Spesies :&lt;br /&gt;haemophagus dan Sabethes (jungle yellow fever) di daerah Amerika dan&lt;br /&gt;Aedes di Afrika.&lt;br /&gt;Sutopo Patria Jati 4&lt;br /&gt;a.5. Dengue Fever&lt;br /&gt;Enampuluh negara tropis dan subtropics, acute fibrile disease. Tingkat&lt;br /&gt;kematian rendah. Karakteristik : demam, nyeri sendi dan otot. Penular&lt;br /&gt;adalah A aegypti. Kontainer merupakan tempat perindukan untuk&lt;br /&gt;melanjutkan perkembangannya. DBD kematian tinggi pada anak-anak :&lt;br /&gt;Asia Tenggara, Karibia. Tahap Imatur adalah : telur, larva, pupa yang&lt;br /&gt;hidup dalam lingkungan air dan yang dewasa di daratan.&lt;br /&gt;b. Siklus Hidup&lt;br /&gt;Telur&lt;br /&gt;Anopheline, bertelur secara terpisah dipermukaan air.lateral, Culicine (culex)&lt;br /&gt;beberapa telur menjadi satu mengapung di air. Aedes, meletakkan telur terpisah&lt;br /&gt;pada kontainer dan genangan setelah banjit atau hujan.&lt;br /&gt;Larva&lt;br /&gt;Menetas dalam awaktu 2-3 hari setelah kontak dengan air, sebagian Aedes&lt;br /&gt;menetas dalam waktu kurang dari setenagh jam. Larva berganti kulit sebanyak&lt;br /&gt;emapt kali, sebelum menjadi dewasa. Pupa  larva (kepala, dada, perut), terdiri&lt;br /&gt;8 segmen. Bernafas denagn organ di akhir tubuh (spiracles). Anopheles posisi&lt;br /&gt;horizontal terhadap permukaan ait. Larva culicine, spiraclesnya treletak di akhir&lt;br /&gt;organ tubular (siphon) yang merupakan perkembangan segmen perut nomor 8,&lt;br /&gt;menggantung di permukaan air, siphjon dilekatkan bawah muka iar untuk&lt;br /&gt;bernafas.&lt;br /&gt;Pupa&lt;br /&gt;Tidak makan dalam satu atau beberapa hari terjadi perubahan morfologi dan&lt;br /&gt;fisiologi, transisi larva ke dewasa. Pupa sangat mobil dapat meyelam jika&lt;br /&gt;diganggu. Pupa istirahat di permukaan, bernafas di permukaan dengan&lt;br /&gt;menggunakan sepasang trompet pernafasan pada daerah dada.&lt;br /&gt;Dewasa&lt;br /&gt;Setelah 5-10 hari meletakkan telur, nyamuk idewasa beristirahat beberapa menit&lt;br /&gt;di kulit ppupanya sambil memekarkan sayapnya sehingga cukup kuat untuk&lt;br /&gt;terbang. Proboscisnya panjang dan masih lembut pada hari pertama setelah&lt;br /&gt;keluar. Kedua jenis kelamin pada saat tersebut masih makan sari/cairan&lt;br /&gt;tanaman. Betina makan darah, karena perkembangan telur tergantung darah.&lt;br /&gt;c. Bionomik&lt;br /&gt;Faktor iklim, memainkan peranan penting dalam penyebaran, perilaku daya tahan&lt;br /&gt;dan kemampuan vector. Air merupakan media esensial, yang tenang maupun&lt;br /&gt;mengalir, bersih maupun terpolusi, berasa ataupun tidak, teduk maupun tidak,&lt;br /&gt;permanen maupun intermiten merupakan factor predominan perkembangan&lt;br /&gt;naymuk. Pada tahap matur dan dewasa sangat tergantung lingkungan, dewasa&lt;br /&gt;butuh air untuk meletakkan telur.&lt;br /&gt;Faktor fisik, Faktor perkembangan tahap imatur tergantung suhu. Ada hubungan&lt;br /&gt;langsung antara suhu dan perkembangan. Contoh, Nyamuk yang&lt;br /&gt;berkembangbiak di daerah tropik biasanya pada suhu 23-33 o C, siklus hidup&lt;br /&gt;komplit setelah 2 minggu. Hujan yang cukup dapat meningkatkan&lt;br /&gt;perkembangan. Tetapi hujan lebat dan berulang mengakibatkan banjur dan&lt;br /&gt;Sutopo Patria Jati 5&lt;br /&gt;menggelontor tempatperindukan sehingga mengurangi populasi nyamuk. Dapat&lt;br /&gt;hidup di temapt teduh maupun tidak. Sinar langsung mengendalikan malaria ole&lt;br /&gt;A minimus da A dinus.&lt;br /&gt;Faktor Biologis, Tanaman, tempat perindukan. Larva tidak ditemukan di&lt;br /&gt;permukaan badan air yang luas atau air bersih yang dalam (danau, kolam,&lt;br /&gt;sungai dan reservoir). A. gambiae menyukai genangan dangkal dan kolam&lt;br /&gt;buatan bekas hujan. Lingkungan air (tanaman) = larva Aedes menyukai&lt;br /&gt;kontainer kecil.&lt;br /&gt;Pencemaran Air dan Faktor Kimia, A funestus menyukai air bersih dengan&lt;br /&gt;tanaman. A sundaicus menyukai air payau. Culex menyukai air terpolusi berat, a&lt;br /&gt;gambiae menyukai bekas telapak kaki, kolam.&lt;br /&gt;D. Konsep Pengendalian Vektor Terpadu&lt;br /&gt;a. Manajemen Lingkungan untuk Pengendalian Vektor&lt;br /&gt;Merupakan perencanaan, pengorganisasian, perawatan dan pengawasan terhadap&lt;br /&gt;kegiatan dengan memodifikasi dan atau memanipulasi factor lingkungan atau&lt;br /&gt;hubungannya dengan manusia dengan cara mencegah atau mengurangi&lt;br /&gt;perindukan vector dan menurunkan kontak manusia dan vector.&lt;br /&gt;b. Modifikasi Lingkungan&lt;br /&gt;Manajemen lingkungan yang meliputi perubahan fisik secara permanen tehadap&lt;br /&gt;tanah, air, dan tanaman yang ditujukan untuk mencegah, menghilangkan atau&lt;br /&gt;mengurangi habitat vector tanpa menyebabkan dampak yang merugikan kualitas&lt;br /&gt;lingkungan.&lt;br /&gt;Meliputi : drainase, pengisian/penimbunan, peninggian tanah, perubahan dan&lt;br /&gt;batas pinggir kolam. Biasanya secara permanen dan alamiah, operasi yang&lt;br /&gt;handal dan adekuat.&lt;br /&gt;c. Manipulasi Lingkungan&lt;br /&gt;Merupakan bentuk manajemen lingkungan yang meliputi beberapa kegiatan&lt;br /&gt;berulang yang direncanakan ditujukan dengan menghasilkan kondisi sementara&lt;br /&gt;yang tidak disukai untk perkembangbiakan vector pada habitatnya.&lt;br /&gt;Contoh : Perubahan salinitas, penggelontoran arus air, pengaturan ketinggian&lt;br /&gt;reservoir, pengeringan atau penggenangan kubangan, penghilangan vegetasi,&lt;br /&gt;melindungi atau memaparkan terhadap sinar matahari.&lt;br /&gt;d. Modifikasi atau Manipulasi Kebiasaan dan Perilaku Manusia&lt;br /&gt;Manajemen lingkungan yang bertujuan menurunkan kontak manusia dengan&lt;br /&gt;vector.&lt;br /&gt;Contoh : tempat tinggal jauh dari sumber vector, melindungi rumah dari&lt;br /&gt;nyamuk, memakai pelindung diri dan hygiene, instalasi penyediaan air bersih,&lt;br /&gt;pembuangan air limbah dan ekskreta, pencucian, mandi, zoopropilaksis,&lt;br /&gt;penempatan kandang yang strategis.&lt;br /&gt;Sutopo Patria Jati 6&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;1. H.J. Mukono, Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan, Airlangga University Press,&lt;br /&gt;Surabaya, 2000.&lt;br /&gt;2. Kumpulan Undang-Undang Lingkungan Hidup tahun 1997-2002, Bapedal,&lt;br /&gt;Jakarta, 2002.&lt;br /&gt;3. Slamet, J.S, Kesehatan Lingkungan, Gajah Mada University Press, Yogyakarta,&lt;br /&gt;2002.&lt;br /&gt;4. UU No. 23 Tahun 1997, Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Jakarta, 1997.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-7457652571045351980?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/7457652571045351980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=7457652571045351980&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/7457652571045351980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/7457652571045351980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/06/vektor-penyakit.html' title='VEKTOR PENYAKIT'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-8113417350489334047</id><published>2010-06-10T05:02:00.000-07:00</published><updated>2010-06-10T05:03:09.246-07:00</updated><title type='text'>ASKEP EPILEPSI</title><content type='html'>Epilepsi bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan manifestasi klinik daripada lepasnya mutan listrik yang berlebihan dari sel-sel neuron di otak yang ditandai oleh serangan yang datang berulang-ulang. Epilepi berasal dari kata “epilambanain” yang berarti serangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Etiologi &lt;br /&gt;- Kelainan bawaan pada otak.&lt;br /&gt;- Cedera otak pada waktu lahir&lt;br /&gt;- Radang otak (encepalitis)&lt;br /&gt;- Trauma kapitis gangguan peredaran darah otak &lt;br /&gt;- Tumor otak &lt;br /&gt;- Sebagian kasus tidak ditemukan penyebabnya (epilepsy idiopatik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Patofisiologi &lt;br /&gt;Mekanisme terjadinya serangan epilepsi ialah :&lt;br /&gt;- Adanya focus yang bersifat hipersensitif (focus epilesi) dan timbulnya keadaan depolarisasi parsial di jaringan otak &lt;br /&gt;- Meningkatnya permeabilitas membran.&lt;br /&gt;- Meningkatnya senstitif terhadap asetilkolin, L-glutamate dan GABA (Neuro Transmitter Inhibisi)&lt;br /&gt;Fokus epilepsy dapat menjalar ke tempat lain dengan lepasnya muatan listrik sehingga terjadi ekstasi, perubahan medan listrik dan penurunan ambang rangasang yang kemudian menimbulkan letupan listrik masal. &lt;br /&gt;Bila focus tidak menjalar kesekitarnya atau hanya menjalar sampai jarak tertentu atau tidak melibatkan seluruh otak, maka akan terjadi bangkitan epilepsy fokal (parsial).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Klasifikasi Epilepsi &lt;br /&gt;1. Berdasarkan penyebabnya dapat dibagi :&lt;br /&gt;b. Epilepsi idiopatik : bila tidak di ketahui penyebabnya.&lt;br /&gt;c. Epilepsi simtomatik : bila ada penyebabnya &lt;br /&gt;2. Berdasarkan letak focus epilepsy atau tipe bangkitan:&lt;br /&gt;Menurut klasifikasi Internasional Bangkitan Epilepsi (1981)&lt;br /&gt;a. Bangkitan parsial atau fokal (partial seizure)&lt;br /&gt;b. Bangkitan parsial sederhana (simple Partial)&lt;br /&gt;- Motorik &lt;br /&gt;- Sensorik &lt;br /&gt;- Otonom &lt;br /&gt;- Psikis&lt;br /&gt;c. Bangkitan partial komplek (disertai gangguan kesadaran)&lt;br /&gt;d. BAngkitan parsial yang berkembang menjadi bangkitan umum&lt;br /&gt;e. Bangkitan umum (Konvulsif atau non. Lonvulsif)&lt;br /&gt;- Bangkitan Lena (absences) atau petit mal&lt;br /&gt;- Bangkitan tonik-tonik atau Grand Mal&lt;br /&gt;- Bagkitan mioklonik &lt;br /&gt;- Bangkitan klonik &lt;br /&gt;- Bangkitan tonik &lt;br /&gt;- Bangkitan anatomic&lt;br /&gt;f. Bangkitan yang tidak terklarifikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen Epilepsi :&lt;br /&gt;1. Pastikan diagnosa epilepsy dan mengadakan explorasi etiologi dari epilepsi&lt;br /&gt;2. Melakukan terapi simtomatik &lt;br /&gt;3. dalam memberikan terapi anti epilepsy yang perlu diingat sasaran pengobatan yang dicapai, yakni:&lt;br /&gt;- pengobatan harus di berikan sampai penderita bebas serangan.&lt;br /&gt;- Pengobatan hendaknya tidak mengganggu fungsi susunan syaraf pusat yang normal.&lt;br /&gt;- Penderita dpat memiliki kualitas hidup yang optimal. &lt;br /&gt;Tipe Serangan Epilepsi :&lt;br /&gt;1. Grand Mall&lt;br /&gt;Serangan Tiba-tiba klien jatuh sambil teriak, pernafasan sejenak berhenti, seluruh tubuh menjadi kaku. Kemudian muncul gerakan tonik klonik. Gerakan tonik ini sangat kuat sehingga tulang dapat patah dapat patah dan lidah dapai &lt;br /&gt;Sebelum terjadi serangan gran mall klien dapat memperlihatkan gejala-gejala prodromal yaitu irritabilitas (cepat marah/tersinggung), pusing, sakit kepala, atau bersikap defresip.&lt;br /&gt;2. Petit Mal&lt;br /&gt;Serangan yang berupa kehilangan kesadaran sejenak, biasanya serangan ini timbul pada anak-anak yang berumur 4-8 tahun. Pada waktu kesadaran hilang untulk beberapa detik, tonus otot tidak hilang sehingga klien tidak jatuh. Lamanya serangan anatara 5-10 detik. Kedua mata menatap secara hampa ke depan atau berputar keatas sambil melepaskan benda yang di pegangnya atau berhenti berbicara dan setelah sadar klien lupa apa yang sudah terjadi. Serangan petit mal akan berhenti seterusnya bila klien berumur 20 tahun atau menjelang 30 tahun. Tetapi ada kemungkinan petit mal dapat berkembang menjadi grand mal pada usia 20 tahun.&lt;br /&gt;3. Mio klonik &lt;br /&gt;- Muncul gerakan involunter sekelompok otot skeletal yang timbul secara tiba-tiba&lt;br /&gt;- Biasanya merupakan manfestasi bermacam-macam kelainan neurologik (degeneratif ponto cerebeler, meilitis) atau non neurologik (Urema, hepatic failure).&lt;br /&gt;- Biasanya tidak ada kehilangan kesadaran.&lt;br /&gt;4. Klonik&lt;br /&gt;- serangan epileptic yang bangkit akibat lepas muatan listrik di daerah korteks serebri.&lt;br /&gt;- Motorik : gerakan involunter salah satu anggota gerak, wajah, rahang bawah, pita suara (vokalisasi) dan kolumna vertebralis &lt;br /&gt;- Sensorik : merasa nyeri, panas dingin, parestesia daerah kulit setempa, skotoma tinnitus, mencium bau barang busuk, mengecap rasa logam, invertigo, mual, muntah, perut mules atau afasia.&lt;br /&gt;- Autonom : Mual, muntah, dan hiperdosis setempat &lt;br /&gt;- Halusinasi&lt;br /&gt;- Ilusi Yang disebut De Javu&lt;br /&gt;- Pearasaan curiga yaitu perasaan seolah-pikirannya memaksa sesuatu. &lt;br /&gt;- Automatismus &lt;br /&gt;5. Status Epileptikus &lt;br /&gt;Yaitu serangan epilepsy yang terjadi berulang-ulang dan sering serangan ini pada umumnya tonik-klonik dan merupakan keadaan gawat darurat yang harus segera ditangani karena dapat berakibat kerusakan otak permanent. Penyebabnya adalah : peningkatan suhu yang tinggi, obat epileptic yang dihentikan, atau penyebab lain yaitu gangguan metabolic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkajian Keperawatan &lt;br /&gt;Data Subyektif, antara lain :&lt;br /&gt;1. riwayat kes. Klien yang berhubungan dengan factor resiko bio-psiko-spiritual. Kapan klien mulai serangan, pada usia berapa. Frekuansi serangan, ada factor presipitasi seperti suhu tinggi, kurang tidur, dan emosi yang labil. Apakah pernah menderita sakit berat yang disertai hilangnya kesadaran., kejang, cedera otak operasi otak,. Apakah klien terbiasa menggunakan obat-obat penenang atau obat terlarang, atau mengkonsumsi alcohol.&lt;br /&gt;Klien mengalami gangguan ionteraksi dengan orang lain / keluarga karena malu ,merasa rendah diri, ketidak berdayaan, tidak mempunyai harapan dan selalu waspada/berhati-hati dalam hubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;2. Riwayat kesehatan keluarga, dimaksudkan untuk mendapatkan informasi kemungkin masalah yang sama pada keluarga&lt;br /&gt;3. Klien dapat mengeluhkan kelemahan/ lelah dan kurang mampu melakukan aktifitas sehari-hari. &lt;br /&gt;DataObjektif:&lt;br /&gt;1. Dari pemeriksaan fisik didapat penurunan kekuatan otot&lt;br /&gt;2. Data pada saat serangan dijumpai:&lt;br /&gt; Perubahan pada tanda-tanda vital berupa peningkatan tekanandarah, denyut nadi meningkat dan cianosis. &lt;br /&gt; Inkontinensia urin dan fekal &lt;br /&gt; Perlukaan paga gusi dan lidah &lt;br /&gt; Ada riwayat nyeri, kehilangan kesadaran/pingsan, kehilangan kesadaran sesaat&lt;br /&gt; klien menangis, jatuh kelantai, disertai komponen motorik seperti kejang tonik klonik&lt;br /&gt; mioklonik, tonik, klonik, atonik. Klien menggigit lidah. mului. berbuih, ada&lt;br /&gt; inkontinensia urin dan fekal, bibir dan muka cianosis, mata dan kepala bergerak&lt;br /&gt; memutar-mutar pada satu posisi atau keduanya&lt;br /&gt;4. Data setelah Serangan&lt;br /&gt; Setelah serangan tanda-tanda vital mungkin bcrubah&lt;br /&gt; Kiien mengalami lethargi, bingung, otot sakit, gangguan bicara, nyeri kepala.&lt;br /&gt; Perubahan dalam gerakan misalnya hemiplegi/hemiparese sementara. &lt;br /&gt; Klien lupa atau sedikit ingat terhadap kejadian yang menimpa dirinya.&lt;br /&gt; Terjadi perubahan kesadaran/tidak, pernafasan, denyut jantung.&lt;br /&gt; Ada perlukaan/cedera.&lt;br /&gt;5. Gusi mengalami hiperplasi karena efek samping penggunaan Dilantin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Keperawatan :&lt;br /&gt;Masalah keperawatan yang mungkin dijumpai pada klien dengan epilepsi antara lain :&lt;br /&gt;1. Potensial terjadinya kecelakaan fisik, dan tubuh kekurangan oksigen &lt;br /&gt;Kemungkinan penyebab&lt;br /&gt;Terjadinya serangan yang akan menyebabkan hilangnya koordinasi otot-otot tubuh,&lt;br /&gt;kelemahan, keterbatasan, pengobatan, ketidakseimbangan emosional, penurunan tingkat&lt;br /&gt;kesadaran&lt;br /&gt;Tujuan dan kriteria evaluasi&lt;br /&gt; Klien dapat mengidentifikasi faktor presipitasi serangan dan dapat meminimalkan/menghindarinya.&lt;br /&gt; Klien memperlihatkan tingkah laku yang kooperatif dan menghindari dari penyebab terjadinya trauma.&lt;br /&gt;Intervensi Keperawatan&lt;br /&gt;a. Bersama klien mengidentifikasi faktor yang dapat menyebabkan serangan tiba-tiba.&lt;br /&gt;b. Bila serangan terjadi , hindarkan klien dari benturan fisik khususnya kepala&lt;br /&gt;c. Observasi tanda-tanda vital, gunakan thermometer axilla&lt;br /&gt;d. Dampingi klien saat serangan berlangsung untuk mencegah bahaya luka fisik, aspirasi, lidah tergigit.&lt;br /&gt;e. Miringkan; kepala untuk mencegah aspirasi &lt;br /&gt;f. Gunakan spatel lidah untuk mencegah lidah jatuh ke belakang&lt;br /&gt;g. Hindarkan alat-alat yang membahayakan dari dekat klien &lt;br /&gt;h. Longgarkan pakaian yang sempit. &lt;br /&gt;i. Catat semua gejala, tipe serangan epilepsi, lama serangan dan kejadian-kejadian saat serangan. &lt;br /&gt;j. Setelah klien sadar, diskusikan tentang tanda-tanda serangan yang mendadak&lt;br /&gt;Tindakan Kolaboratif&lt;br /&gt;a. Berikan obat-obatan sesuai program, misal anti apileptik, luminal, diazepam, glukose, thiamine dan lain-lain&lt;br /&gt;b. Monitor dan catat efek samping obat-obat yang digunakan klien &lt;br /&gt;c. Monitor tingkat keseimbangan elektrolit, glucose&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Potensial tidak efektif jalan nafas/pola nafas &lt;br /&gt;Kemungkinan penyebab&lt;br /&gt;Sumbatan tracheobronchial, menurunnya kesadaran &lt;br /&gt;Tujuan dan Kriteria hasil&lt;br /&gt;Jalan nafas/pola nafas efektif, tidak terjadi aspirasi &lt;br /&gt;Intervensi Keperawatan&lt;br /&gt;a. Bila klien tidak sadar, jaga agar jalan nafas tetap lancar dan terbuka. &lt;br /&gt;b. Observasi tanda vital &lt;br /&gt;c. Pertahankan agar makanan dan cairan / elektrolit tetap seimbang, bila perlu beri cairan/makan perparenteral atau enteral sesuai kolaborasi. &lt;br /&gt;d. Bila terdapat lendir dijalan nafas lakukan suction bila perlu &lt;br /&gt;e. Kaji apakah klien ingat terhadap kejadian tersebut&lt;br /&gt;f. Identifikasi apakah terjadi perlukaan pada tubuh klien &lt;br /&gt;g. Bila klien gelisah, beri penghalang dikedua sisi tempat tidur&lt;br /&gt;Tindakan Kolaboratif &lt;br /&gt;a. Beri oksigen sesuai program terapi &lt;br /&gt;b. Pemasangan intubasi endotrakheal &lt;br /&gt;c. Monitor intubasi, bila terpasang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Gangguan konsep diri : harga diri yang rendah, identitas diri tidak jelas &lt;br /&gt;Kemungkinan penyebab Ketidakmampuan klien mengatasi krisis, koping yang tidak adekuat dan kurangnya dukungan keluarga. &lt;br /&gt;Tujuan dan Kriteria hasil:&lt;br /&gt; Klien dapat mengidentifikasi perasaan, pola koping yang positif/negatif.&lt;br /&gt; Klien dapat melakukan interaksi sosial yang positif dengan lingkungannya.&lt;br /&gt; Klien dapat menggunakan pola koping yang adaptif.&lt;br /&gt;Intervensi Keperawatan:&lt;br /&gt;a. Diskusi tentang perasaan yang dihadapi klien&lt;br /&gt;b. Dorong klien untuk Mengekspresikan fikiran dan perasaannya&lt;br /&gt;c. Kaji kemampuan klien dalam menggunakan pola koping yang positif untuk meningkatkan harga diri klien sehingga dapat hidup bermasyarakat &lt;br /&gt;d. Anjurkan klien untuk mengikuti kelompok penderita yang mendenta epilepsi &lt;br /&gt;e. Konsultasikan klien dengan psikolog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kecemasan pada klien dan keluarga &lt;br /&gt;Kemumgkinan penyebab&lt;br /&gt;Keterbatasan pengetahuan, informasi yang salah terhadap keadaan yang dideritanya, kegagalan pengobatan. &lt;br /&gt;Tujuan dan Kriteria hasil&lt;br /&gt;Klien dan keluarga mengerti penyakit dan penyebabnya.&lt;br /&gt;Klien dan keluarga dapat mengerti dan mengidentifikasi macam-macam stimulus yang dapat mengakibatkan serangan&lt;br /&gt;lntervensi Keperawatan&lt;br /&gt; Kaji keadaan patologi/kondisi klien dan pengobatan yang pernah didapat klien &lt;br /&gt; Diskusikan tentang penitingnva kontrol dau minum obat secara teratur &lt;br /&gt; Jelaskan pada klien tentang keadaan yang sedang dihadapi klien. &lt;br /&gt; Jelaskan faktor-faktor yang dapat menimbulkan serangan seperti :&lt;br /&gt; Penggunaan obat anti epilepsi yang tidak tepat baik dosis, waklu dan jadwal penggunaannya.&lt;br /&gt; Obat-obatan anti epilepsi yang tidak cocok&lt;br /&gt; Kurang / tidak tidur&lt;br /&gt; Stress emosional&lt;br /&gt; Perubahan hormonal, misalnya hamil, menstruasi&lt;br /&gt; Nutrisi yang buruk &lt;br /&gt; Cairan dan elektrolit yang tidak seimbang&lt;br /&gt; Alkohol/obat-obatan&lt;br /&gt; Jelaskan kondisi-kondisi vang harus dihindarkan seperti pekerjaan yang membahayakan misalnya bekerja di pabrik dsb, mengendarai mobil, olah raga berat dan rekreasi yang mebahayakan seperti naik gunung/ panjat tebing dsb, berenang, kehamilan, minum alkohol/obat terlarang&lt;br /&gt; Anjurkan klien untuk selalu membawa tanda pengenal bila bepergian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diposkan oleh Perawat Murtad di 2/02/2009  &lt;br /&gt;http://perawat-gaul.blogspot.com/2009/02/asuhan-keperawatan-epilepsi.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASKEP EPILEPSI&lt;br /&gt;TINJAUAN TEORI&lt;br /&gt;A. Pengertian &lt;br /&gt;Epilepsi adalah penyakit serebral kronik dengan karekteristik kejang berulang akibat lepasnya muatan listrik otak yang berlebihan dan bersivat reversibel (Tarwoto, 2007)&lt;br /&gt;Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi (Arif, 2000)&lt;br /&gt;Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-ciri timbulnya serangan paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik neron-neron otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan laboratorik (anonim, 2008)&lt;br /&gt;B. Etiologi &lt;br /&gt;Penyebab pada kejang epilepsi sebagianbesara belum diketahui (Idiopatik) Sering terjadi pada:&lt;br /&gt;1. Trauma lahir, Asphyxia neonatorum&lt;br /&gt;2. Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf&lt;br /&gt;3. Keracunan CO, intoksikasi obat/alkohol&lt;br /&gt;4. Demam, ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia)&lt;br /&gt;5. Tumor Otak&lt;br /&gt;6. kelainan pembuluh darah&lt;br /&gt;(Tarwoto, 2007)&lt;br /&gt;C. Patofisiologi&lt;br /&gt;Otak merupakan pusat penerima pesan (impuls sensorik) dan sekaligus merupakan pusat pengirim pesan (impuls motorik). Otak ialah rangkaian berjuta-jutaneron. Pada hakekatnya tugas neron ialah menyalurkan dan mengolah aktivitas listrik sarafyang berhubungan satu dengan yang lain melalui sinaps. Dalam sinaps terdapat zat yang dinamakan nerotransmiter. Acetylcholine dan norepinerprine ialah neurotranmiter eksitatif, sedangkan zat lain yakni GABA (gama-amino-butiric-acid) bersifat inhibitif terhadap penyaluran aktivitas listrik sarafi dalam sinaps. Bangkitan epilepsi dicetuskan oleh suatu sumber gaya listrik saran di otak yang dinamakan fokus epileptogen. Dari fokus ini aktivitas listrik akan menyebar melalui sinaps dan dendrit ke neron-neron di sekitarnya dan demikian seterusnya sehingga seluruh belahan hemisfer otak dapat mengalami muatan listrik berlebih (depolarisasi). Pada keadaan demikian akan terlihat kejang yang mula-mula setempat selanjutnya akan menyebar kebagian tubuh/anggota gerak yang lain pada satu sisi tanpa disertai hilangnya kesadaran. Dari belahan hemisfer yang mengalami depolarisasi, aktivitas listrik dapat merangsang substansia retikularis dan inti pada talamus yang selanjutnya akan menyebarkan impuls-impuls ke belahan otak yang lain dan dengan demikian akan terlihat manifestasi kejang umum yang disertai penurunan kesadaran.&lt;br /&gt;D. Manifestasi klinik&lt;br /&gt;1. Manifestasi klinik dapat berupa kejang-kejang, gangguan kesadaran atau gangguan penginderaan&lt;br /&gt;2. Kelainan gambaran EEG&lt;br /&gt;3. Tergantung lokasi dan sifat Fokus Epileptogen&lt;br /&gt;4. Dapat mengalami Aura yaitu suatu sensasi tanda sebelum kejang epileptik (Aura dapat berupa perasaan tidak enak, melihat sesuatu, men cium bau-bauan tak enak, mendengar suara gemuruh, mengecap sesuatu, sakit kepala dan sebagainya)&lt;br /&gt;E. Klasifikasi kejang&lt;br /&gt;1. Kejang Parsial &lt;br /&gt;1. Parsial Sederhana&lt;br /&gt;Gejala dasar, umumnya tanpa gangguan kesadaran Misal: hanya satu jari atau tangan yang bergetar, mulut tersentak Dengan gejala sensorik khusus atau somatosensorik seperti: mengalami sinar, bunyi, bau atau rasa yang tidak umum/tdk nyaman&lt;br /&gt;1. Parsial Kompleks&lt;br /&gt;Dengan gejala kompleks, umumnya dengan ganguan kesadaran. Dengan gejala kognitif, afektif, psiko sensori, psikomotor. Misalnya: individu terdiam tidak bergerak atau bergerak secara automatik, tetapi individu tidak ingat kejadian tersebut setelah episode epileptikus tersebut lewat&lt;br /&gt;1. Kejang Umum (grandmal)&lt;br /&gt;Melibatkan kedua hemisfer otak yang menyebabkan kedua sisi tubuh bereaksi Terjadi kekauan intens pada seluruh tubuh (tonik) yang diikuti dengan kejang yang bergantian dengan relaksasi dan kontraksi otot (Klonik) Disertai dengan penurunan kesadaran, kejang umum terdiri dari:&lt;br /&gt;1. Kejang Tonik-Klonik&lt;br /&gt;2. Kejang Tonik&lt;br /&gt;3. Kejang Klonik&lt;br /&gt;4. Kejang Atonik&lt;br /&gt;5. Kejang Myoklonik&lt;br /&gt;6. Spasme kelumpuhan&lt;br /&gt;7. Tidak ada kejang&lt;br /&gt;8. Kejang Tidak Diklasifikasikan/ digolongkan karena datanya tidak lengkap.&lt;br /&gt;F.Pemeriksaan diagnostik&lt;br /&gt;1. CT Scan&lt;br /&gt;Untuk mendeteksi lesi pada otak, fokal abnormal, serebrovaskuler abnormal, gangguan degeneratif serebral&lt;br /&gt;1. Elektroensefalogram(EEG)&lt;br /&gt;Untuk mengklasifikasi tipe kejang, waktu serangan&lt;br /&gt;1. Magnetik resonance imaging (MRI)&lt;br /&gt;2. Kimia darah: hipoglikemia, meningkatnya BUN, kadar alkohol darah.&lt;br /&gt;G. Penatalaksanaan&lt;br /&gt;1. Dilakukan secara manual, juga diarahkan untuk mencegah terjadinya kejang&lt;br /&gt;2. Farmakoterapi&lt;br /&gt;Anti kovulsion untuk mengontrol kejang&lt;br /&gt;1. Pembedahan&lt;br /&gt;Untuk pasien epilepsi akibat tumor otak, abses, kista atau adanya anomali vaskuler&lt;br /&gt;1. Jenis obat yang sering digunakan &lt;br /&gt;1. Phenobarbital (luminal).&lt;br /&gt;Paling sering dipergunakan, murah harganya, toksisitas rendah.&lt;br /&gt;1. Primidone (mysolin)&lt;br /&gt;Di hepar primidone di ubah menjadi phenobarbital dan phenyletylmalonamid.&lt;br /&gt;1. Difenilhidantoin (DPH, dilantin, phenytoin).&lt;br /&gt;• Dari kelompok senyawa hidantoin yang paling banyak dipakai ialah DPH. Berhasiat terhadap epilepsi grand mal, fokal dan lobus temporalis.&lt;br /&gt;• Tak berhasiat terhadap petit mal.&lt;br /&gt;• Efek samping yang dijumpai ialah nistagmus,ataxia, hiperlasi gingiva dan gangguan darah.&lt;br /&gt;1. Carbamazine (tegretol).&lt;br /&gt;• Mempunyai khasiat psikotropik yangmungkin disebabkan pengontrolan bangkitan epilepsi itusendiri atau mungkin juga carbamazine memang mempunyaiefek psikotropik.&lt;br /&gt;• Sifat ini menguntungkan penderita epilepsi lobus temporalis yang sering disertai gangguan tingkahlaku.&lt;br /&gt;• Efek samping yang mungkin terlihat ialah nistagmus, vertigo, disartri, ataxia, depresi sumsum tulang dan gangguanfungsi hati.&lt;br /&gt;1. Diazepam.&lt;br /&gt;• Biasanya dipergunakan pada kejang yang sedang berlangsung (status konvulsi.).&lt;br /&gt;• Pemberian i.m. hasilnya kurang memuaskan karena penyerapannya lambat. Sebaiknya diberikan i.v. atau intra rektal.&lt;br /&gt;1. Nitrazepam (Inogadon).&lt;br /&gt;Terutama dipakai untuk spasme infantil dan bangkitan mioklonus.&lt;br /&gt;1. Ethosuximide (zarontine).&lt;br /&gt;Merupakan obat pilihan pertama untuk epilepsi petit mal&lt;br /&gt;1. Na-valproat (dopakene)&lt;br /&gt;• Obat pilihan kedua pada petit mal&lt;br /&gt;• Pada epilepsi grand mal pun dapat dipakai.&lt;br /&gt;• Obat ini dapat meninggikan kadar GABA di dalam otak.&lt;br /&gt;• Efek samping mual, muntah, anorexia&lt;br /&gt;1. Acetazolamide (diamox).&lt;br /&gt;• Kadang-kadang dipakai sebagai obat tambahan dalam pengobatan epilepsi.&lt;br /&gt;• Zat ini menghambat enzim carbonic-anhidrase sehingga pH otak menurun, influks Na berkurang akibatnya membran sel dalam keadaan hiperpolarisasi.&lt;br /&gt;1. ACTH&lt;br /&gt;Seringkali memberikan perbaikan yang dramatis pada spasme infantil.&lt;br /&gt;ASUHAN KEPERAWTAN&lt;br /&gt;I.Pengkajian &lt;br /&gt;1. Riwayat kesehatan &lt;br /&gt;1. Riwayat keluarga dengan kejang&lt;br /&gt;2. Riwayat kejang demam&lt;br /&gt;3. Tumor intrakranial&lt;br /&gt;4. Trauma kepal terbuka, stroke&lt;br /&gt;5. Riwayat kejang &lt;br /&gt;1. Berapa sering terjadi kejang&lt;br /&gt;2. Gambaran kejang seperti apa&lt;br /&gt;3. Apakah sebelum kejang ada tanda-tanda awal&lt;br /&gt;4. Apa yang dilakuakn pasien setelah kejang&lt;br /&gt;5. Riwayat penggunaan obat &lt;br /&gt;1. Nama obat yang dipakai&lt;br /&gt;2. Dosis obat&lt;br /&gt;3. Berapa kali penggunaan obat&lt;br /&gt;4. Kapan putus obat&lt;br /&gt;5. Pemeriksaan fisik &lt;br /&gt;1. Tingkat kesadaran&lt;br /&gt;2. Abnormal posisi mata&lt;br /&gt;3. Perubahan pupil&lt;br /&gt;4. Gerakan motorik&lt;br /&gt;5. Tingkah laku setelah kejang&lt;br /&gt;6. Apnea&lt;br /&gt;7. Cyanosis&lt;br /&gt;8. Saliva banyak&lt;br /&gt;9. Psikososial &lt;br /&gt;1. Usia&lt;br /&gt;2. Jenis kelamin&lt;br /&gt;3. Pekerjaan&lt;br /&gt;4. Peran dalam keluarga&lt;br /&gt;5. Strategi koping yang digunakan&lt;br /&gt;6. Gaya hidup dan dukungan yang ada&lt;br /&gt;7. Pengetahuan pasien dan keluarga &lt;br /&gt;1. Kondisi penyakit dan pengobatan&lt;br /&gt;2. Kondisi kronik&lt;br /&gt;3. Kemampuan membaca dan belajar&lt;br /&gt;4. Pemeriksaan diagnostik &lt;br /&gt;1. Laboratorium&lt;br /&gt;2. Radiologi&lt;br /&gt;II. Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt;1. Resiko injury b/d aktivitas kejang&lt;br /&gt;2. Resiko tinggi tidak efektif jalan nafas, pola nafas b/d kerusakan persepsi&lt;br /&gt;3. Cemas b/d terjadinya kejang&lt;br /&gt;4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan&lt;br /&gt;III. Intervensi keperawatan&lt;br /&gt;1.  Dx: resiko tinggi tidak efektif jalan nafas, pola nafas b/d kerusakan persepsi&lt;br /&gt;Intervensi:&lt;br /&gt;Mandiri&lt;br /&gt;1. Anjurkan pasien untuk mengosongkan mulut dari benda/zat tertentu/gigi palsu atau alat yang lain jika fase aura terjadi dan untuk menghindari rahang mengatup jika kejang terjadi tanpa ditandai gejala awal.&lt;br /&gt;2. Letakkan pasien pada posisi miring, permukaan datar, miringkan kepala selama serangan kejang.&lt;br /&gt;3. Tanggalkan pakaian pada daerah leher/abdomen.&lt;br /&gt;4. Masukkan spatel lidah atau gulugan benda lunak sesuai dengan indiksi.&lt;br /&gt;5. Lakukan penghisapan sesuai indikasi.&lt;br /&gt;Kolaborasi&lt;br /&gt;1. Berikan tambahan oksigen sesuai kebutuhan pada fase posiktal.&lt;br /&gt;2. Siapkan untukmelakukan intubasi, jika ada indikasi&lt;br /&gt;2.  Dx: Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan&lt;br /&gt;Mandiri&lt;br /&gt;1. Jelaskan kembali mengenai patofisiologi/ prognosis penyakit dan perlunya pengobata/penanganan dalam jangka waktu yang lama sesuai indikasi.&lt;br /&gt;2. Tinjau kembali obat-obat yang didapat, penting sekali memakan obat sesuai petunjuk, dan tidak menghentikan pengobatan tanpa pengawasan dokter. Termasuk petunjuk untuk pengurasi dosis.&lt;br /&gt;3. Berikan petunjuk yang jelas pada pasien untuk minum obat bersamaan dengan waktu makan, jika memungkinkan.&lt;br /&gt;4. Diskusikan mengenai efek samping secara khusus, seperi mengantuk, hiperaktif, gangguan tidur, hipertrofi pada gusi, gangguan penglihatan, mual/muntah, ruam pada kulit, sinkope/ataksia, kelahiran yang terganggu dan anemia aplastik.&lt;br /&gt;5. Anjurkan pasien untuk menggunakan semacam gelang identifikasi/semacam petunjuk yang memberitahukan bahwa pasien adalah penderita epilepsi.&lt;br /&gt;6. Tekankan perlunya untuk melakukan evaluasi yang teratur/melakukan pemeriksaan laboratorium yang teratur sesuai dengan indikasi, seperti darah lengkap harus diperiksa minimal dua kali dalam satu tahun dan munculnya sakit tenggorok atau demam.&lt;br /&gt;7. Bicarakan kembali kemungkinan efek dari perubahan hormonal&lt;br /&gt;8. Diskusikan manfaat dari kesehatan umum yang baik, seperti diet yang adekuat, istirahat yang cukup, latihan yang cukup dan hindari bahaya, alkohol, kefein dan obaat yang dapat menstimulasi kejang.&lt;br /&gt;9. Tinjau kembali pentingnya kebersihan mulut dan perawatan gigi teratur.&lt;br /&gt;10. Identifikasi perlunya penerimaan terhadap keterbatasan yang dimiliki, diskusikan tindakan keamanan yang diperhatikan saat mengemudi, menggunakan alat mekanik, panjat tebing, berenang, hobi dan sejenisnya.a&lt;br /&gt;http://hidayat2.wordpress.com/2009/05/05/askep-epilepsi/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASKEP EPILEPSI&lt;br /&gt;{ November 5, 2008 @ 7:53 am } • { Uncategorized } &lt;br /&gt;Konsep Medis&lt;br /&gt;A. Definisi&lt;br /&gt;Epilepsi merupakan gejala kompleks dari banyak gangguan fungsi otak yang dikarakteristikkan oleh kejang berulang. Kejang merupakan akibat dari pembebasan listrik yang tidak terkontrol dari sel saraf korteks serebral yang ditandai dengan serangan tiba-tiba, terjadi gangguan kesadaran ringan, aktivitas motorik, atau gangguan fenomena sensori.&lt;br /&gt;B. Etiologi&lt;br /&gt;1. Epilepsi Primer (Idiopatik)&lt;br /&gt;Epilepsi primer hingga kini tidak ditemukan penyebabnya, tidak ditemukan kelainan pada jaringan otak diduga bahwa terdapat kelainan atau gangguan keseimbangan zat kimiawi dan sel-sel saraf pada area jaringan otak yang abnormal.&lt;br /&gt;2. Epilepsi Sekunder (Simtomatik)&lt;br /&gt;Epilepsi yang diketahui penyebabnya atau akibat adanya kelainan pada jaringan otak. Kelainan ini dapat disebabkan karena dibawah sejak lahir atau adanya jaringan parut sebagai akibat kerusakan otak pada waktu lahir atau pada masa perkembangan anak, cedera kepala (termasuk cedera selama atau sebelum kelahiran), gangguan metabolisme dan nutrisi (misalnya hipoglikemi, fenilketonuria (PKU), defisiensi vitamin B6), faktor-faktor toksik (putus alkohol, uremia), ensefalitis, anoksia, gangguan sirkulasi, dan neoplasma.&lt;br /&gt;C. Patofisiologi&lt;br /&gt;Kejang terjadi akibat lepas muatan paroksismal yang berlebihan dari sebuah fokus kejang atau dari jaringan normal yang terganggu akibat suatu keadaan patologik. Aktivitas kejang sebagian bergantung pada lokasi muatan yang berlebihan tersebut. Lesi di otak tengah, talamus, dan korteks serebrum kemungkinan besar bersifat apileptogenik, sedangkan lesi di serebrum dan batang otak umumnya tidak memicu kejang.&lt;br /&gt;Di tingkat membran sel, sel fokus kejang memperlihatkan beberapa fenomena biokimiawi, termasuk yang berikut :&lt;br /&gt; Instabilitas membran sel saraf, sehingga sel lebih mudah mengalami pengaktifan.&lt;br /&gt; Neuron-neuron hipersensitif dengan ambang untuk melepaskan muatan menurun dan apabila terpicu akan melepaskan nuatan menurun secara berlebihan.&lt;br /&gt; Kelainan polarisasi (polarisasi berlebihan, hipopolarisasi, atau selang waktu dalam repolarisasi) yang disebabkan oleh kelebihan asetilkolin atau defisiensi asam gama-aminobutirat (GABA).&lt;br /&gt; Ketidakseimbangan ion yang mengubah keseimbangan asam-basa atau elektrolit, yang mengganggu homeostatis kimiawi neuron sehingga terjadi kelainan depolarisasi neuron. Gangguan keseimbangan ini menyebabkan peningkatan berlebihan neurotransmitter aksitatorik atau deplesi neurotransmitter inhibitorik.&lt;br /&gt;Perubahan-perubahan metabolik yang terjadi selama dan segera setelah kejang sebagian disebabkan oleh meningkatkannya kebutuhan energi akibat hiperaktivitas neuron. Selama kejang, kebutuhan metabolik secara drastis meningkat, lepas muatan listrik sel-sel saraf motorik dapat meningkat menjadi 1000 per detik. Aliran darah otak meningkat, demikian juga respirasi dan glikolisis jaringan. Asetilkolin mmuncul di cairan serebrospinalis (CSS) selama dan setelah kejang. Asam glutamat mungkin mengalami deplesi selama aktivitas kejang.&lt;br /&gt;Secara umum, tidak dijumpai kelainan yang nyata pada autopsi. Bukti histopatologik menunjang hipotesis bahwa lesi lebih bersifat neurokimiawi bukan struktural. Belum ada faktor patologik yang secara konsisten ditemukan. Kelainan fokal pada metabolisme kalium dan asetilkolin dijumpai di antara kejang. Fokus kejang tampaknya sangat peka terhadap asetikolin, suatu neurotransmitter fasilitatorik, fokus-fokus tersebut lambat mengikat dan menyingkirkan asetilkolin.&lt;br /&gt;D. Manifestasi Klinis&lt;br /&gt;1. Sawan Parsial (lokal, fokal)&lt;br /&gt;a. Sawan Parsial Sederhana : sawan parsial dengan kesadaran tetap normal&lt;br /&gt;• Dengan gejala motorik&lt;br /&gt;- Fokal motorik tidak menjalar: sawan terbatas pada satu bagian tubuh saja&lt;br /&gt;- Fokal motorik menjalar : sawan dimulai dari satu bagian tubuh dan menjalar meluas ke daerah lain. Disebut juga epilepsi Jackson.&lt;br /&gt;- Versif : sawan disertai gerakan memutar kepala, mata, tuibuh.&lt;br /&gt;- Postural : sawan disertai dengan lengan atau tungkai kaku dalam sikap tertentu&lt;br /&gt;- Disertai gangguan fonasi : sawan disertai arus bicara yang terhenti atau pasien mengeluarkan bunyi-bunyi tertentu&lt;br /&gt;• Dengan gejala somatosensoris atau sensoris spesial; sawan disertai halusinasi sederhana yang mengenai kelima panca indera dan bangkitan yang disertai vertigo.&lt;br /&gt;- Somatosensoris: timbul rasa kesemuatan atau seperti ditusuk-tusuk jarum.&lt;br /&gt;- Visual : terlihat cahaya&lt;br /&gt;- Auditoris : terdengar sesuatu&lt;br /&gt;- Olfaktoris : terhidu sesuatu&lt;br /&gt;- Gustatoris : terkecap sesuatu&lt;br /&gt;- Disertai vertigo&lt;br /&gt;• Dengan gejala atau tanda gangguan saraf otonom (sensasi epigastrium, pucat, berkeringat, membera, piloereksi, dilatasi pupil).&lt;br /&gt;• Dengan gejala psikis (gangguan fungsi luhur)&lt;br /&gt;- Disfagia : gangguan bicara, misalnya mengulang suatu suku kata, kata atau bagian kalimat.&lt;br /&gt;- Dimensia : gangguan proses ingatan misalnya merasa seperti sudah mengalami, mendengar, melihat, atau sebaliknya. Mungkin mendadak mengingat suatu peristiwa di masa lalu, merasa seperti melihatnya lagi.&lt;br /&gt;- Kognitif : gangguan orientasi waktu, merasa diri berubah.&lt;br /&gt;- Afektif : merasa sangat senang, susah, marah, takut.&lt;br /&gt;- Ilusi : perubahan persepsi benda yang dilihat tampak lebih kecil atau lebih besar.&lt;br /&gt;- Halusinasi kompleks (berstruktur) : mendengar ada yang bicara, musik, melihat suatu fenomena tertentu, dll.&lt;br /&gt;b. Sawan Parsial Kompleks (disertai gangguan kesadaran)&lt;br /&gt;• Serangan parsial sederhana diikuti gangguan kesadaran : kesadaran mula-mula baik kemudian baru menurun.&lt;br /&gt;- Dengan gejala parsial sederhana A1-A4 : gejala-gejala seperti pada golongan A1-A4 diikuti dengan menurunnya kesadaran.&lt;br /&gt;- Dengan automatisme. Yaitu gerakan-gerakan, perilaku yang timbul dengan sendirinya, misalnya gerakan mengunyah, menelan, raut muka berubah seringkali seperti ketakutan, menata sesuatu, memegang kancing baju, berjalan, mengembara tak menentu, dll.&lt;br /&gt;• Dengan penurunan kesadaran sejak serangan; kesadaran menurun sejak permulaan kesadaran.&lt;br /&gt;- Hanya dengan penurunan kesadaran&lt;br /&gt;- Dengan automatisme&lt;br /&gt;c. Sawan Parsial yang berkembang menjadi bangkitan umum (tonik-klonik, tonik, klonik)&lt;br /&gt;• Sawan parsial sederhana yang berkembang menjadi bangkitan umum.&lt;br /&gt;• Sawan parsial kompleks yang berkembang menjadi bangkitan umum.&lt;br /&gt;• Sawan parsial sederhana yang menjadi bangkitan parsial kompleks lalu berkembang menjadi bangkitan umum.&lt;br /&gt;2. Sawan Umum (Konvulsif atau NonKonvulsif)&lt;br /&gt;a. 1. Sawan lena (absence)&lt;br /&gt;Pada sawan ini, kegiatan yang sedang dikerjakan terhenti, muka tampak membengong, bola mata dapat memutar ke atas, tak ada reaksi bila diajak bicara. Biasanya sawan ini berlangsung selama ¼ – ½ menit dan biasanya dijumpai pada anak.&lt;br /&gt;• Hanya penurunan kesadaran&lt;br /&gt;• Dengan komponen klonik ringan. Gerakan klonis ringan, biasanya dijumpai pada kelopak mata atas, sudut mulut, atau otot-otot lainnya bilateral.&lt;br /&gt;• Dengan komponen atonik. Pada sawan ini dijumpai otot-otot leher, lengan, tangan, tubuh mendadak melemas sehingga tampak mengulai.&lt;br /&gt;• Dengan komponen klonik. Pada sawan ini, dijumpai otot-otot ekstremitas, leher atau punggung mendadak mengejang, kepala, badan menjadi melengkung ke belakang, lengan dapat mengetul atau mengedang.&lt;br /&gt;• Dengan automatisme&lt;br /&gt;• Dengan komponen autonom.&lt;br /&gt;b hingga f dapat tersendiri atau kombinasi&lt;br /&gt;2. Lena tak khas (atipical absence)&lt;br /&gt;Dapat disertai:&lt;br /&gt;• Gangguan tonus yang lebih jelas.&lt;br /&gt;• Permulaan dan berakhirnya bangkitan tidak mendadak.&lt;br /&gt;b. Sawan Mioklonik&lt;br /&gt;Pada sawan mioklonik terjadi kontraksi mendadak, sebentar, dapat kuat atau lemah sebagian otot atau semua otot, seringkali atau berulang-ulang. Bangkitan ini dapat dijumpai pada semua umur.&lt;br /&gt;c. Sawan Klonik&lt;br /&gt;Pada sawan ini tidak terjadi gerakan menyentak, repetitif, tajam, lambat, dan tunggal multiple di lengan, tungkai atau torso. Dijumpai terutama sekali pada anak.&lt;br /&gt;d. Sawan Tonik&lt;br /&gt;Pada sawan ini tidak ada komponen klonik, otot-otot hanya menjadi kaku pada wajah dan bagian tubuh bagian atas, flaksi lengan dan ekstensi tungkai. Sawan ini juga terjadi pada anak.&lt;br /&gt;e. Sawan Tonik-Klonik&lt;br /&gt;Sawan ini sering dijumpai pada umur di atas balita yang terkenal dengan nama grand mal. Serangan dapat diawali dengan aura, yaitu tanda-tanda yang mendahului suatu sawan. Pasien mendadak jatuh pingsan, otot-otot seluruh badan kaku. Kejang kaku berlangsung kira-kira ¼ – ½ menit diikutti kejang kejang kelojot seluruh tubuh. Bangkitan ini biasanya berhenti sendiri. Tarikan napas menjadi dalam beberapa saat lamanya. Bila pembentukan ludah ketika kejang meningkat, mulut menjadi berbusa karena hembusan napas. Mungkin pula pasien kencing ketika mendapat serangan. Setelah kejang berhenti pasien tidur beberapa lamanya, dapat pula bangun dengan kesadaran yang masih rendah, atau langsung menjadi sadar dengan keluhan badan pegal-pegal, lelah, nyeri kepala.&lt;br /&gt;f. Sawan atonik&lt;br /&gt;Pada keadaan ini otot-otot seluruh badan mendadak melemas sehingga pasien terjatuh. Kesadaran dapat tetap baik atau menurun sebentar. Sawan ini terutama sekali dijumpai pada anak. &lt;br /&gt;3. Sawan Tak Tergolongkan&lt;br /&gt;Termasuk golongan ini ialah bangkitan pada bayi berupa gerakan bola mata yang ritmik, mengunyah, gerakan seperti berenang, menggigil, atau pernapasan yang mendadak berhenti sederhana.&lt;br /&gt;E. Pemeriksaan Diagnostik&lt;br /&gt; Pungsi Lumbar&lt;br /&gt;Pungsi lumbar adalah pemeriksaan cairan serebrospinal (cairan yang ada di otak dan kanal tulang belakang) untuk meneliti kecurigaan meningitis. Pemeriksaan ini dilakukan setelah kejang demam pertama pada bayi.&lt;br /&gt;- Memiliki tanda peradangan selaput otak (contoh : kaku leher)&lt;br /&gt;- Mengalami complex partial seizure&lt;br /&gt;- Kunjungan ke dokter dalam 48 jam sebelumnya (sudah sakit dalam 48 jam sebelumnya)&lt;br /&gt;- Kejang saat tiba di IGD (instalasi gawat darurat)&lt;br /&gt;- Keadaan post-ictal (pasca kejang) yang berkelanjutan. Mengantuk hingga sekitar 1 jam setelah kejang demam adalah normal.&lt;br /&gt;- Kejang pertama setelah usia 3 tahun&lt;br /&gt;Pada anak dengan usia &gt; 18 bulan, pungsi lumbar dilakukan jika tampak tanda peradangan selaput otak, atau ada riwayat yang menimbulkan kecurigaan infeksi sistem saraf pusat. Pada anak dengan kejang demam yang telah menerima terapi antibiotik sebelumnya, gejala meningitis dapat tertutupi, karena itu pada kasus seperti itu pungsi lumbar sangat dianjurkan untuk dilakukan.&lt;br /&gt; EEG (electroencephalogram)&lt;br /&gt;EEG adalah pemeriksaan gelombang otak untuk meneliti ketidaknormalan gelombang. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan untuk dilakukan pada kejang demam yang baru terjadi sekali tanpa adanya defisit (kelainan) neurologis. Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa EEG yang dilakukan saat kejang demam atau segera setelahnya atau sebulan setelahnya dapat memprediksi akan timbulnya kejang tanpa demam di masa yang akan datang. Walaupun dapat diperoleh gambaran gelombang yang abnormal setelah kejang demam, gambaran tersebut tidak bersifat prediktif terhadap risiko berulangnya kejang demam atau risiko epilepsi.&lt;br /&gt; Pemeriksaan laboratorium&lt;br /&gt;Pemeriksaan seperti pemeriksaan darah rutin, kadar elektrolit, kalsium, fosfor, magnsium, atau gula darah tidak rutin dilakukan pada kejang demam pertama. Pemeriksaan laboratorium harus ditujukan untuk mencari sumber demam, bukan sekedar sebagai pemeriksaan rutin.&lt;br /&gt; Neuroimaging&lt;br /&gt;Yang termasuk dalam pemeriksaan neuroimaging antara lain adalah CT-scan dan MRI kepala. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan pada kejang demam yang baru terjadi untuk pertama kalinya.&lt;br /&gt;F. Pencegahan&lt;br /&gt;Upaya sosial luas yang menggabungkan tindakan luas harus ditingkatkan untuk pencegahan epilepsi. Resiko epilepsi muncul pada bayi dari ibu yang menggunakan obat antikonvulsi yang digunakan sepanjang kehamilan. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama yang dapat dicegah. Melalui program yang memberi keamanan yang tinggi dan tindakan pencegahan yang aman, yaitu tidak hanya dapat hidup aman, tetapi juga mengembangkan pencegahan epilepsi akibat cedera kepala. Ibu-ibu yang mempunyai resiko tinggi (tenaga kerja, wanita dengan latar belakang sukar melahirkan, pengguna obat-obatan, diabetes, atau hipertensi) harus di identifikasi dan dipantau ketat selama hamil karena lesi pada otak atau cedera akhirnya menyebabkan kejang yang sering terjadi pada janin selama kehamilan dan persalinan.&lt;br /&gt;Program skrining untuk mengidentifikasi anak gangguan kejang pada usia dini, dan program pencegahan kejang dilakukan dengan penggunaan obat-obat anti konvulsan secara bijaksana dan memodifikasi gaya hidup merupakan bagian dari rencana pencegahan ini.&lt;br /&gt;G. Pengobatan&lt;br /&gt;Pengobatan epilepsi adalah pengobatan jangka panjang. Penderita akan diberikan obat antikonvulsan untuk mengatasi kejang sesuai dengan jenis serangan. Penggunaan obat dalam waktu yang lama biasanya akan menyebabkan masalah dalam kepatuhan minum obat (compliance) seta beberapa efek samping yang mungkin timbul seperti pertumbuhan gusi, mengantuk, hiperaktif, sakit kepala, dll.&lt;br /&gt;Penyembuhan akan terjadi pada 30-40% anak dengan epilepsi. Lama pengobatan tergantung jenis epilepsi dan etiologinya. Pada serangan ringan selama 2-3th sudah cukup, sedang yang berat pengobatan bisa lebih dari 5th. Penghentian pengobatan selalu harus dilakukan secara bertahap. Tindakan pembedahan sering dipertimbangkan bila pengobatan tidak memberikan efek sama sekali.&lt;br /&gt;Penanganan terhadap anak kejang akan berpengaruh terhadap kecerdasannya. Jika terlambat mengatasi kejang pada anak, ada kemungkinan penyakit epilepsi, atau bahkan keterbalakangan mental. Keterbelakangan mental di kemudian hari. Kondisi yang menyedihkan ini bisa berlangsung seumur hidupnya.&lt;br /&gt;Konsep Keperawatan&lt;br /&gt;A. Pengkajian&lt;br /&gt;Perawat mengumpulkan informasi tentang riwayat kejang pasien. Pasien ditanyakan tentang faktor atau kejadian yang dapat menimbulkan kejang. Asupan alkohol dicatat. Efek epilepsi pada gaya hidup dikaji: Apakah ada keterbatasan yang ditimbulkan oleh gangguan kejang? Apakah pasien mempunyai program rekreasi? Kontak sosial? Apakah pengalaman kerja? Mekanisme koping apa yang digunakan?&lt;br /&gt;Obsevasi dan pengkajian selama dan setelah kejang akan membantu dalam mengindentifikasi tipe kejang dan penatalaksanaannya.&lt;br /&gt;1. Selama serangan :&lt;br /&gt;- Apakah ada kehilangan kesadaran atau pingsan.&lt;br /&gt;- Apakah ada kehilangan kesadaran sesaat atau lena.&lt;br /&gt;- Apakah pasien menangis, hilang kesadaran, jatuh ke lantai.&lt;br /&gt;- Apakah disertai komponen motorik seperti kejang tonik, kejang klonik, kejang tonik-klonik, kejang mioklonik, kejang atonik.&lt;br /&gt;- Apakah pasien menggigit lidah.&lt;br /&gt;- Apakah mulut berbuih.&lt;br /&gt;- Apakah ada inkontinen urin.&lt;br /&gt;- Apakah bibir atau muka berubah warna.&lt;br /&gt;- Apakah mata atau kepala menyimpang pada satu posisi.&lt;br /&gt;- Berapa lama gerakan tersebut, apakah lokasi atau sifatnya berubah pada satu sisi atau keduanya.&lt;br /&gt;2. Sesudah serangan&lt;br /&gt;- Apakah pasien : letargi , bingung, sakit kepala, otot-otot sakit, gangguan bicara&lt;br /&gt;- Apakah ada perubahan dalam gerakan.&lt;br /&gt;- Sesudah serangan apakah pasien masih ingat apa yang terjadi sebelum, selama dan sesudah serangan.&lt;br /&gt;- Apakah terjadi perubahan tingkat kesadaran, pernapasan atau frekuensi denyut jantung.&lt;br /&gt;- Evaluasi kemungkinan terjadi cedera selama kejang.&lt;br /&gt;3. Riwayat sebelum serangan&lt;br /&gt;- Apakah ada gangguan tingkah laku, emosi.&lt;br /&gt;- Apakah disertai aktivitas otonomik yaitu berkeringat, jantung berdebar.&lt;br /&gt;- Apakah ada aura yang mendahului serangan, baik sensori, auditorik, olfaktorik maupun visual.&lt;br /&gt;4. Riwayat Penyakit&lt;br /&gt;- Sejak kapan serangan terjadi.&lt;br /&gt;- Pada usia berapa serangan pertama.&lt;br /&gt;- Frekuensi serangan.&lt;br /&gt;- Apakah ada keadaan yang mempresipitasi serangan, seperti demam, kurang tidur, keadaan emosional.&lt;br /&gt;- Apakah penderita pernah menderita sakit berat, khususnya yang disertai dengan gangguan kesadaran, kejang-kejang.&lt;br /&gt;- Apakah pernah menderita cedera otak, operasi otak&lt;br /&gt;- Apakah makan obat-obat tertentu&lt;br /&gt;- Apakah ada riwayat penyakit yang sama dalam keluarga&lt;br /&gt;B. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;1. Resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan perubahan kesadaran, kerusakan kognitif selama kejang, atau kerusakan mekanisme perlindungan diri.&lt;br /&gt;2. Resiko tinggi terhadap bersihan jalan napas/pola napas tidak efektif.&lt;br /&gt;3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang pemajanan, atau kesalahan interpretasi informasi.&lt;br /&gt;4. Gangguan harga diri berhubungan dengan stigma berkenaan dengan kondisi, persepsi tentang tidak terkontrol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Comments » http://nersunhas.wordpress.com/2008/11/05/askep-epilepsi/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEP EPILEPSI &lt;br /&gt;Label: Askep Anak &lt;br /&gt;A. PENGERTIAN.&lt;br /&gt;Epilepsi adalah suatu gejala atau manifestasi lepasnya muatan listrik yang berlebihan di sel neuron saraf pusat yang dapat menimbulkan hilangnya kesadaran, gerakan involunter, fenomena sensorik abnormal, kenaikan aktivitas otonom dan berbagai gangguan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. ETIOLOGI.&lt;br /&gt;1. Idiopatik.&lt;br /&gt;2. Acquerit : kerusakan otak, keracunan obat, metabolik, bakteri.&lt;br /&gt;- trauma lahir&lt;br /&gt;- trauma kepala&lt;br /&gt;- tumor otak&lt;br /&gt;- stroke&lt;br /&gt;- cerebral edema&lt;br /&gt;- hypoxia&lt;br /&gt;- keracunan&lt;br /&gt;- gangguan metabolik&lt;br /&gt;- infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. PATOFISIOLOGI.&lt;br /&gt;Menurut para penyelidik bahwa sebagian besar bangkitan epilepsi berasal dari sekumpulan sel neuron yang abnormal di otak, yang melepas muatan secara berlebihan dan hypersinkron. Kelompok sel neuron yang abnormal ini, yang disebut juga sebagai fokus epileptik mendasari semua jenis epilepsi, baik yang umum maupun yang fokal (parsial). Lepas muatan listrik ini kemudian dapat menyebar melalui jalur-jalur fisiologis-anatomis dan melibatkan daerah disekitarnya atau daerah yang lebih jauh letaknya di otak.&lt;br /&gt;Tidak semua sel neuron di susunan saraf pusat dapat mencetuskan bangkitan epilepsi klinik, walaupun ia melepas muatan listrik berlebihan. Sel neuron diserebellum di bagian bawah batang otak dan di medulla spinalis, walaupun mereka dapat melepaskan muatan listrik berlebihan, namun posisi mereka menyebabkan tidak mampu mencetuskan bangkitan epilepsi. Sampai saat ini belum terungkap dengan pasti mekanisme apa yang mencetuskan sel-sel neuron untuk melepas muatan secara sinkron dan berlebihan (mekanisme terjadinya epilepsi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara Patologi :&lt;br /&gt;Fenomena biokimia sel saraf yang menandai epilepsi :&lt;br /&gt;1. Ketidakstabilan membran sel saraf.&lt;br /&gt;2. Neuron hypersensitif dengan ambang menurun.&lt;br /&gt;3. Polarisasi abnormal.&lt;br /&gt;4. Ketidakseimbangan ion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. KLASIFIKASI DAN GAMBARAN KLINIS.&lt;br /&gt;1. Epilepsi Umum.&lt;br /&gt;- Grand mal.&lt;br /&gt;- Petit mal.&lt;br /&gt;- Infantile spasm.&lt;br /&gt;2. Epilepsi Jenis Focal / Parsial.&lt;br /&gt;- Focal motor.&lt;br /&gt;- Focal sensorik.&lt;br /&gt;- Psikomotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :&lt;br /&gt;1. Bangkitan umum : &lt;br /&gt;- Tonik : kontraksi otot, tungkai dan siku  20 –fleksi, leher dan punggung melengkung, jeritan epilepsi (aura).  60 detik.&lt;br /&gt;- Klonik : spasmus flexi berseling relaksasi, hypertensi,  40 detik.midriasis, takikardi, hyperhidrosis, hypersalivasi. &lt;br /&gt;- Pasca Serangan : aktivitas otot terhenti&lt;br /&gt;klien sadar kembali&lt;br /&gt;lesu, nyeri otot dan sakit kepala&lt;br /&gt;klien tertidur 1-2 jam.&lt;br /&gt;2. Jenis parsial :&lt;br /&gt;- Sederhana : tidak terdapat gangguan kesadaran.&lt;br /&gt;- Komplex : gangguan kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ad :&lt;br /&gt;1. Grand mal (Tonik Klonik) :&lt;br /&gt;- Ditandai dengan aura : sensasi pendengaran atau penglihatan.&lt;br /&gt;- Hilang kesadaran.&lt;br /&gt;- Epileptik cry.&lt;br /&gt;- Tonus otot meningkat  sikap fleksi / ekstensi.&lt;br /&gt;- Sentakan, kejang klonik.&lt;br /&gt;- Lidah dapat tergigit, hypertensi, tachicardi, berkeringat, dilatasi pupil dan hypersalivasi.&lt;br /&gt;- Setelah serangan pasien tertidur 1-2 jam.&lt;br /&gt;- Pasien lupa, mengantuk dan bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Petit mal : &lt;br /&gt;- Hilang kesadaran sebentar.&lt;br /&gt;- Klien tampak melongo.&lt;br /&gt;- Apa yang dikerjakannya terhenti.&lt;br /&gt;- Klien terhuyung tapi tidak sampai jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Infantile Spasm :&lt;br /&gt;- Terjadi usia 3 bulan – 2 tahun.&lt;br /&gt;- Kejang fleksor pada ektremitas dan kepala.&lt;br /&gt;- Kejang hanya beberapa fetik berulang.&lt;br /&gt;- Sebagian besar klien mengalami retardasi mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Focal motor :&lt;br /&gt;Lesi pada lobus frontal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Focal Sensorik :&lt;br /&gt;Lesi pada lobus parietal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Focal Psikomotor :&lt;br /&gt;Disfungsi lobus temporal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK.&lt;br /&gt; Pemeriksaan laboratorium :&lt;br /&gt;Pemeriksaan darah rutin, darah tepi dan lainnya sesuai indikasi misalnya kadar gula darah, elektrolit. Pemeriksaan cairan serebrospinalis (bila perlu) untuk mengetahui tekanan, warna, kejernihan, perdarahan, jumlah sel, hitung jenis sel, kadar protein, gula NaCl dan pemeriksaan lain atas indikasi.&lt;br /&gt; Pemeriksaan EEG :&lt;br /&gt;Pemeriksaan EEG sangat berguna untuk diagnosis epilepsi. Ada kelainan berupa epilepsiform discharge atau epileptiform activity), misalnya spike sharp wave, spike and wave dan sebagainya. Rekaman EEG dapat menentukan fokus serta jenis epilepsi apakah fokal, multifokal, kortikal atau subkortikal dan sebagainya. Harus dilakukan secara berkala (kira-kira 8-12 % pasien epilepsi mempunyai rekaman EEG yang normal).&lt;br /&gt; Pemeriksaan radiologis :&lt;br /&gt;Foto tengkorak untuk mengetahui kelainan tulang tengkorak, destruksi tulang, kalsifikasi intrakranium yang abnormal, tanda peninggian TIK seperti pelebaran sutura, erosi sela tursika dan sebagainya.&lt;br /&gt;Pneumoensefalografi dan ventrikulografi untuk melihat gambaran ventrikel, sisterna, rongga sub arachnoid serta gambaran otak.&lt;br /&gt;Arteriografi untuk mengetahui pembuluh darah di otak : anomali pembuluh darah otak, penyumbatan, neoplasma / hematome/ abses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. KOMPLIKASI.&lt;br /&gt; Kerusakan otak akibat hypoksia dan retardasi mental dapat timbul akibat kejang berulang.&lt;br /&gt; Dapat timbul depresi dan keadaan cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. PENATALAKSANAAN.&lt;br /&gt; Medik :&lt;br /&gt;a. Pengobatan Kausal :&lt;br /&gt;Perlu diselidiki apakah pasien masih menderita penyakit yang aktif, misalnya tumor serebri, hematome sub dural kronik. Bila ya, perlu diobati dahulu.&lt;br /&gt;b. Pengobatan Rumat :&lt;br /&gt;Pasien epilepsi diberikan obat antikonvulsan secara rumat. Di klinik saraf anak FKUI-RSCM Jakarta, biasanya pengobatan dilanjutkan sampai 3 tahun bebas serangan, kemudian obat dikurangi secara bertahap dan dihentikan dalam jangka waktu 6 bulan. Pada umumnya lama pengobatan berkisar antara 2-4 tahun bebas serangan. Selama pengobatan harus diperiksa gejala intoksikasi dan pemeriksaan laboratorium secara berkala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat yang dipakai untuk epilepsi yang dapat diberikan pada semua bentuk kejang :&lt;br /&gt;- Fenobarbital, dosis 3-8 mg/kg BB/hari.&lt;br /&gt;- Diazepam, dosis 0,2 -0,5 mg/Kg BB/hari.&lt;br /&gt;- Diamox (asetazolamid); 10-90 mg/Kg BB/hari.&lt;br /&gt;- Dilantin (Difenilhidantoin), dosis 5-10 mg/Kg BB/hari.&lt;br /&gt;- Mysolin (Primidion), dosis 12-25 mg /Kg BB/hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila menderita spasme infantil diberikan :&lt;br /&gt;- Prednison dosisnya 2-3 mg/Kg BB/hari.&lt;br /&gt;- Dexametasone, dosis 0,2-0,3 mg/Kg BB/hari.&lt;br /&gt;- Adrenokortikotropin, dosis 2-4 mg/Kg BB/hari.&lt;br /&gt; Keperawatan :&lt;br /&gt;Masalah pasien yang perlu diperhatikan adalah resiko terjadinya bahaya akibat bangkitan epilepsi, gangguan rasa aman dan nyaman, resiko terjadi gangguan psikososial , kurang pengetahuan orang tua mengenai penyakit.&lt;br /&gt;H. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. DATA DASAR PENGKAJIAN PASIEN.&lt;br /&gt; AKTIVITAS / ISTIRAHAT&lt;br /&gt;Gejala : Keletihan, kelemahan umum.&lt;br /&gt;Keterbatasan dalam aktivitas / bekerja yang ditimbulkan oleh diri sendiri / orang terdekat .&lt;br /&gt;Tanda : Perubahan tonus / kekuatan otot.&lt;br /&gt;Gerakan involunter / kontraksi otot ataupun sekelompok otot.&lt;br /&gt; SIRKULASI&lt;br /&gt;Gejala : Iktal : Hypertensi, peningkatan nadi, sianosis.&lt;br /&gt;Postiktal : Tanda vital normal atau depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan.&lt;br /&gt; INTEGRITAS EGO&lt;br /&gt;Gejala : Stressor eksternal / internal yang berhubungan dengan keadaan dan / atau penanganan.&lt;br /&gt;Peka rangsang; perasaan tidak ada harapan / tidak berdaya. Perubahan dalam berhubungan.&lt;br /&gt;Tanda : Pelebaran rentang respons emosional.&lt;br /&gt; ELIMINASI&lt;br /&gt;Gejala : Inkontinensia episodik.&lt;br /&gt;Tanda : Iktal : peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus sfingter.&lt;br /&gt;Postiktal : otot relaksasi yang mengakibatkan inkontinensia (baik urine / fekal).&lt;br /&gt; MAKANAN / CAIRAN&lt;br /&gt;Gejala : Sensitivitas terhadap makanan, mual / muntah yang berhubungan dengan aktivitas kejang.&lt;br /&gt;Tanda : Kerusakan jaringan lunak / gigi (cedera selama kejang).&lt;br /&gt;Hyperplasia gingival (efek samping pemakaian Dilantin jangka panjang).&lt;br /&gt; NEUROSENSORI&lt;br /&gt;Gejala : Riwayat sakit kepala, aktivitas kejang berulang, pingsan, pusing. Riwayat trauma kepala, anoksia dan infeksi serebral.&lt;br /&gt;Adanya aura (rangsangan visual, auditorius, area halusinogenik).&lt;br /&gt;Postiktal : kelemahan, nyeri otot, area parestese / paralisis.&lt;br /&gt;Tanda : Karakteristik kejang :&lt;br /&gt;Kejang umum.&lt;br /&gt;Kejang parsial (kompleks).&lt;br /&gt;Kejang parsial (sederhana). &lt;br /&gt; NYERI / KENYAMANAN&lt;br /&gt;Gejala : Sakit kepala, nyeri otot / punggung pada periode postiktal.&lt;br /&gt;Nyeri abnormal paroksismal selama fase iktal.&lt;br /&gt;Tanda : Sikap / tingkah laku yang berhati-hati.&lt;br /&gt;Perubahan tonus otot.&lt;br /&gt;Tingkah laku gelisah / distraksi.&lt;br /&gt; PERNAFASAN&lt;br /&gt;Gejala : Fase iktal : gigi mengatup, sianosis, pernafasan menurun / cepat; peningkatan sekresi mukus.&lt;br /&gt;Fase postiktal : apnea.&lt;br /&gt; KEAMANAN&lt;br /&gt;Gejala : Riwayat terjatuh / trauma, fraktur.&lt;br /&gt;Adanya alergi.&lt;br /&gt;Tanda : Trauma pada jaringan lunak / ekimosis.&lt;br /&gt;Penurunan kekuatan / tonus otot secara menyeluruh.&lt;br /&gt; INTERAKSI SOSIAL&lt;br /&gt;Gejala : Masalah dalam hubungan interpersonal dalam keluarga atau lingkungan sosialnya.&lt;br /&gt;Pembatasan / penghindaran terhadap kontak sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; PENYULUHAN / PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;Gejala : Adanya riwayat epilepsi pada keluarga. Penggunaan / ketergantungan obat (termasuk alkohol).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; PRIORITAS KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Mencegah / mengendalikan aktivitas kejang.&lt;br /&gt;2. Melindungi pasien dari cedera.&lt;br /&gt;3. Mempertahankan jalan nafas.&lt;br /&gt;4. Meningkatkan harga diri yang positif.&lt;br /&gt;5. Memberikan informasi tentang proses penyakit, prognosis, dan kebutuhan penanganannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; TUJUAN PEMULANGAN&lt;br /&gt;1. Serangan kejang terkontrol.&lt;br /&gt;2. Komplikasi / cedera dapat dicegah.&lt;br /&gt;3. Mampu menunjukkan citra tubuh.&lt;br /&gt;4. Pemahaman terhadap proses penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Resiko tinggi terhadap trauma / penghentian pernafasan berhubungan dengan perubahan kesadaran; kelemahan; kehilangan koordinasi otot besar atau kecil.&lt;br /&gt;RENCANA TINDAKAN / INTERVENSI :&lt;br /&gt;- Gali bersama-sama klien berbagai stimulasi yang dapat menjadi pencetus kejang.&lt;br /&gt;Rasional : alkohol, berbagai obat dan stimulasi lain (seperti kurang tidur, lampu yang terlalu terang, menonton televisi terlalu lama) dapat meningkatkan aktivitas otak, yang selanjutnya meningkatkan resiko terjadinya kejang.&lt;br /&gt;- Pertahankan bantalan lunak pada penghalang tempat tidur yang terpasang dengan posisi tempat tidur rendah.&lt;br /&gt;Rasional : mengurangi trauma saat kejang (sering / umum) terjadi selama pasien berada di tempat tidur.&lt;br /&gt;- Tinggallah bersama pasien dalam waktu beberapa lama selama / setelah kejang.&lt;br /&gt;Rasional : meningkatkan keamanan pasien.&lt;br /&gt;- Catat tipe dari aktivitas kejang (seperti lokasi / lamanya aktivitas motorik, hilang kesadaran, inkontinensia, dan lain-lain) dan berapa kali terjadi (frekuensi / kekambuhannya).&lt;br /&gt;Rasional : membantu untuk melokalisasi daerah otak yang terkena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Resiko tinggi terhadap bersihan jalan nafas / pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler; obstruksi trakeobronkial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RENCANA TINDAKAN / INTERVENSI :&lt;br /&gt;- Anjurkan klien untuk mengosongkan mulut dari benda / zat tertentu / gigi palsu atau alat yang lain jika fase aura terjadi dan untuk menghindari rahang mengatup jika kejang terjadi tanpa ditandai gejala awal.&lt;br /&gt;Rasional : menurunkan resiko aspirasi atau masuknya sesuatu benda asing ke faring.&lt;br /&gt;- Letakkan pasien dalam posisi miring, permukaan datar, miringkan kepala selama serangan kejang.&lt;br /&gt;Rasional : meningkatkan aliran (drainase) sekret, mencegah lidah jatuh dan menyumbat jalan nafas.&lt;br /&gt;- Tanggalkan pakaian pada daerah leher / dada dan abdomen.&lt;br /&gt;Rasional : untuk memfasilitasi usaha bernafas / ekspansi dada.&lt;br /&gt;- Masukkan spatel lidah / jalan nafas buatan atau gulungan benda lunak sesuai dengan indikasi.&lt;br /&gt;Rasional : jika memasukkannya di awal untuk membuka rahang, alat ini untuk mencegah tergigitnya lidah dan memfasilitasi saat melakukan penghisapan lendir atau memberi sokongan terhadap pernafasan jika diperlukan.&lt;br /&gt;- Lakukan penghisapan sesuai indikasi.&lt;br /&gt;Rasional : menurunkan resiko aspirasi atau asfiksia.&lt;br /&gt;- Kolaborasi dalam pemberian tambahan oksigen.&lt;br /&gt;Rasional : dapat menurunkan hipoksia serebral sebagai akibat dari sirkulasi yang menurun atau oksigen sekunder terhadap spasme vaskuler selama serangan kejang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gangguan harga diri / identitas diri berhubungan dengan persepsi tidak terkontrol; stigma berkenaan dengan kondisi; ditandai dengan : takut penolakan, perubahan persepsi tentang diri, kurang mengikuti / tidak berpartisipasi pada terapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RENCANA TINDAKAN / INTERVENSI : &lt;br /&gt;RENCANA TINDAKAN / INTERVENSI : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Diskusikan perasaan pasien mengenai diagnostik, persepsi diri terhadap penanganan yang dilakukannya. Anjurkan untuk mengungkapkan perasaannya.&lt;br /&gt;Rasional : reaksi yang ada bervariasi diantara individu dan pengetahuan / pengalaman awal dengan keadaan penyakitnya akan mempengaruhi penerimaan terhadap aturan pengobatan.&lt;br /&gt;- Identifikasi / antisipasi kemungkinan reaksi orang pada keadaan penyakitnya.&lt;br /&gt;Rasional : memberikan kesempatan untuk berespons pada proses pemecahan masalah dan memberikan tindakan kontrol terhadap situasi yang dihadapi.&lt;br /&gt;- Gali bersama pasien mengenai keberhasilan yang telah diperoleh atau yang akan dicapai selanjutnya dan kekuatan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Rasional : memfokuskan pada asfek positif dapat membantu untuk menghilangkan perasaan dari kegagalan atau kesadaran terhadap diri sendiri dan membentuk pasien mulai menerima penanganan terhadap penyakitnya.&lt;br /&gt;- Diskusikan rujukan kepada psikoterapi dengan pasien atau orang terdekat. &lt;br /&gt;Rasional : kejang mempunyai pengaruh yang besar pada harga diri seseorang dan pasien / orang terdekat dapat merasa berdosa atas keterbatasan penerimaaan terhadap dirinya dan stigma masyarakat. Konseling dapat membantu mengatasi perasaan terhadap kesadaran diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kondisi dan aturan pengobatan berhubungan dengan kurang pemajanan, salah interpretasi informasi, kurang menginat, ditandai dengan : kurang mengikuti aturan obat, pertanyaan, kurang kontrol aktivitas kejang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RENCANA TINDAKAN / INTERVENSI :&lt;br /&gt;- Jelaskan kembali mengenai patofisiologi / prognosis penyakit dan perlunya pengobatan / penanganan dalam jangka waktu yang lama sesuai prosedur.&lt;br /&gt;Rasional : memberikan kesempatan untuk mengklarifikasi kesalahan persepsi dan keadaan penyakit yang ada sebagai sesuatu yang dapat ditangani dalam cara hidup yang normal.&lt;br /&gt;- Tinjau kembali obat-obat yang didapat, penting sekali memakan obat sesuai petunjuk, dan tidak menghentikan pengobatan tanpa pengawasan dokter. Termasuk petunjuk untuk pengurangan dosis.&lt;br /&gt;Rasional : tidak adanya pemahaman terhadap obat-obatan yang didapat merupakan penyebab dari kejang yang terus menerus tanpa henti.&lt;br /&gt;- Anjurkan pasien untuk memakai gelang / semacam petunjuk yang memberitahukan bahwa anda adalah penderita epilepsi.&lt;br /&gt;Rasional : mempercepat penanganan dan menentukan diagnosa dalam keadaan darurat.&lt;br /&gt;- Diskusikan manfaat dari kesehatan umum yang baik, seperti diet yang adekuat, istirahat yang cukup, latihan yang cukup dan hindari bahaya alkohol, kafein dan obat yang dapat menstimulasi kejang.&lt;br /&gt;Rasional : aktivitas yang sedang dan teratur dapat membantu menuurnkan / mengendalikan faktor-faktor predisposisi yang meningkatkan perasaan sehat dan kemampuan koping yang baik dan juga meningkatkan harga diri.&lt;br /&gt; Resiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan kerusakan sel otak dan aktivitas kejang sekunder terhadap epilepsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RENCANA TINDAKAN / INTERVENSI :&lt;br /&gt;- Ajarkan orang tua tentang tugas perkembangan yang sesuai dengan kelompok usia.&lt;br /&gt;Rasional : memberikan gambaran tentang pola perkembangan anak sesuai dengan perkembangan di kelompok usianya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Observasi dan berikan kesempatan pada anak untuk memenuhi tugas perkembangan sesuai dengan usia.&lt;br /&gt;Rasional : mengetahui sejauh mana perkembangan anak yang dapat dicapai dan membandingkan dengan pola perkembangan sesuai kelompok usia perkembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doengoes, Marylin,1999. Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elizabeth, J.Corwin. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Cetakan I. Penerbit : EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mansjoer, Arif. dkk, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Auskulapius, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngastiyah, 1997. Perawatan Anak Sakit. EGC, Jakarta &lt;br /&gt;by Khaidir muhaj di 08:19   &lt;br /&gt;Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda &lt;br /&gt;http://khaidirmuhaj.blogspot.com/2009/05/askep-epilepsi.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-8113417350489334047?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/8113417350489334047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=8113417350489334047&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/8113417350489334047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/8113417350489334047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/06/askep-epilepsi.html' title='ASKEP EPILEPSI'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-3074690318662649909</id><published>2010-06-10T05:01:00.000-07:00</published><updated>2010-06-10T05:02:31.806-07:00</updated><title type='text'>ASKEP BBLR</title><content type='html'>ASUHAN BAYI BARU LAHIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkajian pada bayi baru lahir dapat dilakukan segera setelah lahir yaitu untuk mengkaji penyesuaian bayi dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterine. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik secara lengkap untuk mengetahui normalitas &amp; mendeteksi adanya penyimpangan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengkajian segera BBL&lt;br /&gt;    a. Penilaian awal&lt;br /&gt;        Nilai kondisi bayi :&lt;br /&gt;• APAKAH BAYI MENANGIS KUAT/BERNAFAS TANPA KESULITAN ?&lt;br /&gt;• APAKAH BAYI BERGERAK DG AKTIF/LEMAS?&lt;br /&gt;• APAKAH WARNA KULIT BAYI MERAH MUDA, PUCAT/BIRU?&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;       APGAR SCORE&lt;br /&gt;• Merupakan alat untuk mengkaji kondisi bayi sesaat setelah lahir meliputi 5 variabel (pernafasan, frek. Jantung, warna, tonus otot &amp; iritabilitas reflek)&lt;br /&gt;• Ditemukan oleh Dr. Virginia Apgar (1950)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilakukan pada :&lt;br /&gt;• 1 menit kelahiran &lt;br /&gt;yaitu untuk memberi kesempatan pd bayi untuk memulai perubahan&lt;br /&gt;• Menit ke-5&lt;br /&gt;• Menit ke-10&lt;br /&gt;penilaian dapat dilakukan lebih sering jika ada nilai yg rendah &amp; perlu tindakan resusitasi. Penilaian menit ke-10 memberikan indikasi morbiditas pada masa mendatang, nilai yg rendah berhubungan dg kondisi neurologis&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;SKOR APGAR&lt;br /&gt;TANDA 0 1 2&lt;br /&gt;Appearance Biru,pucat Badan pucat,tungkai biru Semuanya merah muda&lt;br /&gt;Pulse Tidak teraba &lt; 100 &gt; 100&lt;br /&gt;Grimace Tidak ada Lambat Menangis kuat&lt;br /&gt;Activity Lemas/lumpuh Gerakan sedikit/fleksi tungkai Aktif/fleksi tungkai baik/reaksi melawan&lt;br /&gt;Respiratory Tidak ada Lambat, tidak teratur Baik, menangis kuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Preosedur penilaian APGAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pastikan pencahayaan baik&lt;br /&gt; Catat waktu kelahiran, nilai APGAR pada 1 menit pertama dg cepat &amp; simultan. Jumlahkan hasilnya&lt;br /&gt; Lakukan tindakan dg cepat &amp; tepat sesuai dg hasilnya&lt;br /&gt; Ulangi pada menit kelima&lt;br /&gt; Ulangi pada menit kesepuluh&lt;br /&gt; Dokumentasikan hasil &amp; lakukan tindakan yg sesuai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap variabel dinilai : 0, 1 dan 2&lt;br /&gt;Nilai tertinggi adalah 10&lt;br /&gt; Nilai 7-10 menunjukkan bahwa by dlm keadaan baik&lt;br /&gt; Nilai 4 - 6 menunjukkan bayi mengalami depresi sedang &amp; membutuhkan tindakan resusitasi&lt;br /&gt; Nilai 0 – 3  menunjukkan bayi mengalami depresi serius &amp; membutuhkan resusitasi segera sampai ventilasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Asuhan segera Bayi Baru Lahir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Adalah asuhan yang diberikan pada bayi baru lahir selama satu jam pertama setelah kelahiran.&lt;br /&gt; Sebagian besar BBL akan menunjukkan usaha pernafasan spontan dg sedikit bantuan/gangguan&lt;br /&gt; Oleh karena itu PENTING diperhatikan dlm memberikan asuhan SEGERA, yaitu jaga bayi tetap kering &amp; hangat, kotak antara kulit bayi dg kulit ibu sesegera mungkin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       a.   Membersihkan jalan nafas&lt;br /&gt;1).   Sambil menilai pernafasan secara cepat, letakkan bayi dg handuk di atas perut ibu&lt;br /&gt;2).   Bersihkan darah/lendir dr  wajah bayi dg kain bersih &amp; kering/ kassa&lt;br /&gt;3).   Periksa ulang pernafasan&lt;br /&gt;4).   Bayi akan segera menagis dlm waktu 30 detik pertama setelah lahir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           jika tdk dpt menangis spontan dallakukan :&lt;br /&gt;1).  letakkkan by pd posisi terlentang di t4 yg  keras &amp; hangat&lt;br /&gt;2).  gulung sepotong kain &amp; letakkan di bwh bahu shg leher bayi ekstensi&lt;br /&gt;3).  bersihkan hidung, rongga mulut, &amp; tenggorokan by dg jari tangan yg dibungkus kassa steril&lt;br /&gt;4).  tepuk telapak kaki by sebanyak 2-3x/ gosok kulit by dg kain kering &amp; kasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gb. Posisi ekstensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan yang harus dihindari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGKAH-LANGKAH ALASAN TIDAK DIANJURKAN&lt;br /&gt;Menepuk pantat bayi Trauma/cedera&lt;br /&gt;Menekan dada Patah, pneumothorax, gawat nafas, kematian&lt;br /&gt;Menekan kaki bayi ke bagian perutnya Merusak pembuluh darah dan kelenjar pada hati/limpa, perdarahan&lt;br /&gt;Membuka sphincter anusnya Merusak /melukai sphincter ani&lt;br /&gt;Menggunakan bungkusan panas/dingin Membakar/hipotermi&lt;br /&gt;Meniupkan oksigen/udara dingin pada tubuh/wajah bayi hipotermi&lt;br /&gt;Memberi minuman air bawang Membuang waktu, karena tindakan resusitasi yang tidak efektif pada saat kritis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghisapan lendir&lt;br /&gt; Gunakan alat penghisap lendir mulut (De Lee)/ alat lain yg steril, sediakan juga tabung oksigen &amp; selangnya&lt;br /&gt; Segera lakukan usaha menghisap mulut &amp; hidung&lt;br /&gt; Memantau mencatat usaha nafas yg pertama&lt;br /&gt; Warna kulit, adanya cairan / mekonium dlm hidung / mulut hrs diperhatikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Perawatan tali pusat&lt;br /&gt;    setelah  plasenta lahir &amp; kondisi ibu stabil, ikat atau jepit tali pusat&lt;br /&gt;    Cara :&lt;br /&gt; celupkan tangan yg masih mggnakan sarung tangan ke dlm klorin 0,5% untuk membersihkan darah &amp; sekresi tubuh lainnya&lt;br /&gt; bilas tangan dengan air matang /DTT&lt;br /&gt; keringkan tangan (bersarung tangan)&lt;br /&gt; letakkan bayi yang terbungkus diatas permukaan yang bersih dan hangat&lt;br /&gt; ikat ujung tali pusat sekitar 1 cm dr pusat dengan menggunakan benang DTT. Lakukan simpul kunci/ jepitkan &lt;br /&gt; Jika menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang sekeliling ujung tali pusat &amp; lakukan pengikatan kedua dg simpul kunci dibagian TP pd sisi yg berlawanan&lt;br /&gt; Lepaskan klem penjepit &amp; letakkan di dlm larutan klorin 0,5%&lt;br /&gt; Selimuti bayi dg kain bersih &amp; kering, pastikan bahwa bagian kepala bayi tertutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 Gb. Pemotongan tali pusat    Gb. Bayi yang telah diikat tali pusatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Gb. Bayi terbungkus kain kering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.   Mempertahankan suhu tubuh&lt;br /&gt;Dengan cara :&lt;br /&gt; Keringkan bayi secara seksama&lt;br /&gt; Selimuti bayi dg selimut/kain bersih, kering &amp; hangat&lt;br /&gt; Tutup bagian kepala bayi&lt;br /&gt; Anjurkan ibu untuk memeluk &amp; menyusukan bayinya&lt;br /&gt; Lakukan penimbangan stl bayi mengenakan pakaian&lt;br /&gt; Tempatkan bayi di lingk yg hangat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                        Gb. Metode kanguru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; d. Pencegahan infeksi&lt;br /&gt; Memberikan obat tetes mata/salep&lt;br /&gt; diberikan 1 jam pertama by lahir yaitu ; eritromysin 0,5%/tetrasiklin 1%.&lt;br /&gt; Yang biasa dipakai adalah larutan perak nitrat/ neosporin &amp; langsung diteteskan pd mata bayi  segera stl bayi lahir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          BBL sangat rentan terjadi infeksi, sehingga perlu diperhatikan hal-hal dalam perawatannya.&lt;br /&gt; Cuci tangan sebelum &amp; setelah kontak dg bayi&lt;br /&gt; Pakai sarung tangan bersih pd saat menangani bayi yg blm dimandikan&lt;br /&gt; Pastikan semua peralatan (gunting, benang tali pusat) telah di DTT, jika menggunakan bola karet penghisap, pastukan dlm keadaan bersih&lt;br /&gt; Pastikan semua pakaian, handuk, selimut serta kain yg digunakan untuk bayi dlm keadaan bersih&lt;br /&gt; Pastikan timbangan, pipa pengukur, termometer, stetoskop &amp; benda2 lainnya akan bersentuhan dg bayi dlm keadaan bersih (dekontaminasi setelah digunakan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Asuhan bayi baru lahir  1-24 jam pertama kelahiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Mengetahui aktivitas bayi normal/tdk &amp; identifikasi masalah kesehatan BBL yg memerlukan perhatian keluarga &amp; penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemantauan 2 jam pertama meliputi :&lt;br /&gt; Kemampuan menghisap (kuat/lemah)&lt;br /&gt; Bayi tampak aktif/lunglai&lt;br /&gt; Bayi kemerahan /biru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebelum penolong meninggalkan ibu, harus melakukan pemeriksaan &amp; penilaian ada tdknya masalah kesehatan terutama pada :&lt;br /&gt; By kecil masa kehamilan/KB&lt;br /&gt; Gangguan pernafasan&lt;br /&gt; Hipotermia&lt;br /&gt; Infeksi&lt;br /&gt; Cacat bawaan/trauma lahir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jika tidak ada masalah, &lt;br /&gt; a. lanjutkan pengamatan pernafasan, warna &amp; aktivitasnya&lt;br /&gt;b. Pertahankan suhu tubuh bayi dg cara :&lt;br /&gt; hindari memandikan min. 6  jam/min suhu 36,5 C&lt;br /&gt; bungkus bayi dengan kain yg kering &amp; hangat, kepala bayi harus tertutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             c. Lakukan pemeriksaan fisik&lt;br /&gt; gunakan tempat yg hangat &amp; bersih&lt;br /&gt; cuci tangan sebelum &amp; sesudah pemeriksaan, gunakan sarung tangan &amp; bertindak lembut &lt;br /&gt; LIHAT, DENGAR, &amp; RASAkan &lt;br /&gt; Rekam /catat hasil pengamatan&lt;br /&gt; jika ditemukan faktor risiko/masalah segera Cari bantuan lebih lanjut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             d. Pemberian vitamin K&lt;br /&gt; untuk mencegah terjadinya perdarahan krn defisiensi vit. K&lt;br /&gt; Bayi cukup bulan/normal 1 mg/hari peroral selama 3 hari&lt;br /&gt; Bayi berisiko 0,5mg – 1mg perperenteral/ IM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             e. Identifikasi BBL   &lt;br /&gt; Peralatan identifikasi BBL harus selalu tersedia&lt;br /&gt; Alat yg digunakan; kebal air, tepi halus dan tidak melukai, tdk mudah sobek dan  tdk mudah lepas&lt;br /&gt; Harus tercantum ; nama bayi (Ny) tgl lahir, nomor bayi, jenis kelamin, unit, nama lengkap ibu&lt;br /&gt; Di tiap tempat tidur harus diberi tanda dg mencantumkan nama, Tgl lahir, nomor identifikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                         Gb. Bayi dalam box bayi dengan identitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Ajarkan pada orang tua cara merawat bayi, meliputi :&lt;br /&gt;1). Pemberian nutrisi&lt;br /&gt; Berikan asi seserig keinginan bayi atau kebutuhan ibu (jika payudara ibu penuh)&lt;br /&gt; Frekuensi menyusui setiap 2-3 jam&lt;br /&gt; Pastikan bayi mendapat cukup colostrum selama 24 jam. Colostrum memberikan zat perlindungan terhadap infeksi dan membantu pengeluaran mekonium.&lt;br /&gt; Berikan ASI saja sampai umur 6 bulan&lt;br /&gt;      2). Mempertahankan kehangatan tubuh bayi&lt;br /&gt; Suhu ruangan setidaknya 18 - 21ºC&lt;br /&gt; Jika bayi kedinginan, harus didekap erat ke tubuh ibu&lt;br /&gt; Jangan menggunakan alat penghangat buatan di tempat tidur (misalnya botol berisi air panas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            3). Mencegah infeksi&lt;br /&gt; Cuci tangan sebelum memegang bayi dan setelah menggunakan toilet untuk BAK/BAB&lt;br /&gt; Jaga tali pusat bayi dalam keadaan bersih, selalu dan letakkan popok di bawah tali pusat. Jika tali pusat kotor cuci dengan air bersih dan sabun. Laporkan segera ke bidan jika timbul perdarahan, pembengkakan, keluar cairan, tampak merah atau bau busuk.&lt;br /&gt; Ibu menjaga kebersihan bayi dan dirinya terutama payudara dengan mandi setiap hari&lt;br /&gt; Muka, pantat, dan tali pusat dibersihkan dengan air bersih , hangat, dan sabun setiap hari.&lt;br /&gt; Jaga bayi dari orang-orang yang menderita infeksi dan pastikan setiap orang yang memegang bayi selalu cuci tangan terlebih dahulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ajarkan tanda-tanda bahaya bayi pada orang tua&lt;br /&gt; Pernafasan sulit/ &gt; 60x/menit&lt;br /&gt; Suhu &gt; 38 °C atau &lt; 36,5 °C&lt;br /&gt; Warna kulit biru/pucat&lt;br /&gt; Hisapan lemah, mengantuk berlebihan, rewel, banyak muntah, tinja lembek, sering warna hijau tua, ada lendir darah&lt;br /&gt; Tali pusat merah, bengkak, keluar cairan, bau busuk&lt;br /&gt; Tidak berkemih dalam 3 hari, 24 jam&lt;br /&gt; Mengigil, tangis yg tidak biasa, rewel, lemas, terlalu mengantuk, lunglai, kejang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Berikan immunisasi BCG, Polio dan Hepatis B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar pustaka&lt;br /&gt;1. Bennett dan Brown, 1999, Myles Texbook for midwives, thirteennth edition. Churchill Livingstone, Edinburgh&lt;br /&gt;2. JHPIEGO.2003. Panduan pengajar asuhan kebidanan fisiologi bagi dosen diploma III kebidanan , Buku 5 asuhan bayibaru lahir,Pusdiknakes.Jakarta&lt;br /&gt;3. Johnson dan Taylor. 2005. Buku ajar praktik kebidanan.cetaka I. EGC.Jakarta&lt;br /&gt;4. Saifudin Abdul Bahri. 2002. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal neonatal.YBP_SP.Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-3074690318662649909?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/3074690318662649909/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=3074690318662649909&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/3074690318662649909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/3074690318662649909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/06/askep-bblr.html' title='ASKEP BBLR'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-6445860227552063505</id><published>2010-06-10T05:00:00.002-07:00</published><updated>2010-06-10T05:01:13.261-07:00</updated><title type='text'>ASKEP AMENORREA</title><content type='html'>AMENORRHOE&lt;br /&gt;Definisi&lt;br /&gt;Amenorrhoe ialah tidak adanya haid selama 3 bulan atau lebih. Amenorrhoe bukan suatu penyakit tetapi merupakan gejala.&lt;br /&gt;Amenorrhoe primer kita pergunakan bila seorang wanita be¬lum pernah mendapat menstruasi dan tidak boleh didiagnosa sebelum pasien mencapai umur 18 tahun.&lt;br /&gt;Amenorrhoe sekunder ialah hilangnya haid setelah menarche. &lt;br /&gt;Amenorrhoe fisiologis dapat terjadi &lt;br /&gt;- sebelum pubertas&lt;br /&gt;- dalam kehamilan&lt;br /&gt;- dalam masa laktasi : kalau tidak menyusukan haid datang ± 3 bulan post partum, kalau menyusui dalam 6 buIan postpartum.&lt;br /&gt;- dalam menopause.&lt;br /&gt;Etiologi &lt;br /&gt;1. Dysfungsi hypothalamus:&lt;br /&gt;- Idiopatis&lt;br /&gt;- psikogen:&lt;br /&gt;a) reaktif psikogen : kesedihan, pindah lingkungan, kehamilan palsu.&lt;br /&gt;b) anorexia nervosa.&lt;br /&gt;- dengan penambahan berat badan.&lt;br /&gt;- kelainan organis : tumor, trauma, infeksi, proses-proses degeneratif.&lt;br /&gt;2. Dysfungsi hypofise.&lt;br /&gt;- insufisiensi : Sheehan.&lt;br /&gt;- tumor : chromophob, acidophil (acromegali), basophil adenom (Cushing). &lt;br /&gt;- Radang&lt;br /&gt;- proses degeneratif : tbc.&lt;br /&gt;3. Dysfungsi ovarium :&lt;br /&gt;- Kelaninan kongenital : hypoplasia ovarii, syndrom Tur¬ner, hermaphroditismus.&lt;br /&gt;- ovarium polykistik (Stein-Leventhal). &lt;br /&gt;- tumor.&lt;br /&gt;4. Perifer: tidak bereaksi.&lt;br /&gt;- endometrium tidak bereaksi misalnya karener kuretase (Asherman syndrom) atau tbc.&lt;br /&gt;5. Penyakit-penyakit lain :&lt;br /&gt;- Penyakit kronis : tbc.&lt;br /&gt;- Penyakit metaabolik : thyroid, pancreas, gl suprarenalis.&lt;br /&gt;- Kelainan gizi&lt;br /&gt;- Kelainan hepar dan ginjal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amenorrhoe dan Galactorrhoe&lt;br /&gt;Pada beberapa keadaan terdapat amenorrhoe yang disertai galctorrhoe. Keadaan tersebut didapatkan pada keadaan:&lt;br /&gt;1. Syndrom Chiari-Prommel:&lt;br /&gt;Terjadi setelah kehamilan dan merupakan amenorrhoe laktasi yang berkepanjangan. Diduga keadaan ini disebabkan oleh inhibisi dari hormon P.I.F. (prolactin inhibiting factor) dari hypofise.&lt;br /&gt;2. Syndrom Forbes - Albright : &lt;br /&gt;Disebabkan oleh adenoina chromophob.&lt;br /&gt;3. Syndrom Ahoemada-del Costello :&lt;br /&gt;Tak ada hubungan dengan kehamilan atau tumor hypofise. Diduga oleh karena obat-obatan seperti kontrasepsi dan phenotiazin.&lt;br /&gt;Diagnosa&lt;br /&gt;Terapi amenorrhoe sangat, tergantung pada etiologi.&lt;br /&gt;Banyak pemeriksaan dapat membantu kita mencari etielogi amenorrhoe antaranya: smears (sex chromatin). pemeriksaan Rontgen (selia tursica). EEG, BMR dll.&lt;br /&gt;Penatalaksanaan (Terapi)&lt;br /&gt;Terapi diberikan menurut etiologi. Secara umum dapat disebut:&lt;br /&gt;1. Hormon-hormon untuk merangsang ovulasi &lt;br /&gt;Merangsang hyphotalamus, gonadotrophin sebagai substansi, mengadakan rebound phenomen dengan hormon progestin, oral pills.&lt;br /&gt;2. Iradiasi dari ovarium&lt;br /&gt;3. Thyroid: kalau ada hypofungsi gl. Thyreoidea&lt;br /&gt;4. Kesehatan umum harus diperbaiki.&lt;br /&gt;Amenorrhoe karena tbc tidak usah diobati&lt;br /&gt;SUMBER :http://tiaraaskep.blogspot,com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-6445860227552063505?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/6445860227552063505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=6445860227552063505&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/6445860227552063505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/6445860227552063505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/06/askep-amenorrea.html' title='ASKEP AMENORREA'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-394967554888992029</id><published>2010-06-10T05:00:00.001-07:00</published><updated>2010-06-10T05:00:38.332-07:00</updated><title type='text'>PERUBAHAN PADA LANSIA</title><content type='html'>PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA&lt;br /&gt;1. Perubahan Fisik&lt;br /&gt;Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh, diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen.&lt;br /&gt;a. Sistem pernafasan pada lansia.&lt;br /&gt;1) Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.&lt;br /&gt;2) Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret.&lt;br /&gt;3) Penurunan aktivitas paru ( mengembang &amp; mengempisnya ) sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml.&lt;br /&gt;4) Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m²), Ù menyebabkan terganggunya prose difusi.&lt;br /&gt;5) Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan.&lt;br /&gt;6) CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri.&lt;br /&gt;7) kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret &amp; corpus alium dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi.&lt;br /&gt;Sistem persyarafan.&lt;br /&gt;1) Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan.&lt;br /&gt;2) Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir.&lt;br /&gt;3) Mengecilnya syaraf panca indera.&lt;br /&gt;4) Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf pencium &amp; perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.&lt;br /&gt;Perubahan panca indera yang terjadi pada lansia.&lt;br /&gt;1) Penglihatan&lt;br /&gt;a) Kornea lebih berbentuk skeris.&lt;br /&gt;b) Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon&lt;br /&gt;terhadap sinar.&lt;br /&gt;c) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa).&lt;br /&gt;d) Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, susah melihat dalam cahaya gelap.&lt;br /&gt;e) Hilangnya daya akomodasi.&lt;br /&gt;f) Menurunnya lapang pandang &amp; berkurangnya luas pandang.&lt;br /&gt;g) Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala.&lt;br /&gt;2) Pendengaran.&lt;br /&gt;a) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran) :&lt;br /&gt;Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara, antara lain nada nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata kata, 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.&lt;br /&gt;b) Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis.&lt;br /&gt;c) Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya kreatin.&lt;br /&gt;3) Pengecap dan penghidu.&lt;br /&gt;a) Menurunnya kemampuan pengecap.&lt;br /&gt;b) Menurunnya kemampuan penghidu sehingga mengakibatkan selera makan berkurang.&lt;br /&gt;4) Peraba.&lt;br /&gt;a) Kemunduran dalam merasakan sakit.&lt;br /&gt;b) Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin.&lt;br /&gt;b. Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut.&lt;br /&gt;1) Katub jantung menebal dan menjadi kaku.&lt;br /&gt;2) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.&lt;br /&gt;3) Kehilangan elastisitas pembuluh darah.&lt;br /&gt;Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari tidur keduduk ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak ).&lt;br /&gt;4) Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer (normal ± 170/95 mmHg ).&lt;br /&gt;c. Sistem genito urinaria.&lt;br /&gt;1) Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %, penyaringan diglomerulo menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun proteinuria ( biasanya + 1 ) ; BUN meningkat sampai 21 mg % ; nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat.&lt;br /&gt;2) Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin.&lt;br /&gt;3) Pembesaran prostat ± 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun.&lt;br /&gt;4) Atropi vulva.&lt;br /&gt;5) Vagina, Selaput menjadi kering, elastisotas jaringan menurun juga permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap perubahan warna.&lt;br /&gt;6) Daya sexual, Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut.&lt;br /&gt;1) Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.&lt;br /&gt;2) Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi indera pengecap (± 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah terutama rasa manis, asin, asam &amp; pahit.&lt;br /&gt;3) Esofagus melebar.&lt;br /&gt;4) Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam lambung menurun, waktu mengosongkan menurun.&lt;br /&gt;5) Peristaltik lemah &amp; biasanya timbul konstipasi.&lt;br /&gt;6) Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ).&lt;br /&gt;7) Liver ( hati ), Makin mengecil &amp; menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah.&lt;br /&gt;f. Sistem muskuloskeletal.&lt;br /&gt;1) Tulang kehilangan densikusnya Ù rapuh.&lt;br /&gt;2) resiko terjadi fraktur.&lt;br /&gt;3) kyphosis.&lt;br /&gt;4) persendian besar &amp; menjadi kaku.&lt;br /&gt;5) pada wanita lansia &gt; resiko fraktur.&lt;br /&gt;6) Pinggang, lutut &amp; jari pergelangan tangan terbatas.&lt;br /&gt;7) Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek ( tinggi badan berkurang ).&lt;br /&gt;a. Gerakan volunter Ù gerakan berlawanan.&lt;br /&gt;b. Gerakan reflektonik Ù Gerakan diluar kemauan sebagai reaksi terhadap rangsangan pada lobus.&lt;br /&gt;c. Gerakan involunter Ù Gerakan diluar kemauan, tidak sebagai reaksi terhadap suatu perangsangan terhadap lobus&lt;br /&gt;d. Gerakan sekutu Ù Gerakan otot lurik yang ikut bangkit untuk menjamin efektifitas dan ketangkasan otot volunter.&lt;br /&gt;g. Perubahan sistem kulit &amp; karingan ikat.&lt;br /&gt;1). Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak.&lt;br /&gt;2). Kulit kering &amp; kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adiposa&lt;br /&gt;3). Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak begitu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi.&lt;br /&gt;4). Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya sel sel yang meproduksi pigmen.&lt;br /&gt;5). Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka luka kurang baik.&lt;br /&gt;6). Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh.&lt;br /&gt;7). Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta warna rambut kelabu.&lt;br /&gt;8). Pada wanita &gt; 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang menurun.&lt;br /&gt;9). Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun.10). Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak rendahnya akitfitas otot.&lt;br /&gt;11). Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan sexual.&lt;br /&gt;1) Perubahan sistem reprduksi.&lt;br /&gt;a) selaput lendir vagina menurun/kering.&lt;br /&gt;b) menciutnya ovarium dan uterus.&lt;br /&gt;c) atropi payudara.&lt;br /&gt;d) testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur berangsur.&lt;br /&gt;e) dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik.&lt;br /&gt;2) Kegiatan sexual.&lt;br /&gt;Sexualitas adalah kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan yang berhubungan dengan alat reproduksi. Setiap orang mempunyai kebutuhan sexual, disini kita bisa membedakan dalam tiga sisi : 1) fisik, Secara jasmani sikap sexual akan berfungsi secara biologis melalui organ kelamin yang berhubungan dengan proses reproduksi, 2) rohani, Secara rohani Ù tertuju pada orang lain sebagai manusia, dengan tujuan utama bukan untuk kebutuhan kepuasan sexualitas melalui pola pola yang baku seperti binatang dan 3) sosial, Secara sosial Ù kedekatan dengan suatu keadaan intim dengan orang lain yang merupakan suatu alat yang apling diharapkan dalammenjalani sexualitas.&lt;br /&gt;Sexualitas pada lansia sebenarnya tergantung dari caranya, yaitu dengan cara yang lain dari sebelumnya, membuat pihak lain mengetahui bahwa ia sangat berarti untuk anda. Juga sebagai pihak yang lebih tua tampa harus berhubungan badan, msih banyak cara lain unutk dapat bermesraan dengan pasangan anda. Pernyataan pernyataan lain yang menyatakan rasa tertarik dan cinta lebih banyak mengambil alih fungsi hubungan sexualitas dalam pengalaman sex.&lt;br /&gt;2. Perubahan-perubahan mental/ psikologis&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah :&lt;br /&gt;a. Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa.&lt;br /&gt;b. kesehatan umum&lt;br /&gt;c. Ttingkat pendidikan&lt;br /&gt;d. Keturunan (herediter)&lt;br /&gt;e. Lingkungan &lt;br /&gt;f. Gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan ketulian&lt;br /&gt;g. Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan&lt;br /&gt;h. Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan famili&lt;br /&gt;i. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri dan perubahan konsep diri&lt;br /&gt;Perubahan kepribadian yang drastis keadaan ini jarang terjadi lebih sering berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang, kekakuan mungkin oleh karena faktor lain seperti penyakit-penyakit.&lt;br /&gt;Kenangan (memory) ada dua; 1) kenangan jangka panjang, berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu, mencakup beberapa perubahan, 2) Kenangan jangka pendek atau seketika (0-10 menit), kenangan buruk.&lt;br /&gt;Intelegentia Quation; 1) tidakberubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal, 2) berkurangnya penampilan,persepsi dan keterampilan psikomotorterjadi perubahan pada daya membayangkan, karena tekanan-tekanan dari faktro waktu.&lt;br /&gt;Pengaruh proses penuaan pada fungsi psikososial.&lt;br /&gt;1. perubahan fisik, sosial mengakibatkan timbulnya penurunan fungsi, kemunduran orientasi, penglihatan, pendengaran mengakibatkan kurangnya percaya diri pada fungsi mereka.&lt;br /&gt;2. Mundurnya daya ingat, penurunan degenerasi sel sel otak.&lt;br /&gt;3. Gangguan halusinasi.&lt;br /&gt;4. Lebih mengambil jarak dalam berinteraksi.&lt;br /&gt;5. Fungsi psikososial, seperti kemampuan berfikir dan gambaran diri.&lt;br /&gt;3. Perubahan Spiritual &lt;br /&gt;Agama atau kepercayaan makin terintegarsi dalam kehidupannya (Maslow,1970). Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam berpikir dan bertindak dalam sehari-hari. (Murray dan Zentner,1970)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-394967554888992029?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/394967554888992029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=394967554888992029&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/394967554888992029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/394967554888992029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/06/perubahan-pada-lansia.html' title='PERUBAHAN PADA LANSIA'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-66864367744827957</id><published>2010-06-10T04:57:00.000-07:00</published><updated>2010-06-10T04:58:48.369-07:00</updated><title type='text'>ASKEP DIARE</title><content type='html'>Asuhan Keperawatan pada Klien “DIARE’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Definisi&lt;br /&gt;Beberapa pengertian diare:&lt;br /&gt; Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cairan, dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari keadaan normal yakni 100-200 ml sekali defekasi (Hendarwanto, 1999).&lt;br /&gt; Menurut WHO (1980) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari.&lt;br /&gt; Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Penyebab&lt;br /&gt;1. Faktor infeksi&lt;br /&gt;a. Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit (E. hystolytica, G.lamblia, T. hominis) dan jamur (C. albicans).&lt;br /&gt;b. Infeksi parenteral; merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat menimbulkan diare seperti: otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Faktor Malabsorbsi&lt;br /&gt;Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi dan anak. Di samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak dan protein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Faktor Makanan:&lt;br /&gt;Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan alergi terhadap jenis makanan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Faktor Psikologis&lt;br /&gt;Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.Pengkajian&lt;br /&gt;Pengkajian yang sistematis meliputi: pengumpulan data, analisa data, dan penentuan masalah. &lt;br /&gt;Pengumpulan data diperoleh dengan cara: intervensi,observasi,psikal assessment. &lt;br /&gt;Kaji data menurut Cyndi Smith Greenberg,1992 adalah :&lt;br /&gt;1. Identitas klien.&lt;br /&gt;2. Riwayat keperawatan.&lt;br /&gt;• Awalan serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh meningkat,anoreksia kemudian timbul diare.&lt;br /&gt;• Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung,tonus dan turgor kulit berkurang,selaput lendir mulut dan bibir kering,frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.&lt;br /&gt;3. Riwayat kesehatan masa lalu.&lt;br /&gt;    Riwayat penyakit yang diderita,riwayat pemberian imunisasi.&lt;br /&gt;4. Riwayat psikososial keluarga.&lt;br /&gt;    Dirawat akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi   keluarga,kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak,setelah menyadari penyakit anaknya,mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.&lt;br /&gt;5. Kebutuhan dasar.&lt;br /&gt;• Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari,BAK sedikit atau jarang.&lt;br /&gt;• Pola nutrisi : diawali dengan mual,muntah,anopreksia,menyebabkan penurunan berat badan pasien.&lt;br /&gt;• Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.&lt;br /&gt;• Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lamah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.&lt;br /&gt;6. Pemerikasaan fisik.&lt;br /&gt;• Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah,kesadran composmentis sampai koma,suhu tubuh tinggi,nadi cepat dan lemah,pernapasan agak cepat.&lt;br /&gt;• Pemeriksaan sistematik :&lt;br /&gt;1. Inspeksi : mata cekung,ubun-ubun besar,selaput lendir,mulut dan bibir kering,berat badan menurun,anus kemera.&lt;br /&gt;2. Perkusi : adanya distensi abdomen.&lt;br /&gt;3. Palpasi : Turgor kulit kurang elastis&lt;br /&gt;4. Auskultasi : terdengarnya bising usus.&lt;br /&gt;• Pemeriksaan tinglkat tumbuh kembang.&lt;br /&gt;Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan menurun.&lt;br /&gt;• Pemeriksaan penunjang.&lt;br /&gt;Pemeriksaan tinja,darah lengkap dan doodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;1. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.&lt;br /&gt;2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.&lt;br /&gt;3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.&lt;br /&gt;4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.&lt;br /&gt;5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.&lt;br /&gt;6. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.Intervensi&lt;br /&gt;Diagnosa 1. &lt;br /&gt;Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.&lt;br /&gt;Tujuan .&lt;br /&gt;Devisit cairan dan elektrolit teratasi.&lt;br /&gt;Kriteria hasil&lt;br /&gt;Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balan &lt;br /&gt;cairan seimbang.&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;Observasi tanda-tanda vital, Observasi tanda-tanda dehidrasi, Ukur infut dan output cairan (balance cairan). Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 – 2500 cc per hari. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi cairan, pemeriksaan lab elektrolit. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 2. &lt;br /&gt;Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.&lt;br /&gt;Tujuan &lt;br /&gt;Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi&lt;br /&gt;Kriteria hasil&lt;br /&gt;Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang disediakan, mual,muntah tidak ada.&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. Timbang berat badan klien. Kaji factor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi. Lakukan pemerikasaan fisik abdomen (palpasi,perkusi,dan auskultasi). Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering. Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 3. &lt;br /&gt;Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Gangguan integritas kulit teratasi&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-tanda infeksi tidak ada.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Ganti popok anak jika basah. Bersihkan bokong perlahan sabun non alcohol. Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit. Observasi bokong dan perineum dari infeksi. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi antipungi sesuai indikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 4. &lt;br /&gt;Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Nyeri dapat teratasi&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Nyeri dapat berkurang / hiilang, ekspresi wajah tenang &lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Observasi tanda-tanda vital. Kaji tingkat rasa nyeri. Atur posisi yang nyaman bagi klien. Beri kompres hangat pada daerah abdoment. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi analgetik sesuai indikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 5. &lt;br /&gt;Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.&lt;br /&gt;Tujuan &lt;br /&gt;Pengetahuan keluarga meningkat&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Keluarga klien mengeri dengan proses penyakit klien, ekspresi wajah tenang, keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien. Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui penkes. Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa 6. &lt;br /&gt;Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Klien akan memperlihatkan penurunan tingkat kecemasan&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Kaji tingkat kecemasan klien. Kaji faktor pencetus cemas. Buat jadwal kontrak dengan klien. Kaji hal yang disukai klien. Berikan mainan sesuai kesukaan klien. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan. Anjurkan pada keluarga untuk selalu mendampingi klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F.Evaluasi.&lt;br /&gt; Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.&lt;br /&gt; Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh.&lt;br /&gt; Integritas kulit kembali normal.&lt;br /&gt; Rasa nyaman terpenuhi.&lt;br /&gt; Pengetahuan kelurga meningkat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-66864367744827957?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/66864367744827957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=66864367744827957&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/66864367744827957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/66864367744827957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/06/askep-diare.html' title='ASKEP DIARE'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-7650212313077566460</id><published>2010-06-10T04:56:00.000-07:00</published><updated>2010-06-10T04:57:34.428-07:00</updated><title type='text'>ASKEP KECEMASAN</title><content type='html'>BAB I &lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan atau ansieti merupakan salah satu bentuk emosi individu yang berkaitan dengan adanya rasa terancam oleh sesuatu,biasanya dengan objek ancaman yang begitu tidak begitu jelas. Kecemasan dengan intensitas nilai ancaman yang wajar dapat dianggap memiliki nilai positif sebagai motivasi,tetapi apabila intensitasnya begitu kuat dan bersifat negatif justru akan menimbulkan kerugian dan dapat mengganggu terhadap keadaan fisik dan psikis individu yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Kecemasan dapat dialami oleh siapapun dan dimanapun serta kapanpun tergantung dari faktor pencetus dari kecemasan tersebut. Fakta membuktikan bahwa diseluruh lapisan dunia kecemasan paling banyak terjadi setiap harinya.hal ini disebabkan semakin kongkretnya masalah yang terjadi saat ini.&lt;br /&gt;Dinegara maju,gangguan jiwa berupa ansietas atau kecemasan menempati posisi pertama dibandingkan dengan kasus lain.oleh karena itu sebagai seorang perawat,kita harus benar-benar kritis dalam menghadapi kasus kecemasan yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;KONSEP DASAR&lt;br /&gt;A. Pengertian &lt;br /&gt;Kecemasan atau ansietas adalah reaksi emosional terhadap penilaian individu yang subjektif,yang dipengaruhi oleh alam bawah sadar dan tidak diketahui secara khusus penyebabnya.&lt;br /&gt;Kecemasan atau ansietas adalah istilah yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari yang menggambarkan keadaan khawatir,gelisah yang tidak menentu,takut,tidak tenteram,kadang-kadang disertai berbagai keluhan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tingkat kecemasan&lt;br /&gt;Beberapa teori membagi ansietas menjadi empat tingkat :&lt;br /&gt;a. Ansietas ringan &lt;br /&gt;Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan lahan persepsinya meningkat. Kecemasan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.&lt;br /&gt;b. Ansietas sedang&lt;br /&gt;Pada tingkat ini lapangan persepsi terhadap lingkungan menurun. Individu lebih memfokuskan pada hal penting saat itu dan mengesampingkan hal yang lain.&lt;br /&gt;c. Ansietas berat&lt;br /&gt;Pada ansietas berat lapangan persepsi menjadi sangat menurun. Individu cenderung memikirkan hal yang sangat kecil saja dan mengabaikan hal yang lain. Individu tidak mampu berfikir realistis dan membutuhkan banyak pengarahan,untuk dapat memusatkan pada daerah lain.&lt;br /&gt;d. Panik&lt;br /&gt;Pada tingkatan ini lahan persepsi sudah sangat sempit,sehingga individu tidak dapat lagi mengendalikan diri dan tidak dapat melakukan apa-apa walaupun sudah diberi pengarahan/tuntutan. Pada keadaan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik,menurunnya kemampuan berhubungan dengan orang laindan kehilangan pemikiran yang rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Rentang respon ansietas atau kecemasan&lt;br /&gt;Rentang respon ansietas atau kecemasan berfluktuasi antara respon adaptif dan maladptif ,seperti terlihat pada gambar berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;KONSEP KEPERAWATAN&lt;br /&gt;A. Pengkajian&lt;br /&gt;1. Faktor peredisposisi&lt;br /&gt;Teori yang dikembangkan untuk menjelaskan penyebab ansietas adalah :&lt;br /&gt;a. Teori psikoanalitik&lt;br /&gt;Ansietas merupakan konsep emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian –ad dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitive seseorang,sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Ego atau Aku berfungsi menengahi tuntutan dari dua element yang  bertentangan dan  fungsi ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.&lt;br /&gt;b. Teori interpersonal&lt;br /&gt;Ansietas terjadi dari ketakutan akan penolakan interpersonal.hal ini juga dihubungkan dengan trauma pada masa perkembangan seperti kehilangan,perpisahan menyebabkan seseorang tidak  berdaya. Individu yang mempunyai harga diri rendah biasanya sangat mudah untuk mengalami ansietas yang berat.&lt;br /&gt;c. Teori prilaku &lt;br /&gt;Prilaku kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang menggangu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.&lt;br /&gt;d. Kajian keluarga&lt;br /&gt;Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan ansietas merupakan hal yang biasanya ditemui dalam suatu keluarga.&lt;br /&gt;e. Kajian biologis&lt;br /&gt;Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor spesifik untuk benzodiazepines.reseptor ini mungkin membantu mengatur ansietas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Faktor presipitasi&lt;br /&gt;Faktor presipitasi pada gangguan ansietas berasal dari sumber eksternal dan internal seperti dibawah ini :&lt;br /&gt;a. Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari.&lt;br /&gt;b. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas,harga diri,dan integrasi fungsi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perilaku &lt;br /&gt;Kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologi dan perilaku dan secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping dalam upaya melawan kecemasan. Intensietas perilaku akan meningkat sejalan dengan peningkatan tingkat kecemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel I.Respon fisiologis terhadap ansietas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Respon&lt;br /&gt;Kardivaskuler • Palpitasi&lt;br /&gt;• Jantung berdebar&lt;br /&gt;• Tekanan darah meningkat dan denyut nadi menurun&lt;br /&gt;• Rasa mau pingsan dan pada akhirnya pingsan&lt;br /&gt;Saluran pernapasan • Napas epat&lt;br /&gt;• Pernapasan dangkal&lt;br /&gt;• Rasa tertekan pada dada&lt;br /&gt;• Pembengkakan pada&lt;br /&gt;Tenggorokan&lt;br /&gt;• Rasa tercekik&lt;br /&gt;• Terengah-engah&lt;br /&gt;Neuromuskuler • Peningkatan reflek&lt;br /&gt;• Reaksi kejutan&lt;br /&gt;• Insomnia&lt;br /&gt;• Ketakutan&lt;br /&gt;• Gelisah&lt;br /&gt;• Wajah tegang&lt;br /&gt;• Kelemahan secara umum&lt;br /&gt;• Gerakan lambat &lt;br /&gt;• Gerakan yang janggal&lt;br /&gt;Gastrointestinal • Kehilangan nafsu makan&lt;br /&gt;• Menolak makn&lt;br /&gt;• Perasaan dangkal&lt;br /&gt;• Rasa tidak nyaman pada abdominal&lt;br /&gt;• Rasa terbakar pada jantung&lt;br /&gt;• Nausea&lt;br /&gt;• Diare&lt;br /&gt;Saluran kemih • Tidak dapat menahan kencing&lt;br /&gt;• Sering kencing&lt;br /&gt;Sistem kulit • Rasa terbakar pada mukosa&lt;br /&gt;• Berkeringat banyak pada&lt;br /&gt;Telapak tangan&lt;br /&gt;• Gatal-gatal&lt;br /&gt;• Perasaan panas atau dingin pada kulit&lt;br /&gt;• Muka pucat dan bekeringat&lt;br /&gt;Diseluruh tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel II.Respon prilaku kognitif&lt;br /&gt;Sistem Respon&lt;br /&gt;Perilaku • Gelisah&lt;br /&gt;• Ketegangan fisik&lt;br /&gt;• Tremor&lt;br /&gt;• Gugup&lt;br /&gt;• Bicara cepat&lt;br /&gt;• Tidak ada koordinasi&lt;br /&gt;• Kecenderungan untuk celaka&lt;br /&gt;• Menarik diri&lt;br /&gt;• Menghindar&lt;br /&gt;• Terhambat melakukan aktifitas&lt;br /&gt;Kognitif • Gangguan perhatian&lt;br /&gt;• Konsentrasi hilang&lt;br /&gt;• Pelupa&lt;br /&gt;• Salah tafsir&lt;br /&gt;• Adanya bloking pada pikiran&lt;br /&gt;• Menurunnya lahan persepsi&lt;br /&gt;• Kreatif dan produktif menurun&lt;br /&gt;• Bingung&lt;br /&gt;• Khawatir yang berlebihan&lt;br /&gt;• Hilang menilai objektifitas&lt;br /&gt;• Takut akan kehilangan kendali&lt;br /&gt;• Takut yang berlebihan&lt;br /&gt;Afektif • Mudah terganggu&lt;br /&gt;• Tidak sabar&lt;br /&gt;• Gelisah&lt;br /&gt;• Tegang&lt;br /&gt;• Nerveus&lt;br /&gt;• Ketakutan &lt;br /&gt;• Alarm&lt;br /&gt;• Tremor&lt;br /&gt;• Gugup &lt;br /&gt;• Gelisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mekanisme koping&lt;br /&gt;Ketika mengalami ansietas,individu menggunakan berbagai mekanisme koping untuk mencoba mengatasinya,dan ketidakmampuan mengatasi ansietas secara kontruktif merupakan penyebab utama terjadinya prilaku patologis,yang mengancam ego. Dimana individu menggunakan energi yang lebih besar untuk mengatasi ancaman tersebut.&lt;br /&gt;Ada dua mekanisme koping yang dikategorikan untuk mengatasi ansietas:&lt;br /&gt;1. Reaksi yang berorientasi pada tugas(task oriented reaction)&lt;br /&gt;Merupakan pemecahan masalah secara sadar digunakan untuk menanggulangi ancaman stressor yang ada secara realistis,yaitu&lt;br /&gt;a. Perilaku menyerang(agresif)&lt;br /&gt;Biasanya digunakan individu untuk mengatasi rintangan agar memenuhi kebutuhan.&lt;br /&gt;b. Perilaku menarik diri&lt;br /&gt;Digunakan untuk menghilangkan sumber ancaman baik secara fisik maupun secara psikologis&lt;br /&gt;c. Perilaku kompromi&lt;br /&gt;Digunakan untuk mengubah tujuan-tujuan yang akan dilakukan atau mmengorbankan kebutuhan personal untuk mencapai tujuan.&lt;br /&gt;2. Mekanisme pertahanan ego (ego oriented reaction)&lt;br /&gt;Mekanisme pertahanan Ego membantu mengatasi ansietas ringan maupun sedang yang digunakan untuk melindungi diri dan dilakukan secara tidak sadar untuk mempertahankan ketidakseimbangan.&lt;br /&gt;Adapun mekanisme pertahanan Ego adalah :&lt;br /&gt;a. Kompensasi&lt;br /&gt;Adalah proses dimana seseorang memperbaiki penurunan citra diri dengan secara tegas menonjolkan keistimewaan/kelebihan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penyangkalan (denial)&lt;br /&gt;Menyatakan ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari realitas tersebut. Mekanisme pertahanan ini paling sederhana dan primitif.&lt;br /&gt;c. Pemindahan(displacemen)&lt;br /&gt;Pengalihan emosi yag semula ditujukan pada seseorang/benda tertentu yang biasanya netral atau kurang mengancam terhadap dirinya.&lt;br /&gt;d. Disosiasi&lt;br /&gt;Pemisahan dari setiap proses mental atau prilaku dari kesadaran atau identitasnya.&lt;br /&gt;e. Identifikasi(identification)&lt;br /&gt;Proses dimana seseorang mencoba menjadi orang yang ia kagumi dengan mengambil/menirukan pikiran-pikiran,prilaku dan selera orang tersebut.&lt;br /&gt;f. Intelektualisasi(intelektualization)&lt;br /&gt;Penggunaan logika dan alasan yang berlebihan untuk memghindari pengalaman yang mengganggu perasaannya.&lt;br /&gt;g. Introjeksi(intrijection)&lt;br /&gt;Mengikuti norma-norma dari luar sehingga ego tidak lagi terganggu oleh ancaman dari luar(pembentukan superego)&lt;br /&gt;h. Fiksasi&lt;br /&gt;Berhenti pada tingkat perkembangan salah satu aspek tertentu(emosi atau tingkah laku atau pikiran)sehingga perkembangan selanjutnya terhalang.&lt;br /&gt;i. Proyeksi &lt;br /&gt;Pengalihan buah pikiran atau impuls pada diri sendiri kepada orang lain terutama keinginan. Perasaan emosional dan motivasi tidak dapat ditoleransi.&lt;br /&gt;j. Rasionalisasi&lt;br /&gt;Memberi keterangan bahwa sikap/tingkah lakunya menurut alasan yang seolah-olah rasional,sehingga tidak menjatuhkan harga diri.&lt;br /&gt;k. Reaksi foemasi &lt;br /&gt;Bertingkah laku yang berlebihan yang langsung bertentangan dengan keinginan-keinginan,perasaan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;l. Regressi &lt;br /&gt;Kembali ketingkat perkembangan terdahulu(tingkah laku yang primitif),contoh; bila keinginan terhambat menjadi marah,merusak,melempar barang,meraung,ds.&lt;br /&gt;m. Represi &lt;br /&gt;Secara tidak sadar mengesampingkan pikiran,impuls,atau ingatan yang menyakitkan atau bertentangan,merupakan pertahanan ego yang primer yang cenderung diperkuat oleh mekanisme ego yang lainnya.&lt;br /&gt;n. Acting out &lt;br /&gt;Langsung mencetuskan perasaan bila keinginannya terhalang&lt;br /&gt;o. Sublimasi &lt;br /&gt;Penerimaan suatu sasaran pengganti yang mulia artinya dimata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami halangan dalam penyalurannya secara normal.&lt;br /&gt;p. Supresi.&lt;br /&gt;Suatu proses yang digolongkan sebagai mekanisme pertahanan tetapi sebetulnya merupakan analog represi yang disadari;pengesampingan yang disengaja tentang suatu bahan dari kesadaran seseorang;kadang-kadang dapat mengarah pada represif berikutnya.&lt;br /&gt;q. Undoing &lt;br /&gt;Tindakan/prilaku atau komunikasi yang menghapuskan sebagian dari tindakan/prilaku atau komunikasi sebelumnya merupakan mekanisme pertahanan primitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Diagnosa &lt;br /&gt;Adapun diagnosa yang biasanya muncul pada kecemasan adalah :&lt;br /&gt;1. Penyelesaian kerusakan&lt;br /&gt;2. Kecemasan&lt;br /&gt;3. Pola napas tidak efektif&lt;br /&gt;4. Koping individu tidak efektif&lt;br /&gt;5. Diam&lt;br /&gt;6. Gangguan pembagian bidang energi&lt;br /&gt;7. Ketakutan &lt;br /&gt;8. Inkontinensial&lt;br /&gt;9. Stres&lt;br /&gt;10. Cedera resiko terhadap......&lt;br /&gt;11. Perubahan nutrisi&lt;br /&gt;12. Respon pasca trauma&lt;br /&gt;13. Ketidakberdayaan&lt;br /&gt;14. Gangguan harga diri&lt;br /&gt;15. Gangguan pola tidur&lt;br /&gt;16. Isolasi sosial&lt;br /&gt;17. Perubahan proses berfikir&lt;br /&gt;18. Gangguan eliminasi urine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Intervensi &lt;br /&gt;Tujuan umum : Klien akan mengurangi ansietasnya dari tingkat ringan hingga panik.&lt;br /&gt;Tujuan khusus : &lt;br /&gt;Klien mampu :&lt;br /&gt;• Membina hubungan saling percaya&lt;br /&gt;• Melakukan aktifitas sehari-hari&lt;br /&gt;• Mengekspresikan dan mengidentifikasi tentang kecemasannya&lt;br /&gt;• Mengidentifikasi situasi yang menyebabkan ansietas&lt;br /&gt;• Meningkatkan kesehatan fisik dan kesejahteraannya&lt;br /&gt;• Klien terlindung dari bahaya.&lt;br /&gt;1. Ansietas ringan&lt;br /&gt;Deskripsi  Batasan karakter Intervensi &lt;br /&gt;Ansietas ringan adalah ansietas normal dimana motivasi individu pada keseharian dalam batas kemampuan untuk melakukan dan memecahkan masalah  meningkat. - Tidak nyaman&lt;br /&gt;- Gelisah&lt;br /&gt;- Insomnia ringan&lt;br /&gt;- Perubahan nafsu makan ringan&lt;br /&gt;- Peka&lt;br /&gt;- Pengulangan pertanyaan&lt;br /&gt;- Prilaku mencari perhatian&lt;br /&gt;- Peningkatan kewaspadaan&lt;br /&gt;- Peningkatan persepsi pemecahan masalah&lt;br /&gt;- Mudah marah&lt;br /&gt;- Fokus pada masalah masa dating&lt;br /&gt;- Gerakan tidak tenang - Perhatikan tanda peningkatan ansietas &lt;br /&gt;- Bantu klien menyalurkan energi secara konstruktif&lt;br /&gt;- Gunakan obat bila perlu&lt;br /&gt;- Dorong pemecahan masalah&lt;br /&gt;- Berikan informasi akurat dan fuktual&lt;br /&gt;- Sadari penggunaan mekanisme pertahanan&lt;br /&gt;- Bantu dalam mengidentifikasi keterampilan koping yang berhasil&lt;br /&gt;- Pertahankan cara yang tenang dan tidak terburu&lt;br /&gt;- Ajarkan latihan dan tehnik relaksasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ansietas sedang&lt;br /&gt;Deskripsi  Batasan karakter Intervensi &lt;br /&gt;Ansietas sedang adalah cemas yang mempengaruhi pengetahuan baru dengan penyempitan lapangan persepsi sehngga individu kehilangan pegangan tetapi dapat mengikuti pengarahan orang lain. - Perkembangan dari ansietas ringan&lt;br /&gt;- Perhatian terpilih dari lingkungan&lt;br /&gt;- Konsentrasi hanya pada tugas-tugs individu&lt;br /&gt;- Suara bergetar&lt;br /&gt;- Ketidaknyamanan jumlah waktu yang digunakan&lt;br /&gt;- Takipnea&lt;br /&gt;- Takikardia&lt;br /&gt;- Perubahan dalam nada suara&lt;br /&gt;- Gemetaran&lt;br /&gt;- Peningkatan ketegangan otot&lt;br /&gt;- Menggigit kuku,memukul-mukulkan jari,menggoyangkan kaki dan mengetukkan jari kaki - Pertahankan sikap tidak tergesa-gesa,tenang bila berurusan dengan pasien&lt;br /&gt;- Bicara dengan sikap tenang,tegas meyakinkan&lt;br /&gt;- Gunakan kalimat yang pendek dan sederhana&lt;br /&gt;- Hindari menjadi cemas,marah,dan melawan&lt;br /&gt;- Dengarkan pasien&lt;br /&gt;- Berikan kontak fisik dengan menyentuh lengan dan tangan pasien&lt;br /&gt;- Anjurkan pasien menggunakan tehnik relaksasi&lt;br /&gt;- Ajak pasien untuk mengungkapkan perasaannya&lt;br /&gt;- Bantu pasien mengenali dan menamai ansietasnya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ansietas berat&lt;br /&gt;Deskripsi  Batasan karakter Intervensi &lt;br /&gt;Pada ansietas berat lapangan persepsi menjadi sangat menurun. Individu cenderung memikirkan hal yang sangat kecil saja dan mengabaikan hal yang lain. Individu tidak mampu berfikir realistis dan membutuhkan banyak pengarahan,untuk dapat memusatkan pada daerah lain.&lt;br /&gt; -  Perasaan terancam&lt;br /&gt;- Ketegangan otot yang berlebihan&lt;br /&gt;- Diaforesis&lt;br /&gt;- Perubahan pernapasan&lt;br /&gt;- Napas panjang&lt;br /&gt;- Hiperventilasi&lt;br /&gt;- Dispnea&lt;br /&gt;- Pusing&lt;br /&gt;- Perubahan gastrointestinalis&lt;br /&gt;- Mual muntah&lt;br /&gt;- Rasa terbakar pada ulu hati&lt;br /&gt;- Sendawa &lt;br /&gt;- Anoreksia&lt;br /&gt;- Diare atau konstipasi&lt;br /&gt;- Perubahan kardivaskuler&lt;br /&gt;- Takikardia&lt;br /&gt;- Palpitasi&lt;br /&gt;- Rasa tidak nyaman pada prekokardia&lt;br /&gt;- Berkurangnya jarak persepsi secara berat&lt;br /&gt;- Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi&lt;br /&gt;- Rasa terbakar&lt;br /&gt;- Kesulitan dan ketidaktepatan pengungkapan &lt;br /&gt;- Aktivitas yang tidak berguna&lt;br /&gt;- Bermusuhan - Isolasi pasien dalam lingkungan yang aman dan tenang&lt;br /&gt;- Biarkan perawatan dan kontak sering sampai konstan&lt;br /&gt;- Berikan obat-obatan pasien melakukan hal untuk dirinya sendiri&lt;br /&gt;- Observasi adanya tanda-tanda peningkatan agitasi&lt;br /&gt;- Jangan mennyentuh pasien tanpa permisi&lt;br /&gt;- Yakinkan pasien bahwa dia aman&lt;br /&gt;- Kaji keamanan dalam lingkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Panik&lt;br /&gt;Deskripsi  Batasan karakter Intervensi &lt;br /&gt;Mengungkapkan sampai tingkat dimana individu berada pada bahaya terhadap diri sendiri dan orang lain serta dapat menjadi diam atau menyerang dengan cara kacau.  - Hiperaktif atau imobilitasi berat&lt;br /&gt;- Rasa terisolasi yang ekstrim&lt;br /&gt;- Kehilangan desintegrasi kepribadian&lt;br /&gt;- Sangat goncang dan otot-otot tegang&lt;br /&gt;- Ketidakmampuan untuk berkomunikasi dengan kalimat yang lengkap&lt;br /&gt;- Distori persepsi dan penilaian yang tidak realistis terhadap lingkungan dan ancaman&lt;br /&gt;- Perilaku kacau dalam usaha melarikan diri&lt;br /&gt;- Menyerang  - Tetap bersam pasien;minta bantuan&lt;br /&gt;- Jika mungkin hilangkan beberapa stressor fisik dan psikologisdari lingkungan&lt;br /&gt;- Bicara dengan tenang,sikap meyakinkan,menggunakan nada suara yang rendah&lt;br /&gt;- Katakan pada pasien bahwa nada (staf) tidak akan membahayakan dirinya sendiri atau orang lain&lt;br /&gt;- Isolasikan pasien pada daerah yang aman dan nyaman&lt;br /&gt;- Lanjut dengan perawatan ansietas berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Implementasi&lt;br /&gt;Pelaksanaan keperawatan merupakan perwujudan dari rencana      keperawatan yang telah dirumuskan dalam rangka memenuhi kebutuhan pasien secara optimal dengan menggunakan keselamatan, keamanan dan kenyamanan pasien. Dalam melaksanakan keperawatan, haruslah dilibatkan tim kesehatan lain dalam tindakan kolaborasi yang berhubungan dengan pelayanan keperawatan serta berdasarkan atas ketentuan rumah sakit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;E .Evaluasi&lt;br /&gt;Ansietas ringan : &lt;br /&gt;a. Pasien mampu menggunakan koping secara efektif untuk mengatasi ancaman potensial atau aktual&lt;br /&gt;b. Pasien mampu meningkatkan pengetahuan tentang situasi diri&lt;br /&gt;c. Pasien melaporkan peningkatan harga diri&lt;br /&gt;Ansietas sedang : &lt;br /&gt;a. Pasien menerima ancaman secra realitas&lt;br /&gt;b. Pasien mengekspresikan berkurangnya tingkat ansietas&lt;br /&gt;Ansietas berat : &lt;br /&gt;a. Pasien mengungkapkan penurunan prilaku,afektif,gejala fisiologis dari ansietas.&lt;br /&gt;b. Pasien mampu mendemonstrasikan kemampuan untuk konsentrasi dan mengikuti dengan bantuan terhadap lingkungan sekitar.&lt;br /&gt;c. Menggunakan strategis koping untuk mengurangi ansietas.&lt;br /&gt;d. Menggunakan pikiran persepsi dan ansietas terlebih dahulu.&lt;br /&gt;Panik :&lt;br /&gt;a. Pasien tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain.&lt;br /&gt;b. Pasien mengekspresikan penurunan perasaan ansietas.&lt;br /&gt;c. Mulai membuat keputusan untuk diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;PENUTUP &lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;br /&gt;  Kecemasan atau ansietas adalah reaksi emosional terhadap penilaian individu yang subjektif,yang dipengaruhi oleh alam bawah sadar dan tidak diketahui secara khusus penyebabnya.&lt;br /&gt;Kecemasan atau ansietas adalah istilah yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari yang menggambarkan keadaan khawatir,gelisah yang tidak menentu,takut,tidak tenteram,kadang-kadang disertai berbagai keluhan fisik.&lt;br /&gt;Beberapa teori membagi ansietas menjadi empat tingkat :&lt;br /&gt;a. Ansietas ringan &lt;br /&gt;b. Ansietas sedang&lt;br /&gt;c. Ansietas berat&lt;br /&gt;d. Panik&lt;br /&gt;Rentang respon ansietas atau kecemasan berfluktuasi antara respon adaptif dan maladptif ,seperti terlihat pada gambar berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Saran &lt;br /&gt;Sebagai seorang perawat,kita harus benar-benar kritis dalam menghadapi kasus kecemasan yang terjadi dan kita harus mampu membedakan  jenis-jenis kecemasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mallapiang.2003.keperawatan jiwa.Jakarta:EGC&lt;br /&gt;Lynda juall carpenito dan moyet.2007.Buku saku diagnosis keperawatan.jakarta:EGC&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-7650212313077566460?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/7650212313077566460/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=7650212313077566460&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/7650212313077566460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/7650212313077566460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/06/askep-kecemasan.html' title='ASKEP KECEMASAN'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-8243488236955044739</id><published>2010-06-10T04:55:00.000-07:00</published><updated>2010-06-10T04:56:21.316-07:00</updated><title type='text'>ASKEP ANAK,ASMA,BRONKOPNEUMONIA,DAN TBC</title><content type='html'>ASUHAN KEPERAWATAN ASTHMA&lt;br /&gt;PENGERTIAN&lt;br /&gt;Asma adalah penyakit yang disebabkan oleh peningkatan respon dari trachea dan bronkus terhadap bermacam –macam stimuli yang ditandai dengan penyempitan bronkus atau bronkhiolus dan sekresi yang berlebih – lebihan dari kelenjar – kelenjar di mukosa bronchus&lt;br /&gt;II. ETIOLOGI&lt;br /&gt;Faktor Ekstrinsik&lt;br /&gt;Asma yang timbul karena reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh adanya IgE yang bereaksi terhadap antigen yang terdapat di udara (antigen – inhalasi ), seperti debu rumah, serbuk – serbuk dan bulu binatang&lt;br /&gt;Faktor Intrinsik&lt;br /&gt;Infeksi :&lt;br /&gt;- virus yang menyebabkan ialah para influenza virus, respiratory syncytial virus (RSV)&lt;br /&gt;- bakteri, misalnya pertusis dan streptokokkus&lt;br /&gt;- jamur, misalnya aspergillus&lt;br /&gt;• cuaca :&lt;br /&gt;perubahan tekanan udara, suhu udara, angin dan kelembaban dihubungkan dengan percepatan&lt;br /&gt;iritan bahan kimia, minyak wangi, asap rokok, polutan udara&lt;br /&gt;emosional : takut, cemas dan tegang&lt;br /&gt;aktifitas yang berlebihan, misalnya berlari&lt;br /&gt;III. PATOLOGI&lt;br /&gt;Asma ialah penyakit paru dengan cirri khas yakni saluran napas sangat mudah bereaksi terhadap barbagai ransangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma. Kelainan yang didapatkan adalah:&lt;br /&gt;Otot bronkus akan mengkerut ( terjadi penyempitan)&lt;br /&gt;Selaput lendir bronkus udema&lt;br /&gt;Produksi lendir makin banyak, lengket dan kental, sehingga ketiga hal tersebut menyebabkan saluran lubang bronkus menjadi sempit dan anak akan batuk bahkan dapat sampai sesak napas. Serangan tersebut dapat hilang sendiri atau hilang dengan pertolongan obat.&lt;br /&gt;Pada stadium permulaan serangan terlihat mukosa pucat, terdapat edema dan sekresi bertambah. Lumen bronkus menyempit akibat spasme. Terlihat kongesti pembuluh darah, infiltrasi sel eosinofil dalam secret didlam lumen saluran napas. Jika serangan sering terjadi dan lama atau menahun akan terlihat deskuamasi (mengelupas) epitel, penebalan membran hialin bosal, hyperplasia serat elastin, juga hyperplasia dan hipertrofi otot bronkus. Pada serangan yang berat atau pada asma yang menahun terdapat penyumbatan bronkus oleh mucus yang kental.&lt;br /&gt;Pada asma yang timbul akibat reaksi imunologik, reaksi antigen – antibody menyebabkan lepasnya mediator kimia yang dapat menimbulkan kelainan patologi tadi. Mediator kimia tersebut adalah:&lt;br /&gt;a. Histamin&lt;br /&gt;- Kontraksi otot polos&lt;br /&gt;- Dilatasi pembuluh kapiler dan kontraksi pembuluh vena, sehingga terjadi edema&lt;br /&gt;- Bertambahnya sekresi kelenjar dimukosa bronchus, bronkhoilus, mukosaa, hidung dan mata&lt;br /&gt;b. Bradikinin&lt;br /&gt;- Kontraksi otot polos bronchus&lt;br /&gt;- Meningkatkan permeabilitas pembuluh darah&lt;br /&gt;- Vasodepressor (penurunan tekanan darah)&lt;br /&gt;- Bertambahnya sekresi kelenjar peluh dan ludah&lt;br /&gt;c. Prostaglandin&lt;br /&gt;- bronkokostriksi (terutama prostaglandin F)&lt;br /&gt;IV. MANIFESTASI KLINIK&lt;br /&gt;Wheezing&lt;br /&gt;Dyspnea dengan lama ekspirasi, penggunaan otot- otot asesori pernapasan&lt;br /&gt;pernapasan cuping hidung&lt;br /&gt;batuk kering ( tidak produktif) karena secret kental dan lumen jalan napas sempit&lt;br /&gt;diaphoresis&lt;br /&gt;sianosis&lt;br /&gt;nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernapasan&lt;br /&gt;kecemasan, labil dan penurunan tingkat kesadarn&lt;br /&gt;tidak toleran terhadap aktifitas : makan, bermain, berjalan, bahkan bicara&lt;br /&gt;V. STADIUM ASMA&lt;br /&gt;Stadium I&lt;br /&gt;Waktu terjadinya edema dinding bronkus, batuk proksisimal, karena iritasi dan batuk kering. Sputum yang kental dan mengumpul merupakan benda asing yang merangsang batuk&lt;br /&gt;Stadium II&lt;br /&gt;Sekresi bronkus bertambah banyak dan batuk dengan dahak yang jernih dan berbusa. Pada stadium ini anak akan mulai merasa sesak napas berusaha bernapas lebih dalam. Ekspirasi memanjang dan terdengar bunyi mengi. Tampak otot napas tambahan turut bekerja. Terdapat retraksi supra sternal, epigastrium dan mungkin juga sela iga. Anak lebih senang duduk dan membungkuk, tangan menekan pada tepi tempat tidur atau kursi. Anak tampak gelisah, pucat, sianosisi sekitar mulut, toraks membungkuk ke depan dan lebih bulat serta bergerak lambat pada pernapasan. Pada anak yang lebih kecil, cenderung terjadi pernapasan abdominal, retraksi supra sternal dan interkostal.&lt;br /&gt;Stadium III&lt;br /&gt;Obstruksi atau spasme bronkus lebih berat , aliran udara sangat sedikit sehingga suara napas hampir tidak terdengar.&lt;br /&gt;Stadium ini sangat berbahaya karena sering disangka ada perbaikan. Juga batuk seperti ditekan. Pernapasan dangkal, tidak teratur dan frekuensi napas yang mendadak meninggi.&lt;br /&gt;VI. KOMPLIKASI&lt;br /&gt;1. Status asmatikus&lt;br /&gt;2. Bronkhitis kronik, bronkhiolus&lt;br /&gt;3. Ateletaksis : lobari segmental karena obstruksi bronchus oleh lender&lt;br /&gt;4. Pneumo thoraks&lt;br /&gt;Kerja pernapasan meningkat, kebutuhan O2 meningkat. Orang asam tidak sanggup memenuhi kebutuhan O2 yang sangat tinggi yang dibutuhkan untuk bernapas melawan spasme bronkhiolus, pembengkakan bronkhiolus, dan m ukus yang kental. Situasi ioni dapat menimbulkan pneumothoraks akibat besarnya teklanan untuk melakukan ventilasi&lt;br /&gt;5. Kematian&lt;br /&gt;VII. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK&lt;br /&gt;Riwayat penyakit atau pemeriksaan fisik&lt;br /&gt;Foto rontgen dada&lt;br /&gt;Pemeriksaan fungsi paru : menurunnya tidal volume, kapasitas vital, eosinofil biasanya meningkat dalam darah dan sputum&lt;br /&gt;Pemeriksaan alergi (radioallergosorbent test ; RAST)&lt;br /&gt;Analisa gas darah – pada awalnya pH meningkat, PaCO2 dan PaO2 turun (alkalosis respiratori ringan akibat hiperventilasi ); kemudian penurunan pH, penurunan PaO2 dan peningkatan PaCO2 (asidosis respiratorik)&lt;br /&gt;VIII. PENATALAKSANAAN&lt;br /&gt;Pencegahan terhadap pemajanan alergi&lt;br /&gt;Serangan akut dengan oksigen nasal atau masker&lt;br /&gt;Terapi cairan parenteral&lt;br /&gt;Terapi pengobatan sesuai program&lt;br /&gt;- Beta 2-agonist untuk mengurangi bronkospasme, mendilatasi otot polos bronchial&lt;br /&gt;Albuterol (proventil, ventolin)&lt;br /&gt;Tarbutalin&lt;br /&gt;Epinefrin&lt;br /&gt;Metaprotenol&lt;br /&gt;- Metilsantin, seperti aminofilin dan teofilin mempunyai efek bronkodilatasi&lt;br /&gt;- Antikolinergik, seperti atropine metilnitrat atau atrovent mempunyai efek bronchodilator yang sangat baik&lt;br /&gt;- Kortikosteroid diberikan secara IV (hidrokortison), secara oral (mednison), inhalasi (deksametason)&lt;br /&gt;KONSEP KEPERAWATAN&lt;br /&gt;I. PENGKAJIAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Riwayat asthma atau alergi dan serangan asthma yang lalu, alergi dan masalah pernapasan&lt;br /&gt;2. Kaji pengetahuan anak dan orang tua tentang penyakit dan pengobatan&lt;br /&gt;3. Riwayat psikososial: factor pencetus, stress, latihan, kebiasaan dan rutinitas, perawatan sebelumnya&lt;br /&gt;4. Pemeriksaan fisik&lt;br /&gt;Pernapasan&lt;br /&gt;- Napas pendek&lt;br /&gt;- Wheezing&lt;br /&gt;- Retraksi&lt;br /&gt;- Takipnea&lt;br /&gt;- Batuk kering&lt;br /&gt;- Ronkhi&lt;br /&gt;Kardiovaskuler&lt;br /&gt;Takikardia&lt;br /&gt;Neurologis&lt;br /&gt;Kelelahan&lt;br /&gt;Ansietas&lt;br /&gt;Sulit tidur&lt;br /&gt;Muskuloskeletal&lt;br /&gt;Intolerans aktifitas&lt;br /&gt;Integumen&lt;br /&gt;Sianosis&lt;br /&gt;pucat&lt;br /&gt;Psikososial&lt;br /&gt;Tidak kooperatif selama perawatan&lt;br /&gt;Kaji status hidrasi&lt;br /&gt;- Status membran mukosa&lt;br /&gt;- Turgor kulit&lt;br /&gt;- Output urine&lt;br /&gt;II. DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan napas b.d. bronkospasme dan udema mukosa&lt;br /&gt;Kelelahan b.d. hipoksia dan peningkatan kerja pernapasan&lt;br /&gt;Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. distress GI&lt;br /&gt;Resiko kekurangan volume cairan b.d. meningkatnya pernapsan dan menurunnya intake oral&lt;br /&gt;Kecemasan b.d. hospitalisasi dan distress pernapasan&lt;br /&gt;Perubahan proses keluarga b.d. kondisi kronik&lt;br /&gt;Kurang pengetahuan b.d. proses penyakit dan pengobatan]&lt;br /&gt;III. INTERVENSI KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan napas b.d. bronkospasme dan udema mukosa&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;- anak akan menunjukkan perbaikan pertukaran gas ditandai dengan :&lt;br /&gt;tidak ada wheezing dan retraksi&lt;br /&gt;batuk menurun&lt;br /&gt;warna kulit kemerahan&lt;br /&gt;- anak tidak menunjukkan gangguan ketidakseimbangan asam basa yang ditandai dengan saturasi oksigen ± 95 %&lt;br /&gt;Intervensi:&lt;br /&gt;a. Kaji RR, auskultasi bunyi napas&lt;br /&gt;R/: sebagai sumber data adanya pewrubahan sebelum dan sesudah perawatan diberikan&lt;br /&gt;b. Beri posisi high fowler atau semi-fowler&lt;br /&gt;R/; mengembangkan ekspansi paru&lt;br /&gt;c. Dorong anak untuk latihan napas dalam dan batuk efektif&lt;br /&gt;R/: membantu membersihkan mucus dari p[aru dan napas dalam memperbaiki oksigenasi&lt;br /&gt;d. Lakukan suction jika perlu&lt;br /&gt;R/: membantu mengeluarkan secret yang tidak dapat dikeluarkan oleh anak sendiri&lt;br /&gt;e. Lakukan fisioterapi&lt;br /&gt;R/: membantu pengeluaransekresi, menmingkatkan ekspansi paru&lt;br /&gt;f. Berikan oksigen sesuai program&lt;br /&gt;R/ : memperbaiki oksigenasi dan mengurangi sekresi&lt;br /&gt;Monitor peningkatn pengeluaran sputum&lt;br /&gt;R/: sebagai indikasi adanya kegagalan pada paru&lt;br /&gt;h. Berikan bronchodilator sesuai indikasi&lt;br /&gt;R/: otot pernapasan menjadi relaks dan steroid mengurangi inflamasi&lt;br /&gt;2. Kelelahan b.d. hipoksia dan peningkatan kerja pernapasan&lt;br /&gt;Tujuan : Anak menunjukkan penurunan kelelahan ditandai dengan tidak iritabel, dapat berpartisipasi dan peningkatan kemampuan dalam beraktifitas&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Kaji tanda – tanda hipoksia / hypercapnea ; kelelahan, agitasi, peningkatan HR, peningkatan RR&lt;br /&gt;R/: deteksi dini untuk mencegah hipoksia dapat mencegah keletihan lebih lanjut&lt;br /&gt;Hindari seringnya melakukan intervensi yang tidak penting yang dapat membuat anak lelah, berikan istirahat yang cukup&lt;br /&gt;R/: Istirahat yang cukup dapat menurunkan stress dan meningkatkan kenyamanan&lt;br /&gt;Minta orang tua untuk selalu menemani anak&lt;br /&gt;R/: Menurunkan ketakutan dan kecemasan&lt;br /&gt;Berikan istirahat cukup dan tidur 8 – 10 jam tiap malam&lt;br /&gt;R/: istirahat cukup dan tidur cukup menurunkan kelelahan dan meningkatkan resistensi terhadap infeksi&lt;br /&gt;Ajarkan teknik manajemen stress&lt;br /&gt;R/ : Bronkospasme mungkin disebabkan oleh emosional dan stress&lt;br /&gt;3. Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. distress GI&lt;br /&gt;Tujuan : Anak akan menunjukkan penurunan distress GI ditandai dengan:&lt;br /&gt;Penurunan nausea dan vomiting, adanya perbaikan nutrisi / intake&lt;br /&gt;Intervensi:&lt;br /&gt;a. Berikan porsi makan kecil tapi sering 5 – 6 kali sehari dengan makanan yang disukainya&lt;br /&gt;R/: makanan kecil tapi sering menyediakan energi yang dibutuhkan , lambung tidak terlalu penuh, sehingga memberikan kesempatan untuk penyerapan makanan. Makanan yang disukai mendporong anak untuk makan dan meningkatkan intake&lt;br /&gt;b. Berikan makanan halus, rendah lemak, gunakan warna&lt;br /&gt;R/: Makanan berbumbu dan tinggi lemak dapat meningkatkan distress pada GI sehingga sulit dicerna&lt;br /&gt;c. Anjurkan menghindari makanan yang menyebabkan alergi&lt;br /&gt;R/:Dapat menimbulkan serangan akut pada anak yang sensitive&lt;br /&gt;Resiko kekurangan volume cairan b.d. meningkatnya pernapsan dan menurunnya intake oral&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Anak dapat mempertahankan hidrasi yang adekuat ditandai dengan turgor kulit elastis, membrane mukosa lembab, intake cairan sesuai dengan usia dan berat badan, output urine : 1-2 ml/kg BB/jam&lt;br /&gt;Intervensi:&lt;br /&gt;a. Kaji turgor kulit, monitor urine, output tiap 4 jam&lt;br /&gt;R/: untuk mengetahui tingkat hidrasi dan kebutuhan cairannya&lt;br /&gt;b. Pertahankan terapi parenteral sesuai indikasi dan monitor kelebihan cairan&lt;br /&gt;R/: kelebihan cairan dapat menyebabkan udema pulmonar&lt;br /&gt;c. Setelah fase akut, anjurkan anak dan orangtua untuk minum 3-8 gelas / hari, tergantung usia dan berat badan anak&lt;br /&gt;R/: anak membutuhkan cairan yang cukup untuk mempertahankan hidrasi dan keseimbangan asam basa untuk mencegah syok&lt;br /&gt;Kecemasan b.d. hospitalisasi dan distress pernapasan&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Kecemasan menurun, ditandai dengan anak tenang dan dapat mengekspresikan perasaannya&lt;br /&gt;a. Ajarkan teknik relaksasi; latihan napas dalam, imajinasi terbimbing&lt;br /&gt;R/: pengalihan perhatian selama episode asma dapat menurunkan ketakutan dan kecemasan&lt;br /&gt;b. Berikan terapi bermain sesuai indikasi&lt;br /&gt;R/: terapi bermain dapat menurunkan efek hospitalisasi dan kecemasan&lt;br /&gt;c. Informasikan tentang perawatan, pengobatan dan kondisi anak&lt;br /&gt;R/: menurunkan rasa takut dan kehilangan control akan dirinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TBC Pada Anak&lt;br /&gt;Serangan TBC terhadap anak-anak juga sangat rawan mengganggu organ tubuh selain paru-paru, terutama otak. Akibatnya, anak terganggu tumbuh kembangnya, bahkan. &lt;br /&gt;Berdasarkan pengalamannya, tuberkulosis pada anak rawan menyerang antara lain tulang, mata, dan terutama otak. Serangan TBC pada otak, misalnya, dapat menyebabkan kecacatan. Anak terancam gagal kembang, sulit bicara, tangan lemah atau cacat lain sehingga perlu penanganan fisioterapi. &lt;br /&gt;Tantangan lain, TBC pada anak, terutama bayi yakni kesulitan memeriksa apakah anak terkena TBC. Gejala yang sering timbul antara lain demam yang biasanya terlalu tinggi dan hilang timbul dalam jangka waktu lama. Sedangkan, tanda-tanda yang tidak terlalu spesifik antara lain berat badan turun tanpa sebab jelas, nafsu makan tidak ada, gagal tumbuh, pembesaran kelenjar limfa yang tidak sakit, batuk lama lebih dari tiga minggu, serta diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan diare. Kerap kali anak terlambat ditangani. &lt;br /&gt;Jika terdapat gejala tersebut, sebaiknya anak sedini mungkin dibawa ke puskesmas atau rumah sakit untuk dites mountex dan kemudian dievaluasi lebih lanjut. Tak kalah penting ialah informasi lengkap dari orangtua selengkapnya tentang kondisi kehidupan anak. &lt;br /&gt;Bagi anak yang telah terkena TBC, pengobatan yang dijalani sama saja dengan orang dewasa yakni menjalani pengobatan paket selama enam bulan. Namun, , tuberkulosis pada anak tidak cukup semata ditangani dengan pengobatan, tetapi perbaikan lingkungan serta peningkatan gizi sangat penting untuk memperkuat daya tahan tubuh anak. &lt;br /&gt;Imunisasi BCG (antituberkulosis) tidak menjamin anak bebas dari penyakit tersebut. Kuman penyebab TBC yakni Mycobacterium tuberkulosis ditularkan melalui percikan dahak. Jika terkena kuman terus-menerus dari orang-orang dewasa di dekatnya, terutama orangtua, maka anak tetap terkena. Di antara sesama anak kecil sendiri sangat kecil kemungkinan menularkan. &lt;br /&gt;"Padahal, interaksi orangtua sangat dekat dan intens dengan anak, apalagi yang masih bayi. Terkadang sambil menimang-nimang dinyanyikan dan anak mendapat percikan dahak dari orangtua yang sakit TBC. sehingga anak tertular&lt;br /&gt;Oleh karena itu, angka anak penderita TBC sangat terpengaruh jumlah orang dewasa yang dapat menularkan TBC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TBC&lt;br /&gt;A. Pengertian&lt;br /&gt;Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis.&lt;br /&gt;B. Penyebab&lt;br /&gt;Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.&lt;br /&gt;C. Tanda dan Gejala&lt;br /&gt;Gejala umum:&lt;br /&gt;1. Batuk terus menerus lebih dari 4 minggu atau lebih dengan atau tanpa sputum&lt;br /&gt;2. Badan lemah&lt;br /&gt;3. Gejala flu&lt;br /&gt;4. Demam derajat rendah&lt;br /&gt;5. Nyeri dada&lt;br /&gt;Gejala yang sering jumpai:&lt;br /&gt;1. Dahak bercampur darah&lt;br /&gt;2. Batuk darah&lt;br /&gt;3. Sesak nafas dan rasa nyeri dada&lt;br /&gt;4. Badan lemah, nafsu makan menurun&lt;br /&gt;D. Perjalanan Penyakit (Patogenesis)&lt;br /&gt;1. Tuberkulosis Primer&lt;br /&gt;Penularan terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung ada tidaknya sinar UV ventilasi yang baik dan kelembabab udara. Dalam suasana gelap dan lembab kuman dapat bertahan berhari-hari sampai berbulan-bulan.&lt;br /&gt;Bila partikel infeksi ini terisap oleh orang sehat, ia akan menempel pada jalan nafas atau paru-paru. Kuman dapat juga masuk melalui luka pada kulit atau mukosa tapi hal ini jarang terjadi.&lt;br /&gt;Bila kuman menetap di jaringan paru maka akan membentuk sarang TB pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau afek primer. Sarang primer ini dapat terjadi dibagian mana saja jaringan paru. Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis local) dan juga diikuti pembesaran getah bening hilus (limfadenitis regional). Sarang primer + limfangitis local + limfadenitis regional = kompleks primer.&lt;br /&gt;Komplek primer ini selajutnya dapat menjadi :&lt;br /&gt;* Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat&lt;br /&gt;* Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik, kalsifikasi di hilus atau kompleks (sarang) Ghon.&lt;br /&gt;* Berkomplikasi dan menyebar secara :&lt;br /&gt;a. Per kontinuitatum, yakni menyebar kesekitarnya.&lt;br /&gt;b. Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru disebelahnya. Dapat juga kuman tertelan bersama sputum dan ludah sehingga menyebar keusus.&lt;br /&gt;c. Secara limfogen, keorgan tubuh lainnya&lt;br /&gt;d. Secara hematogen, ke organ tubuh lainnya.&lt;br /&gt;2. Tuberkulosis Post Primer&lt;br /&gt;Kuman yang dormant pada TB primer akan muncul bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi TB dewasa (TB post primer). TB post primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di region atas paru-paru (bagian apical posterior lobus superior atau inferior). Invasinya adalah ke daerah parenkim paru dan tidak ke nodus hiler paru.&lt;br /&gt;Tergantung dari jumlah kuman, virulensi dan imunitas penderita, sarang dini ini dapat menjadi :&lt;br /&gt;a. Diresorpsi kembali dan sembuh tanpa cacat&lt;br /&gt;b. Sarang yang mula-mula meluas, tapi segera menyembuh dengan sebukan jaringan fibrosis. Ada yang membungkus diri menjadi lebih keras, menimbulkan perkapuran dan akan sembuh dalam bentuk perkapuran.&lt;br /&gt;c. Sarang dini meluas dimana granuloma berkembang menghancurkan jaringan sekitarnya dan bagian tengahnya mengalami nekrosis dan menjadi lembek membentuk jaringan keju. Bila jaringan keju dibatukkan keluar akan terjadillah kavitas. Kavitas ini mula-mula berdinding tipis, lama-lama dindingnya menebal karena infiltrasi jaringan fibroblast dalam jumlah besar, sehingga menjadi kavitas sklerotik.&lt;br /&gt;E. Pemeriksaan Diagnostik&lt;br /&gt;1. Reaksi hipersensitivitas : Tes Kulit Tuberkulin&lt;br /&gt;a. Tes tuberkulin intradermal (Mantoux)&lt;br /&gt;b. Tes tuberkulin dengan suntikan jet&lt;br /&gt;c. Tes tuberkulin tusukan majemuk&lt;br /&gt;2. Pemeriksaan radiografik&lt;br /&gt;Gambaran TBC milier berupa bercak-bercak halus tersebar merata pada seluruh lapangan paru. Gambaran radiology lain yang sering menyertai TBC paru adalah penebalan pleura, efusi pleura atau empisema, penumothoraks (bayangan hitam radio lusen dipinggir paru atau pleura).&lt;br /&gt;3. Pemeriksaan Bakteriologik&lt;br /&gt;Pemeriksaan ini penting karena dengan ditemukannya kuman BTA, diagnosis dapat dipastikan. Kriteria sputum BTA positip adalah sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan.&lt;br /&gt;F. Penatalaksanaan&lt;br /&gt;1. Obat anti TB (OAT)&lt;br /&gt;Karena pemakaian obat tunggal banyak terjadi retesistensi karena sebagian besar kuman TB memang dapat dibinasakan tetapi sebagian kecil tidak maka terapi TB dilakukan dengan memakai paduan obat.&lt;br /&gt;Jenis Obat :&lt;br /&gt;• Obat primer&lt;br /&gt;- isoniazid = INH - Streptomisin = SM&lt;br /&gt;- Rifampisin = RMP - Etambutol&lt;br /&gt;- Pita zinamid&lt;br /&gt;• Obat sekunder&lt;br /&gt;- Etionamid - P.A.S (Para Amine Saliycylic Acid)&lt;br /&gt;- Prorionamid - Tiasetazon&lt;br /&gt;- Sikloseren - Viomysin&lt;br /&gt;- Kanamisin - Kapremisyn&lt;br /&gt;2. Pembedahan pada TB Paru &lt;br /&gt;3. DOTS&lt;br /&gt;4. Pencegahan&lt;br /&gt;• Kemaprofilaksis&lt;br /&gt;• Vaksinasi BCG&lt;br /&gt;• Program kontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONSEP KEPERAWATAN&lt;br /&gt;DATA PENUNJANG&lt;br /&gt;a. Kultur sputum: Mikobakterium Tuberkulosis positif pada tahap akhir penyakit.&lt;br /&gt;b. Tes Tuberkulin: Mantoux test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm terjadi 48-72 jam).&lt;br /&gt;c. Poto torak: Infiltnasi lesi awal pada area paru atas ; Pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas ; Pada kavitas bayangan, berupa cincin ; Pada kalsifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas tinggi.&lt;br /&gt;d. Bronchografi: untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena TB paru.&lt;br /&gt;e. Darah: peningkatan leukosit dan Laju Endap Darah (LED).&lt;br /&gt;f. Spirometri: penurunan fuagsi paru dengan kapasitas vital menurun&lt;br /&gt;1. Pengkajian&lt;br /&gt;1. Riwayat PerjalananPenyakit&lt;br /&gt;a. Pola aktivitas dan istirahat&lt;br /&gt;Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas pendek), sulit tidur, demam, menggigil, berkeringat pada malam hari.&lt;br /&gt;Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap, lanjut; infiltrasi radang sampai setengah paru), demam subfebris (40 -410C) hilang timbul.&lt;br /&gt;b. Pola nutrisi&lt;br /&gt;Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan.&lt;br /&gt;Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan.&lt;br /&gt;c. Respirasi&lt;br /&gt;Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.&lt;br /&gt;Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di daerah apeks paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak napas, pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura.), perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural), deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).&lt;br /&gt;d. Rasa nyaman/nyeri&lt;br /&gt;Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.&lt;br /&gt;Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah, nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.&lt;br /&gt;e. Integritas ego&lt;br /&gt;Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak berdaya/tak ada harapan.&lt;br /&gt;Objektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah tersinggung.&lt;br /&gt;2.Diagnosa Keperawatan:&lt;br /&gt;1. Bersihan jalan napas tidak efektif&lt;br /&gt;Tujuan: Mempertahankan jalan napas pasien. Mengeluarkan sekret tanpa bantuan. Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas. Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi. Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat.&lt;br /&gt;• Intervensi:&lt;br /&gt;a. Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas, kecepatan, imma, kedalaman dan penggunaan otot aksesori..&lt;br /&gt;b. Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.&lt;br /&gt;c. Berikan pasien posisi semi atau Fowler, Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam.&lt;br /&gt;d. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea, suction bila perlu..&lt;br /&gt;e. Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi.&lt;br /&gt;f. Lembabkan udara/oksigen inspirasi..g. Berikan obat: agen mukolitik, bronkodilator, kortikosteroid sesuai indikasi.&lt;br /&gt;2. Gangguan pertukaran gas&lt;br /&gt;Tujuan: Melaporkan tidak terjadi dispnea. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal. Bebas dari gejala distress pernapasan.&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;a. Kaji dispnea, takipnea, bunyi pernapasan abnormal. Peningkatan upaya respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan.&lt;br /&gt;b. Evaluasi perubahan-tingkat kesadaran, catat tanda-tanda sianosis dan perubahan warna kulit, membran mukosa, dan warna kuku.&lt;br /&gt;3. infeksi&lt;br /&gt;Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi. Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang. aman.&lt;br /&gt;• Intervensi&lt;br /&gt;a. Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif, penyebaran infeksi melalui bronkus pada jaringan sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko infeksi melalui batuk, bersin, meludah, tertawa., ciuman atau menyanyi.&lt;br /&gt;b. Identifikasi orang-orang yang beresiko terkena infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan.&lt;br /&gt;c. Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan yang tertutup jika batuk.&lt;br /&gt;d. Gunakan masker setiap melakukan tindakan.&lt;br /&gt;e. Monitor temperatur.&lt;br /&gt;f. Identifikasi individu yang berisiko tinggi untuk terinfeksi ulang Tuberkulosis paru, seperti: alkoholisme, malnutrisi, operasi bypass intestinal, menggunakan obat penekan imun/ kortikosteroid, adanya diabetes melitus, kanker.&lt;br /&gt;g. Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani.&lt;br /&gt;Rasional: Periode menular dapat terjadi hanya 2-3 hari setelah permulaan kemoterapi jika sudah terjadi kavitas, resiko, penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan.&lt;br /&gt;h. Pemberian terapi INH, etambutol, Rifampisin.&lt;br /&gt;i. Pemberian terapi Pyrazinamid (PZA)/Aldinamide, para-amino salisik (PAS), sikloserin, streptomisin.&lt;br /&gt;Rasional: Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten.&lt;br /&gt;j. Monitor sputum BTA&lt;br /&gt;Rasional: Untuk mengawasi keefektifan obat dan efeknya serta respon pasien terhadap terapi.&lt;br /&gt;4. Perubahan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan&lt;br /&gt;Tujuan: Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi. Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat.&lt;br /&gt;• Intervensi:&lt;br /&gt;a. Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare.&lt;br /&gt;b. Kaji pola diet pasien yang disukai/tidak disukai..c. Monitor intake dan output secara periodik. d. Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi Buang Air Besar (BAB).&lt;br /&gt;e. Anjurkan bedrest.&lt;br /&gt;f. Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan.&lt;br /&gt;g. Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat.&lt;br /&gt;h. Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet.&lt;br /&gt;i. Konsul dengan tim medis untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum/setelah makan.&lt;br /&gt;j. Awasi pemeriksaan laboratorium. (BUN, protein serum, dan albumin).&lt;br /&gt;k. Berikan antipiretik tepat.&lt;br /&gt;5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan.&lt;br /&gt;Tujuan: Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan. Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru. Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi. Menerima perawatan kesehatan adekuat.&lt;br /&gt;• Intervensi&lt;br /&gt;a. Kaji kemampuan belajar pasien misalnya: tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan belajar, tingkat pengetahuan, media, orang dipercaya.&lt;br /&gt;b. Identifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya: hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernafas, kehilangan pendengaran, vertigo.&lt;br /&gt;c. Tekankan pentingnya asupan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) dan intake cairan yang adekuat.&lt;br /&gt;d. Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya: jadwal minum obat.&lt;br /&gt;e. jelaskan penatalaksanaan obat: dosis, frekuensi, tindakan dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama. Ulangi penyuluhan tentang interaksi obat Tuberkulosis dengan obat lain.&lt;br /&gt;f. jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah&lt;br /&gt;g. Anjurkan pasien untuk tidak minurn alkohol jika sedang terapi INH.&lt;br /&gt;h. Rujuk perneriksaan mata saat mulai dan menjalani terapi etambutol.. k. Anjurkan untuk berhenti merokok.&lt;br /&gt;3. Evaluasi&lt;br /&gt;a. Keefektifan bersihan jalan napas.&lt;br /&gt;b. Fungsi pernapasan adekuat untuk mernenuhi kebutuhan individu.&lt;br /&gt;c. Perilaku/pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi&lt;br /&gt;.d. Kebutuhan nutrisi adekuat, berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi.&lt;br /&gt;e. Pemahaman tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dan perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan&lt;br /&gt;ASKEP PADA ANAK DENGAN BRONKOPNEUMONIA&lt;br /&gt;A. KONSEP DASAR&lt;br /&gt;1. Pengertian &lt;br /&gt;Bronchopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak Infiltrat (Whalley and Wong, 1996).&lt;br /&gt;Bronchopneumina adalah frekwensi komplikasi pulmonary, batuk produktif yang lama, tanda dan gejalanya biasanya suhu meningkat, nadi meningkat, pernapasan meningkat (Suzanne G. Bare, 1993).&lt;br /&gt;Bronchopneumonia disebut juga pneumoni lobularis, yaitu radang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda-benda asing (Sylvia Anderson, 1994).&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan oleh bakteri,virus, jamur dan benda asing.&lt;br /&gt;2. Etiologi&lt;br /&gt;Bakteri : Diplococus Pneumonia, Pneumococcus, Stretococcus Hemoliticus Aureus, Haemophilus Influenza, Basilus Friendlander (Klebsial Pneumoni), Mycobacterium Tuberculosis. &lt;br /&gt;Virus : Respiratory syntical virus, virus influenza, virus sitomegalik.&lt;br /&gt;Jamur : Citoplasma Capsulatum, Criptococcus Nepromas, Blastomices Dermatides, Cocedirides Immitis, Aspergillus Sp, Candinda Albicans, Mycoplasma Pneumonia. Aspirasi benda asing.&lt;br /&gt;Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya Bronchopnemonia adalah daya tahan tubuh yang menurun misalnya akibat malnutrisi energi protein (MEP), penyakit menahun, pengobatan antibiotik yang tidak sempurna.&lt;br /&gt;3. Fatofisiologi&lt;br /&gt;Bronkopneumonia merupakan infeksi sekunder yang biasanya disebabkan oleh virus penyebab Bronchopneumonia yang masuk ke saluran pernafasan sehingga terjadi peradangan broncus dan alveolus. Inflamasi bronkus ditandai adanya penumpukan sekret, sehingga terjadi demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual. Bila penyebaran kuman sudah mencapai alveolus maka komplikasi yang terjadi adalah kolaps alveoli, fibrosis, emfisema dan atelektasis.&lt;br /&gt;Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan napas, sesak napas, dan napas ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan sebagai pelumas yang berpungsi untuk melembabkan rongga fleura. Emfisema (tertimbunnya cairan atau pus dalam rongga paru) adalah tindak lanjut dari pembedahan. Atelektasis mngakibatkan peningkatan frekuensi napas, hipoksemia, acidosis respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan yang akan mengakibatkan terjadinya gagal napas. Secara singkat patofisiologi dapat digambarkan pada skema proses. &lt;br /&gt;4. Manifestasi klinis&lt;br /&gt;Biasanya didahului infeksi traktus respiratorius bagian atas. Penyakit ini umumnya timbul mendadak, suhu meningkat 39-40O C disertai menggigil, napas sesak dan cepat, batuk-batuk yang non produktif “napas bunyi” pemeriksaan paru saat perkusi redup, saat auskultasi suara napas ronchi basah yang halus dan nyaring.&lt;br /&gt;Batuk pilek yang mungkin berat sampai terjadi insufisiensi pernapasan dimulai dengan infeksi saluran bagian atas, penderita batuk kering, sakit kepala, nyeri otot, anoreksia dan kesulitan menelan.&lt;br /&gt;5. Pemeriksaan penunjang&lt;br /&gt;1. Pengambilan sekret secara broncoscopy dan fungsi paru untuk preparasi langsung, biakan dan test resistensi dapat menemukan atau mencari etiologinya, tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena sukar.&lt;br /&gt;2. Secara laboratorik ditemukan leukositosis biasa 15.000 – 40.000 / m dengan pergeseran LED meninggi.&lt;br /&gt;3. Foto thorax bronkopeumoni terdapat bercak-bercak infiltrat pada satu atau beberapa lobus, jika pada pneumonia lobaris terlihat adanya konsolidasi pada satu atau beberapa lobus.&lt;br /&gt;6. Penatalaksanaan &lt;br /&gt;Kemotherapi untuk mycoplasma pneumonia, dapat diberikan Eritromicin 4 X 500 mg sehari atau Tetrasiklin 3 – 4 mg sehari.&lt;br /&gt;Obat-obatan ini meringankan dan mempercepat penyembuhan terutama pada kasus yang berat. Obat-obat penghambat sintesis SNA (Sintosin Antapinosin dan Indoksi Urudin) dan interperon inducer seperti polinosimle, poliudikocid pengobatan simtomatik seperti :&lt;br /&gt;1. Istirahat, umumnya penderita tidak perlu dirawat, cukup istirahat dirumah.&lt;br /&gt;2. Simptomatik terhadap batuk.&lt;br /&gt;3. Batuk yang produktif jangan ditekan dengan antitusif&lt;br /&gt;4. Bila terdapat obstruksi jalan napas, dan lendir serta ada febris, diberikan broncodilator.&lt;br /&gt;5. Pemberian oksigen umumnya tidak diperlukan, kecuali untuk kasus berat. Antibiotik yang paling baik adalah antibiotik yang sesuai dengan penyebab yang mempunyai spektrum sempit.&lt;br /&gt;7. Komplikasi&lt;br /&gt;Komplikasi dari bronchopneumonia adalah :&lt;br /&gt;a. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang.&lt;br /&gt;b. Empisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.&lt;br /&gt;c. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang.&lt;br /&gt;d. Infeksi sitemik &lt;br /&gt;e. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.&lt;br /&gt;f. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.&lt;br /&gt;8. Tumbuh kembang anak usia 6 – 12 tahun &lt;br /&gt;Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ fisik berkaitan dengan masalah perubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau dimensi tingkat sel. Pertambahan berat badan 2 – 4 Kg / tahun dan pada anak wanita sudah mulai mengembangkan ciri sex sekundernya.&lt;br /&gt;Perkembangan menitikberatkan pada aspek diferensiasi bentuk dan fungsi termasuk perubahan sosial dan emosi.&lt;br /&gt;a. Motorik kasar&lt;br /&gt;1. Loncat tali&lt;br /&gt;2. Badminton&lt;br /&gt;3. Memukul&lt;br /&gt;4. Motorik kasar dibawah kendali kognitif dan secara bertahap meningkatkan irama dan kehalusan.&lt;br /&gt;b. Motorik halus&lt;br /&gt;1. Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan&lt;br /&gt;2. Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan bermain alat musik.&lt;br /&gt;c. Kognitif&lt;br /&gt;1. Dapat berfokus pada lebih dari satu asfek dan situasi&lt;br /&gt;2. Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah&lt;br /&gt;3. Dapat membalikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali sejak awal&lt;br /&gt;4. Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang&lt;br /&gt;d. Bahasa&lt;br /&gt;1. Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak&lt;br /&gt;2. Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata keterangan, kata penghubung dan kata depan&lt;br /&gt;3. Menggunakan bahasa sebagai alat komuniukasi verbal&lt;br /&gt;4. Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan &lt;br /&gt;7. Dampak hospitalisasi&lt;br /&gt;Hospitalisasi atau sakit dan dirawat di RS bagi anak dan keluarga akan menimbulkan stress dan tidak merasa aman. Jumlah dan efek stress tergantung pada persepsi anak dan keluarga terhadap kerusakan penyakit dan pengobatan.&lt;br /&gt;Penyebab anak stress meliputi ;&lt;br /&gt;1. Psikososial&lt;br /&gt;Berpisah dengan orang tua, anggota keluarga lain, teman dan perubahan peran &lt;br /&gt;2. Fisiologis&lt;br /&gt;Kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi dan tidak mengontrol diri&lt;br /&gt;3. Lingkungan asing&lt;br /&gt;Kebiasaan sehari-hari berubah&lt;br /&gt;4. Pemberian obat kimia&lt;br /&gt;Reaksi anak saat dirawat di Rumah sakit usia sekolah (6-12 tahun)&lt;br /&gt;1. Merasa khawatir akan perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya&lt;br /&gt;2. Dapat mengekpresikan perasaan dan mampu bertoleransi terhadap rasa nyeri&lt;br /&gt;3. Selalu ingin tahu alasan tindakan&lt;br /&gt;4. Berusaha independen dan produktif&lt;br /&gt;Reaksi orang tua&lt;br /&gt;1. Kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya penyakit, prosedur, pengobatan dan dampaknya terhadap masa depan anak&lt;br /&gt;2. Frustasi karena kurang informasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak familiernya peraturan Rumah sakit&lt;br /&gt;B. ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS&lt;br /&gt;1. Pengkajian&lt;br /&gt;a. Riwayat kesehatan&lt;br /&gt;1) Adanya riwayat infeksi saluran pernapasan sebelumnya : batuk, pilek, demam.&lt;br /&gt;2) Anorexia, sukar menelan, mual dan muntah.&lt;br /&gt;3) Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas seperti malnutrisi.&lt;br /&gt;4) Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernapasan&lt;br /&gt;5) Batuk produktif, pernafasan cuping hidung, pernapasan cepat dan dangkal, gelisah, sianosis &lt;br /&gt;b. Pemeriksaan fisik&lt;br /&gt;1) Demam, takipnea, sianosis, pernapasan cuping hidung&lt;br /&gt;2) Auskultasi paru ronchi basah&lt;br /&gt;3) Laboratorium leukositosis, LED meningkat atau normal&lt;br /&gt;4) Rontgent dada abnormal (bercak, konsolidasi yang tersebar pada kedua paru)&lt;br /&gt;c. Factor fsikologis / perkembangan memahami tindakan&lt;br /&gt;1) Usia tingkat perkembangan&lt;br /&gt;2) Toleransi / kemampuan memahami tindakan&lt;br /&gt;3) Koping&lt;br /&gt;4) Pengalaman terpisah dari keluarga / orang tua&lt;br /&gt;5) Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya&lt;br /&gt;d. Pengetahuan keluarga / orang tua&lt;br /&gt;1) Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit saluran pernapasan&lt;br /&gt;2) Pengalaman keluarga tentang penyakit saluran pernafasan&lt;br /&gt;3) Kesiapan / kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya&lt;br /&gt;2. Diagnosa keperawatan &lt;br /&gt;1) Tidak efektifnya bersihan jalan napas berhubungan dengan penumpukan sekret.&lt;br /&gt;2) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan kapiler alveoli.&lt;br /&gt;3) Defisit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan.&lt;br /&gt;4) Resti pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat.&lt;br /&gt;5) Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi&lt;br /&gt;6) Kurang pengetahuan orang tua tentang perawatan klien berhubungan dengan kurangnya informasi.&lt;br /&gt;7) Cemas anak berhubungan dengan dampak hospitalisasi&lt;br /&gt;3. Intervensi&lt;br /&gt;Diagnosa 1&lt;br /&gt;Tujuan : Bersihan jalan nafas kembali efektif.&lt;br /&gt;KH : sekret dapat keluar.&lt;br /&gt;Rencana tindakan :&lt;br /&gt;1. Monitor status respirasi setiap 2 jam, kaji adanya peningkatan pernapasan dan bunyi napas abnormal.&lt;br /&gt;2. Lakukan suction sesuai indikasi.&lt;br /&gt;3. Beri terapi oksigen setiap 6 jam&lt;br /&gt;4. Ciptakan lingkungan / nyaman sehingga pasien dapat tidur dengan tenang&lt;br /&gt;5. Beri posisi yang nyaman bagi pasien&lt;br /&gt;6. Monitor analisa gas darah untuk mengkaji status pernapasan&lt;br /&gt;7. Lakukan perkusi dada&lt;br /&gt;8. Sediakan sputum untuk kultur / test sensitifitas&lt;br /&gt;Diagnosa 2&lt;br /&gt;Tujuan : pertujaran gas kembali normal.&lt;br /&gt;KH : Klien memperlihatkan perbaikan ventilasi, pertukaran gas secara optimal dan oksigenisasi jaringan secara adekuat&lt;br /&gt;Rencana tindakan :&lt;br /&gt;1. Observasi tingkat kesadaran, status pernafasan, tanda-tanda cianosis&lt;br /&gt;2. Beri posisi fowler sesuai program / semi fowler&lt;br /&gt;3. Beri oksigen sesuai program&lt;br /&gt;4. Monitor AGD&lt;br /&gt;5. Ciprtakan lingkungan yang nyaman&lt;br /&gt;6. Cegah terjadinya kelelahan&lt;br /&gt;Diagnosa 3.&lt;br /&gt;Tujuan : Klien akan mempertahankan cairan tubuh yang normal&lt;br /&gt;KH : Tanda dehidrasi tidak ada.&lt;br /&gt;Rencana tindakan :&lt;br /&gt;1. Catat intake dan output cairan (balanc cairan) &lt;br /&gt;2. Anjurkan ibu untuk tetap memberikan cairan peroral&lt;br /&gt;3. Monitor keseimbangan cairan , membran mukosa, turgor kulit, nadi cepat, kesadaran menurun, tanda-tanda vital.&lt;br /&gt;4. Pertahankan keakuratan tetesan infus&lt;br /&gt;5. Observasi tanda-tanda vital (nadi, suhu, respirasi)&lt;br /&gt;Diagnosa 4.&lt;br /&gt;Tujuan : Kebuituhan nutrisi terpenuhi.&lt;br /&gt;                    KH : Klien dapat mempertahankan/meningkatkan pemasukan nutrisi..&lt;br /&gt;Rencana tindakan : &lt;br /&gt;1. Kaji status nutrisi klien&lt;br /&gt;2. Lakukan pemeriksaan fisik abdomen klien (auskultasi, perkusi, palpasi, dan inspeksi)&lt;br /&gt;3. Timbang BB klien setiap hari.&lt;br /&gt;4. Kaji adanya mual dan muntah&lt;br /&gt;5. Berikan diet sedikit tapi sering &lt;br /&gt;6. Berikan makanan dalam keadaan hangat&lt;br /&gt;7. kolaborasi dengan tim gizi&lt;br /&gt;Diagnosa 5&lt;br /&gt;Tujuan : Tidak terjadi peningkatan suhu tubuh.&lt;br /&gt;KH : Hipertermi/peningkatan suhu dapat teratasi dengan proses infeksi hilang&lt;br /&gt;Rencana tindakan :&lt;br /&gt;1. Observasi tanda-tanda vital&lt;br /&gt;2. Berikandan anjurkan keluarga untuk memberikan kompres dengan air pada daerah dahi dan ketiak&lt;br /&gt;3. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan &lt;br /&gt;4. Berikan minum per oral&lt;br /&gt;5. Ganti pakaian yang basah oleh keringat&lt;br /&gt;6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat penurun panas.&lt;br /&gt;Diagnosa 6&lt;br /&gt;Tujuan : Pengetahuan orang tua klien tentang proses penyakit anaknya meningkat setelah dilakukan tindakan keperawatan&lt;br /&gt;KH : Orang tua klien mengerti tentang penyakit anaknya.&lt;br /&gt;Rencana tindakan :&lt;br /&gt;1. Kaji tingkat pengetahuan orang tua klien tentang proses penyakit anaknya&lt;br /&gt;2. Kaji tingkat pendidikan orang tua klien&lt;br /&gt;3. Bantu orang tua klien untuk mengembangkan rencana asuhan keperawatan dirumah sakit seperti : diet, istirahat dan aktivitas yang sesuai&lt;br /&gt;4. Tekankan perlunya melindungi anak. &lt;br /&gt;5. Jelaskan pada keluarga klien tentang Pengertian, penyebab, tanda dan gejala, pengobatan, pencegahan dan komplikasi dengan memberikan penkes.&lt;br /&gt;6. Beri kesempatan pada orang tua klien untuk bertanya tentang hal yang belum dimengertinya&lt;br /&gt;Diagnosa 7&lt;br /&gt;Tujuan : Cemas anak hilang&lt;br /&gt;KH : Klien dapat tenang, cemas hilang, rasa nyaman terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan&lt;br /&gt;Rencana tindakan :&lt;br /&gt;1. Kaji tingkat kecemasan klien&lt;br /&gt;2. Dorong ibu / keluarga klien mensufort anaknya dengan cara ibu selalu didekat klien.&lt;br /&gt;3. Fasilitasi rasa nyaman dengan cara ibu berperan serta merawat anaknya&lt;br /&gt;4. Lakukan kunjungan, kontak dengan klien &lt;br /&gt;5. Anjurkan keluarga yang lain mengunjungi klien&lt;br /&gt;6. Berikan mainan sesuai kesukaan klien dirumah&lt;br /&gt;4. Evaluasi&lt;br /&gt;Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan Brochopneumonia dalah :&lt;br /&gt;a. Pertukaran gas normal. &lt;br /&gt;b. Bersihan jalan napas kembali efektif&lt;br /&gt;c. Intake dan output seimbang&lt;br /&gt;d. Intake nutrisi adekuat&lt;br /&gt;e. Suhu tubuh dalam batas normal&lt;br /&gt;f. Pengetahuan keluarga meningkat  g. Cemas teratas  i http://askep.blogspot.com/2008/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan_12.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-8243488236955044739?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/8243488236955044739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=8243488236955044739&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/8243488236955044739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/8243488236955044739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/06/askep-anakasmabronkopneumoniadan-tbc.html' title='ASKEP ANAK,ASMA,BRONKOPNEUMONIA,DAN TBC'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-1274541843467133895</id><published>2010-06-10T04:54:00.000-07:00</published><updated>2010-06-10T04:55:20.734-07:00</updated><title type='text'>REGISTRASI KEPERAWATAN</title><content type='html'>REGISTRASI KEPERAWATAN&lt;br /&gt;DEFINISI&lt;br /&gt;Regulasi keperawatan (regristrasi &amp; praktik keperawatan) adalah kebijakan atau ketentuan yang mengatur profesi keperawatan dalam melaksanakan tugas profesinya dan terkait dengan kewajiban dan hak.&lt;br /&gt;Registrasi merupakan pencantuman nama seseorang dan informasi lain pada badan resmi baik milik pemerintah maupun non pemerintah. Perawat yang telah terdaftar diizinkan memakai sebutan registered nurse. Untuk dapat terdaftar, perawat harus telah menyelesaikan pendidikan keperawatan dan lulus ujian dari badan pendaftaran dengan nilai yang diterima. Izin praktik maupun registrasi harus diperbaharui setiap satu atau dua tahun.&lt;br /&gt;Undang – undang praktik keperawatan sudah lama menjadi bahan diskusi para perawat. PPNI pada kongres Nasional keduanya di Surabaya tahun 1980 mulai merekomendasikan perlunya bahan-bahan perundang-undangan untuk perlindungan hukum bagi tenaga keperawatan.&lt;br /&gt;Tidak adanya undang-undang perlindungan bagi perawat menyebabkan perawat secara penuh belum dapat bertanggung jawab terhadap pelayanan yang mereka lakukan. Tumpang tindih antara tugas dokter dan perawat masih sering terjadi dan beberapa perawat lulusan pendidikan tinggi merasa frustasi karena tidak adanya kejelasan tentang peran, fungsi dan kewenangannya. Hal ini juga menyebabkan semua perawat dianggap sama pengetahuan dan ketrampilannya, tanpa memperhatikan latar belakang ilmiah yang mereka miliki.&lt;br /&gt;KLASIFIKASI&lt;br /&gt;Dalam masa transisi professional keperawatan di Indonesia, sistem pemberian izin praktik dan registrasi sudah saatnya segera diwujudkan untuk semua perawat baik bagi lulusan SPK, akademi, sarjana keperawatan maupun program master keperawatan dengan lingkup praktik sesuai dengan kompetensi masing-masing.&lt;br /&gt;Pengaturan praktik perawat dilakukan melalui Kepmenkes nomor 1239 tahun 2001 tentang Registrasi dan Praktik Perawat, yaitu setiap perawat yang melakukan praktik di unit pelayanan kesehatan milik pemerintah maupun swasta diharuskan memiliki Surat Izin Praktik (SIP) dan Surat Izin Kerja (SIK). Pengawasan dan pembinaan terhadap praktik pribadi perawat dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat Propinsi, Kabupaten sampai ke tingkat puskesmas. Pengawasan yang telah dilakukan selama ini oleh pemerintah (Dinas Kesehatan Kabupaten Tanjung Jabung Timur) belum sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1239 tahun 2001.&lt;br /&gt;• SIP adalah suatu bukti tertulis pemberian kewenangan untuk menjalankan pekerjaan keperawatan diseluruh wilayah indonesia oleh departemen kesehatan.&lt;br /&gt;• SIK adalah bukti tertulis yang diberikan perawat untuk melakukan praktek keperawatan disarana pelayanan kesehatan.&lt;br /&gt;• SIPP adalah bukti tertulis yang diberikan kepada perawat untuk menjalankan praktik perwat perorangan atau bekelompok, Perawat yang memiliki SIPP dapat melakukan asuhan dalam bentuk kunjungan rumah.&lt;br /&gt;Standar profesi yaitu pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik.&lt;br /&gt;TUJUAN&lt;br /&gt;Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui masalah-masalah RUU praktik keperawatan.&lt;br /&gt;1. Mengetahui definisi dan tujuan praktik keperawatan&lt;br /&gt;2. Mengetahui pentingnya Undang-undang Praktik Keperawatan terkait dengan profesi&lt;br /&gt;3. Untuk meningkatkan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan keperawatan&lt;br /&gt;4. Mengetahui isi Undang-Undang yang ada di Indonesia yang berkaitan dengan praktik keperawatan&lt;br /&gt;5. Mengetahui tugas pokok dan fungsi Keperawatan dalam RUU Keperawatan&lt;br /&gt;Tujuan Praktik Keperawatan&lt;br /&gt;Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.&lt;br /&gt;Praktek keperawatan adalah tindakan mandiri perawat melalui kolaborasi dengan system klien dan tenaga kesehatan lain dalam membrikan asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan, termasuk praktik keperawatan individual dan berkelompok.&lt;br /&gt;Pengaturan penyelenggaraan praktik keperawatan bertujuan untuk memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada penerima dan pemberi jasa pelayanan keperawatan. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang diberikan oleh perawat.&lt;br /&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;Aspek legal atau hukum, legal=sah, aspek legal dalam keperawatan =sah, perawat mempunyai hak &amp; tindakan keperawatan yang sesuai dengan standar yang berlaku perlu ada ketetapan hukum yang mengatur hak &amp; kewajiban seseorang yang berhubungan erat dengan tindakannya perawat sebagai tenaga kesehatan diatur dalam:&lt;br /&gt;1. UU No. 23 Tentang Kesehatan&lt;br /&gt;2. PP Nomor 32 Tentang Tenaga Kesehatan&lt;br /&gt;3. Perda Kab. Kudus No. 11 Tahun 2004 Tentang Retribusi Pelayanan Tenaga Kesehatan&lt;br /&gt;4. SKB MENKES-KABKN NO.733-SKB-VI-2002 NO.10 th 2002 Tentang Jabatan&lt;br /&gt;5. UU No. 43 Th. 1999 Tentang POKOK2 KEPEGAWAIAN&lt;br /&gt;6. PERPRES No. 54 Th. 2007 Tentang Tunjangan Fungsional Tenaga Kesehata&lt;br /&gt;7. PERPRES No. 26 Tahun 2007 Tentang Tunjangan Jabatan Struktural&lt;br /&gt;8. PP No. 12 Tahun 2002 Tentang Kenaikan Pangkat PNS&lt;br /&gt;9. PP No. 13 Tahun 2002 Tentang Pengangkatan PNS Dalam Jab. Struktural&lt;br /&gt;10. PP No. 13 Tahun 2007 Tentang Penetapan Pensiun Pokok&lt;br /&gt;11. PP No. 43 Tahun 2007 Tentang PHD Menjadi PNS&lt;br /&gt;12. PP No. 099 Tahun 2000 Tentang Kenaikan Pangkat PN&lt;br /&gt;13. PP No. 12 Tahun 2002 Tentang Perubahan PP 99 Th 2000 Kenaikan Pangkat PNS&lt;br /&gt;14. PP Nomor 09 Tahun 2003 Tentang Pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian PNS&lt;br /&gt;15. KEPMENPAN No. 138 Tahun 2002 Tentang Penghargaan Pegawai Negeri Sipil&lt;br /&gt;PENTINGNYA  UNDANG-UNDANG PRAKTIK KEPERAWATAN.&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan mengapa Undang-Undang Praktik Keperawatan dibutuhkan.&lt;br /&gt;Pertama, alasan filosofi. Perawat telah memberikan konstribusi besar dalam peningkatan derajat kesehatan. Perawat berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan pemerintah dan swasta, dari perkotaan hingga pelosok desa terpencil dan perbatasan. Tetapi pengabdian tersebut pada kenyataannya belum diimbangi dengan pemberian perlindungan hukum, bahkan cenderung menjadi objek hukum.&lt;br /&gt;Kedua, alasan yuridis. UUD 1945, pasal 5, menyebutkan bahwa Presiden memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Demikian Juga UU Nomor 23 tahun 1992, Pasal 32, secara eksplisit menyebutkan bahwa pelaksanaan pengobatan dan atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran dan atau ilmu keperawatan, hanya dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. Sedang pasal 53, menyebutkan bahwa tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.&lt;br /&gt;Ketiga, alasan sosiologis. Kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan keperawatan semakin meningkat. Hal ini karena adanya pergeseran paradigma dalam pemberian pelayanan kesehatan, dari model medikal yang menitikberatkan pelayanan pada diagnosis penyakit dan pengobatan, ke paradigma sehat yang lebih holistik yang melihat penyakit dan gejala sebagai informasi dan bukan sebagai fokus pelayanan (Cohen, 1996).&lt;br /&gt;Keperawatan merupakan salah satu profesi dalam dunia kesehatan . Sebagai profesi, tentunya pelayanan yang diberikan harus professional, sehingga perawat/ners harus memiliki kompetensi dan memenuhi standar praktik keperawatan, serta memperhatikan kode etik dan moral profesi agar masyarakat menerima pelayanan dan asuhan keperwatan yang bemutu. Tetapi bila kita lihat realita yang ada, dunia keprawatan di Indonesia sangat memprihatinkan .Fenomene “gray area” pada berbagai jenis dan jenjang keperawatan yang ada maupun dengan profesi kesehatan lainnya masih sulit dihindari.&lt;br /&gt;PPNI MENDORONG DISAHKANNYA  UNDANG-UNDANG PRAKTIK KEPERAWATAN&lt;br /&gt;Dalam peringatan Hari Perawat Sedunia ini Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) lebih mendorong disahkannya Undang-Undang Praktik Keperawatan. Hal ini karena pertama, Keperawatan sebagai profesi memiliki karateristik yaitu, adanya kelompok pengetahuan (body of knowledge) yang melandasi keterampilan untuk menyelesaikan masalah dalam tatanan praktik keperawatan; pendidikan yang memenuhi standar dan diselenggarakan di Perguruan Tinggi; pengendalian terhadap standar praktik; bertanggungjawab dan bertanggungugat terhadap tindakan yang dilakukan; memilih profesi keperawatan sebagai karir seumur hidup, dan; memperoleh pengakuan masyarakat karena fungsi mandiri dan kewenangan penuh untuk melakukan pelayanan dan asuhan keperawatan yang beriorientasi pada kebutuhan sistem klien (individu, keluarga, kelompok dan komunitas. Kedua, kewenangan penuh untuk bekerja sesuai dengan keilmuan keperawatan yang dipelajari dalam suatu sistem pendidikan keperawatan yang formal dan terstandar menuntut perawat untuk akuntabel terhadap keputusan dan tindakan yang dilakukannya.&lt;br /&gt;Kewenangan yang dimiliki berimplikasi terhadap kesediaan untuk digugat, apabila perawat tidak bekerja sesuai standar dan kode etik. Oleh karena itu, perlu diatur sistem registrasi, lisensi dan sertifikasi yang ditetapkan dengan peraturan dan perundang-undangan. Sistem ini akan melindungi masyarakat dari praktik perawat yang tidak kompeten, karena Konsil Keperawatan Indonesia yang kelak ditetapkan dalam Undang Undang Praktik Keperawatan akan menjalankan fungsinya. Konsil Keperawatan melalui uji kompetensi akan membatasi pemberian kewenangan melaksanakan praktik keperawatan hanya bagi perawat yang mempunyai pengetahuan yang dipersyaratkan untuk praktik. Sistem registrasi, lisensi dan sertifikasi ini akan meyakinkan masyarakat bahwa perawat yang melakukan praktik keperawatan mempunyai pengetahuan yang diperlukan untuk bekerja sesuai standar. Ketiga, perawat telah memberikan konstribusi besar dalam peningkatan derajat kesehatan. Perawat berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan pemerintah dan swasta, dari perkotaan hingga pelosok desa terpencil dan perbatasan.&lt;br /&gt;Tetapi pengabdian tersebut pada kenyataannya belum diimbangi dengan pemberian perlindungan hukum, bahkan cenderung menjadi objek hukum. Perawat juga memiliki kompetensi keilmuan, sikap rasional, etis dan profesional, semangat pengabdian yang tinggi, berdisiplin, kreatif, terampil, berbudi luhur dan dapat memegang teguh etika profesi. Disamping itu, Undang-Undang ini memiliki tujuan, lingkup profesi yang jelas, kemutlakan profesi, kepentingan bersama berbagai pihak (masyarakat, profesi, pemerintah dan pihak terkait lainnya), keterwakilan yang seimbang, optimalisasi profesi, fleksibilitas, efisiensi dan keselarasan, universal, keadilan, serta kesetaraan dan kesesuaian interprofesional (WHO, 2002).&lt;br /&gt;Undang-Undang yang ada di Indonesia yang berkaitan dengan praktik keperawatan.&lt;br /&gt;1. UU No. 9 tahun 1960, tentang pokok-pokok kesehatan&lt;br /&gt;Bab II (Tugas Pemerintah), pasal 10 antara lain menyebutkan bahwa pemerintah mengatur kedudukan hukum, wewenang dan kesanggupan hukum.&lt;br /&gt;2. UU No. 6 tahun 1963 tentang Tenaga Kesehatan.&lt;br /&gt;UU ini merupakan penjabaran dari UU No. 9 tahun 1960. UU ini membedakan tenaga kesehatan sarjana dan bukan sarjana. Tenaga sarjana meliputi dokter, dokter gigi dan apoteker. Tenaga perawat termasuk dalam tenaga bukan sarjana atau tenaga kesehatan dengan pendidikan rendah, termasuk bidan dan asisten farmasi dimana dalam menjalankan tugas dibawah pengawasan dokter, dokter gigi dan apoteker. Pada keadaan tertentu kepada tenaga pendidikan rendah dapat diberikan kewenangan terbatas untuk menjalankan pekerjaannya tanpa pengawasan langsung.&lt;br /&gt;3. UU Kesehatan No. 14 tahun 1964, tentang Wajib Kerja Paramedis.&lt;br /&gt;Pada pasal 2, ayat (3) dijelaskan bahwa tenaga kesehatan sarjana muda, menengah dan rendah wajib menjalankan wajib kerja pada pemerintah selama 3 tahun.&lt;br /&gt;Dalam pasal 3 dijelaskan bahwa selama bekerja pada pemerintah, tenaga kesehatan yang dimaksud pada pasaal 2 memiliki kedudukan sebagai pegawai negeri sehingga peraturan-peraturan pegawai negeri juga diberlakukan terhadapnya.&lt;br /&gt;UU ini untuk saat ini sudah tidak sesuai dengan kemampuan pemerintah dalam mengangkat pegawai negeri. Penatalaksanaan wajib kerja juga tidak jelas dalam UU tersebut sebagai contoh bagaimana sistem rekruitmen calon peserta wajib kerja, apa sangsinya bila seseorang tidak menjalankan wajib kerja dan lain-lain. Yang perlu diperhatikan bahwa dalam UU ini, lagi posisi perawat dinyatakan sebagai tenaga kerja pembantu bagi tenaga kesehatan akademis termasuk dokter, sehingga dari aspek profesionalisasian, perawat rasanya masih jauh dari kewenangan tanggung jawab terhadap pelayanannya sendiri.&lt;br /&gt;4. SK Menkes No. 262/Per/VII/1979 tahun 1979&lt;br /&gt;Membedakan paramedis menjadi dua golongan yaitu paramedis keperawatan (temasuk bidan) dan paramedis non keperawatan. Dari aspek hukum, suatu hal yang perlu dicatat disini bahwa tenaga bidan tidak lagi terpisah tetapi juga termasuk katagori tenaga keperawatan.&lt;br /&gt;5. Permenkes. No. 363/Menkes/Per/XX/1980 tahun 1980&lt;br /&gt;Pemerintah membuat suatu pernyataan yang jelas perbedaan antara tenaga keperawaan dan bidan. Bidan seperti halnya dokter, diijinkan mengadakan praktik swasta, sedangkan tenaga keperawatan secara resmi tidak diijinkan. Dokter dapat membuka praktik swasta untuk mengobati orang sakit dan bidang dapat menolong persalinan dan pelayanan KB. Peraturan ini boleh dikatakan kurang relevan atau adil bagi profesi keperawatan. Kita ketahui negara lain perawat diijinkan membuka praktik swasta. Dalam bidang kuratif banyak perawat harus menggatikan atau mengisi kekurangan tenaga dokter untuk menegakkan penyakit dan mengobati terutama dipuskesmas-puskesma tetapi secara hukum hal tersebut tidak dilindungi terutama bagi perawat yang memperpanjang pelayanan di rumah. Bila memang secara resmi tidak diakui, maka seyogyanya perawat harus dibebaskan dari pelayanan kuratif atau pengobatan utnuk benar-benar melakukan nursing care.&lt;br /&gt;6. SK Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No. 94/Menpan/1986, tanggal 4 November 1986, tentang jabatan fungsional tenaga keperawatan dan sistem kredit point.&lt;br /&gt;Dalam sisitem ini dijelaskan bahwa tenaga keperawatan dapat naik jabatannya atau naik pangkatnya setiap dua tahun bila memenuhi angka kredit tertentu. Dalam SK ini, tenaga keperawatan yang dimaksud adalah : Penyenang Kesehatan, yang sudah mencapai golingan II/a, Pengatur Rawat/Perawat Kesehatan/Bidan, Sarjana Muda/D III Keperawatan dan Sarjana/S1 Keperawatan. Sistem ini menguntungkan perawat, karena dapat naik pangkatnya dan tidak tergantung kepada pangkat/golongan atasannya.&lt;br /&gt;7. UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992.&lt;br /&gt;Merupakan UU yang banyak memberi kesempatan bagi perkembangan termasuk praktik keperawatan profesional karena dalam UU ini dinyatakan tentang standar praktik, hak-hak pasien, kewenangan,maupun perlindungan hukum bagi profesi kesehatan termasuk keperawatan.&lt;br /&gt;Beberapa pernyataaan UU Kes. No. 23 Th. 1992 yang dapat dipakai sebagai acuan pembuatan UU Praktik Keperawatan adalah :&lt;br /&gt;Pasal 53 ayat 4 menyebutkan bahwa ketentuan mengenai standar profesi dan hak-hak pasien ditetapkan dengan peraturan pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 50 ayat 1 menyatakan bahwa tenaga kesehatan bertugas menyelenggarakan atau melaksanakan kegiatan sesuai dengan bidang keahlian dan kewenangannya&lt;br /&gt;Pasal 53 ayat 4 menyatakan tentang hak untuk mendapat perlindungan hukum bagi tenaga kesehatan.&lt;br /&gt;7. Pengaturan penyelenggaraan praktik keperawatan bertujuan untuk :&lt;br /&gt;• Memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada penerima dan pemberi jasa pelayanan keperawatan.&lt;br /&gt;• Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang diberikan oleh perawat.&lt;br /&gt;• Mendorong para pengambil kebijakan dan elemen-elemen yang terkait lainnya untuk memberikan perhatian dan dukungan pada model praktik keperawatan komunitas.&lt;br /&gt;• Mendorong pemerintah mengeluarkan regulasi yang dapat memberikan jaminan pada penyelenggaraan praktik keperawatan komunitas yang profesional.&lt;br /&gt;• Mendorong terbentuknya sistem monitoring dan evaluasi yang efisien dan efektif.&lt;br /&gt;8. Lingkup praktik keperawatan meliputi :&lt;br /&gt;• Memberikan asuhan keperawatan pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam menyelesaikan masalah kesehatan sederhana dan kompleks.&lt;br /&gt;• Memberikan tindakan keperawatan langsung, pendidikan, nasehat, konseling, dalam rangka penyelesaian masalah kesehatan melalui pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam upaya memandirikan sistem klien.&lt;br /&gt;• Memberikan pelayanan keperawatan di sarana kesehatan dan tatanan lainnya.&lt;br /&gt;• Memberikan pengobatan dan tindakan medik terbatas, pelayanan KB, imunisasi, pertolongan persalinan normal dan menulis permintaan obat/resep.&lt;br /&gt;• Melaksanakan program pengobatan secara tertulis dari dokter.&lt;br /&gt;9. Terkait dengan Tindakan Medik:&lt;br /&gt;1. Menetapkan diagnosis penyakit (92.6%)&lt;br /&gt;2. Membuat resep obat (93.1%)&lt;br /&gt;3. Memperlakukan tindakan pengobataban di dalam maupun luar gedung puskesmas (97.1%)&lt;br /&gt;4. Memperlakukan pemeriksaan kehamilan (70.1%) dalam melakukan pertolongan persalinan (57,7).&lt;br /&gt;10. TATA HUKUM DI INDONESIA&lt;br /&gt;UUD 1945 Indonesia adalah Negara yang berdasarkan hukum (Rechstaat) dan tidak berdasarkan pada kekuasaan belaka (Machstaat). Sumber hukum antara lain UUD 1945,Tap MPR, UU/Peraturan pengganti UU, PP, Kepres, Permenkes/Kepmenkes, dan peraturan lainnya.&lt;br /&gt;11. Fungsi Hukum dalam praktek perawat&lt;br /&gt;1. Memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan mana yang sesuai dengan hukum.&lt;br /&gt;2. Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain.&lt;br /&gt;3. Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan keperawatan mandiri.&lt;br /&gt;4. Membantu mempertahankan standart praktik keperwatan dengan meletakkan posisi perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum.&lt;br /&gt;12. Tanggung Jawab Hukum&lt;br /&gt;Melaksanakan keperawatan mandiri ataun yang didelegasi. Pasal Krusial dalam Kepmenkes 1239/2001tentang praktek keperawatan :&lt;br /&gt;1. Melakukan asuan keperawatan meliputi pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan dan evaluasi.&lt;br /&gt;2. Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan atas permintaan tertulis dokter.&lt;br /&gt;3. Dalam melaksanakan kewenangan perawat berkewajiban : Menghormati hak pasien, merujuk kasus yang tidak dapat ditangani, menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, memberikan informasi, meminta persetujuan tindakan yang dilakukan, melakukan catatan perawatan dengan baik.&lt;br /&gt;4. Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seseorang, perawat berwenang melakukan pelayanan kesehatan diluar kewenangan yang ditujukan untuk penyelamatan jiwa.&lt;br /&gt;5. Perawat yang menjalankan praktek perorangan harus mencantumkan SIPP diruang prakteknya.&lt;br /&gt;6. Perawat yang menjalakan praktek perorangan tidak diperbolehkan memasang papan praktek (sedang dalam proses amandemen).&lt;br /&gt;7. Perawat yang memiliki SIPP dapat melakukan asuhan dalam bentuk kunjungan rumah.&lt;br /&gt;8. Persyaratan praktek perorangan sekurang-kurangnya memenuhi :&lt;br /&gt;• Tempat praktek memenuhi syarat.&lt;br /&gt;• Memiliki perlengkapan peralatan dan administrasi termasuk formulir/buku kunjungan, catatan tindakan dan formulir rujukan.&lt;br /&gt;13. Tugas Pokok dan Fungsi Keperawatan Dalam RUU Keperawatan:&lt;br /&gt;1. Fungsi Keperawatan. Pengaturan, pengesahan serta penetapan kompetensi perawat yang menjalankan praktik keperawatan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.&lt;br /&gt;2. Tugas Keperawatan.&lt;br /&gt;1. Melakukan uji kompetensi dalam registrasi keperwatan.&lt;br /&gt;2. Membuat peraturan-peraturan terkait dengan praktik keperwatan untuk melindungi masyarakat&lt;br /&gt;Wewenang.&lt;br /&gt;1. Menyetujui dan menolak permohonan registrasi keperawatan.&lt;br /&gt;2. Mengesahkan standar kompetensi perawat yang dibuat oleh organisasi profesi keperawatan dan asosiasi institusi pendididkan keperawatan.&lt;br /&gt;3. Menetapkan ada tidaknya kesalahan yang dilakukan oleh perawat.&lt;br /&gt;4. Menetapkan sanksi terhadap kesalahan praktik yang dilakukan oeh perawat.&lt;br /&gt;5. Menetapkan penyelenggaraan program pendidikan keperawatan.&lt;br /&gt;14. Larangan-larangan bagi perawat :&lt;br /&gt;1. Perawat dilarang menjalankan praktek selain yang tercantum dalam izin dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan standar profesi.&lt;br /&gt;2. Bagi perawat yang memberikan pertolongan dalam keadaan darurat atau menjalankan tugas didaerah terpencil yang tidak ada tenaga kesehatan lain, dikecualikan dari larangan ini.&lt;br /&gt;3. Kepala Dinas atau Organisasi profesi dapat memberikan peringatan lisan atau tertulis kepada perawat yang melakukan pelanggaran.&lt;br /&gt;4. Peringatan tertulis diberikan paling banyak 3 kali, apabila tidak diindahkan SIK dan SIPP dapat dicabut.&lt;br /&gt;5. Sebelum SIK dan SIPP dicabut Kepala Dinas Kesehatan terlebih dahulu pendengar pertimbangan dari MDTK dan MP2EM.&lt;br /&gt;15. Sanksi-sanksi yang dapat diberikan :&lt;br /&gt;1. Pelanggaran ringan, pencabutan izin selama-lamanya 3 bulan.&lt;br /&gt;2. Pelanggaran sedang, pencabutan izin selama-lamanya 6 bulan.&lt;br /&gt;3. Pelanggaran berat, pencabutan izin selama-lamanya 1 tahun.&lt;br /&gt;4. Penetapan pelanggaran didasarkan pada motif pelanggaran serta situasi setempat.&lt;br /&gt;16. Implikasi dalam Tatanan Praktek&lt;br /&gt;Sebagai tenaga perawat rumah sakit dan puskesmas atau tenaga kesehatan dilembaga kesehatan lainnya. “Perawat bekerja dan melakukan kewajiban sesuai dengan perintah jabatan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban atas kerugian atau kesalahan yang dilakukan” KUHP pasal 51″.&lt;br /&gt;17. Praktek Mandiri Perawat Kepmenkes 1239&lt;br /&gt;1. SIP dan SIPP harus ada.&lt;br /&gt;2. Ruangan praktek sesuai ketentuan.&lt;br /&gt;3. Tersedia alat perawatan, alat rumah tangga dan alat emergency sesuai ketentuan.&lt;br /&gt;4. Kewenangan : Pemenuhan kebutuhan O2, Nutrisi, integritas jaringan, cairan dan elektrolit, eliminasi, personal hygiene, istirahat tidur, obat-obatan, sirkulasi, keamanan dan keselamatan, manajemen nyeri, kebutuhan aktivitas, psiko sosial, interaksi sosial, menjelang ajal, seksual, lingkungan sehat, kebutuha bumil, ibu melahirkan, bayi baru lahir,post partum, dan lain-lain.&lt;br /&gt;18. Dalam fase transisi tindakan medik dilakukan Algoritme klinik untuk perawat yang bekerja di puskesmas.&lt;br /&gt;1. Balai pengobatan dibawah pengawasan dokter.&lt;br /&gt;2. Berbagai sarana kesehatan dalam praktek mandiri : delegasi tertulis dan delegasi lisan.&lt;br /&gt;3. Kewenangan atributif (harus terdapt dalam UUPK).&lt;br /&gt;4. Amandemen Kepmenkes 1239/2001 : Papan nama harus dipasang, kewenangan atributif, uji kompetensi.&lt;br /&gt;19. RUU Praktek Keperawatan :&lt;br /&gt;1. Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, berdasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.&lt;br /&gt;2. Praktek keperawatan adalah tindakan mandiri perawat melalui kolaborasi dengan sistem klien dan tenaga kesehatan lain dalam memberikan asuan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan.&lt;br /&gt;Tujuan UPP Kep&lt;br /&gt;Pengaturan penyelenggaraan praktek keperawatan bertujuan untuk :&lt;br /&gt;• Memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada penerima dan pemberi jasa pelayanan keperawatan.&lt;br /&gt;• Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang diberikan oleh perawat.&lt;br /&gt;Lingkup Praktek Keperawatan&lt;br /&gt;1. Memberikan asuhan keperawatan pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam menyelesaikan masalah kesehatan dan kompleks.&lt;br /&gt;2. Memberikan tindakan keperawatan langsung, pendidikan, nasehat, konseling, dalam rangka penyelesaian masalah keperawatan melalui pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam upaya memandirikan sistem klien. &lt;br /&gt;3. Memberikan pelayanan keperawatan disarana kesehatan dan tatanan lainnya.&lt;br /&gt;4. Memberikan pengobatan dan tindakan medik terbatas, pelayanan KB, imunisasi, pertolongan persalinan normal dan menulis permintaan obat.&lt;br /&gt;5. Melaksanakan program pengobatan secara tertulis dari dokter.&lt;br /&gt;Konsil Keperawatan Indonesia&lt;br /&gt;Dalam rangka pengaturan penyelenggaraan praktek keperawatan maka dibentuk konsil keperawatan Indonesia dalam hal ini konsil keperawatan mempunyai tugas yaitu:&lt;br /&gt;Melakukan uji kompetensi dan registrasi perawat.&lt;br /&gt;Mengesahkan standart-standart profesi yang dibuat oleh organisasi profesi keperawatan dan asosiasi institusi pendidikan keperawatan.&lt;br /&gt;Membuat peraturan-peraturan terkait dengan praktek perawat untuk melindungi masyarakat.&lt;br /&gt;WEWENANG KONSIL INDONESIA&lt;br /&gt;Konsil keperawatan Indonesia mempunyai wewenang yaitu:&lt;br /&gt;1. Menyetujui dan menolak permohonan registrasi perawat.&lt;br /&gt;2. Mengesahkan standar kompetensi perawat yang dibuat oleh organisasi profesii keperawatan dan asosiasi institusi pendidikan keperawatan.&lt;br /&gt;3. Menetapkan ada tidaknya kesalahan yang dilakukan perawat.&lt;br /&gt;4. Menetapkan sanksi terhadap kesalahan praktik yang dilakukan perawat.&lt;br /&gt;5. Menetapkan standar penyelenggaraan program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRAKTIK MANDIRI&lt;br /&gt;Praktek mandiri dapat dilakukan secara perorangan atau kelompok, perawat dalam melakukan praktik mandiri sekurang-kurangnya memenuhi persyaratan yang telah ditentukan yaitu:&lt;br /&gt;1. Memiliki tempat praktik yang memenuhi persyaratan kesehatan.&lt;br /&gt;2. Memenuhi perlengkapan untuk tindakan asuhan keperawatan di luar institusi pelayanan kesehatan termasuk kunjungan rumah.&lt;br /&gt;3. Memiliki perlengkapan administrasi yang meliputi buku catatan kunjungan, formulir catatan tindakan asuhan keperawatan serta formulir rujukan.&lt;br /&gt;4. Persyaratan perlengkapan, sesuai dengan standar perlengkapan asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh organisasi profesi.&lt;br /&gt;5. Perawat yang telah mempunyai SIPP dan menyelenggarakan praktek mandiri wajib memasang papan nama keperawatan&lt;br /&gt;PENYELENGGARAAN PRAKTIK KEPERAWATAN&lt;br /&gt;Praktik keperawatan dilakukan berdasarkan pada kesepakatan antara perawat dengan klien dan atau pasien dalam upaya untuk meningkatkan kesehatan, pencegahan penyakit pemeliharaan kesehatan, kuratif dan pemulihan kesehatan. Praktik keperawatan dilakukan oleh perawat professional (RN) dan perawat vokasional (PN).&lt;br /&gt;PN dalam melaksanakan tindakan keperawatan dibawah pengawasan RN selain itu, perawat dapat mendelegasikan atau menyerahkan tugas kepada perawat lain yang setara kompetensi dan pengalamannya. Setiap orang dilarang menggunakan identitas berupa gelar atau bentuk lain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah yang bersangkutan adalah perawat yang telah memiliki SIPP dan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang diberi kewenangan oleh peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;1. Perawat telah memberikan konstribusi besar dalam peningkatan akan digunakan untuk mendorong berbagai pihak mengesahkan Rancangan Undang-Undang Praktik keperawatan.&lt;br /&gt;2. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menganggap bahwa keberadaan Undang-Undang akan memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat terhadap pelayanan keperawatan dan profesi perawat.&lt;br /&gt;3. Indonesia, Laos dan Vietnam adalah tiga Negara ASEAN yang belum memiliki Undang-Undang Praktik Keperawatan. Padahal, Indonesia memproduksi tenaga perawat dalam jumlah besar.&lt;br /&gt;4. Perawat Indonesia dinilai belum bisa bersaing ditingkat global.&lt;br /&gt;5. Undang Undang Praktik Keperawatan, terlalu terlambat untuk disahkan, apalagi untuk dipertanyakan. Sementara negara negara ASEAN seperti Philippines, Thailand, Singapore, Malaysia, sudah memiliki Undang- Undang Praktik Keperawatan (Nursing Practice Acts) sejak puluhan tahun yang lalu.&lt;br /&gt;6. Tidak adanya undang-undang perlindungan bagi perawat menyebabkan perawat secara penuh belum dapat bertanggung jawab terhadap pelayanan yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;7. Konsil keperawatan bertujuan untuk melindungi masyarakat, menentukan siapa yang boleh menjadi anggota komunitas profesi (mekanisme registrasi), menjaga kualitas pelayanan dan memberikan sangsi atas anggota profesi yang melanggar norma profesi (mekanisme pendisiplinan).&lt;br /&gt;8. RUU Praktik Perawat, selain mengatur kualifikasi dan kompetensi serta pengakuan profesi perawat, kesejahteraan perawat, juga diharapkan dapat lebih menjamin perlindungan kepada pemberi dan penerima layanan kesehatan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEGISLASI KEPERAWATAN&lt;br /&gt;PENGERTIAN&lt;br /&gt;Ketetapan hukum yang mengatur hak dan kewajiban seseorang yang berhubungan erat dengan tindakan. &lt;br /&gt;TUJUAN&lt;br /&gt;Tujuan Umum&lt;br /&gt;“Melindungi masyarakat dan perawat”&lt;br /&gt;Tujuan Yang lainnya adalah:&lt;br /&gt;1. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan&lt;br /&gt;2. Melidungi masyarakat atas tindakan yang dilakukan&lt;br /&gt;3. Menetapkan standar pelayanan keperawatan&lt;br /&gt;Menapis IPTEK keperawatan&lt;br /&gt;4. Menilai boleh tidakya praktik&lt;br /&gt;5. Menilai kesalahan dan kelalaian&lt;br /&gt;Kredensial merupakan proses untuk menentukan dan mempertahankan kompetensi keperawatan. Proses kredensial merupakan salah satu cara profesi keperawatan mempertahankan standar praktik dan akuntabilitas persiapan pendidikan anggotanya. Kredensial meliputi pemberian izin praktik (lisensi), registrasi (pendaftaran), pemberian sertifikat (sertifikasi) dan akreditasi ( Kozier Erb, 1990). Proses penetapan dan pemeliharaan kompetensi dalam praktek keperawatan&lt;br /&gt;Meliputi :&lt;br /&gt;Pemberian lisensi&lt;br /&gt;Pemberian lisensi adalah pemberian izin kepada seseorang yang memenuhi persyaratan oleh badan pemerintah yang berwenag, sebelum ia diperkenankan melakukan pekerjaan dan prakteknya yang telah ditetapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan lisensi ini adalah&lt;br /&gt;• Membatasi pemberian kewenangan melaksanakan praktik keperawatan hanya bagi yang kompeten&lt;br /&gt;• Meyakinkan masyarakat bahwa yang melakukan praktek mempunyai kompetensi yang diperlukan&lt;br /&gt;     Registrasi &lt;br /&gt;Registrasi merupakan pencantuman nama seseorang dan informasi lain pada badan resmi baik milik pemerintah maupun non pemerintah. Perawat yang telah terdaftar diizinkan memakai sebutan registered nurse. Untuk dapat terdaftar, perawat harus telah menyelesaikan pendidikan keperawatan dan lulus ujian dari badan pendaftaran dengan nilai yang diterima. Izin praktik maupun registrasi harus diperbaharui setiap satu atau dua tahun. Dalam masa transisi professional keperawatan di Indonesia, sistem pemberian izin praktik dan registrasi sudah saatnya segera diwujudkan untuk semua perawat baik bagi lulusan SPK, akademi, sarjana keperawatan maupun program master keperawatan dengan lingkup praktik sesuai dengan kompetensi masing-masing.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Sertifikasi&lt;br /&gt;Sertifikasi merupakan proses pengabsahan bahwa seorang perawat telah memenuhi standar minimal kompetensi praktik pada area spesialisasi tertentu seperti kesehatan ibu dan anak, pediatric , kesehatan mental, gerontology dan kesehatan sekolah. Sertifikasi telah diterapkan di Amerika Serikat. Di Indonesia sertifikasi belum diatur, namun demikian tidak menutup kemungkinan dimasa mendatang hal ini dilaksanakan.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;     Akreditasi&lt;br /&gt;Akreditasi merupakan suatu proses pengukuran dan pemberian status akreditasi kepada institusi, program atau pelayanan yang dilakukan oleh organisasi atau badan pemerintah tertentu. Hal-hal yang diukur meliputi struktur, proses dan kriteria hasil. Pendidikan keperawatan pada waktu tertentu dilakukan penilaian/pengukuran untuk pendidikan D III keperawatan dan sekolah perawat kesehatan dikoordinator oleh Pusat Diknakes sedangkan untuk jenjang S 1 oleh Dikti. Pengukuran rumah sakit dilakukan dengan suatu sistem akrteditasi rumah sakit yang sampai saat ini terus dikembangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAL PRAKTEK DALAM KEPERAWATAN &lt;br /&gt;Kelalaian ialah melakukan sesuatu dibawah standar yang ditetapkan oleh aturan atau hukum guna melindungi orang lain yang bertentangan dengan tindakan – tindakan yang tidak beralasan dan berisiko melakukan kesalahan. (Keeton, 1984), sedangkan menurut Hanafiah dan Amir ( 1999 ) Kelalaian adalah sikap yang kurang hati – hati yaitu tidak melakukan sesuatu yang seharusnya seseorang lakukan dengan sikap hati – hati dan wajar, atau sebaliknya melakukan sesuatu dengan sikap hati – hati tetapi tidak melakukannya dalam situasi tertentu. Guwandi (1994) mengatakan bahwa kelalaian adalah kegagalan untuk bersikap hati – hati yang pada umumnya wajar dilakukan oleh seseorang dengan hati – hati, dalam keadaan tersebut itu merupakan suatu tindakan seseorang yang hati – hati dan wajar tidak akan melakukan didalam keadaan yang sama atau kegagalan untuk melakukan apa orang lain dengan hati – hati yang wajar justru akan melakukan di dalam keadaan yang sama.&lt;br /&gt;Dari pengertian diatas dapat diartikan bahwa kelalaian dapat bersifat ketidaksengajaan, kurang teliti, kurang hati – hati, acuh tak acuh, sembrono, tidak peduli terhadap kepentingan orang lain tetapi akibat tindakan bukanlah tujuannya. Kelalaian bukan suatu pelanggaran hukum atau kejahatan. Jika kelalaian itu tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat menerimannya, namun jika kelalaian itu mengakibatkan kerugian materi, mencelakakan atau bahkan merenggut nyawa orang lain ini diklasifikasikan sebagai kelalaian berat, serius dan criminal menurut (Hanafiah dan Amir, 1999).&lt;br /&gt;Malpraktek adalah kelalaian seorang tenaga kesehatan untuk mempergunakan tingkat ketrampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim dipergunakan dalam merawat klien atau orang yang terluka menurut ukuran di lingkungan yang sama (Hanafiah dan Amir ( 1999).&lt;br /&gt;C. Elemen-elemen pertanggung jawab hukum (liability)&lt;br /&gt;Terdiri dari 4 elemen yang harus ditetapkan untuk membuktikan bahwa malpraktek atau kelalaian telah terjadi (Vestal.1995) :&lt;br /&gt;1. Kewajiban (duty) : pada sat terjadinya cedera terkait dengan kewajibannya yaitu kewajiban mempergunakan segala ilmu dan kepandaiannya untuk menyembuhkan atau setidak – tidaknya meringankan beban penderitaan pasiennya berdasarkan standar profesi.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;Perawat rumah sakit bertanggung jawab untuk :&lt;br /&gt;a. Pengkajian yang aktual bagi pasien yang ditugaskan untuk memberikan asuhan keperawatan&lt;br /&gt;b. Mengingat tanggung jawab asuhan keperawatan professional untuk mengubah kondisi klien&lt;br /&gt;c. Kompeten melaksanakan cara – cara yang aman untuk klien.&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;2. breach of the duty (Tidak melasanakan kewajiban): pelanggaran terjadi sehubungan dengan kewajibannya, artinya menyimpang dari apa yang seharusnya dilakukan menurut standar profesinya.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;a. Gagal mencatat dan melaporkan apa yang dikaji dari pasien. Seperti tingkat kesadaran pada saat masuk&lt;br /&gt;b. Kegagalan dalam memenuhi standar keperawatan yang ditetapkan sebagai kebijakan rumah sakit.&lt;br /&gt;c. Gagal melaksanakan dan mendokumentasikan cara – cara pengamanan yang tepat ( pengaman tempat tidur, restrain, dll )&lt;br /&gt;3. proximate caused (sebab-akibat): pelanggaran terhadap kewajibannya menyebabkan atau terkait dengan cedera yang dialami klien.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;Cedera yang terjadi secara langsung berhubungan dengan pelanggaran terhadap kewajiban perawat terhadap pasien atau gagal menggunakan cara pengaman yang tepat yang menyebabkan klien jatuh dan mengakibatkan fraktur.&lt;br /&gt;4. injury (Cedera) : sesorang mengalami cedera atau kerusakan yang dapat dituntut secara hukum&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;fraktur panggul, nyeri, waktu rawat inap lama dan memerlukan rehabilitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.StandarAsuhan&lt;br /&gt;Untuk menentukan kelalaian, standar asuhan dipenuhi dengan penjelasan apakah seseorang beralasan akan atau tidak akan melakukan sesuatu pada situasi yang sama. Setiap perawat bertanggung jawab untuk mengikuti standar asuhan keperawatan dalam praktek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CONTOH KASUS DALAM PRAKTIK KLEPERAWATAN&lt;br /&gt;Kini para perawat diperkenankan melakukan tugas-tugas dokter. Karena itu, mereka pun dapat terkena gugatan hukum bila terjadi akibat negatif dari pelayanannya kepada pasien. Selama ini dalam tindakan sehari-hari di rumah sakit, seorang perawat bisa saja melakukan berbagai kesalahan, misalnya keliru memberikan obat atau salah dosis, salah membaca label, salah menangani pasien, dan yang lebih berat lagi adalah salah memberikan tranfusi darah sehingga mengakibatkan hal yang fatal.&lt;br /&gt;Sejalan dengan adanya perubahan tanggung jawab, kesalahan itu harus ditanggung oleh perawat. Hal ini telah dijalani perawat di beberapa negara. Sebagai contoh, di Memphis County Hospital pada tahun 1986 seorang perawat digugat karena memberikan suntikan Lidocaine over dosis kepada pasiennya sehingga mengakibatkan pasien bersangkutan meninggal. Sementara itu, perawat di Ohashi Hospital pada Agustus tahun 2000 lalu menemui nasib yang sama. Ia disalahkan karena menyebabkan kematian bayi baru lahir karena kesalahan melakukan tindakan medis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-1274541843467133895?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/1274541843467133895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=1274541843467133895&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/1274541843467133895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/1274541843467133895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/06/registrasi-keperawatan.html' title='REGISTRASI KEPERAWATAN'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-6614289291286382154</id><published>2010-06-10T04:53:00.002-07:00</published><updated>2010-06-10T04:54:40.737-07:00</updated><title type='text'>ABORSI</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt; Aborsi&lt;br /&gt;Menjalani kehamilan itu berat, apalagi kehamilan yang tidak dikehendaki. Terlepas dari alasan apa yang menyebabkan kehamilan, aborsi dilakukan karena terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Apakah dikarenakan kontrasepsi yang gagal, perkosaan, ekonomi, jenis kelamin atau hamil di luar nikah.&lt;br /&gt;Mengenai alasan aborsi, memang banyak mengundang kontroversi. Ada yang berpendapat bahwa aborsi perlu di legalkan dan ada yang berpendapat tidak perlu dilegalkan.&lt;br /&gt;Pelegalan aborsi dimaksudkan untuk mengurangi tindakan aborsi yang dilakukan oleh orang yang tidak berkompeten, misalnya dukun beranak.Sepanjang aborsi tidak dilegalkan maka angka kematian ibu akibat aborsiakan terus meningkat.&lt;br /&gt;Ada yang mengkatagorikan Aborsi itu pembunuhan. Ada yang melarang atas nama agama. Ada yang menyatakan bahwa jabang bayi juga punya hak hidup sehingga harus dipertahankan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Jika aborsi untuk alasan medis, aborsi adalah legal, untuk korban perkosaan, masih di grey area, aborsi masih diperbolehkan walaupun tidak semua dokter mau melakukannya. Kasus perkosaan merupakan pilihan yang sulit. Meskipun bisa saja kita mengusulkan untuk memelihara anaknya hingga lahir, lalu diadopsikan ke orang lain, itu semua tergantung kematangan jiwa si ibu dan dukungan masyarakat agar anak yang dilahirkan tidak dilecehkan oleh masyarakat. &lt;br /&gt;Untuk kehamilan diluar nikah atau karena sudah kebanyakan anak dan kontrasepsi gagal perlu dipirkirkan kembali karena masih banyak orang mendambakan anak.&lt;br /&gt;Sebaiknya kita jangan mencari pemecahan masalah yang pendek / singkat / jalan pintas, tapi harus jauh menyentuh dasar timbulnya masalah itu sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. PENGERTIAN &lt;br /&gt; Gugur kandungan atau aborsi (bahasa Latin: abortus) adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin. Apabila janin lahir selamat (hidup) sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, maka istilahnya adalah kelahiran prematur.&lt;br /&gt;Dalam ilmu kedokteran, istilah-istilah ini digunakan untuk membedakan aborsi:&lt;br /&gt;• Spontaneous abortion: gugur kandungan yang disebabkan oleh trauma kecelakaan atau sebab-sebab alami.&lt;br /&gt;• Induced abortion atau procured abortion: pengguguran kandungan yang disengaja. Termasuk di dalamnya adalah: &lt;br /&gt;o Therapeutic abortion: pengguguran yang dilakukan karena kehamilan tersebut mengancam kesehatan jasmani atau rohani sang ibu, terkadang dilakukan sesudah pemerkosaan.&lt;br /&gt;o Eugenic abortion: pengguguran yang dilakukan terhadap janin yang cacat.&lt;br /&gt;o Elective abortion: pengguguran yang dilakukan untuk alasan-alasan lain.&lt;br /&gt; Dalam bahasa sehari-hari, istilah "keguguran" biasanya digunakan untuk spontaneous abortion, sementara "aborsi" digunakan untuk induced abortion.&lt;br /&gt;2.Klasifikasi Abortus&lt;br /&gt;Beberapa tipikal abortus dapat diklasifikasikan sebagai berikut&lt;br /&gt; Abortus spontanea&lt;br /&gt;Abortus spontanea merupakan abortus yang berlangsung tanpa tindakan, dalam hal ini dibedakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Abortus imminens, Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.&lt;br /&gt;• Abortus insipiens, Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus.&lt;br /&gt;• Abortus inkompletus, Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.&lt;br /&gt;• Abortus kompletus, semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan.&lt;br /&gt; Abortus provokatus&lt;br /&gt;Abortus provokatus merupakan jenis abortus yang sengaja dibuat/dilakukan, yaitu dengan cara menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. Pada umumnya bayi dianggap belum dapat hidup diluar kandungan apabila usia kehamilan belum mencapai 28 minggu, atau berat badan bayi kurang dari 1000 gram, walaupun terdapat beberapa kasus bayi dengan berat dibawah 1000 gram dapat terus hidup. Pengelompokan Abortus provokatus secara lebih spesifik:&lt;br /&gt;• Abortus Provokatus Medisinalis/Artificialis/Therapeuticus, abortus yang dilakukan dengan disertai indikasi medik. Di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah demi menyelamatkan nyawa ibu. Syarat-syaratnya:&lt;br /&gt;1. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya (yaitu seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan) sesuai dengan tanggung jawab profesi.&lt;br /&gt;2. Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain, agama, hukum, psikologi).&lt;br /&gt;3. Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau suaminya atau keluarga terdekat.&lt;br /&gt;4. Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga/peralatan yang memadai, yang ditunjuk oleh pemerintah.&lt;br /&gt;5. Prosedur tidak dirahasiakan.&lt;br /&gt;6. Dokumen medik harus lengkap.&lt;br /&gt;• Abortus Provokatus Kriminalis, aborsi yang sengaja dilakukan tanpa adanya indikasi medik (ilegal). Biasanya pengguguran dilakukan dengan menggunakan alat-alat atau obat-obat tertentu.&lt;br /&gt;3. Penyebab Abortus&lt;br /&gt;Maternal&lt;br /&gt;Penyebab dari segi Maternal&lt;br /&gt;Penyebab secara umum:&lt;br /&gt;• Infeksi akut&lt;br /&gt;1. virus, misalnya cacar, rubella, hepatitis.&lt;br /&gt;2. Infeksi bakteri, misalnya streptokokus.&lt;br /&gt;3. Parasit, misalnya malaria.&lt;br /&gt;• Infeksi kronis&lt;br /&gt;1. Sifilis, biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua.&lt;br /&gt;2. Tuberkulosis paru aktif.&lt;br /&gt;3. Keracunan, misalnya keracunan tembaga, timah, air raksa, dll.&lt;br /&gt;4. Penyakit kronis, misalnya : &lt;br /&gt;1. hipertensi&lt;br /&gt;2. nephritis&lt;br /&gt;3. diabetes&lt;br /&gt;4. anemia berat&lt;br /&gt;5. penyakit jantung&lt;br /&gt;6. toxemia gravidarum&lt;br /&gt;5. Gangguan fisiologis, misalnya Syok, ketakutan, dll.&lt;br /&gt;6. Trauma fisik.&lt;br /&gt;• Penyebab yang bersifat lokal:&lt;br /&gt;1. Fibroid, inkompetensia serviks.&lt;br /&gt;2. Radang pelvis kronis, endometrtis.&lt;br /&gt;3. Retroversi kronis.&lt;br /&gt;4. Hubungan seksual yang berlebihan sewaktu hamil, sehingga menyebabkan hiperemia dan abortus.&lt;br /&gt; Penyebab dari segi Janin&lt;br /&gt;• Kematian janin akibat kelainan bawaan.&lt;br /&gt;• Mola hidatidosa.&lt;br /&gt;• Penyakit plasenta dan desidua, misalnya inflamasi dan degenerasi.&lt;br /&gt; 4. Alasan untuk melakukan tindakan Abortus Provokatus&lt;br /&gt; Abortus Provokatus Medisinalis&lt;br /&gt;• Abortus yang mengancam (threatened abortion) disertai dengan perdarahan yang terus menerus, atau jika janin telah meninggal (missed abortion).&lt;br /&gt;• Mola Hidatidosa atau hidramnion akut.&lt;br /&gt;• Infeksi uterus akibat tindakan abortus kriminalis.&lt;br /&gt;• Penyakit keganasan pada saluran jalan lahir, misalnya kanker serviks atau jika dengan adanya kehamilan akan menghalangi pengobatan untuk penyakit keganasan lainnya pada tubuh seperti kanker payudara.&lt;br /&gt;• Prolaps uterus gravid yang tidak bisa diatasi.&lt;br /&gt;• Telah berulang kali mengalami operasi caesar.&lt;br /&gt;• Penyakit-penyakit dari ibu yang sedang mengandung, misalnya penyakit jantung organik dengan kegagalan jantung, hipertensi, nephritis, tuberkulosis paru aktif, toksemia gravidarum yang berat.&lt;br /&gt;• Penyakit-penyakit metabolik, misalnya diabetes yang tidak terkontrol yang disertai komplikasi vaskuler, hipertiroid, dan lain-lain.&lt;br /&gt;• Epilepsi, sklerosis yang luas dan berat.&lt;br /&gt;• Hiperemesis gravidarum yang berat, dan chorea gravidarum.&lt;br /&gt;• Gangguan jiwa, disertai dengan kecenderungan untuk bunuh diri. Pada kasus seperti ini, sebelum melakukan tindakan abortus harus dikonsultasikan dengan psikiater.&lt;br /&gt; Abortus Provokatus Kriminalis&lt;br /&gt;Abortus provokatus kriminalis sering terjadi pada kehamilan yang tidak dikehendaki. Ada beberapa alasan wanita tidak menginginkan kehamilannya:&lt;br /&gt;• Alasan kesehatan, di mana ibu tidak cukup sehat untuk hamil.&lt;br /&gt;• Alasan psikososial, di mana ibu sendiri sudah enggan/tidak mau untuk punya anak lagi.&lt;br /&gt;• Kehamilan di luar nikah.&lt;br /&gt;• Masalah ekonomi, menambah anak berarti akan menambah beban ekonomi keluarga.&lt;br /&gt;• Masalah sosial, misalnya khawatir adanya penyakit turunan, janin cacat.&lt;br /&gt;• Kehamilan yang terjadi akibat perkosaan atau akibat incest (hubungan antar keluarga).&lt;br /&gt;• Selain itu tidak bisa dilupakan juga bahwa kegagalan kontrasepsi juga termasuk tindakan kehamilan yang tidak diinginkan.&lt;br /&gt; 5. Pelaku Abortus Provokatus Kriminalis&lt;br /&gt;Pelaku Abortus Provokatus Kriminalis biasanya adalah:&lt;br /&gt;• Wanita bersangkutan.&lt;br /&gt;• Dokter atau tenaga medis lain (demi keuntungan atau demi rasa simpati).&lt;br /&gt;• Orang lain yang bukan tenaga medis (misalnya dukun.&lt;br /&gt; 7. Akibat Abortus Provokatus Kriminalis&lt;br /&gt; Komplikasi medis yang dapat timbul pada ibu&lt;br /&gt; Perforasi&lt;br /&gt;Dalam melakukan dilatasi dan kerokan harus diingat bahwa selalu ada kemungkinan terjadinya perforasi dinding uterus, yang dapat menjurus ke rongga peritoneum, ke ligamentum latum, atau ke kandung kencing. Oleh sebab itu, letak uterus harus ditetapkan lebih dahulu dengan seksama pada awal tindakan, dan pada dilatasi serviks tidak boleh digunakan tekanan berlebihan. Kerokan kuret dimasukkan dengan hati-hati, akan tetapi penarikan kuret ke luar dapat dilakukan dengan tekanan yang lebih besar. Bahaya perforasi ialah perdarahan dan peritonitis. Apabila terjadi perforasi atau diduga terjadi peristiwa itu, penderita harus diawasi dengan seksama dengan mengamati keadaan umum, nadi, tekanan darah, kenaikan suhu, turunnya hemoglobin, dan keadaan perut bawah. Jika keadaan meragukan atau ada tanda-tanda bahaya, sebaiknya dilakukan laparatomi percobaan dengan segera.&lt;br /&gt; Luka pada serviks uteri&lt;br /&gt;Apabila jaringan serviks keras dan dilatasi dipaksakan maka dapat timbul sobekan pada serviks uteri yang perlu dijahit. Apabila terjadi luka pada ostium uteri internum, maka akibat yang segera timbul ialah perdarahan yang memerlukan pemasangan tampon pada serviks dan vagina. Akibat jangka panjang ialah kemungkinan timbulnya incompetent cerviks.&lt;br /&gt; Pelekatan pada kavum uteri&lt;br /&gt;Melakukan kerokan secara sempurna memerlukan pengalaman. Sisa-sisa hasil konsepsi harus dikeluarkan, tetapi jaringan miometrium jangan sampai terkerok, karena hal itu dapat mengakibatkan terjadinya perlekatan dinding kavum uteri di beberapa tempat. Sebaiknya kerokan dihentikan pada suatu tempat apabila pada suatu tempat tersebut dirasakan bahwa jaringan tidak begitu lembut lagi.&lt;br /&gt; Perdarahan&lt;br /&gt;Kerokan pada kehamilan yang sudah agak tua atau pada mola hidatidosa terdapat bahaya perdarahan. Oleh sebab itu, jika perlu hendaknya dilakukan transfusi darah dan sesudah itu, dimasukkan tampon kasa ke dalam uterus dan vagina.&lt;br /&gt; Infeksi&lt;br /&gt;Apabila syarat asepsis dan antisepsis tidak diindahkan, maka bahaya infeksi sangat besar. Infeksi kandungan yang terjadi dapat menyebar ke seluruh peredaran darah, sehingga menyebabkan kematian. Bahaya lain yang ditimbulkan abortus kriminalis antara lain infeksi pada saluran telur. Akibatnya, sangat mungkin tidak bisa terjadi kehamilan lagi.&lt;br /&gt; Lain-lain&lt;br /&gt;Komplikasi yang dapat timbul dengan segera pada pemberian NaCl hipertonik adalah apabila larutan garam masuk ke dalam rongga peritoneum atau ke dalam pembuluh darah dan menimbulkan gejala-gejala konvulsi, penghentian kerja jantung, penghentian pernapasan, atau hipofibrinogenemia. Sedangkan komplikasi yang dapat ditimbulkan pada pemberian prostaglandin antara lain panas, rasa enek, muntah, dan diare.&lt;br /&gt;Komplikasi yang Dapat Timbul Pada Janin: Sesuai dengan tujuan dari abortus itu sendiri yaitu ingin mengakhiri kehamilan, maka nasib janin pada kasus abortus provokatus kriminalis sebagian besar meninggal. Kalaupun bisa hidup, itu berarti tindakan abortus gagal dilakukan dan janin kemungkinan besar mengalami cacat fisik.&lt;br /&gt;Secara garis besar tindakan abortus sangat berbahaya bagi ibu dan juga janin yaitu bisa menyebabkan kematian pada keduanya.&lt;br /&gt;Cara – cara Abortus Provokatus Kriminalis Kekerasan Mekanik : 1. Umum&lt;br /&gt;a. Latihan olahraga berlebihan&lt;br /&gt;b. Naik kuda berlebihan&lt;br /&gt;c. Mendaki gunung, berenang, naik turun tangga&lt;br /&gt;d. Tekanan / trauma pada abdomen&lt;br /&gt;Wanita cemas akan kehilangan kehamilannya karena olah raga yang berlebih dan mungkin kekerasan yang berpengaruh terhadap janinnya. Aktivitas hiruk pikuk, mengendarai kuda biasanya tidak efektif dan beberapa wanita mencari kekerasan dari suaminya. Meninju dan menendang perut sudah umum dan kematian akibat ruptur organ dalam seperti hati, limpa atau pencernaan, telah banyak dilaporkan. Ironisnya, uterus biasanya masih dalam kondisi baik.&lt;br /&gt;2. Lokal&lt;br /&gt;a. Memasukkan alat-alat yang dapat menusuk kedalam vagina : pensil, paku, jeruji sepeda&lt;br /&gt;b. Alat merenda, kateter atau alat penyemprot untuk menusuk atau menyemprotkan cairan kedalam uterus untuk melepas kantung amnion&lt;br /&gt;c. Alat untuk memasang IUD&lt;br /&gt;d. Alat yang dapat dilalui arus listrik&lt;br /&gt;e. Aspirasi jarum suntIK&lt;br /&gt;Jenis obat-obatan yang dipakai untuk menginduksi abortus antara lain. : &lt;br /&gt;A. Emmenagogum : obat untuk melancarkan haid Cara kerja : Indirect Congesti + engorgement mucosa ↓ Bleeding ↓ Kontraksi Uterus ↓ Foetus dikeluarkan&lt;br /&gt;Direct : Bekerja langsung pada uterus/saraf motorik uterus.&lt;br /&gt;B.  Purgativa/Emetica :obat-obatan yang menimbulkan kontraksi GI tract&lt;br /&gt;C. Ecbolica : menimbulkan kontraksi uterus secara langsung. Misal : Apiol, Ergot, Ergometrine, Extract secale, Extract pituatary, Pituitrine, Exytocin.&lt;br /&gt;D. Garam dari logam : biasanya sebelum mengganggu kehamilannya sudah membahayakan keselamatan ibu. Dengan tujuan menimbulkan tonik kontraksi pada uterus. Misal : Arsenicum, HgCl, Potassium bichromate, Ferro sulfate, ferri chloride&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek Hukum dan Medikolegal Abortus Povocatus Criminalis: Hukum abortus di berbagai negara dapat digolongkan dalam beberapa kategori sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Hukum yang tanpa pengecualian melarang abortus, seperti di Belanda.&lt;br /&gt;• Hukum yang memperbolehkan abortus demi keselamatan kehidupan penderita (ibu), seperti di Perancis dan Pakistan.&lt;br /&gt;• Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi medik, seperti di Kanada, Muangthai dan Swiss.&lt;br /&gt;• Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosio-medik, seperti di Eslandia&lt;br /&gt; • Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosial, seperti di Jepang, Polandia, dan Yugoslavia.&lt;br /&gt;• Hukum yang memperbolehkan abortus atas permintaan tanpa memperhatikan indikasi-indikasi lainnya (Abortion on requst atau Abortion on demand), seperti di Bulgaris, Hongaria, USSR, Singapura.&lt;br /&gt;• Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi eugenistis (aborsi boleh dilakukan bila fetus yang akan lahir menderita cacat yang serius) misalnya di India&lt;br /&gt;• Hukum yang memperbolehkan aborsi atas indikasi humanitarian (misalnya bila hamil akibat perkosaan) seperti di Jepang&lt;br /&gt;Negara-negara yang mengadakan perubahan dalam hukum abortus pada umumnya mengemukakan salah satu alasan/tujuan seperti yang tersebut di bawah ini:&lt;br /&gt;• Untuk memberikan perlindungan hukum pada para medisi yang melakukan abortus atas indikasi medik.&lt;br /&gt;• Untuk mencegah atau mengurangi terjadinya abortus provocatus criminalis.&lt;br /&gt;• Untuk mengendalikan laju pertambahan penduduk.&lt;br /&gt;• Untuk melindungi hal wanita dalam menentukan sendiri nasib kandungannnya.&lt;br /&gt;• Untuk memenuhi desakan masyarakat.&lt;br /&gt;• Untuk memberikan perlindungan hukum pada para medisi yang melakukan abortus atas indikasi medik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;   DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apuranto, H dan Hoediyanto. 2006. Ilmu Kedokteran Forensik Dan Medikolegal. Surabaya: Bag. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran UNAIR&lt;br /&gt;Chadha, P. Vijay.1995. Catatan kuliah ilmu forensic &amp; toksikologi (Hand book of forensic medicine &amp; toxicology Medical jurisprudence). Jakarta : Widya Medika&lt;br /&gt;Dewi, Made Heny Urmila. 1997. Aborsi Pro dan Kontra di Kalangan Petugas Kesehatan. Jogjakarta: Pusat Penelitian Kependudukan UGM&lt;br /&gt;Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo&lt;br /&gt;Pradono, Julianty et al. Pengguguran yang Tidak Aman di Indonesia, SDKI 1997. Jurnal Epidemiologi Indonesia. Volume 5 Edisi I-2001. hal. 14-19.&lt;br /&gt;Safe Motherhood Newsletter. Unsafe Abortion – A Worldwide Problem. Issue 28, 2000 (1).&lt;br /&gt;Utomo, Budi et al. Incidence and Social-Psychological Aspects of Abortion in Indonesia: A Community-Based Survey in 10 Major Cities and 6 Districts, Year 2000. Jakarta: Center for Health Research University of Indonesia, 2001.&lt;br /&gt;World Health Organization. Unsafe Abortion: Global and Regional Estimates of Incidence of and Mortality due to Unsafe Abortion with a Listing of Available Country Data. Third Edition. Geneva: Division of Reproductive Health (Technical Support) WHO, 1998.&lt;br /&gt;KUHP&lt;br /&gt;UU Kesehatan&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah&lt;br /&gt;http://situs.kesrepro.info/gendervaw/jul/2002/utama02.htm www.abortio&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-6614289291286382154?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/6614289291286382154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=6614289291286382154&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/6614289291286382154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/6614289291286382154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/06/aborsi.html' title='ABORSI'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-8514231558966689993</id><published>2010-06-10T04:53:00.001-07:00</published><updated>2010-06-10T04:53:29.316-07:00</updated><title type='text'>ETIK KEPERAWATAN</title><content type='html'>ETIK PERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ETIK&lt;br /&gt;Definisi &lt;br /&gt;Etik merupakan prinsip yang menyangkut benar dan salah, baik dan buruk dalam hubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;Etik merupakan studi tentang perilaku, karakter dan motif yang baik serta ditekankan pada penetapan apa yang baik dan berharga bagi semua orang.&lt;br /&gt;Secara umum, terminologi etik dan moral adalah sama. Etik memiliki terminologi yang berbeda dengan moral bila istilah etik mengarahkan terminologinya untuk penyelidikan filosofis atau kajian tentang masalah atau dilema tertentu. Moral mendeskripsikan perilaku aktual, kebiasaan dan kepercayaan sekelompok orang atau kelompok tertentu. &lt;br /&gt;Etik juga dapat digunakan untuk mendeskripsikan suatu pola atau cara hidup, sehingga etik merefleksikan sifat, prinsip dan standar seseorang yang mempengaruhi perilaku profesional. Cara hidup moral perawat telah dideskripsikan sebagai etik perawatan.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian diatas, dapt disimpulkan bahwa etik merupakan istilah yang digunakan untuk merefleksikan bagaimana seharusnya manusia berperilaku, apa yang seharusnya dilakukan seseorang terhadap orang lain.&lt;br /&gt;TIPE-TIPE ETIK&lt;br /&gt;a. Bioetik&lt;br /&gt;Bioetik merupakan studi filosofi yang mempelajari tentang kontroversi dalam etik, menyangkut masalah biologi dan pengobatan. Lebih lanjut, bioetik difokuskan pada pertanyaan etik yang muncul tentang hubungan antara ilmu kehidupan, bioteknologi, pengobatan, politik, hukum, dan theology.&lt;br /&gt;Pada lingkup yang lebih sempit, bioetik merupakan evaluasi etik pada moralitas treatment atau inovasi teknologi, dan waktu pelaksanaan pengobatan pada manusia. Pada lingkup yang lebih luas, bioetik mengevaluasi pada semua tindakan moral yang mungkin membantu atau bahkan membahayakan kemampuan organisme terhadap perasaan takut dan nyeri, yang meliputi semua tindakan yang berhubungan dengan pengobatan dan biologi. Isu dalam bioetik antara lain : peningkatan mutu genetik, etika lingkungan, pemberian pelayanan kesehatan&lt;br /&gt;Dapat disimpulkan bahwa bioetik lebih berfokus pada dilema yang menyangkut perawatan kesehatan modern, aplikasi teori etik dan prinsip etik terhadap masalah-masalah pelayanan kesehatan&lt;br /&gt;b. Clinical ethics/Etik klinik&lt;br /&gt;Etik klinik merupakan bagian dari bioetik yang lebih memperhatikan pada masalah etik selama pemberian pelayanan pada klien. &lt;br /&gt;Contoh clinical ethics : adanya persetujuan atau penolakan, dan bagaimana seseorang sebaiknya merespon permintaan medis yang kurang bermanfaat (sia-sia).&lt;br /&gt;c. Nursing ethics/Etik Perawatan&lt;br /&gt;Bagian dari bioetik, yang merupakan studi formal tentang isu etik dan dikembangkan dalam tindakan keperawatan serta dianalisis untuk mendapatkan keputusan etik.&lt;br /&gt;TEORI ETIK&lt;br /&gt;a. Utilitarian &lt;br /&gt;Kebenaran atau kesalahan dari tindakan tergantung dari konsekwensi atau akibat tindakan Contoh : Mempertahankan kehamilan yang beresiko tinggi dapat menyebabkan hal yang tidak menyenangkan, nyeri atau penderitaan pada semua hal yang terlibat, tetapi pada dasarnya hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayinya. &lt;br /&gt;b. Deontologi&lt;br /&gt;Pendekatan deontologi berarti juga aturan atau prinsip. Prinsip-prinsip tersebut antara lain autonomy, informed consent, alokasi sumber-sumber, dan euthanasia. &lt;br /&gt;PRINSIP-PRINSIP ETIK&lt;br /&gt;a. Otonomi (Autonomy)&lt;br /&gt;Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya.&lt;br /&gt;b. Berbuat baik (Beneficience)&lt;br /&gt;Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi.&lt;br /&gt;c. Keadilan (Justice)&lt;br /&gt;Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.&lt;br /&gt;d. Tidak merugikan (Nonmaleficience)&lt;br /&gt;Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien. &lt;br /&gt;e. Kejujuran (Veracity)&lt;br /&gt;Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi akurat, komprensensif, dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya kepada klien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani perawatan. Walaupun demikian, terdapat beberapa argument mengatakan adanya batasan untuk kejujuran seperti jika kebenaran akan kesalahan prognosis klien untuk pemulihan atau adanya hubungan paternalistik bahwa ”doctors knows best” sebab individu memiliki otonomi, mereka memiliki hak untuk mendapatkan informasi penuh tentang kondisinya. Kebenaran merupakan dasar dalam membangun hubungan saling percaya.&lt;br /&gt;f. Menepati janji (Fidelity)&lt;br /&gt;Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta menyimpan rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban seseorang untuk mempertahankan komitmen yang dibuatnya. Kesetiaan, menggambarkan kepatuhan perawat terhadap kode etik yang menyatakan bahwa tanggung jawab dasar dari perawat adalah untuk meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan dan meminimalkan penderitaan.&lt;br /&gt;g. Karahasiaan (Confidentiality)&lt;br /&gt;Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga privasi klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada seorangpun dapat memperoleh informasi tersebut kecuali jika diijinkan oleh klien dengan bukti persetujuan. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan, menyampaikan pada teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga kesehatan lain harus dihindari.&lt;br /&gt;h. Akuntabilitas (Accountability)&lt;br /&gt;Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang profesional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa terkecuali.&lt;br /&gt;KODE ETIK KEPERAWATAN INDONESIA&lt;br /&gt;Kode etik adalah pernyataan standar profesional yang digunakan sebagai pedoman perilaku dan menjadi kerangka kerja untuk membuat keputusan.&lt;br /&gt;Aturan yang berlaku untuk seorang perawat Indonesia dalam melaksanakan tugas/fungsi perawat adalah kode etik perawat nasional Indonesia, dimana seorang perawat selalu berpegang teguh terhadap kode etik sehingga kejadian pelanggaran etik dapat dihindarkan. Kode etik keperawtan Indonesia :&lt;br /&gt;a. Perawat dan Klien&lt;br /&gt;1) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai harkat dan martabat manusia, keunikan klien dan tidak terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik dan agama yang dianut serta kedudukan sosial.&lt;br /&gt;2) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan hidup beragama klien.&lt;br /&gt;3) Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang membutuhkan asuhan keperawatan.&lt;br /&gt;4) Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang dikehendaki sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan oleh yang berwenang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.&lt;br /&gt;b. Perawat dan praktek&lt;br /&gt;1) Perawat memlihara dan meningkatkan kompetensi dibidang keperawatan melalui belajar terus-menerus&lt;br /&gt;2) Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai kejujuran profesional yang menerapkan pengetahuan serta ketrampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien.&lt;br /&gt;3) Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada informasi yang akurat dan mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi seseorang bila melakukan konsultasi, menerima delegasi dan memberikan delegasi kepada orang lain&lt;br /&gt;4) Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan selalu menunjukkan perilaku profesional.&lt;br /&gt;c. Perawat dan masyarakat&lt;br /&gt;Perawat mengemban tanggung jawab bersama masyarakat untuk memprakarsai dan mendukung berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan dan kesehatan masyarakat.&lt;br /&gt;d. Perawat dan teman sejawat&lt;br /&gt;1) Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat maupun dengan tenaga kesehatan lainnya, dan dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara keseluruhan.&lt;br /&gt;2) Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan ilegal.&lt;br /&gt;e. Perawat dan Profesi&lt;br /&gt;1) Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar pendidikan dan pelayanan keperawatan serta menerapkannya dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan keperawatan&lt;br /&gt;2) Perawat berperan aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi keperawatan&lt;br /&gt;3) Perawat berpartisipasi aktif dalam upaya profesi untuk membangun dan memelihara kondisi kerja yang kondusif demi terwujudnya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-8514231558966689993?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/8514231558966689993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=8514231558966689993&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/8514231558966689993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/8514231558966689993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/06/etik-keperawatan.html' title='ETIK KEPERAWATAN'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-1827354476225144214</id><published>2010-06-10T04:50:00.002-07:00</published><updated>2010-06-10T04:52:27.579-07:00</updated><title type='text'>ASKEP STROK</title><content type='html'>ASUHAN KEPERAWATAN  STROKE&lt;br /&gt;A. KONSEP DASAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Pengertian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. (Hendro Susilo, 2000)&lt;br /&gt;Perdarahan intracerebral adalah disfungsi neurologi fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan olek karena trauma kapitis, disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh arteri, vena dan kapiler. (UPF, 1994)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Anatomi fisiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Otak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berat otak manusia sekitar 1400 gram dan tersusun oleh kurang lebih 100 triliun neuron. Otak terdiri dari empat bagian besar yaitu serebrum (otak besar), serebelum (otak kecil), brainstem (batang otak), dan diensefalon. (Satyanegara, 1998)&lt;br /&gt;Serebrum terdiri dari dua hemisfer serebri, korpus kolosum dan korteks serebri. Masing-masing hemisfer serebri terdiri dari lobus frontalis yang merupakan area motorik primer yang bertanggung jawab untuk gerakan-gerakan voluntar, lobur parietalis yang berperanan pada kegiatan memproses dan mengintegrasi informasi sensorik yang lebih tinggi tingkatnya, lobus temporalis yang merupakan area sensorik untuk impuls pendengaran dan lobus oksipitalis yang mengandung korteks penglihatan primer, menerima informasi penglihatan dan menyadari sensasi warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serebelum terletak di dalam fosa kranii posterior dan ditutupi oleh duramater yang menyerupai atap tenda yaitu tentorium, yang memisahkannya dari bagian posterior serebrum. Fungsi utamanya adalah sebagai pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot, serta mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan sikap tubuh.&lt;br /&gt;Bagian-bagian batang otak dari bawak ke atas adalah medula oblongata, pons dan mesensefalon (otak tengah). Medula oblongata merupakan pusat refleks yang penting untuk jantung, vasokonstriktor, pernafasan, bersin, batuk, menelan, pengeluaran air liur dan muntah. Pons merupakan mata rantai penghubung yang penting pada jaras kortikosereberalis yang menyatukan hemisfer serebri dan serebelum. Mesensefalon merupakan bagian pendek dari batang otak yang berisi aquedikus sylvius, beberapa traktus serabut saraf asenden dan desenden dan pusat stimulus saraf pendengaran dan penglihatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diensefalon di bagi empat wilayah yaitu talamus, subtalamus, epitalamus dan hipotalamus. Talamus merupakan stasiun penerima dan pengintegrasi subkortikal yang penting. Subtalamus fungsinya belum dapat dimengerti sepenuhnya, tetapi lesi pada subtalamus akan menimbulkan hemibalismus yang ditandai dengan gerakan kaki atau tangan yang terhempas kuat pada satu sisi tubuh. Epitalamus berperanan pada beberapa dorongan emosi dasar seseorang. Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan rangsangan dari sistem susunan saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah dan emosi. (Sylvia A. Price, 1995)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b Sirkulasi darah otak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak menerima 17 % curah jantung dan menggunakan 20 % konsumsi oksigen total tubuh manusia untuk metabolisme aerobiknya. Otak diperdarahi oleh dua pasang arteri yaitu arteri karotis interna dan arteri vertebralis. Da dalam rongga kranium, keempat arteri ini saling berhubungan dan membentuk sistem anastomosis, yaitu sirkulus Willisi.(Satyanegara, 1998)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteria karotis komunis kira-kira setinggi rawan tiroidea. Arteri karotis interna masuk ke dalam tengkorak dan bercabang kira-kira setinggi kiasma optikum, menjadi arteri serebri anterior dan media. Arteri serebri anterior memberi suplai darah pada struktur-struktur seperti nukleus kaudatus dan putamen basal ganglia, kapsula interna, korpus kolosum dan bagian-bagian (terutama medial) lobus frontalis dan parietalis serebri, termasuk korteks somestetik dan korteks motorik. Arteri serebri media mensuplai darah untuk lobus temporalis, parietalis dan frontalis korteks serebri.&lt;br /&gt;Arteria vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteria subklavia sisi yang sama. Arteri vertebralis memasuki tengkorak melalui foramen magnum, setinggi perbatasan pons dan medula oblongata. Kedua arteri ini bersatu membentuk arteri basilaris, arteri basilaris terus berjalan sampai setinggi otak tengah, dan di sini bercabang menjadi dua membentuk sepasang arteri serebri posterior. Cabang-cabang sistem vertebrobasilaris ini jmemperdarahi medula oblongata, pons, serebelum, otak tengah dan sebagian diensefalon. Arteri serebri posterior dan cabang-cabangnya memperdarahi sebagian diensefalon, sebagian lobus oksipitalis dan temporalis, aparatus koklearis dan organ-organ vestibular. (Sylvia A. Price, 1995)&lt;br /&gt;Darah di dalam jaringan kapiler otak akan dialirkan melalui venula-venula (yang tidak mempunyai nama) ke vena serta di drainase ke sinus duramatris. Dari sinus, melalui vena emisaria akan dialirkan ke vena-vena ekstrakranial. (Satyanegara, 1998)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Patofisiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipertensi kronik menyebabkan pembuluh arteriola yang berdiameter 100-400 mcmeter mengalami perubahan patologik pada dinding pembuluh darah tersebut berupa hipohialinosis, nekrosis fibrinoid serta timbulnya aneurisma tipe Bouchard. Arteriol-arteriol dari cabang-cabang lentikulostriata, cabang tembus arteriotalamus dan cabang-cabang paramedian arteria vertebro-basilar mengalami perubahan-perubahan degeneratif yang sama. Kenaikan darah yang “abrupt” atau kenaikan dalam jumlah yang secara mencolok dapat menginduksi pecahnya pembuluh darah terutama pada pagi hari dan sore hari.&lt;br /&gt;Jika pembuluh darah tersebut pecah, maka perdarahan dapat berlanjut sampai dengan 6 jam dan jika volumenya besarakan merusak struktur anatomi otak dan menimbulkan gejala klinik.&lt;br /&gt;Jika perdarahan yang timbul kecil ukurannya, maka massa darah hanya dapat merasuk dan menyela di antara selaput akson massa putih tanpa merusaknya. Pada keadaan ini absorbsi darah akan diikutioleh pulihnya fungsi-fungsi neurologi. Sedangkan pada perdarahan yang luas terjadi destruksi massa otak, peninggian tekanan intrakranial dan yang lebih berat dapat menyebabkan herniasi otak pada falk serebri atau lewat foramen magnum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian dapat disebabkan oleh kompresi batang otak, hemisfer otak, dan perdarahan batang otak sekunder atau ekstensi perdarahan ke batang otak. Perembesan darah ke ventrikel otak terjadi pada sepertiga kasus perdarahan otak di nukleus kaudatus, talamus dan pons.&lt;br /&gt;Selain kerusakan parenkim otak, akibat volume perdarahan yang relatif banyak akan mengakibatkan peningian tekanan intrakranial dan mentebabkan menurunnya tekanan perfusi otak serta terganggunya drainase otak.&lt;br /&gt;Elemen-elemen vasoaktif darah yang keluar serta kaskade iskemik akibat menurunnya tekanan perfusi, menyebabkan neuron-neuron di daerah yang terkena darah dan sekitarnya tertekan lagi. Jumlah darah yang keluar menentukan prognosis. Apabila volume darah lebih dari 60 cc maka resiko kematian sebesar 93 % pada perdarahan dalam dan 71 % pada perdarahan lobar. Sedangkan bila terjadi perdarahan serebelar dengan volume antara 30-60 cc diperkirakan kemungkinan kematian sebesar 75 % tetapi volume darah 5 cc dan terdapat di pons sudah berakibat fatal. (Jusuf Misbach, 1999)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Dampak masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pada individu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Gangguan perfusi jaringan otak&lt;br /&gt;Akibat adanya sumbatan pembuluh darah otak, perdarahan otak, vasospasme serebral, edema otak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Gangguan mobilitas fisik&lt;br /&gt;Terjadi karena adanya kelemahan, kelumpuhan dan menurunnya persepsi / kognitif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Gangguan komunikasi verbal&lt;br /&gt;Akibat menurunnya/ terhambatnya sirkulasi serebral, kerusakan neuromuskuler, kelemahan otot wajah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Gangguan nutrisi&lt;br /&gt;Akibat adanya kesulitan menelan, kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah, nafsu makan yang menurun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Gangguan eliminasi uri dan alvi&lt;br /&gt;Dapat terjadi akibat klien tidak sadar, dehidrasi, imobilisasi dan hilangnya kontrol miksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Ketidakmampuan perawatan diri&lt;br /&gt;Akibat adanya kelemahan pada salah satu sisi tubuh, kehilangan koordinasi / kontrol otot, menurunnya persepsi kognitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Gangguan psikologis&lt;br /&gt;Dapat berupa emosi labil, mudah marah, kehilangan kontrol diri, ketakutan, perasaan tidak berdaya dan putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) Gangguan penglihatan&lt;br /&gt;Dapat terjadi karena penurunan ketajaman penglihatan dan gangguan lapang pandang.&lt;br /&gt;b Pada keluarga&lt;br /&gt;1) Terjadi kecemasan&lt;br /&gt;2) Masalah biaya&lt;br /&gt;3) Gangguan dalam pekerjaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. KONSEP KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Pengkajian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan untuk mengenal masalah klien, agar dapat memberi arah kepada tindakan keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari tiga kegiatan, yaitu pengumpulan data, pengelompokkan data dan perumusan diagnosis keperawatan. (Lismidar, 1990)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a Pengumpulan data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumpulan data adalah mengumpulkan informasi tentang status kesehatan klien yang menyeluruh mengenai fisik, psikologis, sosial budaya, spiritual, kognitif, tingkat perkembangan, status ekonomi, kemampuan fungsi dan gaya hidup klien. (Marilynn E. Doenges et al, 1998)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Identitas klien&lt;br /&gt;Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, diagnose medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Keluhan utama&lt;br /&gt;Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, dan tidak dapat berkomunikasi. (Jusuf Misbach, 1999)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Riwayat penyakit sekarang&lt;br /&gt;Serangan stroke hemoragik seringkali berlangsung sangat mendadak, pada saat klien sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual, muntah bahkan kejang sampai tidak sadar, disamping gejala kelumpuhan separoh badan atau gangguan fungsi otak yang lain. (Siti Rochani, 2000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Riwayat penyakit dahulu&lt;br /&gt;Adanya riwayat hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung, anemia, riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti koagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, kegemukan. (Donna D. Ignativicius, 1995)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Riwayat penyakit keluarga&lt;br /&gt;Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes militus. (Hendro Susilo, 2000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Riwayat psikososial&lt;br /&gt;Stroke memang suatu penyakit yang sangat mahal. Biaya untuk pemeriksaan, pengobatan dan perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga sehingga faktor biaya ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan pikiran klien dan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Pola-pola fungsi kesehatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat&lt;br /&gt;Biasanya ada riwayat perokok, penggunaan alkohol, penggunaan obat kontrasepsi oral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Pola nutrisi dan metabolisme&lt;br /&gt;Adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun, mual muntah pada fase akut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Pola eliminasi&lt;br /&gt;Biasanya terjadi inkontinensia urine dan pada pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Pola aktivitas dan latihan&lt;br /&gt;Adanya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau paralise/ hemiplegi, mudah lelah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Pola tidur dan istirahat&lt;br /&gt;Biasanya klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena kejang otot/nyeri otot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Pola hubungan dan peran&lt;br /&gt;Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesukaran untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g) Pola persepsi dan konsep diri&lt;br /&gt;Klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah, tidak kooperatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h) Pola sensori dan kognitif&lt;br /&gt;Pada pola sensori klien mengalami gangguan penglihatan/kekaburan pandangan, perabaan/sentuhan menurun pada muka dan ekstremitas yang sakit. Pada pola kognitif biasanya terjadi penurunan memori dan proses berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i) Pola reproduksi seksual&lt;br /&gt;Biasanya terjadi penurunan gairah seksual akibat dari beberapa pengobatan stroke, seperti obat anti kejang, anti hipertensi, antagonis histamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j) Pola penanggulangan stress&lt;br /&gt;Klien biasanya mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah karena gangguan proses berpikir dan kesulitan berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k) Pola tata nilai dan kepercayaan&lt;br /&gt;Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena tingkah laku yang tidak stabil, kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Pemeriksaan Fisik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Keadaan umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Kesadaran : umumnya mengelami penurunan kesadaran&lt;br /&gt;(2) Suara bicara : kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak bisa bicara&lt;br /&gt;(3) Tanda-tanda vital : tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Pemeriksaan integumen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Kulit : jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit kan jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena klien CVA Bleeding harus bed rest 2-3 minggu&lt;br /&gt;(2) Kuku : perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis&lt;br /&gt;(3) Rambut : umumnya tidak ada kelainan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Pemeriksaan kepala dan leher&lt;br /&gt;(1) Kepala : bentuk normocephalik&lt;br /&gt;(2) Muka : umumnya tidak simetris yaitu mencong ke salah satu sisi&lt;br /&gt;(3) Leher : kaku kuduk jarang terjadi (Satyanegara, 1998)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Pemeriksaan dada&lt;br /&gt;Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur akibat penurunan refleks batuk dan menelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Pemeriksaan abdomen&lt;br /&gt;Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest yang lama, dan kadang terdapat kembung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus&lt;br /&gt;Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g) Pemeriksaan ekstremitas&lt;br /&gt;Sering didapatkan kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h) Pemeriksaan neurologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Pemeriksaan nervus cranialis&lt;br /&gt;Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII dan XII central.&lt;br /&gt;(2) Pemeriksaan motorik&lt;br /&gt;Hampir selalu terjadi kelumpuhan/kelemahan pada salah satu sisi tubuh.&lt;br /&gt;(3) Pemeriksaan sensorik&lt;br /&gt;Dapat terjadi hemihipestesi.&lt;br /&gt;(4) Pemeriksaan refleks&lt;br /&gt;Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali didahuli dengan refleks patologis.(Jusuf Misbach, 1999)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) Pemeriksaan penunjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Pemeriksaan radiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) CT scan : didapatkan hiperdens fokal, kadang-kadang masuk ventrikel, atau menyebar ke permukaan otak. (Linardi Widjaja, 1993)&lt;br /&gt;(2) MRI : untuk menunjukkan area yang mengalami hemoragik. (Marilynn E. Doenges, 2000)&lt;br /&gt;(3) Angiografi serebral : untuk mencari sumber perdarahan seperti aneurisma atau malformasi vaskuler. (Satyanegara, 1998)&lt;br /&gt;(4) Pemeriksaan foto thorax : dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita stroke. (Jusuf Misbach, 1999)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Pemeriksaan laboratorium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Pungsi lumbal : pemeriksaan likuor yang merah biasanya dijumpai pada perdarahan yang masif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya warna likuor masih normal (xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama. (Satyanegara, 1998)&lt;br /&gt;(2) Pemeriksaan darah rutin&lt;br /&gt;(3) Pemeriksaan kimia darah : pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula darah dapat mencapai 250 mg dalajm serum dan kemudian berangsur-angsur turun kembali. (Jusuf Misbach, 1999)&lt;br /&gt;(4) Pemeriksaan darah lengkap : unutk mencari kelainan pada darah itu sendiri. (Linardi Widjaja, 1993)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.Analisa data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa data merupakan kegiatan intelektual yang meliputi kegiatan mentabulasi, mengklasifikasi, mengelompokkan, mengkaitkan data dan akhirnya menarik kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c .Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa keperawatan merupaka suatu pernyataan dari masalah pasien yang nyata ataupun potensial dan membutuhkan tindakan keperawatan sehingga masalah pasien dapat ditanggulangi atau dikurangi. (Lismidar, 1990)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Gangguan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan perdarahan intracerebral. (Marilynn E. Doenges, 2000)&lt;br /&gt;2) Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplagia (Donna D. Ignativicius, 1995)&lt;br /&gt;3) Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan sensori, penurunan penglihatan ( Donna D. Ignativicius, 1995)&lt;br /&gt;4) Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan sirkulasi darah otak (Donna D. Ignativicius, 1995)&lt;br /&gt;5) Gangguan eliminasi alvi(konstipasi) berhubungan dengan imobilisasi, intake cairan yang tidak adekuat (Donna D. Ignativicius, 1995)&lt;br /&gt;6) Resiko gangguan nutrisi berhubungan dengan kelemahan otot mengunyah dan menelan ( Barbara Engram, 1998)&lt;br /&gt;7) Kurangnya pemenuhan perawatan diri yang berhubungan dengan hemiparese/hemiplegi (Donna D. Ignativicius, 1995)&lt;br /&gt;8) Resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan tirah baring lama (Barbara Engram, 1998)&lt;br /&gt;9) Resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan penurunan refleks batuk dan menelan.(Lynda Juall Carpenito, 1998)&lt;br /&gt;10) Gangguan eliminasi uri (inkontinensia uri) yang berhubungan dengan lesi pada upper motor neuron (Lynda Juall Carpenito, 1998)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Perencanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah merumuskan diagnosa keperawatan maka perlu dibuat perencanaan intervensi keperawatan dan aktivitas keperawatan. Tujuan perencanaan adalah untuk mengurangi, menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan klien. Tahapan perencanaan keperawatan klien adalah penentuan prioritas diagnosa keperawatan,penetuan tujuan, penetapan kriteria hasil dan menntukan intervensi keperawatan.&lt;br /&gt;Rencana keperawatan dari diagnosa keperawatan diatas adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a Gangguan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan perdarahan intra cerebral&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Tujuan :&lt;br /&gt;Perfusi jaringan otak dapat tercapai secara optimal&lt;br /&gt;2) Kriteria hasil :&lt;br /&gt;- Klien tidak gelisah&lt;br /&gt;- Tidak ada keluhan nyeri kepala, mual, kejang.&lt;br /&gt;- GCS 456&lt;br /&gt;- Pupil isokor, reflek cahaya (+)&lt;br /&gt;- Tanda-tanda vital normal(nadi : 60-100 kali permenit, suhu: 36-36,7 C, pernafasan 16-20 kali permenit)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Rencana tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Berikan penjelasan kepada keluarga klien tentang sebab-sebab peningkatan TIK dan akibatnya&lt;br /&gt;b) Anjurkan kepada klien untuk bed rest totat&lt;br /&gt;c) Observasi dan catat tanda-tanda vital dan kelain tekanan intrakranial tiap dua jam&lt;br /&gt;d) Berikan posisi kepala lebib tinggi 15-30 dengan letak jantung ( beri bantal tipis)&lt;br /&gt;e) Anjurkan klien untuk menghindari batukdan mengejan berlebihan&lt;br /&gt;f) Ciptakan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung&lt;br /&gt;g) Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat neuroprotektor&lt;br /&gt;4) Rasional&lt;br /&gt;a) Keluarga lebih berpartisipasi dalam proses penyembuhan&lt;br /&gt;b) Untuk mencegah perdarahan ulang&lt;br /&gt;c) Mengetahui setiap perubahan yang terjadi pada klien secara dini dan untuk penetapan tindakan yang tepat&lt;br /&gt;d) Mengurangi tekanan arteri dengan meningkatkan draimage vena dan memperbaiki sirkulasi serebral&lt;br /&gt;e) Batuk dan mengejan dapat meningkatkan tekanan intra kranial dan potensial terjadi perdarahan ulang&lt;br /&gt;f) Rangsangan aktivitas yang meningkat dapat meningkatkan kenaikan TIK. Istirahat total dan ketenagngan mingkin diperlukan untuk pencegahan terhadap perdarahan dalam kasus stroke hemoragik / perdarahan lainnya&lt;br /&gt;g) Memperbaiki sel yang masih viabel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplegia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Tujuan :&lt;br /&gt;Klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya&lt;br /&gt;2) Kriteria hasil&lt;br /&gt;- Tidak terjadi kontraktur sendi&lt;br /&gt;- Bertabahnya kekuatan otot&lt;br /&gt;- Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Rencana tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Ubah posisi klien tiap 2 jam&lt;br /&gt;b) Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstrimitas yang tidak sakit&lt;br /&gt;c) Lakukan gerak pasif pada ekstrimitas yang sakit&lt;br /&gt;d) Berikan papan kaki pada ekstrimitas dalam posisi fungsionalnya&lt;br /&gt;e) Tinggikan kepala dan tangan&lt;br /&gt;f) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuklatihan fisik klien&lt;br /&gt;4) Rasional&lt;br /&gt;a) Menurunkan resiko terjadinnya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek pada daerah yang tertekan&lt;br /&gt;b) Gerakan aktif memberikan massa, tonus dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan&lt;br /&gt;c) Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak dilatih untuk digerakkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c Gangguan persepsi sensori baerhubungan dengan penurunan sensori penurunan penglihatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Tujuan :&lt;br /&gt;Meningkatnya persepsi sensorik secara optimal.&lt;br /&gt;2) Kriteria hasil :&lt;br /&gt;- Adanya perubahan kemampuan yang nyata&lt;br /&gt;- Tidak terjadi disorientasi waktu, tempat, orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Rencana tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Tentukan kondisi patologis klien&lt;br /&gt;b) Kaji gangguan penglihatan terhadap perubahan persepsi&lt;br /&gt;c) Latih klien untuk melihat suatu obyek dengan telaten dan seksama&lt;br /&gt;d) Observasi respon perilaku klien, seperti menangis, bahagia, bermusuhan, halusinasi setiap saat&lt;br /&gt;e) Berbicaralah dengan klien secara tenang dan gunakan kalimat-kalimat pendek&lt;br /&gt;4) Rasional&lt;br /&gt;a) Untuk mengetahui tipe dan lokasi yang mengalami gangguan, sebagai penetapan rencana tindakan&lt;br /&gt;b) Untuk mempelajari kendala yang berhubungan dengan disorientasi klien&lt;br /&gt;c) Agar klien tidak kebingungan dan lebih konsentrasi&lt;br /&gt;d) Untuk mengetahui keadaan emosi klien&lt;br /&gt;e) Untuk memfokuskan perhatian klien, sehingga setiap masalah dapat dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan sirkulasi darah otak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Tujuan&lt;br /&gt;Proses komunikasi klien dapat berfungsi secara optimal&lt;br /&gt;2) Kriteria hasil&lt;br /&gt;- Terciptanya suatu komunikasi dimana kebutuhan klien dapat dipenuhi&lt;br /&gt;- Klien mampu merespon setiap berkomunikasi secara verbal maupun isarat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Rencana tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Berikan metode alternatif komunikasi, misal dengan bahasa isarat&lt;br /&gt;b) Antisipasi setiap kebutuhan klien saat berkomunikasi&lt;br /&gt;c) Bicaralah dengan klien secara pelan dan gunakan pertanyaan yang jawabannya “ya” atau “tidak”&lt;br /&gt;d) Anjurkan kepada keluarga untuk tetap berkomunikasi dengan klien&lt;br /&gt;e) Hargai kemampuan klien dalam berkomunikasi&lt;br /&gt;f) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk latihan wicara&lt;br /&gt;4) Rasional&lt;br /&gt;a) Memenuhi kebutuhan komunikasi sesuai dengan kemampuan klien&lt;br /&gt;b) Mencegah rasa putus asa dan ketergantungan pada orang lain&lt;br /&gt;c) Mengurangi kecemasan dan kebingungan pada saat komunikasi&lt;br /&gt;d) Mengurangi isolasi sosial dan meningkatkan komunikasi yang efektif&lt;br /&gt;e) Memberi semangat pada klien agar lebih sering melakukan komunikasi&lt;br /&gt;f) Melatih klien belajar bicara secara mandiri dengan baik dan benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan hemiparese/hemiplegi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Tujuan&lt;br /&gt;Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi&lt;br /&gt;2) Kriteria hasil&lt;br /&gt;- Klien dapat melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan kemampuan klien&lt;br /&gt;- Klien dapat mengidentifikasi sumber pribadi/komunitas untuk memberikan bantuan sesuai kebutuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Rencana tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Tentukan kemampuan dan tingkat kekurangan dalam melakukan perawatan diri&lt;br /&gt;b) Beri motivasi kepada klien untuk tetap melakukan aktivitas dan beri bantuan dengan sikap sungguh&lt;br /&gt;c) Hindari melakukan sesuatu untuk klien yang dapat dilakukan klien sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan&lt;br /&gt;d) Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukannya atau keberhasilannya&lt;br /&gt;e) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi/okupasi&lt;br /&gt;4) Rasional &lt;br /&gt;a) Membantu dalam mengantisipasi/merencanakan pemenuhan kebutuhan secara individual&lt;br /&gt;b) Meningkatkan harga diri dan semangat untuk berusaha terus-menerus&lt;br /&gt;c) Klien mungkin menjadi sangat ketakutan dan sangat tergantung dan meskipun bantuan yang diberikan bermanfaat dalam mencegah frustasi, adalah penting bagi klien untuk melakukan sebanyak mungkin untuk diri-sendiri untuk emepertahankan harga diri dan meningkatkan pemulihan&lt;br /&gt;d) Meningkatkan perasaan makna diri dan kemandirian serta mendorong klien untuk berusaha secara kontinyu&lt;br /&gt;e) Memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi dan mengidentifikasi kebutuhan alat penyokong khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f .Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan otot mengunyah dan menelan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Tujuan&lt;br /&gt;Tidak terjadi gangguan nutrisi&lt;br /&gt;2) Kriteria hasil&lt;br /&gt;- Berat badan dapat dipertahankan/ditingkatkan&lt;br /&gt;- Hb dan albumin dalam batas normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Rencana tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Tentukan kemampuan klien dalam mengunyah, menelan dan reflek batuk&lt;br /&gt;b) Letakkan posisi kepala lebih tinggi pada waktu, seama dan sesudah makan&lt;br /&gt;c) Stimulasi bibir untuk menutup dan membuka mulut secara manual dengan menekan ringan diatas bibir/dibawah gagu jika dibutuhkan&lt;br /&gt;d) Letakkan makanan pada daerah mulut yang tidak terganggu&lt;br /&gt;e) Berikan makan dengan berlahan pada lingkungan yang tenang&lt;br /&gt;f) Mulailah untuk memberikan makan peroral setengah cair, makan lunak ketika klien dapat menelan air&lt;br /&gt;g) Anjurkan klien menggunakan sedotan meminum cairan&lt;br /&gt;h) Anjurkan klien untuk berpartisipasidalam program latihan/kegiatan&lt;br /&gt;i) Kolaborasi dengan tim dokter untuk memberikan ciran melalui iv atau makanan melalui selang &lt;br /&gt;4) Rasional &lt;br /&gt;a) Untuk menetapkan jenis makanan yang akan diberikan pada klien&lt;br /&gt;b) Untuk klien lebih mudah untuk menelan karena gaya gravitasi&lt;br /&gt;c) Membantu dalam melatih kembali sensori dan meningkatkan kontrol muskuler&lt;br /&gt;d) Memberikan stimulasi sensori (termasuk rasa kecap) yang dapat mencetuskan usaha untuk menelan dan meningkatkan masukan&lt;br /&gt;e) Klien dapat berkonsentrasi pada mekanisme makan tanpa adanya distraksi/gangguan dari luar&lt;br /&gt;f) Makan lunak/cairan kental mudah untuk mengendalikannya didalam mulut, menurunkan terjadinya aspirasi&lt;br /&gt;g) Menguatkan otot fasial dan dan otot menelan dan merunkan resiko terjadinya tersedak&lt;br /&gt;h) Dapat meningkatkan pelepasan endorfin dalam otak yang meningkatkan nafsu makan&lt;br /&gt;i) Mungkin diperlukan untuk memberikan cairan pengganti dan juga makanan jika klien tidak mampu untuk memasukkan segala sesuatu melalui mulut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubngan dengan imobilisasi, intake cairan yang tidak adekuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Tujuan&lt;br /&gt;Klien tidak mengalami kopnstipasi&lt;br /&gt;2) Kriteria hasil&lt;br /&gt;- Klien dapat defekasi secara spontan dan lancar tanpa menggunakan obat&lt;br /&gt;- Konsistensifses lunak&lt;br /&gt;- Tidak teraba masa pada kolon ( scibala )&lt;br /&gt;- Bising usus normal ( 15-30 kali permenit )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Rencana tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyebab konstipasi&lt;br /&gt;b) Auskultasi bising usus&lt;br /&gt;c) Anjurkan pada klien untuk makan maknanan yang mengandung serat&lt;br /&gt;d) Berikan intake cairan yang cukup (2 liter perhari) jika tidak ada kontraindikasi&lt;br /&gt;e) Lakukan mobilisasi sesuai dengan keadaan klien&lt;br /&gt;f) Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian pelunak feses (laxatif, suppositoria, enema)&lt;br /&gt;4) Rasional &lt;br /&gt;a) Klien dan keluarga akan mengerti tentang penyebab obstipasi&lt;br /&gt;b) Bising usu menandakan sifat aktivitas peristaltik&lt;br /&gt;c) Diit seimbang tinggi kandungan serat merangsang peristaltik dan eliminasi reguler&lt;br /&gt;d) Masukan cairan adekuat membantu mempertahankan konsistensi feses yang sesuai pada usus dan membantu eliminasi reguler&lt;br /&gt;e) Aktivitas fisik reguler membantu eliminasi dengan memperbaiki tonus oto abdomen dan merangsang nafsu makan dan peristaltik&lt;br /&gt;f) Pelunak feses meningkatkan efisiensi pembasahan air usus, yang melunakkan massa feses dan membantu eliminasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h.Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Tujuan&lt;br /&gt;Klien mampu mempertahankan keutuhan kulit&lt;br /&gt;2) Kriteria hasil&lt;br /&gt;- Klien mau berpartisipasi terhadap pencegahan luka&lt;br /&gt;- Klien mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka&lt;br /&gt;- Tidak ada tanda-tanda kemerahan atau luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Rencana tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Anjurkan untuk melakukan latihan ROM (range of motion) dan mobilisasi jika mungkin&lt;br /&gt;b) Rubah posisi tiap 2 jam&lt;br /&gt;c) Gunakan bantal air atau pengganjal yang lunak di bawah daerah-daerah yang menonjol&lt;br /&gt;d) Lakukan massage pada daerah yang menonjol yang baru mengalami tekanan pada waktu berubah posisi&lt;br /&gt;e) Observasi terhadap eritema dan kepucatan dan palpasi area sekitar terhadap kehangatan dan pelunakan jaringan tiap merubah posisi&lt;br /&gt;f) Jaga kebersihan kulit dan seminimal mungkin hindari trauma, panas terhadap kulit&lt;br /&gt;4) Rasional &lt;br /&gt;a) Meningkatkan aliran darah kesemua daerah&lt;br /&gt;b) Menghindari tekanan dan meningkatkan aliran darah&lt;br /&gt;c) Menghindari tekanan yang berlebih pada daerah yang menonjol&lt;br /&gt;d) Menghindari kerusakan-kerusakan kapiler-kapiler&lt;br /&gt;e) Hangat dan pelunakan adalah tanda kerusakan jaringan&lt;br /&gt;f) Mempertahankan keutuhan kulit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i .Resiko terjadinya ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan menurunnya refleks batuk dan menelan, imobilisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Tujuan :&lt;br /&gt;Jalan nafas tetap efektif.&lt;br /&gt;2) Kriteria hasil :&lt;br /&gt;- Klien tidak sesak nafas&lt;br /&gt;- Tidak terdapat ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan&lt;br /&gt;- Tidak retraksi otot bantu pernafasan&lt;br /&gt;- Pernafasan teratur, RR 16-20 x per menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Rencana tindakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang sebab dan akibat ketidakefektifan jalan nafas&lt;br /&gt;b) Rubah posisi tiap 2 jam sekali&lt;br /&gt;c) Berikan intake yang adekuat (2000 cc per hari)&lt;br /&gt;d) Observasi pola dan frekuensi nafas&lt;br /&gt;e) Auskultasi suara nafas&lt;br /&gt;f) Lakukan fisioterapi nafas sesuai dengan keadaan umum klien&lt;br /&gt;4) Rasional :&lt;br /&gt;a) Klien dan keluarga mau berpartisipasi dalam mencegah terjadinya ketidakefektifan bersihan jalan nafas&lt;br /&gt;b) Perubahan posisi dapat melepaskan sekret darim saluran pernafasan&lt;br /&gt;c) Air yang cukup dapat mengencerkan sekret&lt;br /&gt;d) Untuk mengetahui ada tidaknya ketidakefektifan jalan nafas&lt;br /&gt;e) Untuk mengetahui adanya kelainan suara nafas&lt;br /&gt;f) Agar dapat melepaskan sekret dan mengembangkan paru-paru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j.Gangguan eliminasi uri (incontinensia uri) yang berhubungan dengan kehilangan tonus kandung kemih, kehilangan kontrol sfingter, hilangnya isarat berkemih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Tujuan :&lt;br /&gt;Klien mampu mengontrol eliminasi urinya&lt;br /&gt;2) Kriteria hasil :&lt;br /&gt;- Klien akan melaporkan penurunan atau hilangnya inkontinensia&lt;br /&gt;- Tidak ada distensi bladder&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Rencana tindakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Identifikasi pola berkemih dan kembangkan jadwal berkemih sering&lt;br /&gt;b) Ajarkan untuk membatasi masukan cairan selama malam hari&lt;br /&gt;c) Ajarkan teknik untuk mencetuskan refleks berkemih (rangsangan kutaneus dengan penepukan suprapubik, manuver regangan anal)&lt;br /&gt;d) Bila masih terjadi inkontinensia, kurangi waktu antara berkemih pada jadwal yang telah direncanakan&lt;br /&gt;e) Berikan penjelasan tentang pentingnya hidrasi optimal (sedikitnya 2000 cc per hari bila tidak ada kontraindikasi)&lt;br /&gt;4) Rasional :&lt;br /&gt;a) Berkemih yang sering dapat mengurangi dorongan dari distensi kandung kemih yang berlebih&lt;br /&gt;b) Pembatasan cairan pada malam hari dapat membantu mencegah enuresis&lt;br /&gt;c) Untuk melatih dan membantu pengosongan kandung kemih&lt;br /&gt;d) Kapasitas kandung kemih mungkin tidak cukup untuk menampung volume urine sehingga memerlukanuntuk lebih sering berkemih&lt;br /&gt;e) Hidrasi optimal diperlukan untuk mencegah infeksi saluran perkemihan dan batu ginjal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Pelaksanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan asuhan keperawatan ini merupakan realisasi dari rencana tindakan keperawatan yang diberikan pada klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi merupakan langkah akhir dalam proses keperawatan. Evaluasi adalah kegiatan yang di sengaja dan terus-menerus dengan melibatkan klien, perawat, dan anggota tim kesehatan lainnya. Dalam hal ini diperlukan pengetahuan tentang kesehatan, patofisiologi, dan strategi evaluasi. Tujuan evaluasi adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang. (Lismidar, 1990)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-1827354476225144214?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/1827354476225144214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=1827354476225144214&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/1827354476225144214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/1827354476225144214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/06/askep-strok.html' title='ASKEP STROK'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-8416621332022559768</id><published>2010-06-10T04:50:00.001-07:00</published><updated>2010-06-10T04:50:47.842-07:00</updated><title type='text'>ASKEP JIWA DENGAN HDR</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Dalam hidup dan kehidupan kita sering dinasehati tentang kepemilikan harga diri. Tiap manusia yang ada di dunia ini pasti memiliki harga diri dan tentunya masing-masing orang selalu menginginkan harga diri yang tinggi. Dalam proses pertumbuhan dan proses kehidupan kita, ternyata tidak mudah dalam membentuk sikap diri yang positif. Karena kita mungkin mempunyai pandangan yang tidak menyenangkan terhadap diri kita sendiri karena pengaruh komentar teman-teman, ortu, saudara atau orang lain. Bisa juga karena kita merasa gagal, tidak dapat berbuat apa-apa, merasa tidak dapat bertanggung jawab terhadap sesuatu yang ditugaskan, atau tidak bisa berkata jujur dan sebagainya.&lt;br /&gt;Seorang perawat adalah sebagai tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat umum. Dalam menghadapi pasien, seorang perawat harus memahami perbedaan-perbedaan harga diri yang ingin dipertahankan oleh setiap pasien.&lt;br /&gt;Perawat harus bertindak sopan , murah senyum, dan menjaga perasaan pasien. Ini harus dilakukan karena perawat adalah membantu dalam proses penyembuhan pasien bukan memperburuk keadaan. Dengan adanya saling percaya antara perawat dengan pasien maka diharapkan seorang perawat bisa menjalin hubungan yang lebih akrab dengan pasien.&lt;br /&gt;Dengan hubungan baik ini, maka akan terjalin sikap saling menghormati dan menghargai diantara keduanya. Dengan demikian akan mempermudah perawat dalam melakukan asuhan keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;KONSEP DASAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian&lt;br /&gt;1. Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisis seberapa sesuai perilaku dengan ideal diri. (Stuart, 2005).&lt;br /&gt;2. Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri dan berkepanjangan akibat evaluasi negative terhadap diri sendiri dan kemampuan diri ( Budi Anna Keliat, 2000)&lt;br /&gt;3. Harga diri rendah adalah cenderung untuk memilih dirinya negative dan merasa lebih rendah dari orang lain (Hamid Achir Yani, 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Penyebab &lt;br /&gt;Menurut Suliswati, 2005 bahwa factor predisposisi gangguan harga diri adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;1. Penolakan dari orang lain&lt;br /&gt;2. Kurang penghargaan&lt;br /&gt;3. Pola asuh yang salah; terlalu dilarang, terlalu dikontrol, terlalu dituruti, terlalu dituntut dan tidak konsisten&lt;br /&gt;4. Persaingan antar keluarga&lt;br /&gt;5. Kesalahan dan kegagalan yang berulang&lt;br /&gt;6. Tidak mampu mencapai standar yang ditentukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tanda dan gejala harga diri rendah&lt;br /&gt;Menurut Suliswati, 2005 tanda dan gejala harga diri rendah yaitu:&lt;br /&gt;1. Merasa dirinya lebih rendah dibandingkan dengan orang lain &lt;br /&gt;2. Mengkritik diri sendiri dan atau orang lain&lt;br /&gt;3. penurunan produktivitas&lt;br /&gt;4. Destruktif yang diarahkan pada orang lain&lt;br /&gt;5. Gangguan dalam berhubungan&lt;br /&gt;6. Rasa diri penting yang berlebihan&lt;br /&gt;7. Perasaan tidak mampu&lt;br /&gt;8. Rasa bersalah&lt;br /&gt;9. Ketegangan peran yang dirasakan&lt;br /&gt;10. Pandangan hidup yang pesimis&lt;br /&gt;11. Keluhan fisik&lt;br /&gt;12. Pandangan hidup yang bertentangan &lt;br /&gt;13. penolakan terhadap kemampuan personal&lt;br /&gt;14. Destruktif terhadap diri sendiri&lt;br /&gt;15. Pengurangan diri&lt;br /&gt;16. Menarik diri secara social&lt;br /&gt;17. Penyalahgunaan zat&lt;br /&gt;18. Menarik diri dari realitas&lt;br /&gt;19. Khawatir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Rentan Respon Konsep Diri&lt;br /&gt;Respon individu terhadap respon dirinya berfluktasi sepanjang rentan konsep diri yaitu adaptif sampai maladaptive (Budi Anna, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon adaptif   Respon maladptif&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktualialisasi konsep diri Harga diri Kekacauan Deporsonalisai &lt;br /&gt;Diri  Positif rendah identitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Aktualisasi diri adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan latar belakang pengalama nyata yang sukses dan dapat diterima.&lt;br /&gt;2. konsep diri positif apabila individu mempunyai pengalaman yang positif dalam beraktualitas diri.&lt;br /&gt;3.  Harga diri rendah adalah individu cenderung untuk memilih dirinya negative dan merasa lebih rendah dari orang lain.&lt;br /&gt;4. Kekacauan identitas adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek dari masa kanak-kanak ke dalam kematangan aspek psikologis kepribadian apda masa dewasa yang harmonis.&lt;br /&gt;5. Deporsonalisasi adalah perasaan yang tidak realististis  dan asing terhadap diri sendiri dan berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat membedakan dirinya dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Penatalaksanaan&lt;br /&gt; Farmakoterapi &lt;br /&gt;a. Chlorpromazine &lt;br /&gt;1) Indikasi&lt;br /&gt;Untuk sindrom psikosis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realitas, kesadaran diri terganggu, berdaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari, daya nilai norma daqn sosial dan tilik diri terganggu, tidak mampu bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin.&lt;br /&gt;2) Mekanisme kerja&lt;br /&gt;    Memblokade dopamine pada reseptor paska&lt;br /&gt;3) Efek samping &lt;br /&gt;Sedasi, gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/parasimpatik, mulut kering, kesulitan dalam miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intra okuler meninggi, gangguan irama jantung), gangguan ekstra pyramidal (distonia akut, akathsia, sindroma Parkinson/tremor, bradikinesia  rigiditas), gangguan endokrin, metabolic, hematologik, agranulosis, biasanya untuk pemakaian jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Kontra indikasi&lt;br /&gt;Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran disebabkan CNS Depresan.&lt;br /&gt;b. Haloperidol (HLP)&lt;br /&gt;1) Indikasi&lt;br /&gt;Berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi netral serta dalam fumgsi kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;2) Mekanisme kerja&lt;br /&gt;Obat anti psikosia dalam memblokade dopamine pada reseptor paska sinaptik neuron di otak khususnya system limbik dan system ekstra piramidal.&lt;br /&gt;3) Efek samping&lt;br /&gt;Sedasi dan inhibisi psikomotor, gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/parasimpatik, mulut kering, kesulitan miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intraokuler meninggi, gangguan irama jantung).&lt;br /&gt;4) Kontra indikasi&lt;br /&gt;Penyakit hati, penyakit darah, epilepsy, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran.&lt;br /&gt;c. Trihexyphenidyl (THP)&lt;br /&gt;1) Indikasi&lt;br /&gt;Segala jenis penyakit parkinson, termasuk paska ensepalitis dan ideopatik, sindrom Parkinson, akibat obat misalnya reserpin dan fenotiazine.&lt;br /&gt;2) Mekanisme kerja&lt;br /&gt;Obat ini psikosis dalam memblokade dopamine pada eseptor paska sinaptik neuron di otak khususnya system limbic dan system ekstra pyramidal. &lt;br /&gt;3) Efek samping&lt;br /&gt; Sedasi dan inhibisi psikomotorik&lt;br /&gt;Gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/parasimpatik, mulut kering, kesulitan miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intraokuler meninggi, gangguan irama jantung).&lt;br /&gt;4)  Kontra indikasi&lt;br /&gt;Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran.&lt;br /&gt; Terapi aktivitas kelompok&lt;br /&gt;Terapi aktivitas kelompok yang dapat dilakukan untuk klien dengan harga diri rendah adalah TAK  stimulasi persepsiyaitu mengidentifikasi hal positif diri dan melatih menggunakan aspek positif diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;KONSEP KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengkajian&lt;br /&gt;Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atas masalah klien.&lt;br /&gt;Data yang didapatkan dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu:&lt;br /&gt;1. Data subyek adalah data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga. Data ini didapatkan melalui wawancara perawat, klien dan keluarga.&lt;br /&gt;2. Data obyektif yang ditemukan secara nyata. Data ini didapatkan melalui observasi atau pemeriksaan langsung oleh perawat.&lt;br /&gt;Menurut Suliswati, 2005 pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. &lt;br /&gt;1. Faktor predisposisi&lt;br /&gt;Berbagai faktor penunjang terjadinya perubahan konsep diri pada seseorang, faktor ini dapat dibagi sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Faktor yang mempengaruhi harga diri&lt;br /&gt;  Penolakan dari orang lain&lt;br /&gt; Kurang penghargaan&lt;br /&gt; Pola asuh yang salah: terlalu dilarang, terlalu dikontrol, terlalu dituruti, terlalu dituntut dan tidak konsisten&lt;br /&gt; Persaingan antar saudara&lt;br /&gt; Kesalahan dan kegagalan yang berulang&lt;br /&gt; Tidak mampu mencapai standar yang ditentukan.&lt;br /&gt;b. Faktor yang mempengaruhi citra tubuh:&lt;br /&gt; Kehilangan atau kerusakan bagian tubuh (anatomi dan fungsi)&lt;br /&gt; Perubahan ukuran, bentuk dan penampilan tubuh&lt;br /&gt; Proses patologik penyakit dan dampaknya terhadap struktur maupun fungsi tubuh&lt;br /&gt; Prosedur pengobatan seperti radiasi, kemoterapi, transplantasi.&lt;br /&gt;c. Faktor yang mempengaruhi identitas diri:&lt;br /&gt; Ketidak percayaan orang tua kepada anak&lt;br /&gt; Tekanan dari teman sebaya&lt;br /&gt; Perubahan struktur sosial &lt;br /&gt;2. faktor presipitasi&lt;br /&gt;a. Trauma&lt;br /&gt;Masalah spesifik sehubungan dengan konsep diri adalah situasi yang membuat individu sulit menyesuaikan diri atau tidak dapat menerima khususnya trauma emosi seperti penganiayaan fisik, seksual dan psikologis pada masa anak-anak  atau merasa terancam kehidupannya atau menyksikan kejadian berupa tindakan kejahatan.&lt;br /&gt;b. Ketegangan peran&lt;br /&gt;Ketegangan peran adalah peranan frustasi ketika individu merasa tidak adekuat melakukan peran yang bertentangan dengan hatinya atau tidak merasa cocok dalam melakukan perannya.&lt;br /&gt;3. Perilaku &lt;br /&gt;a. Perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah &lt;br /&gt; Mengkritik diri sendiri&lt;br /&gt; Merasa bersalah dan khawatir&lt;br /&gt; Merasa bersalah dan tidak mampu&lt;br /&gt; Menunda keputusan&lt;br /&gt; Gangguan berhubungan &lt;br /&gt; Menarik diri dari realita&lt;br /&gt; Merusak diri&lt;br /&gt; Membesar-besarkan diri sebagai orang penting&lt;br /&gt; Perasaan negatife terhadap tubuh&lt;br /&gt; Ketegangan peran&lt;br /&gt; Pesimis menghadapi hidup&lt;br /&gt; Keluhan fisik&lt;br /&gt; Penyalahgunaan zat&lt;br /&gt;b. Perilaku yang berhubungan dengan depersonalisasi&lt;br /&gt;Afek&lt;br /&gt; Kehilangan identitas diri &lt;br /&gt; Merasa asing dengan diri sendiri&lt;br /&gt; Perasaan tidak nyata&lt;br /&gt; Merasa sangat terisolasi&lt;br /&gt; Tidak ada perasaan berkesinambungan&lt;br /&gt; Tidak mampu mencari kesenangan&lt;br /&gt;Persepsi&lt;br /&gt; Halusinasi&lt;br /&gt; Kekacauan identitas&lt;br /&gt; Sulit membedakan diri dengan orang lain&lt;br /&gt; Gangguan citra tubuh&lt;br /&gt; Menjalani kehidupan seperti dalam mimpi&lt;br /&gt;Kognitif&lt;br /&gt; Bingung &lt;br /&gt; Disorientasi waktu&lt;br /&gt; Gangguan berpikir&lt;br /&gt; Gangguan daya ingat&lt;br /&gt; Gangguan penilaian&lt;br /&gt;Perilaku&lt;br /&gt; Pasif&lt;br /&gt; Komunikasi tidak sesuai&lt;br /&gt; Kurang spontanitas&lt;br /&gt; Kurang pengendalian diri&lt;br /&gt; Kurang mampu membuat keputusan&lt;br /&gt; Menarik diri dari hubungan sosial &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme koping&lt;br /&gt;Klien gangguan konsep diri menggunakan mekanisme koping yang dapat dikategorikan sebagai berikut: &lt;br /&gt;a. Koping jangka pendek&lt;br /&gt; Aktivitas yang dapat memberikan kesempatan lari sementara dari krisis&lt;br /&gt; Aktivitas yang memberikan identitas pengganti sementara&lt;br /&gt; Aktivitas yang memberi kekuatan atau dukungan sementara terhadap konsep diri&lt;br /&gt; Aktivitas yang mewakili jarak pendek untuk membuat masalah  identitas menjadi kurang berarti dalam kehidupan&lt;br /&gt;b. Koping jangka panjang&lt;br /&gt; Penutupan identitas&lt;br /&gt;Adopsi identitas premature yang diinginkan oleh orang penting bagi individu tanpa memperhatikan keinginan, aspirasi dan potensi individu.&lt;br /&gt; Identitas negatif&lt;br /&gt;Asumsi identitas yang tidak wajar untuk dapat diterima oleh nilai-nilai dan harapan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Masalah Keperawatan&lt;br /&gt;Menurut Budi Anna Keliat, 2000 adapun masalah keperawatan yang bisa muncul pada harga diri rendah antara lain:&lt;br /&gt;1. Harga diri rendah&lt;br /&gt;2. Gangguan citra tubuh&lt;br /&gt;3. Ideal diri tidak realistis&lt;br /&gt;4. Gangguan identitas personal&lt;br /&gt;5. Perubahan penampilan peran&lt;br /&gt;6. Ketidak berdayaan&lt;br /&gt;7. isolasi sosial&lt;br /&gt;8. Berduka disfungsional&lt;br /&gt;Pohon Masalah&lt;br /&gt;Menurut Budi Anna Keliat, 2000 pohon masalah dari klien dengan harga diri rendah sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek/akibat……………………………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah utama………………………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etiologi ……………………………………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;1. Harga diri rendah&lt;br /&gt;2. Isolasi sosial&lt;br /&gt;3. Defisit perawatan diri&lt;br /&gt;4. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Rencana keperawatan&lt;br /&gt;Dx.1 Harga diri rendah&lt;br /&gt;Tujuan umum: klien mampu berinteraksi dengan lingkungan&lt;br /&gt;SP I p&lt;br /&gt;1. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki&lt;br /&gt;2. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan&lt;br /&gt;3. Klien dapat menetapkan perencanaan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria hasil:&lt;br /&gt;1. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki (aspek intelektual, aspek sosial budaya, aspek fisik dan aspek emosional)&lt;br /&gt;2. Klien dapat menyebutkan kemampuan yang dapat digunakan &lt;br /&gt;3. klien dapat membuat rencana kegiatan harian  &lt;br /&gt;Intervensi &lt;br /&gt;1. Identifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien&lt;br /&gt;Rasional: mengingatkan bahwa klien manusia biasa&lt;br /&gt;2. Bantu klien menilai kemampuan klien yang masih dapat digunakan&lt;br /&gt;Rasional: Memberi kesempatan klien untuk menilai dirinya.&lt;br /&gt;3. Bantu klien memilih kegiatan yang akan dilatih sesuai kemampuan klien.&lt;br /&gt;Rasional: membantu klien dalam membentuk harapan yang realita&lt;br /&gt;4. Latih pasien sesuai kemampuan yang dipilih.&lt;br /&gt;Rasional: meningkatkan harga diri klien&lt;br /&gt;5. Berikan pujian yang wajar terhadap jeberhasilan klien.&lt;br /&gt;Rasional: memberikan harapan dan meningkatkan rasa percaya diri klien&lt;br /&gt;SP II p&lt;br /&gt;Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.&lt;br /&gt;Kriteria hasil:&lt;br /&gt;Klien melakukan kegiatan sesuai kemampuan dan dalam kondisi sakit&lt;br /&gt;Intervensi:&lt;br /&gt;1. Evaluasi jadwal kegiatan harian klien&lt;br /&gt;Rasional: Untuk mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan klien&lt;br /&gt;2. Latih kemampuan kedua.&lt;br /&gt;Rasional: Mengetahui sampai dimana realita dan harapan klien.&lt;br /&gt;3. Anjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.&lt;br /&gt;Rasional: Motivasi klien untuk melakukan kegiatan selanjutnya.&lt;br /&gt;SP I k&lt;br /&gt;1. Klien dapat memberdayakan system pendukung atau keluarga&lt;br /&gt;2. keluarga dapat memahami pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah yang dialami klien beserta proses terjadinya.&lt;br /&gt;Kriteria hasil: &lt;br /&gt;1. Keluarga dapat mengungkapkan perasaannya selama merawat klien&lt;br /&gt;2. keluarga menyebutkan pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah beserta proses terjadinya &lt;br /&gt;Intervensi;&lt;br /&gt;1. Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien.&lt;br /&gt;Rasional: Mengetahui masalah-masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat klien.&lt;br /&gt;2. Jelaskan pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah yang dialami klien beserta proses terjadinya.&lt;br /&gt;Rasional: meningkatkan pengetahuan keluarga mengenai harga diri rendah.&lt;br /&gt;3. Jelaskan cara-cara merawat klien dengan harga diri rendah&lt;br /&gt;Rasional: Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang cara merawat klien.&lt;br /&gt;SP II k&lt;br /&gt;Keluarga dapat mengetahui cara merawat pasien dengan harga diri rendah. &lt;br /&gt;Kriteria evaluasi:&lt;br /&gt;1. Keluarga mampu mendemonstrasikan cara perawatan klien dengan harga diri rendah.&lt;br /&gt;2. Keluarga dapat berpartisipasi dalam perawatan klien dengan harga diri rendah.&lt;br /&gt;Intervensi:&lt;br /&gt;1. Latih keluarga mempraktikkan cara merawat klien dengan harga diri rendah.&lt;br /&gt;Rasional: menambah pengetahuan keluarga dalam merawat klien di rumah&lt;br /&gt;2. Latih keluarga cara merawat langsung kepada klien dengan harga diri rendah.&lt;br /&gt;Rasional: membantu dalam proses pemulihan klien.&lt;br /&gt;SP III k&lt;br /&gt;Klien mendapat motivasi dari keluarga berupa nasehat atau dukungan moril.&lt;br /&gt;Kriteria hasil:&lt;br /&gt;1. Klien memiliki jadwal kegiatan harian di rumah.&lt;br /&gt;2. Klien teratur dalam meminum obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi: &lt;br /&gt;1. Bantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning).&lt;br /&gt;Rasional: Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang penggunaan obat dengan teratur dan kontrol ulang secara teratur. &lt;br /&gt;2. Jelaskan follow up klien setelah pulang.&lt;br /&gt;Rasional: Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang kondisi klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dx.2 Isolasi sosial&lt;br /&gt;Tujuan umum: Klien mampu berinteraksi dengan lingkungan.&lt;br /&gt;SP I p: &lt;br /&gt;Klien dapat mengidentifikasi penyebab menarik diri.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi: &lt;br /&gt;Klien dapat menyebutkan: &lt;br /&gt;1. Penyebab menarik diri&lt;br /&gt;2. Keuntungan berinteraksi dengan orang lain.&lt;br /&gt;3. Kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain.&lt;br /&gt;Intervensi: &lt;br /&gt;1. Identifikasi penyebab isolasi sosial klien.&lt;br /&gt;Rasional: Mengetahui sejauh mana pengetahuan klien tentang menarik diri sehingga perawat dapat merencanakan intervensi selanjutnya.&lt;br /&gt;2. Berdiskusi dengan klien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain.&lt;br /&gt;Rasional: menilai pendapat/persepsi klien mengenai keuntungan dari menarik diri.&lt;br /&gt;3. Berdiskusi dengan klien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain.&lt;br /&gt;Rasional: menilai pendapat/persepsi klien mengenai kerugian dari menarik diri.&lt;br /&gt;4. Ajarkan klien cara berkenalan dengan satu orang&lt;br /&gt;Rasional: mungkin klien merasa tidak nyaman, malu atau tidak mampu berhubungan sehingga perlu dilatih secara bertahap dalam berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;5. Anjurkan klien memasukkan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian.&lt;br /&gt;Rasional: Untuk meningkatkan harga diri klien. Mengetahui sejauh mana manfaat yang dirasakan klien dalam berhubungan.&lt;br /&gt;SP II p&lt;br /&gt;Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi :&lt;br /&gt;1. Klien dapat membuat jadwal kegiatan harian.&lt;br /&gt;2. Klien dapat mendemonstrasikan hubungan sosial bertahap.&lt;br /&gt;Intervensi:&lt;br /&gt;1. Evaluasi jadwal kegiatan harian klien.&lt;br /&gt;Rasional: Untuk mengetahui sejauh mana klien dapat membina hubungan dengan oranglain.&lt;br /&gt;2. Berikan kesempatam kepada klien mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang.&lt;br /&gt;Rasional: melatih klien untuk berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;3. Bantu kien memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian.&lt;br /&gt;Rasional: Untuk meningkatkan harga diri klien.&lt;br /&gt;SP III p&lt;br /&gt;Klien dapat mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi: &lt;br /&gt;1. Klien dapat membuat jadwal kegiatan harian.&lt;br /&gt;2. Klien dapat memasukkan cara berkenalan dengan orang lain dalam jadwal kegiatan harian.&lt;br /&gt;Intervensi: &lt;br /&gt;1. Evaluasi jadwal kegiatan harian.&lt;br /&gt;Rasional: Untuk mengetahui sejauh mana klien dapat membina hubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;2. Berikan kesempatan kepada klien berkenalan dengan dua orang atau lebih.&lt;br /&gt;Rasional: Melatih klilen untuk berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;3. Anjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.&lt;br /&gt;Rasional: meningkatkan kemampuan dalam menyusun kegiatan secara bertahap.&lt;br /&gt;SP I k&lt;br /&gt;Keluarga dapat memberdayakan system pendukung atau keluarga.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi:&lt;br /&gt;1. Keluarga dapat menjelaskan perasaannya.&lt;br /&gt;2. Keluarga dapat menjelaskan pengertian, tanda dan gejala menarik diri.&lt;br /&gt;3. Keluarga dapat mempraktekkan cara merawat klien menarik diri.&lt;br /&gt;Intervensi:&lt;br /&gt;1. Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien&lt;br /&gt;Rasional: Untuk mengurangi beban psikologis sehingga masalah hilang atau berkurang.&lt;br /&gt;2. Jelaskan pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah yang dialami klien beserta proses terjadinya.&lt;br /&gt;Rasional: Meningkatkan keterampilan keluarga tentang menarik diri.&lt;br /&gt;3. Jelaskan cara-cara merawat klien dengan harga diri rendah.&lt;br /&gt;Rasional: Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang cara merawat klien merawat diri.&lt;br /&gt;SP II k&lt;br /&gt;Keluarga dapat memberdayakan system pendukung atau keluarga&lt;br /&gt;Intervensi: &lt;br /&gt;1. Latih keluarga mempraktekkan cara merawat klien dengan harga diri rendah.&lt;br /&gt;Rasional: meningkatkan keterampilan keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah.&lt;br /&gt;2. Latih keluarga melakukan cara merawat langsung klien dengan harga diri rendah.&lt;br /&gt;Rasional: Meningkatkan keterampilan keluarga tentang cara merawat klien menarik diri.&lt;br /&gt;SP III k&lt;br /&gt;Keluarga dapat memberdayakan system pendukung atau keluarga.&lt;br /&gt;Intervensi: &lt;br /&gt;1. Bantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning).&lt;br /&gt;Rasional: Membantu perawatan klien dengan farmaakologi.&lt;br /&gt;2. Jelaskan follow up klien setelah pulang.&lt;br /&gt;Rasional: Meningkatka pengetahuan akan pentingnya follow up.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Implementasi&lt;br /&gt;Implementasi adalah tindakan keperawatan yang disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan, sebelumnya melakukan tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana dan tindakan sesuai dengan kebutuhan klien dengan kondisinya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Evaluasi&lt;br /&gt;Evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus-menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Menurut Budi Anna Keliat, bahwa hasil akhir yang diharapkan pada klien dengan harga diri rendah adalah:&lt;br /&gt;1. Kllien dapat mengungkapkan perasaannya terhadap penyakit yang diderita&lt;br /&gt;2. Klien dapat menyebutkan aspek positif dan kemampuan dirinya.&lt;br /&gt;3. Klien berperan serta dalam perawatan dirinya.&lt;br /&gt;4. Klien percaya diri dengan menetapkan keinginan dan tujuan yang realitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt; PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;br /&gt;Gangguan harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif yang dapat secara langsung atau tidak langsung diekspresikan ( Townsend, 1998 ). Menurut Schult &amp; Videbeck ( 1998 ), gangguan harga diri rendah adalah penilaian negatif seseorang terhadap diiri dan kemampuan, yang diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan. (Budi Ana Keliat, 1999). Jadi dapat disimpulkan bahwa perasaan negatif terhadap diri sendiri yang dapat diekspresikan secara langsung dan tak langsung.hal ini ditandai dengan adanya upaya menarik diri dari lingkungannya,yang disebabkan dari harga diri rendah yaitu berduka disfungsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Saran&lt;br /&gt;Bermutu atau tidaknya pelayanan Keperawatan di suatu Rumah Sakit sangat bergantung pada kerjasama antar Perawat itu sendiri. Apabila tidak adanya suatu hubungan yang baik antara sesama anggota dan klien maka akan sulit membangun kepercayaan masyarakat dalam Asuhan Keperawatan yang diberikan. Agar kinerja dalam keperawatan berjalan dengan efektif maka seorang perawat juga perlu memahami setiap karakter yang berbeda dari setiap klien. Selain dapat memberikan hasil kerja yang terbaik, dalam memberikan Asuhan Keperawatan juga dapat dilakukan dengan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D Carpenito, L.J. 1998. Buku saku Diagnosa keperawatan (terjemahan), edisi 8. EGC: Jakarta.&lt;br /&gt;DepKes RI. 1989. Petunjuk Teknik Asuhan Keperawatan Paasien Gangguan Skizofrenia. Direktorat Kesehatan Jiwa: Jakarta.&lt;br /&gt;Imron. 2009. Gangguan Jiwa. http://www.imron46.co.cc/2009/02/gangguan-konsep-diri-harga-diri-rendah.html. Diperoleh Tanggal 8 Juni 2009.&lt;br /&gt;Keliat, B.A. 1994. Seri Keperawatan Gangguan Konsep Diri. EGC: Jakarta.&lt;br /&gt;Sabiah, S.Kp. 2003. Konsep Diri.&lt;br /&gt; http://duniapsikologi.dagdigdug.com/files/2008/12/konsep-diri.pdf. Diperoleh Tanggal 8 Juni 2009.&lt;br /&gt;Stuart, G.W &amp; sundeen, S.J. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa (terjemahan), Edisi 3. EGC: Jakarta.&lt;br /&gt;Townsend, M.C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri (terjemahan), Edisi 3. EGC: Jakarta.&lt;br /&gt;File:///G: /asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-gangguan-harga diri.html. Diperoleh tanggal 19 Maret 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5596546805634305386-8416621332022559768?l=aime-aimeblogger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/feeds/8416621332022559768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5596546805634305386&amp;postID=8416621332022559768&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/8416621332022559768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5596546805634305386/posts/default/8416621332022559768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aime-aimeblogger.blogspot.com/2010/06/askep-jiwa-dengan-hdr.html' title='ASKEP JIWA DENGAN HDR'/><author><name>imelda yusuf</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00092936441752655092</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_CFOIgPQbVCY/TBDNRddVdhI/AAAAAAAAAA4/BGUTQuaj_-s/S220/Foto(060).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5596546805634305386.post-7070101044858946425</id><published>2010-06-10T04:47:00.000-07:00</published><updated>2010-06-10T04:49:07.957-07:00</updated><title type='text'>ASKEP CA.LAMBUNG</title><content type='html'>ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KANKER LAMBUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Definisi &lt;br /&gt;Neopasma ialah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terus-menerus secara tak terbatas, tidak terkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh. &lt;br /&gt;(Patologi, dr. Achmad Tjarta,2002) &lt;br /&gt;2. Klasifikasi &lt;br /&gt;Early gastric cancer (tumor ganas lambung dini).&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil pemeriksaan radiologi, gastroskopi dan pemeriksaan histopatologis &lt;br /&gt;dapat dibagi atas :&lt;br /&gt;Tipe I (pritrured type)&lt;br /&gt;Tumor ganas yang menginvasi hanya terbatas pada mukosa dan sub mukosa yang berbentuk polipoid. Bentuknya ireguler permukaan tidak rata, perdarahan dengan atau tanpa ulserasi.&lt;br /&gt;Tipe II (superficial type) &lt;br /&gt;Dapat dibagi atas 3 sub tipe.&lt;br /&gt;II.a. (Elevated type) &lt;br /&gt;Tampaknya sedikit elevasi mukosa lambung. Hampir seperti tipe I, terdapat sedikit elevasi dan lebih meluas dan melebar. &lt;br /&gt;II.b. (Flat type) &lt;br /&gt;Tidak terlihat elevasi atau depresi pada mukosa dan hanya terlihat perubahan pada warna mukosa.&lt;br /&gt;II.c. (Depressed type)&lt;br /&gt;Didapatkan permukaan yang iregular dan pinggir tidak rata (iregular) hiperemik / perdarahan.&lt;br /&gt;Type III. (Excavated type) &lt;br /&gt;II c. II c dan II a  III atau III Menyerupai Bormann II (tumor ganas lanjut) dan sering disertai kombinasi seperti II c &lt;br /&gt;Advanced gastric cancer (tumor ganas lanjut).&lt;br /&gt; Menurut klasifikasi Bormann dapat dibagi atas : &lt;br /&gt;1. Bormann I. &lt;br /&gt;Bentuknya berupa polipoid karsinoma yang sering juga disebut sebagai fungating dan mukosa di sekitar tumor atropik dan iregular. &lt;br /&gt;2. Bormann II &lt;br /&gt;Merupakan Non Infiltrating Carsinomatous Ulcer dengan tepi ulkus serta mukosa sekitarnya menonjol dan disertai nodular. Dasar ulkus terlihat nekrotik dengan warna kecoklatan, keabuan dan merah kehitaman. Mukosa sekitar ulkus tampak sangat hiperemik. &lt;br /&gt;3. Bormann III.&lt;br /&gt;Berupa infiltrating Carsinomatous type, tidak terlihat bats tegas pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa.&lt;br /&gt; 4. Bormann IV Berupa bentuk diffuse Infiltrating type, tidak terlihat batas tegas pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa.&lt;br /&gt;3. Patofisiologi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pada umumnya tumor ganas ditempat lain penyebab tumor gaster juga belum diketahui secara pasti. Faktor yag mempermudah timbulnya tumor ganas gaster adalah perubahan mukosa yang abnormal antara lain seperti gastritis atropik, polip di gaster, dan anemia pernisiosa. Di samping itu juga pengaruh keadaan lingkungan mungkin memegang peran penting terutama pada penyakit gaster seperti dinegara Jepang, Chili, Irlandia, Australia, Rusia dan Skandinavia. Ternyata pada orang jepang yang telah lama meninggalkan jepang, frekuensi tumor ganas gaster lebih rendah. &lt;br /&gt;Dapat disimpulkan bahwa kebiasaaan hidup mempunyai peran penting, makanan panas dapat merupakan faktor timbulnya tumor ganas seperti juga makanan yang di asap, ikan asin yang mungkin mempermudah timbuknya tumor ganas gaster. &lt;br /&gt;Selain itu faktor lain yang mempengaruhi adalah faktor herediter, dan faktor infeksi H. Pylori. &lt;br /&gt;Karsinoma gaster berasal dari pertumbuhan epitel pada membran mukosa gaster. Kabanyakan karsinoma gaster berkembang pada bagian bawah gaster. Sedangkan pada atrofi gaster disapatkan bagian atas gaster dan secara multisenter. &lt;br /&gt;Karsinoma gaster terlihat beberapa bentuk. &lt;br /&gt;1. Seperempatnya berasal dari propria yang berbentuk fungating yang tumbuh ke lumen sebagai massa.&lt;br /&gt;2. Seperempatnya berbentuktumor yang berulserasi.&lt;br /&gt;3. Massa yang tumbuh melalui dinding menginvasi lapisan otot&lt;br /&gt;4. Penyebarannya melalui dinding yang disemari penyebaran pada permukaan. &lt;br /&gt;5. Bentuk linisplastika. &lt;br /&gt;6. Sepertiganya karsinoma berbagai bentuk di atas.&lt;br /&gt;Prognosis yang baik berhubungan dengan bentuk polipoid dan kemudian berbentuk ulserasi dan yang paling jelek ada bentuk scirrhous. Penyebaran karsinoma gaster sering kehati, arteri hepatika dan celiac, pankreas dan hilus selitar limpa. Dapat juga mengenai tulang, paru, otak dan bagian lain saluran cerna.&lt;br /&gt;4. Etiologi &lt;br /&gt;Penyebab dari karsinoma Gaster sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Namun para penyelidik berpendapat bahwa komposisi makanan merupakan faktor penting dalam kejadian karsinoma Gaster. Makanan tersebut seperti ; &lt;br /&gt;1. Gastritis kronis&lt;br /&gt;2. Faktor infeksi (oleh kuman H. Pylory).&lt;br /&gt;3. Herediter. &lt;br /&gt;4. Sering Makan daging hewan dengan cara dipanggang atau dibakar atau diasapkan.&lt;br /&gt;5. Sering makan makanan yang terlalu pedas&lt;br /&gt;6. Kurang makanan yang mengandung serat.&lt;br /&gt;7. Makan makanan yang memproduksi bahan karsinogenik dan ko-karsinogenik.&lt;br /&gt;5. Tanda dan Gejala &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda dan gejala karsinoma kolo-rektal tergantung dari lokasi dan besarnya tumor :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Nyeri&lt;br /&gt; b. Penurunan Berat badan.&lt;br /&gt; c. Muntah&lt;br /&gt; d. Anoreksia.&lt;br /&gt; e. Disfagia.&lt;br /&gt; f. Nausea&lt;br /&gt;.g. Kelemahan&lt;br /&gt;.h. Hematemasis&lt;br /&gt;.i. Regurgitasi.&lt;br /&gt; j. Mudah kenyang&lt;br /&gt;.k. Asites ( perut membesar).&lt;br /&gt; l. Keram abdomen&lt;br /&gt;m. Darah yang nyata atau samar dalam tinja&lt;br /&gt;n. Pasien mengeluh rasa tidak enak pada perut terutama sehabis makan.&lt;br /&gt;6. Pemeriksaan Diagnosis&lt;br /&gt;1. Pemeriksaan fisis.&lt;br /&gt;Pemeriksaan fisis dapat membantu diagnosis berupa berat badan menurun dan anemia. Didaerah epigastrium mungkin ditemukan suatu massa dan jika telah terjadi metastasis ke hati, teraba hati yang iregular, dan kadang-kadang kelenjar limfe klavikula teraba&lt;br /&gt;2. Radiologi.&lt;br /&gt;Pemeriksaan radiologi yang penting adalah pemeriksaan kontras ganda dengan berbagai posisi seperti telentang. Tengkurap, oblik yang disertai dengan komprsi.&lt;br /&gt;3. Gastroskopi dan Biopsi.&lt;br /&gt;Pemeriksaan gastroskopi banyak sekali membantu diagnosis untuk melihat adanya tumor gaster. Pada pemeriksaan Okuda (1969) dengan biopsi ditemukan 94 % pasien dengan tumor ganas gaster sedangkan dengan sitologi lavse hanya didapatkan 50 %. &lt;br /&gt;4. Pemeriksaan darah pada tinja.&lt;br /&gt; Pada tumor ganas sering didapatkan perdarahan dalam tinja (occult blood), untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan tes Benzidin.&lt;br /&gt;5. Sitologi.&lt;br /&gt;Pemeriksaan Papanicolaou dari cairan lambung dapat memastikan tumor ganas lambung dengan hasil 80 – 90 %. Tentu pemeriksaan ini perlu dilengkapi dengan pemeriksaan gastroskopi dan biopsi.&lt;br /&gt;7. Komplikasi &lt;br /&gt;1. Perforasi &lt;br /&gt;Dapat terjadi perforasi akut dan perforasi kronik.&lt;br /&gt;2. Hematemesis. &lt;br /&gt;Hematemesis yang masif dan melena dapat terjadi pada tumor ganas lambung sehingga dapat menimbulkan anemia. &lt;br /&gt;3. Obstruksi. &lt;br /&gt;Dapat terjadi pada bagian bawah lambung dekat daerah pilorus yang disertai keluhan mintah-muntah. &lt;br /&gt;4. Adhesi.&lt;br /&gt;Jika tumor mengenai dinding lambung dapat terjadi perlengketan dan infiltrasi dengan organ sekitarnya dan menimbulkan keluhan nyeri perut&lt;br /&gt;8. Penatalaksanaan&lt;br /&gt;1. Bedah &lt;br /&gt;jika penyakit belum menunjukkan tanda penyebaran, pilihan terbaik adalah pembedahan. Walaupun telah terdapat daerah sebar, pembedahab sudah dapat dilakukan sebagai tindakan paliatif. Reaksi kuratif akan berhsil bila tidak ada tanda metastasis di tempat lain, tidak ada sisa Ca pada irisan lambung, reseksi cairan sekitar yang terkena, dari pengambilan kelenjar limfa secukupnya. &lt;br /&gt;2. Radiasi &lt;br /&gt;Pengobatan dengan radiasi memperlihatkan kurang berhasil&lt;br /&gt;3. Kemoterapi &lt;br /&gt;Pada tumor ganas dapat dilakukan pemberian obat secara tunggal atau kombinsi kemoterapi. Di antara obat yang di gunakan adalah 5 FU, trimetrexote, mitonisin C, hidrourea, epirubisin dan karmisetin dengan hasil 18 – 30 %.&lt;br /&gt;B. Konsep Dasar Keperawatan&lt;br /&gt;A. Pengkajian&lt;br /&gt;a. Persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan &lt;br /&gt; Apakah ada riwayat kanker pada keluarga&lt;br /&gt; Status kesehatan dan penyakit yang diderita, upaya yang dilakukan&lt;br /&gt; Lingkungan tempat tinggal klien&lt;br /&gt; Tingkat pengetahuan dan kepedulian pasien&lt;br /&gt; Hal-hal yang membuat status kesehatan pasien berubah : merokok, alkohol, obat-obatan&lt;br /&gt;, polusi, lingkungan, ventilasi.&lt;br /&gt;b. Nutrisi metabolik&lt;br /&gt; Jenis, frekuensi dan jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari&lt;br /&gt; Adanya mual, muntah, anorexia, ketidakmampuan memenuhi kebutuhan nutrisi&lt;br /&gt; Adanya kebiasaan merokok, alkohol dan mengkonsumsi obat-obatan tertentu&lt;br /&gt; Ketaatan terhadap diet, kaji diet khusus&lt;br /&gt; Jenis makanan yang disukai (pedas, asam, manis, panas, dingin)&lt;br /&gt; Adanya makanan tambahan&lt;br /&gt; Napsu makan berlebih/kurang&lt;br /&gt; Kebersihan makanan yang dikonsumsi&lt;br /&gt;c. Eliminasi&lt;br /&gt; Pola BAK dan BAB: frekuensi, karakteristik, ketidaknyamanan, masalah pengontrolan&lt;br /&gt; Adanya mencret bercampur darah&lt;br /&gt; Adanya Diare dan konstipasi&lt;br /&gt; Warna feses, bentuk feses, dan bau&lt;br /&gt; Adanya nyeri waktu BAB&lt;br /&gt;d. Aktivitas dan latihan&lt;br /&gt; Kebiasaan aktivitas sehari har&lt;br /&gt; Kebiasaan olah raga&lt;br /&gt; Rasa sakit saat melakukan aktivitas&lt;br /&gt;e. Tidur dan istirahat&lt;br /&gt; Adanya gejala susah tidur/insomnia&lt;br /&gt; Kebiasaan tidur per 24 jam&lt;br /&gt;f. Persepsi kognitif&lt;br /&gt; Gangguan pengenalan (orientasi) terhadap tempat, waktu dan orang&lt;br /&gt; Adanya gangguan proses pikir dan daya ingat&lt;br /&gt; Cara klien mengatasi rasa tidak nyaman(nyeri)&lt;br /&gt; Adanya kesulitan dalam mempelajari sesuatu&lt;br /&gt;g. Persepsi dan konsep diri&lt;br /&gt; Penilaian klien terhadap dirinya sendiri &lt;br /&gt;. Peran dan hubungan dengan sesama&lt;br /&gt; Klien hidup sendiri/keluarga&lt;br /&gt; Klien merasa terisolasi&lt;br /&gt; Adanya gangguan klien dalam keluarga dan masyarakat&lt;br /&gt;i. Reproduksi dan seksualitas&lt;br /&gt; Adanya gangguan seksualitas dan penyimpangan seksualitas&lt;br /&gt; Pengaruh/hubungan penyakit terhadap seksualitas &lt;br /&gt;. Mekanisme koping dan toleransi terhadap stess&lt;br /&gt; Adanya perasaan cemas,takut,tidak sabar ataupun marah&lt;br /&gt; Mekanisme koping yang biasa digunakan&lt;br /&gt; Respon emosional klien terhadap status saat ini&lt;br /&gt; Orang yang membantu dalam pemecahan masalah&lt;br /&gt;k. Sistem kepercayaan&lt;br /&gt; Agama yang dianut,apakah kegiatan ibadah terganggu &lt;br /&gt;A. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;a. Pre-Op&lt;br /&gt;1. Nyeri berhubungan dengan proses pertumbuhan sel-sel kanker&lt;br /&gt;2. Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan&lt;br /&gt;3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah dan tidak nafsu makan&lt;br /&gt;4. Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.&lt;br /&gt;b. Post-Op&lt;br /&gt; 1. Ketidakefektifan pola nafas b.d adanya pengaruh anastesi.&lt;br /&gt; 2. Nyeri berhubungan dengan interupsi tubuh sekunder terhadap prosedur invasif atau intervensi operasi&lt;br /&gt;.3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status puasa.&lt;br /&gt;4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder terhadap prosedur invasive&lt;br /&gt;5. Kecemasan berhubungan dengan ketidakpastian tentang hasil pengobatan kanker.&lt;br /&gt;B. Rencana Keperawatan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;a. Pre-Operasi &lt;br /&gt;Dp 1. Nyeri berhubungan dengan proses pertumbuhan sel-sel kanker &lt;br /&gt;Tujuan : Nyeri berkurang sampai hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan &lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan : Nyeri berkurang sampai dengan hilang &lt;br /&gt;Rencana Tindakan:&lt;br /&gt;1. Kaji karakteristik nyeri, lokasi, frekfensi &lt;br /&gt;R/ mengtahui tingkat nyeri sebagai evaluasi untuk intervensi selanjutnya&lt;br /&gt;2. Kaji faktor penyebab timbul nyeri (takut , marah, cemas)&lt;br /&gt;R/ dengan mengetahui faktor penyebab nyeri menentukan tindakan untuk mengurangi nyeri&lt;br /&gt;3. Ajarkan tehnik relaksasi tarik nafas dalam&lt;br /&gt;R/ tehnik relaksasi dapat mengatsi rasa nyeri&lt;br /&gt;4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik&lt;br /&gt;R/ analgetik efektif untuk mengatasi nyeri&lt;br /&gt;Dp 2. Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan&lt;br /&gt; Tujuan : Kecemasan dapat diminimalkan setelah dilakukan tindakan keperawatan &lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan : Kecemasan pasien berkurang&lt;br /&gt;Rencana Tindakan:&lt;br /&gt;1. Jelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien &lt;br /&gt;R/ pasien kooperatif dalam segala tindakan dan mengurangi kecemasan pasien&lt;br /&gt;2. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan akan&lt;br /&gt;ketakutannya &lt;br /&gt;R/ untuk mengurangi kecemasan&lt;br /&gt;3. Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa medik&lt;br /&gt;R/ memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat&lt;br /&gt;4. Akui rasatakut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan&lt;br /&gt;R/ dukungan memampukan pasien memulai membuka/ menerima kenyataan penyakit dan pengobatan&lt;br /&gt;Dp 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah dan tidak nafsu makan.&lt;br /&gt; Tujuan : Kebutuhsn nutrisi dapat terpenuhi setelah dilakukan keperawatan&lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan:&lt;br /&gt;- Nutrisi klien terpenuhi &lt;br /&gt;- Mual berkurang sampai dengan hilang.&lt;br /&gt;   Rencana tindakan :&lt;br /&gt;1. Hidangkan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan hangat.&lt;br /&gt;   R/ Makanan yang hangat menambah nafsu makan.&lt;br /&gt;2. Kaji kebiasaan makan klien.&lt;br /&gt;   R/ Jenis makanan yang disukai akan membantu meningkatkan nafsu makan klien&lt;br /&gt;3. Ajarkan teknik relaksasi yaitu tarik napas dalam.&lt;br /&gt;   R/ Tarik nafas dalam membantu untuk merelaksasikan dan mengurangi mual.&lt;br /&gt;4. Timbang berat badan bila memungkinkan.&lt;br /&gt;   R/ Untuk mengetahui kehilangan berat badan.&lt;br /&gt;5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin &lt;br /&gt;   R/ Mencegah kekurangan karena penurunan absorsi vitamin larut dalam lemak &lt;br /&gt;Dp 4. Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik&lt;br /&gt;Tujuan : Intoleransi ak
